Istri Tangguh Milik Tuan Arogan

Istri Tangguh Milik Tuan Arogan
Takdir


__ADS_3

"Apa maksudnya Mas? Bukankah kita sudah sepakat tak akan mengikuti keinginan terakhir Mbak Megan?" tanya Sherli mengerutkan kening.


"Iya, sayang. Awalnya juga Mas menentang ini, kamu tahu betul hal itu tapi--"


"Tapi apa?"


Morgan mengusap wajahnya kasar. Dia pun kembali mengingat perbincangannya dengan Dokter yang menangani Megan. Dokter bilang, bahwa seluruh organ di dalam tubuh Megan sudah tidak berfungsi sebenarnya. Namun, entah mengapa dia masih mencoba untuk bertahan di tengah rasa sakit yang sebenarnya teramat sangat menyiksa.


Sepertinya, Megan masih mengunggu sesuatu hal yang membuatnya bertahan sampai detik ini. Morgan mengira bahwa hal tersebut adalah, karena Megan ingin meninggal sebagai Nyonya Morgan.


"Mas? Ko malah melamun?" tanya Sherli seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Morgan.


"Apakah kamu mengizinkan Mas menikahi Megan? Tak akan lama, dan hanya sebagai status saja," lemah Morgan, bola matanya nampak memerah memendam berbagai perasaan yang sulit dia ungkapkan.


Sherli tentu saja hanya bisa diam seraya menundukkan kepalanya. Dada seorang Sherli seketika terasa sesak. Bola matanya pun nampak memerah, lengkap dengan buliran air mata yang memenuhi kelopaknya kini.


"Sayang? Kenapa kamu diam saja? Mas gak akan melakukannya jika memang kamu tidak mengizinkan. Semua keputusan ada di tangan kamu, sayang."


Sherli masih diam seribu bahasa. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Apakah dia sanggup melihat suaminya menikahi wanita lain? Meskipun, Megan tidak lebih dari hanya sekedar mayat hidup sebenarnya.


"Mas benar-benar minta maaf. Cinta Mas hanya untuk kamu, sayang. Kamu tahu lebih dari siapa pun tentang hal itu. Mas hanya--"


Belum sempat Morgan meneruskan ucapannya. Sherli tiba-tiba saja bangkit dan meninggalkan Morgan bersama Sherli kecil di tempat itu. Perasaan Sherli benar-benar sangat terluka. Hatinya seperti di sayat pisau tajam. Air mata seorang Sherli pun seketika berjatuhan membasahi wajah cantiknya kini.


"Sayang, kamu mau kemana? Mas belum selesai bicara!" Morgan seketika mengejar. Namun, diabaikan oleh istrinya tentu saja.


Grep!

__ADS_1


Laki-laki itu pun meraih pergelangan tangannya dan menahan kepergiaan Sherli sang istri.


"Sayang! Tunggu!" tegas Morgan penuh penekanan.


"Lakukan apapun yang Mas inginkan. Aku sama sekali tidak peduli," ketus Sherli yang juga penuh penekanan. Dia pun menepis pergelangan tangan suaminya kasar lalu benar-benar meniggalkan Morgan Maxime dengan perasaan kesal.


'Ya Tuhan, apa yang harus saya lakukan sekarang? Kenapa hidup saya jadi seperti ini,' (batin Morgan).


Dia pun hanya bisa menatap kepergian istirnya penuh penyesalan. Betapa dia sangat mencintai Sherli, tapi dia pun tak bisa mengabaikan permintaan terakhir dari seseorang yang sedang sekarat. Pernikahan yang akan dia jalani hanyalah sebuah pormalitas saja.


* * *


Setelah kepergian istrinya, Morgan kembali ke ruangan ICU dimana Megan di rawat saat ini. Bersama Sherli kecil, laki-laki itu berada di samping Megan yang saat ini dalam keadaan tertidur lelap.


Tubuhnya nampak di pasang berbagai alat bantu, dari mulai alat untuk membantunya bernapas, sampai alat yang akan mengontrol detak jantungnya, juga alat lainnya yang membantunya untuk tetap hidup. Bersama Sherli kecil di dalam gendongannya.


"Boleh, sayang. Namun, kamu harus hati-hati ya. Mommy kamu--"


"Baik, Om. Aku akan hati-hati, aku tahu kalau Mommy sedang kesakitan saat ini."


Morgan menganggukkan kepalanya. Dia pun membaringkan anak itu dengan sangat hati-hati tepat di samping Megan kini. Sherli kecil nampak memeluk tubuh Megan erat. Meskipun dia hanya seorang anak kecil yang tentunya Masih polos, tapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, gadis itu sadar betul bahwa usia sang ibu tidak akan lama lagi.


Morgan hanya bisa menatap wajah keduanya dengan tatapan mata iba. Lagi-lagi dia sama sekali tidak menyangka bahwa mantan istrinya itu memiliki nasib yang begitu naas. Wajar bukan jika rasa iba terselip di dalam lubuk hatinya saat ini?


Karena walau bagaimana pun, wanita ini adalah orang yang pernah singgah di dalam hatinya. Bersama dia Morgan pernah merasakan kebahagiaan meskipun pernikahan mereka berakhir dengan luka yang mendalam.


Sedetik kemudian, tiba-tiba saja bayangan Jacky terlihat duduk tepat di samping Megan kini. Anak kecil itu nampak tersenyum ke arahnya seolah sedang menunggu sang ibunda untuk pergi bersamanya.

__ADS_1


"Jacky?" gumam Morgan dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Terima kasih karena Daddy berada di sini sekarang."


Hanya kata itu yang Morgan dengar, sebelum bayangan itu benar-benar memudar dan menghilang bersama angin yang tiba-tiba saja berhembus entah dari mana. Sontak, buliran air mata pun memenuhi kelopak mata seorang Morgan, sampai akhirnya berjatuhan dengan begitu derasnya dan tidak tertahankan lagi.


Morgan benar-benar menangis sesenggukan. Dia menutup mulutnya dengan telapak tangan. Dadanya seketika merasa sesak, menatap wajah sang mantan Istri dan Sherli kecil secara bergantian.


* * *


"Saya terima nikah dan kawinnya, Megan Queeni binti Mark Queeni dengan Mas kawin tersebut di bayar tunai."


"Sah!"


"Saaaah!"


"Aku ikhlas, Mas. Aku ikhlas kamu menikahi Mbak Megan, aku ikhlas memberi kebahagiaan terkahir kepada wanita ini. Kebahagiaan yang mungkin tidak akan pernah dia dapatkan lagi kedepannya. Meskipun rasanya sangat sakit melihat kamu mengucapkan ijab qobul di depan mataku."


"Aku tahu kalau aku salah karena telah mengizinkan kamu menikah lagi, tapi hanya ini yang bisa aku lakukan. Aku sadar, semua ini adalah takdir. Sekeras apapun aku mencoba untuk menolak, hatiku tetap tak bisa membiarkan seorang wanita mati dalam keadaan penasaran."


BERSAMBUNG


...****************...


PROMOSI NOVEL


__ADS_1


__ADS_2