Istri Tangguh Milik Tuan Arogan

Istri Tangguh Milik Tuan Arogan
Dami


__ADS_3

"Dia siapa, Mom? Aku pikir Mommy pulang sama Daddy?" celoteh Dam, putra semata wayang Sherli.


"O iya, kenalkan dia bos Mommy di kantor."


Dam seketika menatap wajah Morgan. Mata polosnya menatap dari ujung kaki hingga ujung rambut penuh selidik. Dia pun menyunggingkan senyuman manis, membuat Morgan seketika balas tersenyum kepadanya kemudian.


"Perkenalkan, nama Om, Om Morgan. Kamu boleh memanggil dengan sebutan Daddy juga kalau mau," celetuk Morgan membuat Sherli seketika membulatkan bola matanya tentu saja.


"Daddy? Tidak bisa Om, aku cuma punya satu Daddy. Meskipun Daddy udah lama gak pulang," lirih Dam dengan begitu polosnya.


"Hahahaha! Om cuma bercanda, sayang." Morgan seketika tertawa garing.


"Sebaiknya bos pulang. Bos pasti lelah setelah bekerja seharian," pinta Sherli mengusir secara halus sebenarnya.


"Mommy gak sopan. Ko tamu di suruh pulang? Suruh masuk dulu," celetuk Dam kemudian.


"Betul, kamu benar-benar anak yang cerdas. Siapa nama kamu, sayang?" tanya Morgan tersenyum senang tentu saja.


"Dami, nama saya Dami Om Morgan. Usia saya 7 tahun."


"Dami?"


Dam menganggukkan kepalanya, sementara Sherli hanya diam menatap tingkah sang putra yang memang memiliki kecerdasan di atas rata-rata.


"Nama yang bagus, cocok untuk anak yang tampan seperti kamu. Sebenarnya Om ingin sekali mampir dan minum kopi dulu di rumah kamu, tapi Mommy mu yang cantik ini sepertinya tidak mengijinkan," decak Morgan melirik ke arah Sherli kemudian.


"Bukan begitu, bos. Saya hanya--"


"Mommy, ajak Om Morgan masuk dulu. Dia pengen minum kopi katanya. Lagian, sebenarnya aku bosan main sama Mbak terus. Boleh kalau aku main sebentar sama Om Morgan?"


"Boleh! Tentu saja boleh. Kalau kamu mau, kita bisa pergi jalan-jalan, kebetulan Om juga bosan setiap hari kerja dari pagi sampai malam, tapi bilangin sama Mommy kamu dulu, apa boleh Om main sama kamu di dalam?"

__ADS_1


"Moooom! Boleh ya?" rengek Dam dengan anda suara manja.


Sepertinya, Dami memang sedang merindukan sosok sang ayah. Sudah lebih dari 3 bulan ayahnya sama sekali tidak pulang. Anak berusia 7 tahun yang masih polos itu tentu saja hanya mengira bahwa ayahnya itu sedang bekerja di kota, tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang menimpa kedua orang tuanya.


"Mooom! Ko diam saja? Boleh ya?" rengek Dam mengulangi pertanyaannya.


"Ya udah boleh. Tapi sebentar saja ya, kasian Om Morgan capek," jawab Sherli akhirnya mengijinkan.


"Yes!" Morgan tanpa sadar bersorak senang, tentu saja hal itu membuat Sherli merasa heran.


"Silahkan masuk, Bos,'' pinta Sherli kemudian.


Morgan pun mulai berjalan memasuki halaman. Sementara Bram masih berada di dalam mobil. Melihat dan menyaksikan hal itu membuat Asisten yang telah bekerja bersama Morgan selama lebih dari 5 tahun lamanya itu pun hanya bisa berharap, semoga bosnya itu bisa segera menemukan wanita pengganti Megan, mantan istri sang bos.


Dia tahu lebih dari siapapun seperti apa bosnya tersebut. Meskipun dia mata keranjang dan tidak segan membeli kepuasan dari seorang wanita, jauh di lubuk hatinya Morgan hanyalah laki-laki yang kesepian yang sebenarnya membutuhkan sandaran.


"Saya doakan semoga Nona Sherli menerima perasaan bos. Saya tahu kalau bos suka sama wanita ini," gumam Bram, menatap lekat wajah sang bos yang terlihat begitu ceria.


Sementara itu, Morgan senantiasa menyunggingkan senyuman ramah. Dia menatap wajah anak laki-laki bernama Dam lekat seolah ingin sekali mengobati rasa rindunya kepada Jacky sang putra.


"Dami berat, Bos," protes Sherli.


"Gak apa-apa, saya kuat ko. Dam, mau di gendong sama Om Morgan?"


Dami dengan begitu polosnya menganggukkan kepalanya juga tersenyum lebar.


"Tapi, Bos--''


Dami tiba-tiba saja merentangkan kedua tangannya seolah meminta untuk di gendong. Tentu saja Morgan pun dengan senang hati segera meraih tubuh kecil anak itu lalu menggendongnya kemudian.


"Wah, benar kata Mommy kamu. Tubuh kamu berat juga. Tapi tak masalah, jika Mommy kamu yang langsing saja bisa menggendong tubuh kamu, Om pun pasti bisa," decak Morgan. Dia menatap lekat wajah Dam lengkap dengan senyuman lebar yang mengembang dari kedua sisi bibirnya kini.

__ADS_1


"Silahkan masuk, bos.''


Ceklek!


Pintu rumah pun di buka lebar, Serli masuk ke dalamnya dan susul oleh Morgan kemudian. Baik Dam maupun Morgan terlihat sangat bahagia. Bagi Dam, dia memang sedang merindukan sosok sang ayah yang sudah lama tidak pulang.


Sementara bagi Morgan, menggendong seorang anak laki-laki seperti ini mampu mengobati rasa rindunya kepada sang putra yang telah lama tiada. Keduanya pun seperti mengisi kekosongan masing-masing.


Morgan dan anak laki-laki bernama Dam benar-benar bermain bersama. Mereka memainkan berbagai mainan bahkan saling bercanda satu sama lain. Sherli yang menyaksikan hal itu tentu saja merasa senang. Morgan seperti seorang ayah yang baik untuk putranya.


Terakhir, Dam tertidur di pangkuan Morgan karena merasa kelelahan. Anak itu sepertinya merasa begitu nyaman berada di dalam dekapan Morgan. Hal tersebut tentu saja membuat Sheli semakin merasa kagum kepada sosok Morgan. Ternyata di balik sikapnya yang mata keranjang dia memiliki sifat kebapaan. Sungguh sesuatu yang di luar dugaan. Tanpa sadar, wanita itu pun mulai mengagumi sosok bosnya tersebut.


"Lebih baik Dam di baringkan di kamar, Bos. Kasian pasti pegal sekali menggendong Dam selama itu,'' pinta Sherli kemudian.


"Sebenarnya sih iya. Putra kamu benar-benar luar biasa aktif. Di mana kamarnya, biar saya tidurkan dia di kamar," jawab Morgan, kedua tangannya mulai kesemutan sebenarnya.


"Di sebelah sini, bos."


Sherli menunjukan kamar khusus yang biasa digunakan oleh putranya untuk beristirahat di kala siang hari. Sementara malam hari, putra semata wayangnya itu selalu tidur dengan dirinya tentu saja. Morgan membaringkan tubuh mungil Dam, pelan dan sangat hati-hati sampai putra dari sekretarisnya itu benar-benar berbaring sempurna tanpa terganggu sedikit pun.


Morgan menatap lekat wajah Dam dengan tatapan sayu. Dia bahkan mengusap kepalanya lembut dan penuh kasih sayang. Betapa dia sangat merindukan sosok seorang putra, selama ini Morgan memang hidup dengan bergelimang harta. Dirinya bahkan kerap kali mencari kesenangan dengan membeli kepuasan dari wanita malam.


Akan tetapi, jiwanya tetap saja merasa kesepian dan hampa. Semua yang dia miliki sama sekali tidak ada artinya tanpa keluarga utuh dan tanpa memiliki keturunan. Sherli hanya bisa menatap wajah Morgan dengan tatapan sayu. Betapa dia bisa menangkap ketulusan yang terpancar dari kedua mata bosnya tersebut.


Bruk!


Suara seseorang yang membuka pintu kasar seketika membuyarkan lamunan masing-masing. Baik Morgan maupun Sherli seketika bangkit lalu berjalan keluar dari dalam kamar dengan perasaan heran juga merasa penasaran siapa yang datang.


''Oh jadi seperti ini kelakuan kamu sebenarnya?''


Teriaknya memekikkan telinga.

__ADS_1


BERSAMBUNG


...****************...


__ADS_2