
Suara des*han demi des*han pun terdengar silih bersahutan. Peluh dan keringat pun menyatu begitu pun dengan jiwa mereka kini. Kebekuan yang selama ini di rasakan oleh keduanya seketika mencair.
Baik Morgan maupun Sherly begitu menikmati pendakian mereka. Malam pertama yang mereka lakukan tentu saja berbeda dengan malam-malam pengantin bagi kebanyakan pasangan pengantin baru di luaran sana, karena mereka melakukannya di dalam kamar mandi.
Seperti kata pepatah. Banyak jalan menuju Roma. Seperti itulah yang diucapkan oleh Morgan di dalam hatinya. Karena dia sudah menahannya selama ini, maka dirinya tidak ingin menahannya lagi untuk malam ini.
Berbagai gaya pun dia lakukan tanpa sungkan. Pelepasan demi pelepasan pun mereka berdua dapatkan. Jiwa keduanya benar-benar terasa melayang. Ibarat bongkahan batu es besar yang selama ini membekukan jiwa mereka, kini benar-benar mencair membuat jiwa keduanya terasa ringan.
Sampai akhirnya, pelepasan terakhir pun mereka lakukan secara bersamaan. Puncak dari puncaknya kenik*atan yang mereka buru akhirnya di dapatkan secara sempurna. Suara len*uhan panjang pun terdengar nyaring sebagai tanda bahwa sepasang pengantin baru itu benar-benar puas dengan pendakian panjang yang baru saja mereka lakukan.
Bruk!
Keduanya menyandarkan tubuhnya di raga masing-masing, tembok kamar mandi yang menjadi sandaran pun seketika bergetar. Begitu pun dengan raga keduanya kini.
"I love you," lirih Morgan dengan deru napas yang terdengar tidaklah beraturan.
"I love you too," jawab Sherli, dadanya terlihat naik turun begitu pun dengan napasnya yang kini berhembus kencang.
"Mau mandi bersama?" tawar Morgan kemudian.
"Boleh, tubuh ku lengket sekali, padahal tadi sudah mandi lho."
"Itu karena kamu terlalu bersemangat tadi, makannya sampai keringatan seperti ini."
"Ko aku? 'Kan Mas juga semangat banget tadi."
"Saya? Tentu saja, semangat 45 malah. Lebih dari itu, pelayanan kamu benar-benar luar biasa."
Sherli hanya tersenyum kecil. Satu kec*pan kecil pun dia layangkan di bibir Morgan sang suami. Keduanya mulai mengurai jarak, seketika juga berjalan ke arah bathtub dan memasukan raga polos mereka ke dalamnya.
Mandi bersama di tengah malam pun menjadi penutup malam pengantin mereka. Keduanya tidak sungkan untuk menggosok punggung masing-masing. Meski sesekali jemari nakal Morgan memainkan sesuatu yang lain yang akan menjadi benda favoritnya mulai saat ini.
Akhirnya Morgan bisa merasakan indahnya bermalam pertama. Malam yang sangat berbeda, malam yang sangat berkesan, juga malam yang tidak akan pernah bisa dia lupakan selamanya.
* * *
Keesokan harinya.
Dami merentangkan kedua tangannya kini. Mengedipkan pelupuknya pelan dan lembut. Dia pun bangkit dan duduk tegak di atas ranjang. Pemandangan berbeda pun dia saksikan saat ini. Dimana biasanya dia bangun tidur dengan hanya ditemani oleh sang ibu, kini samar-samar terlihat oleh kedua matany, laki-laki yang telah menjadi ayah sambungnya.
__ADS_1
Senyuman kecil pun dia layangkan, menatap wajah ibu serta ayahnya secara bergantian. Satu kec*pan mendarat di pipi Morgan, satu kec*pan manis pun mendarat di pipi Sherli kemudian.
Sontak, hal tersebut membuat kedua orang tuanya terbangun dan seketika menyudahi tidur lelap mereka dengan sangat terpaksa, meskipun rasa kantuk itu masih terasa begitu menyiksa. Baik Morgan maupun Sherli kini tersenyum menatap wajah putra kesayangan mereka.
"Kamu sudah bangun, sayang? Jam berapa ini?" tanya Sherli seraya merentangkan kedua tangannya.
"Masih pagi, sayang. Daddy masih ngantuk banget, tidur sebentar lagi ya," pinta Morgan, karena dirinya dan sang istri bermain semalaman membuat rasa kantuk di matanya tidak bisa dia lagi tahan sebenarnya.
"Ini sudah siang, Dad, Mom. Sekarang jam 9 pagi."
"Hah?!" Sherli dan Morgan secara bersamaan. Keduanya pun seketika bangkit dan duduk tegak kini.
"Serius sekarang jam 9 pagi?"
Dami menganggukkan kepalanya.
Bruk!
Morgan kembali menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Karena pagi ini spesial, dirinya cuti bekerja tidak masalah dia mau bangun jam berapa pun.
"Kenapa Mommy bangunnya kesiangan? Aku jadi tidak sekolah 'kan?" tanya Dami.
Dami mengangguk patuh. Dia pun kembali berbaring dan meringkuk tepat di samping ayahnya. Dami melingkarkan tangannya di perut sang ayah. Tentu saja Morgan pun seketika tersenyum bahagia dan balas memeluk tubuh sang putra.
"Ko kalian tidur lagi? Ini sudah siang lho. Bangun dan sarapan," pinta Sherli menatap putra juga suaminya yang saat ini memejamkan kedua matanya.
"Mas masih ngantuk banget, sayang. Semalam Mas gak bisa tidur, Dami juga sama 'kan sayang? Kamu juga masih ngantuk 'kan?"
Dami sontak menganggukkan kepalanya, semakin erat melingkarkan tangannya dalam memeluk sang ayah tercinta. Sherli nampak tersenyum kecil, melihat pemandangan indah yang bahkan lebih indah dari pemandangan apapun yang pernah dia lihat di dunia ini.
Suaminya nampak begitu menyayangi putranya, begitu pun dengan sang putra yang terlihat sangat menyayangi Morgan. Hal itu tentu saja membuat hati seorang Sherli benar-benar merasa bahagia. Diam-diam, kedua mata wanita itu mulai memerah dan seketika berkaca-kaca. Betapa hidupnya merasa sudah lengkap sekarang.
Sedetik kemudian, kedua mata Morgan pun terbuka menatap wajah sang istri kini. Dia memberi isyarat agar istri tercintanya itu untuk kembali berbaring tepat di samping Dami. Dia menepuk-nepuk bantal dan melayangkan senyuman manis kepada Sherli sang istri.
Wanita itu pun sontak mengikuti apa yang diisyaratkan oleh suaminya. Dia berbaring tepat di samping Dami. Keduanya pun memeluk tubuh Dami secara bersamaan, tentu saja Dami yang semula memejamkan kedua matanya seketika terbangun dan menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
"Aku sayang Daddy sama Mommy," celetuknya kemudian. Satu kec*pan pun dia dapatkan di kedua sisi pipi mungilnya kini.
Cup!
__ADS_1
"Kami juga sayang kamu," jawab Sherli dan Morgan secara bersamaan.
Hari ini keluarga kecil itu pun akan menghabiskan hari dengan bermalas-malasan di atas ranjang. Jika ada kesempatan, keduanya pun mencuri waktu dan melakukan hal lain yang membuat jiwa mereka melayang.
* * *
Sore hari.
"Sayang, kamu tidak perlu bekerja lagi di kantor. Kamu fokus saja dalam menjaga Dami," ucap Morgan yang baru saja selesai berpakaian dan bersiap-siap untuk pulang dari hotel.
"Lho, kenapa?"
"Kenapa? Sayang, istrinya Mas yang paling cantik dan se*si di dunia ini. Sekarang kamu sudah ada suami. Tidak perlu lagi kamu bekerja, biar Mas Morgan mu ini yang bekerja. Kamu cukup duduk manis dan menikmati hari-hari kamu sebagai Nyonya Morgan Maxime."
"O iya, ini kartu kredit, kartu ATM juga. Mas akan transferkan uang belanja setiap bulannya ke dalam kartu itu, oke honey?" ujar Morgan panjang lebar, menyerahkan 2 kartu kepada istrinya.
"Kapan Mas menyiapkan ini?" tanya Sherli tersenyum lebar.
"Sudah sejak lama Mas menyiapkan ini semua ini. Sayang ... Sudah cukup kamu bekerja dan menghidupi kebutuhan kamu dan Dami sendirian. Sekarang giliran Mas yang akan melakukannya, Mas akan transfer 25 juta setiap bulannya dan kamu bebas membelanjakan uang itu sesuka hatimu."
Sherli seketika menundukkan kepalanya juga terlihat murung membuat Morgan merasa heran tentu saja.
"Kamu kenapa, sayang? Apa jumlahnya masih kurang? Mau Mas tambahin lagi?"
Sherli menggelengkan kepalanya.
"Lalu?"
Sherli mengangkat kepala lalu menatap wajah suaminya dengan tatapan tajam. Setajam busur panah yang siap untuk di tembakan.
"Kalau aku gak kerja lagi, itu artinya Mas bakalan punya sekertaris baru lagi. Sekertaris yang cantik dan se*si. Aku takut mata Mas bakalan jelalatan sama sekretarisnya Mas nanti!" tegas Sherli penuh penekanan.
BERSAMBUNG
...****************...
PROMOSI NOVEL
__ADS_1