Istri Tangguh Milik Tuan Arogan

Istri Tangguh Milik Tuan Arogan
Pembinor


__ADS_3

Sherli seketika membulatkan bola matanya. Rio mantan suaminya tiba-tiba saja sudah berada di dalam rumah. Hal yang sama pun di lakukan oleh Morgan, dia menatap lekat wajah laki-laki tersebut dan sudah dapat menebak bahwa laki-laki ini adalah mantan suaminya Sherli, lebih tepatnya mereka masih dalam proses perceraian. Dengan kata lain, laki-laki ini masih berstatus sebagai suami Sherli.


"Untuk apa kamu datang lagi kemari, Rio?" tanya Sherli menatap laki-laki itu dengan tatapan tajam penuh kebencian.


"Jadi begini kelakuan kamu di belakang saya? Membawa laki-laki ke rumah dan berduaan di dalam kamar? Dasar wanita murahan,'' tanya Rio merasa murka.


"Hati-hati anda kalau bicara ya. Dia bukan wanita murahan, seharusnya sebagai suaminya anda tahu betul akan hal itu. O iya lupa, kalian dalam proses perceraian ya?" timpal Morgan tersenyum menyeringai.


"Siapa anda? Jika anda tahu bahwa dia wanita bersuami, kenapa anda masih berada di sini? Apa anda seorang pembinor, alias perebut bini orang?"


"Hah? Hahahaha! Pembinor? Kalau iya kenapa?"


Bruk!


Rio seketika melayangkan tangannya dan mendarat mulus di wajah Morgan, tubuh Morgan pun seketika tersungkur di atas lantai.


"Haaaa! Rio! Apa yang kamu lakukan? Dia bos aku, kami tidak ada hubungan apapun," teriak Sherli segera menghampiri Morgan.


"Bos? Jadi dia atasan kamu? Jadi, kamu menjual tubuh kamu kepada bos kamu sendiri, begitu?"


Morgan seketika mengepalkan kedua tangannya. Dia yang baru saja berdiri tegak seketika langsung menghampiri laki-laki bernama Rio tersebut. Sejurus kemudian, kepalan tangannya benar-benar mendarat di wajah Rio keras dan bertenaga.


Bruk!


Giliran tubuh Rio yang saat ini tersungkur di atas lantai. Morgan yang notabenenya memiliki dasar sikap yang arogan, kembali mendekati tubuh laki-laki itu dan menghadiahinya bogem mentah secara berkali-kali, hingga darah segar pun menetes dari lubang hidungnya, begitupun dari ujung bibirnya kini.


"Bos, cukup!" Pinta Bram yang segera masuk ke dalam rumah setelah mendengar suara kegaduhan.


Grep!

__ADS_1


Dia pun mendekap tubuh bosnya tersebut dan menariknya kemudian.


"Cukup, Bos. Tahan emosi bos, saya mohon," pinta Bram.


"Lepaskan saya, Bram. Laki-laki brengsek ini harus di beri pelajaran, mulutnya harus di bungkam supaya dia tidak bisa lagi bicara sembarangan!" teriak Morgan mencoba untuk melepaskan diri, dia sama sekali belum merasa puas dalam memberi pelajaran kepada laki-laki tersebut.


Rio yang saat ini merasakan sakit di hampir seluruh wajahnya pun seketika berdiri dan menatap wajah Morgan dengan tatapan tajam. Dia pun mengusap ujung bibirnya yang kini mengeluarkan darah segar.


"Lihat saja, saya akan melaporkan anda atas tindakan penganiayaan,'' tegas Rio penuh penekanan. Dia pun pergi begitu saja keluar dari dalam rumah tersebut.


"Silahkan, saya tidak takut!" Morgan balas berteriak.


Perlahan, Bram pun mulai melepaskan lingkaran tangannya. Seketika itu juga, Sherli segera memeriksa wajah Morgan, memastikan bahwa bosnya itu baik-baik saja. Tentu saja hal itu membuat Morgan merasa senang bukan kepalang.


"Astaga, bos? Apa bos baik-baik saja? Apa bos terluka parah? Dasar laki-laki tidak tahu diri, awas aja aku akan menggunakan ini sebagai bukti di persidangan bahwa dia sebenarnya adalah laki-laki yang kasar," decak Sherli, mengusap kedua rahang Morgan dengan posisi yang sangat dekat.


Bram yang menyaksikan hal itu tentu saja segera keluar dari dalam rumah tersebut. Dia ingin memberi ruang kepada bosnya untuk berduaan dengan wanita bernama Sherli.


"Bibir bos berdarah, mari saya akan bantu bos untuk mengobati luka bos ini. Kebetulan saya memang selalu menyediakan obat-obatan. Bos duduk dulu, biar saya ambilkan obatnya sebentar."


Morgan menganggukkan kepalanya, dia pun duduk di kursi kemudian. Tidak berselang lama, Sherli kembali dengan membawa kotak obat-obatan. Wanita itu duduk tepat di depan Morgan kini. Perlahan dia pun mulai mengoleskan obat luka di ujung bibir Morgan yang sempat mengeluarkan darah segar.


"Argh ...'' ringis Morgan, saat rasa perih itu mulai dia rasakan ketika obat oles itu menyentuh permukaan lukanya.


"Maaf, bos. Saya akan lebih berhati-hati," lembut Sherli, dia segera meniup luka tersebut. Pelan tapi pasti membuat jantung seorang Morgan benar-benar berdetak kencang kini.


Sesaat, keheningan pun tercipta. Sherli masih meniup luka tersebut dengan seksama. Hembusan angin yang keluar dari bibir mungil seorang Sherli tentu saja mampu meredakan rasa perih yang semula Morgan rasakan. Dia menatap lewat wajah wanita itu, perasaan Morgan benar-benar campur aduk sulit untuk diungkapkan.


Rasa aneh pun mulai menyelusup ke dalam relung hatinya kini. Perasaan yang sama yang pernah dia rasakan saat dirinya jatuh cinta kepada mantan istrinya terdahulu. Seketika, tatapan mata Sherli pun mulai naik menatap keseluruhan wajah Morgan.

__ADS_1


Tatapan mata mereka pun bertemu dan saling menatap lekat satu sama lain. Tentu saja, sedetik kemudian Sherli segera memalingkan wajahnya juga sedikit mengurai jarak di antara mereka. Gugup, kedua orang tersebut seketika merasa gugup dan juga salah tingkah tentu saja.


"Maaf, bos. Lebih baik bos obati luka bos sendiri," pinta Sherli kemudikan.


"Argh ... Sakit, Sherli! Mana mungkin saya bisa mengobati luka saya sendirian. Bagaimana caranya? awwww ...!'' ringis Morgan, entah dia hanya berpura-pura meringis atau dia memang benar-benar merasa kesakitan. Hanya Tuhan dan dia sendiri yang tahu.


"Astaga, apakah sakit sekali? Ya sudah saya akan membantu anda untuk mengobati luka anda ini, tapi--"


"Tapi apa, Sherli?"


"Bisakah Bos memejamkan kedua mata bos? Eu ... Saya merasa tidak nyaman di liatin seperti itu sama bos.''


"Baiklah, saya memejamkan kedua mata saya. Kamu pasti berdebar-debar 'kan di liatin sama saya seperti ini?'' celetuk Morgan membuat Sherli seketika mengerutkan kening.


Meskipun apa yang baru saja diucapkan oleh Morgan adalah sebuah kebenaran. Jantung Sherli berdebar kencang kini, wanita itu tetap saja mengobati luka itu dengan sangat hati-hati. Dia menatap lekat wajah tampan seorang Morgan Maxime.


'Ya Tuhan, kenapa wajah Bos tampan sekali di lihat dari jarak dekat seperti ini,' (batin Sherli).


Diam-diam, Morgan pun membuka kedua matanya. Samar-samar terlihat wajah cantik Sherli yang begitu memukau. Betapa dia mendambakan seorang istri yang lembut dan penyayang seperti wanita ini.


'Ya Tuhan, jodohkanlah wanita ini dengan saya. Jika dia memang jodoh saya, ketuk'lah hatinya agar bisa menerima saya sebagai suaminya. Jika dia bukan jodoh saya, maka usahakan dia menjadi jodoh saya. Maafkan saya ya Tuhan, jika doa saya sedikit memaksa,' (batin Morgan).


BERSAMBUNG


...****************...


PROMOSI novel


__ADS_1


__ADS_2