
Morgan seketika langsung mengurai pelukan. Dirinya benar-benar merasa tidak nyaman jika harus di peluk seperti ini oleh mantan istrinya. Apalagi, Sherli pun berada di sana saat ini. Meskipun dia tahu betul bahwa wanita itu dengan sengaja keluar terlebih dahulu dari dalam Restoran, karena merasa tidak enak berada di tengah-tengah mereka berdua.
"Kamu apa-apaan Megan? Astaga, jangan seperti ini. Tidak enak di lihat orang," ketus Morgan kemudian.
"Sejak kapan kamu merasa tidak enak di peluk oleh seorang wanita? Bukankah hal seperti ini sudah biasa kamu lakukan?" protes Megan merasa tidak terima.
"Apa kamu lupa, kita bukan muhrim. Kamu bukan lagi istri saya," celetuk Morgan beralasan. Dia pun merasa lucu mengatakan hal itu sebenarnya, mengingat seperti apa kelakuannya selama ini.
"Hahahaha! Lagi-lagi Mas menggunakan muhrim sebagai alasan. Apa Mas yakin kalau Mas tidak pernah menyentuh wanita lain selain aku? Dasar Morgan, so alin kamu, Mas." Tawa Megan terdengar nyaring.
"Megan Queeni, sekarang katakan apa yang ingin kamu bicarakan. Saya tidak punya waktu, saya sibuk. Sherli juga sedang menunggu saya di luar.''
"Apa dia pacar baru kamu, Mas?''
"Bukan urusan kamu.''
"Apa masih ada kesempatan untuk aku kembali sama kamu."
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena saya tidak suka menggunakan barang bekas 2 kali, paham?'' celetuk Morgan lalu pergi begitu saja meninggalkan Megan yang saat ini dalam keadaan kesal.
"Dasar sombong, hey ... Morgan! Aku belum selesai ngomong!" teriak Megan, tapi di abaikan oleh mantan suaminya tentu saja.
'Jangan harap kamu bisa menjadi istriku lagi, Megan. Membayangkan perlakuan kamu kepada saya dulu saja membuat bulu kuduk saya merinding. Saya lebih suka hidup bebas seperti ini, bebas mengencani wanita manapun tanpa beban dan tanpa tekanan, hahahaha!' (batin Morgan).
Morgan berjalan keluar dari dalam Restoran, dia pun menatap sekeliling mencari keberadaan Sherli yang katanya akan menunggu dirinya di luar. Benar saja, wanita itu nampak sedang berdiri tepat di tepi jalan, sepertinya Sherli sedang menunggu taksi yang melintas.
"Sherli!'' teriak Morgan, membuat wanita itu seketika menoleh dan menatap wajah Morgan kemudian.
"Saya pulang naik taksi saja, Bos," ucap Sherli menatap laki-laki itu yang saat ini berjalan menghampirinya.
"Saya sudah bilang tadi, kalau saya akan mengantarkan kamu pulang."
"Tidak usah, Bos. Saya bisa pulang sendiri."
__ADS_1
"Apa kamu merasa tidak enak dengan wanita tadi?"
Sherli diam tidak menanggapi. Dia pun memalingkan wajahnya kemudian.
"Dia itu mantan istri saya.''
"Saya tahu, Bos."
"Dari mana kamu tahu."
"Dari gestur tubuh kalian."
"Ya udah saya antarkan kamu pulang ya."
Sherli akhirnya menganggukkan kepalanya merasa terpaksa sebenarnya. Tidak lama kemudian, mobil milik Morgan yang dikendarai oleh Bram pun berhenti tepat di depan mereka berdua. Morgan Maxime membukakan pintu mobil untuk wanita bernama Sherli, wanita itu pun masuk ke dalam mobil dan di susul olehnya kemudian.
Dari kejauhan, Megan tentu saja menyaksikan hal itu dengan perasaan kesal. 2 tahun berlalu tidak membuat rasa cintanya pudar begitu saja dari dalam hati seorang Megan. Rasa cemburu bahkan masih terasa begitu menyiksa, dia masih mencintai Morgan sama seperti dulu.
"Secepat itu kamu melupakan aku, Mas? Dasar laki-laki mata keranjang. Sifat kamu masih saja belum berubah, tapi kenapa aku masih saja mencintai kamu? Awas saja, aku pastikan akan mengejar kamu lagi. Kita lihat saja nanti, apakah kamu masih bisa menolak aku nantinya," gumam Megan menatap kepergian mobil mewah berwarna hitam milik sang mantan.
* * *
Luka yang selama ini dia kubur dalam-dalam sampai ke dasar jurang terasa naik kepermukaan. Sakitnya karena di khianati, dan sakitnya kehilangan putra semata wayangnya, semua itu sudah dia lupakan sebenarnya. Namun, entah mengapa ingatan menyakitkan itu memenuhi otaknya kini.
"Bos baik-baik saja?" tanya Sherli memecah keheningan juga membuat Morgan seketika tersadar dari lamunan panjangnya.
"Hah? Hahahaha! Saya kenapa memangnya? Tentu saja saya baik-baik saja," jawab Morgan, tertawa nyaring, tapi tawanya terdengar dipaksakan. Tentu saja dia tidak baik-baik saja sebenarnya.
"Mantan istri bos cantik."
"Tidak secantik kamu."
"Maaf kalau saya lancang, eu ... Kalau boleh saya tahu, kenapa Bos bisa berderai dengan dia? Bos tidak perlu menjawabnya kalau Bos memang merasa keberatan," tanya Sherli tidak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya yang begitu besar.
"Dia selingkuh, dasar wanita itu. Dia sama sekali tidak bersyukur memiliki suami seperti saya, tampan, banyak uang, saya bahkan selalu mengikuti apa pun yang dia inginkan. Selama kami menikah, saya benar-benar telah mengabdikan hidup saya untuk dia."
"Menjadi suami yang penurut, menjadi suami-suami yang takut kepada istrinya. Namun, dia malah selingkuh dengan laki-laki ingusan. Dasar tidak tahu diri," jelas Morgan, mengabaikan pakta bahwa dirinya pun melakukan hal yang sama seperti mantan istrinya.
__ADS_1
"Jadi begitu, sayang sekali. Padahal anda benar-benar laki-laki yang sempurna lho. Seharusnya dia bersyukur punya suami seperti anda."
"Benar 'kan? Makannya, saya sedang mencari istri yang pandai dalam hal bersyukur. Contohnya seperti kamu, cantik, baik, sopan, mandiri lagi," celetuk Morgan kemudian. Satu jurus keahliannya dalam hal menggombal pun dia keluarkan.
"Bos bisa aja. Saya belum tentu wanita idamannya bos. Kecantikan itu tidak menjamin segalanya, Bos. Jika selama ini bos hanya menilai wanita hanya dari kecantikannya saja, saya rasa bos salah. Cantik itu di lihat dari hatinya, kelakuannya, sifatnya juga. Contohnya mantan istri bos tadi."
"Dia cantik, se*si, jujur saya akui mantan istri bos memiliki kecantikan yang sangat luar biasa. Namun, untuk apa semua itu jika dia berselingkuh? Mengkhianati suaminya dan menggunakan kecantikannya untuk menggoda laki-laki lain, sementara dia telah memiliki suami yang sempurna seperti bos? Maaf sebelumnya, bukan maksud saya untuk menjelekan mantan istrinya bos itu,'' jelas Sherli panjang lebar.
"Kamu benar-benar luar biasa Sherli. Maukah kamu jadi istri saya?"
"Hah?" Sherli tentu saja tidak mengerti dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Morgan. Wajahnya pun seketika memerah tersipu malu.
"Hahahaha! Saya hanya bercanda, selesaikan saja dulu proses perceraian kamu dengan suami kamu," imbuh Morgan tertawa nyaring.
Sherli hanya tersenyum kecil. Entah mengapa hatinya merasa berbunga-bunga . Laki-laki ini memang pandai dalam hal menggombali wanita. Sherli seketika mengusap wajahnya kasar. Dia mencoba membentengi hatinya tinggi-tinggi tidak ingin termakan oleh rayuan gombal seorang Megan Maxime, dan berujung terluka juga pada akhirnya.
Mobil pun akhirnya sampai di tempat tujuan yaitu kediaman Sherli tentu saja. Bram mulai menepikan mobil dan berhenti tepat di depan pagar berwarna coklat dimana seorang anak kecil sedang bermain dengan baby sister di halamannya.
Ceklek!
Blug!
Pintu mobil pun di buka, Sherli keluar dari dalam mobil dan di susul oleh Morgan kemudian.
"Terima kasih karena bos telah mengantarkan saya pulang. Hati-hati di jalan, bos,'' ucap Sherli membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
"Mommy?" tiba-tiba terdengar celoteh seorang anak kecil, anak berusia 7 tahun itu berlari ke arah Sherli dan juga Morgan yang saat ini masih berdiri saling berhadapan.
"Dam! Putranya Mommy!'' Sherli segera menggendong tubuh putranya itu, dan menciuminya secara berkali-kali penuh kasih sayang.
Tentu saja hal itu membuat Morgan seketika merasa terhenyak. Rasa rindunya akan sosok sang putra yang telah tiada tiba-tiba saja memenuhi relung jiwanya kini. Menyaksikan kebersamaan Sherli dengan putranya membuat Morgan seketika teringat masa lalu.
'Jacky, Daddy juga kangen sekali sama kamu,' (batin Morgan )
BERSAMBUNG
...****************...
__ADS_1
PROMOSI NOVEL