Istri Tangguh Milik Tuan Arogan

Istri Tangguh Milik Tuan Arogan
Merasa Bersalah


__ADS_3

Sherli segera menelpon Pengacara seperti yang di perintahkan oleh Morgan sang atasan. Setelah itu, dia pun segera meluncur ke kantor Polisi saat itu juga. Wanita itu nampak berjalan dengan tergesa-gesa menuju lantai dasar.


Bruk!


Tiba-tiba saja dia menabrak seseorang, seketika itu juga baik dirinya maupun orang yang dia tabrak seketika tersungkur dia atas lantai juga meringis kesakitan.


"Arah! Maaf, saya tidak sengaja," ucapnya kemudian.


"Aduuuh! Kalau jalan itu lihat-lihat dong, gimana sih?" ketus Megan yang saat ini mencoba untuk berdiri.


"Maaf, sekali lagi saya minta maaf, Nona. Saya--" Sherli tidak meneruskan ucapannya saat dia menyadari bahwa wanita yang dia tabrak adalah seseorang yang dia kenali.


Ya ... Dia adalah Megan Queeni, mantan istri dari bosnya juga salah satu Klien yang baru saja menandatangani surat kerja sama dengan perusahaannya beberapa waktu yang lalu. Baik Megan maupun Sherli sama-sama terkejut tentu saja. Keduanya melayangkan tatapan tajam, juga menunjukkan rasa tidak sukanya.


"Kamu? Hmm ... Kebetulan sekali ketemu kamu di sini. Antarkan saya ke ruangan bos kamu, alias mantan suami saya," ketus Megan.


"Maaf, Nona. Bos sedang tidak berada di tempatnya. Beliau sedang di luar, Nona," jawab Sherli gugup.


"Di luar dimana? Katakan saja, saya akan menyusul dia.''


"Anu Nona, sebenarnya Bos--"


"Bos kamu kenapa?"


"Beliau ada kantor Polisi."


''Hah? Di kantor Polisi?


Sherli menganggukkan kepala lalu menunduk penuh penyesalan. Dia pun merasa tidak enak karena Morgan berada di sana karena ulah suaminya dan sumber masalahnya adalah dirinya.


"Astaga! Kenapa Mas Morgan bisa berada di kantor Polisi? Dia itu gak pernah melakukan perbuatan yang melanggar hukum lho, ada apa sebenarnya?"


Sherli diam tidak menanggapi, dirinya terlalu malu jika harus mengatakan bahwa bosnya berada di sana karena dirinya.


"Ya udah, saya mau ke kantor polisi sekarang juga. Hadeuh, semenjak dia cerai dengan saya semakin tidak terkendali saja tuh si Morgan," ketus Megan berbalik dan hendak pergi.


"Tunggu, Nona!"

__ADS_1


Megan sontak menghentikan langkah kakinya, lalu kembali menoleh dan menatap wajah Sherli kemudian.


"Ada apa lagi? Jangan bilang kalau kamu mau menumpang di mobil saya? Kamu juga mau ke sana 'kan?"


"Kalau boleh."


Megan memutar bola matanya kesal. Meskipun begitu, dia tetap saja menganggukkan kepalanya kemudian. Tentu saja hal itu membuat Sherli merasa senang, dia segera berjalan mengikuti wanita bernama Megan tersebut yang tidak lain dan tidak bukan adalah mantan istri dari bosnya sendiri.


* * *


Morgan menatap 2 orang wanita yang saat ini berjalan menghampirinya. Ya ... Dia adalah Megan Queeni masa lalunya dan wanita lainnya adalah Iva Sherli Jovanka masa depannya. Kedua wanita itu menatap ke arahnya kini. Kecantikan wajah kedua wanita itu bahkan terlihat memukau. Morgan menatap kedua wanita itu secara bergantian dengan mulut yang sedikit di buka.


"Megan, Sherli? Kenapa mereka bisa datang secara bersamaan?'' gumam Morgan kemudian.


"Mas Morgan, kenapa kamu bisa ada di sini? Astaga, apakah ini mimpi? Seorang Morgan Maxime berakhir di kantor polisi?" decak Megan tersenyum menyeringai.


"Sherli, apakah kamu sudah menelpon pengacara saya?" tanya Morgan menatap wajah Sherli, mengabaikan pertanyaan mantan istrinya tentu saja.


"Sudah, bos. Beliau sedang dalam perjalanan kemari sekarang," jawab Sherli menatap wajah Morgan dengan tatapan mata sayu penuh rasa khawatir, yang juga mengabaikan suaminya yang sebenarnya berada di sana juga tentunya.


"Nah, dia adalah istri saya, Pak. Mereka berdua sedang berduaan di rumah saya. Wajar 'kan kalau saya marah dan memukul dia satu kali? Tapi laki-laki ini malah marah dan membalas saya secara berkali-kali, lihat saja wajah saya sampai babak belur kayak gini," jelas Rio, membuat Morgan dan juga Sherli merasa terkejut tentu saja.


"Apa? Mas Rio, kita sedang dalam proses perceraian ya, sudah beberapa bulan ini kamu juga sama sekali tidak memberi nafkah secara lahir ataupun batin. Jadi, secara agama kita sudah bercerai. Kita sudah bukan suami istri lagi. Lagi pula, bos Morgan melakukan hal itu ada alasannya!'' ketus Sherli merasa murka.


"Jadi karena ini kamu berada di sini Mas? Karena berduaan dengan istri orang lain? Astaga! Morgan-Morgan ... Sungguh memalukan," decak Megan seperti memperkeruh suasana juga tersenyum menertawakan.


"Diam kamu, Megan. Kamu sama sekali tidak ada urusan di sini. Lebih baik kamu pergi sebelum benar-benar memperburuk keadaan.''


"Memperburuk keadaan bagaimana? Aku di sini mau membantu kamu menyelesaikan masalah ini, apa kamu tidak malu di tahan karena ketahuan berduaan dengan istri orang? Reputasi seorang Morgan bisa benar-benar tercemar. Apa kata klien kamu nantinya?"


"Saya tidak butuh bantuan kamu, saya bisa mengurus masalah saya sendiri!"


"Tapi, Mas--"


"SUDAH CUKUP!" tegas Polisi mulai merasa jengah dengan perdebatan yang tidak penting sebenarnya.


Semua yang berada di sana pun sontak merapatkan bibir masing-masing.

__ADS_1


"Tuan Morgan, silahkan ikut saya ke dalam sel. Kecuali kalau pelopor menarik laporan dan bersedia menyelesaikan masalah ini dengan cara berdamai.''


"Damai? Hahahaha! Tidak akan, Pak. Saya tidak akan pernah mencabut laporan saya, masalah ini harus sampai ke meja hijau apapun yang terjadi," tegas Rio penuh penekanan.


"Baiklah kalau begitu. Tuan Morgan, mari ikut saya ke dalam sel. Anda akan di tahan sementara sampai berkas di ajukan ke pengadilan."


Morgan hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Apakah dirinya benar-benar akan mendekap di balik jeruji? Hal yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Seorang Morgan yang selama ini taat hukum dan sama sekali tidak pernah berurusan dengan hukum tiba-tiba harus mendekap di dalam penjara.


Morgan pun bangkit dan hendak berjalan bersama Polisi tersebut. Namun, dia pun seketika menghentikan langkah kakinya juga tersenyum lega karena Pengacara yang sedari tadi dia tunggu akhirnya datang juga.


"Tunggu, Pak!" pinta sang Pengacara berjalan menghampiri, membuat Polisi tersebut mengurungkan niatnya dan menatap wajahnya kemudian.


"Anda siapa?"


"Perkenalkan, saya Afgan Rhaditia Jafran, pengacara Tuan Morgan.'' Sang Pengacara memperkenalkan diri.


"Akhirnya kamu datang juga, Afgan,'' decak Morgan bernapas lega.


"Boleh saya bicara sebentar dengan pelapor? Tapi, sebelumnya jangan bawa klien saya ke dalam sel dulu. Tunggu sampai saya selesai bernegosiasi dengan pelapor.''


"Baiklah, silahkan bernegosiasi dengan pelapor," jawab Polisi tersebut kemudian.


Morgan pun kembali duduk di kursi semula. Dia yakin betul bahwa Pengacara hebatnya akan mampu menyelesaikan masalah ini secepatnya dan dirinya tidak perlu merasakan dinginnya berada di balik sel.


Sementara menunggu Sang Pengacara berbicara 4 mata dengan pelapor, Sherli tiba-tiba saja duduk tepat di samping Morgan kini, tatapan matanya menatap sayu wajah Morgan penuh penyesalan juga merasa bersalah tentu saja.


''Maafkan saya, bos. Karena saya bos harus berurusan dengan Polisi,'' lirihnya kemudian.


''Kenapa jadi salah kamu? Mantan suami kamu yang salah, saya hanya berharap proses perceraian kalian bisa secepatnya selesai. Dengan begitu, kamu tidak perlu berurusan lagi dengan laki-laki brengsek itu,'' jawab Morgan balas menatap wajah Sherli.


Megan yang juga berada di sana tentu saja merasa kebakaran jenggot. Hatinya benar-benar merasa panas membara. Rasa cemburu itu seolah membumi hanguskan organ tubuhnya di dalam sana, dia pun mengepalkan kedua tangannya merasa kesal.


'Dasar brengsek. Aku tidak boleh kalah dari wanita ini. Mas Morgan harus kembali menjadi milikku,' (batin Megan).


BERSAMBUNG


...****************...

__ADS_1


__ADS_2