
2 minggu berlalu, keadaan Senja semakin membaik setiap harinya. Meskipun belum ada tanda-tanda ingatannya akan kembali dalam waktu dekat. Namun, Dokter sudah memperbolehkan gadis kecil itu untuk pulang.
Pulang kemana? Ke rumah Morgan tentu saja. Sepertinya ini adalah skenario Tuhan, karena sampai saat ini dirinya masih belum dipercaya untuk memiliki momongan. Pikir Morgan dan juga istrinya.
Ceklek!
Pintu rumah pun di buka lebar. Senja dengan di gendong oleh Sherli mulai masuk ke dalam rumah tersebut. Dia mengedarkan pandangannya menatap sekeliling, kedua mata gadis itu nampak berbinar menatap setiap sudut rumah mewah lengkap dengan perabotan yang serba mahal itu.
"Ini rumah Om dan Tante?" tanya Senja. Wajah polosnya terlihat sungguh menggemaskan.
"Iya, sayang. Kamu akan tinggal di sini mulai sekarang."
"Waaah! Rumahnya bagus sekali, Tante."
"Tante akan tunjukkan kamar kamu, karena kamu baru saja pulang dari rumah sakit, kamu harus banyak beristirahat dan jangan terlalu banyak bergerak dulu, oke?"
Senja menganggukkan kepalanya. Senyuman lebar pun mengembang dari kedua sisi bibirnya, menatap sayu wajah Sherli. Tanpa basa-basi lagi, Istri Morgan itu pun segera membawa tubuh mungil Senja ke dalam kamar yang memang sudah dipersipakan oleh Morgan dan juga dirinya sebelum Senja benar-benar diperbolehkan pulang dari Rumah Sakit.
"Nah, ini kamar kamu sayang. Gimana, kamu suka?" lembut Sherli sesaat setelah dirinya sampai di kamar tersebut.
Senja mengedarkan pandangannya menatap sekeliling. Kamar bernuansa pink itu terlihat rapi dan sejuk. Beberapa karakter boneka pun nampak bertengger di atas ranjang yang juga bernuasa pink. Gadis itu nampak tersenyum senang lalu menganggukkan kepalanya kemudian.
"Om sama Tante spesial menyiapkan kamar ini untuk kamu, di sebelah kamar ini adalah kamarnya Kak Dami. Jadi, kamu bisa bermain di kamar kak Dami jika kamu merasa bosan, tapi tentu saja kamu bisa bermain ketika kamu sudah sembuh benar, oke?" ujar Morgan dan lagi-lagi hanya di jawab dengan anggukan oleh gadis kecil yang di beri nama Senja tersebut.
Dengan sangat hati-hati, Sherli membaringkan tubuh Senja di atas ranjang yang memang tidak terlalu tinggi. Tubuhnya di tutup dengan selimut tebal, gadis berambut panjang itu terlihat sangat bahagia. Tatapan polosnya menatap sayu wajah Morgan dan Sherli secara bergantian.
"Kak Dami dimana, Tante? Aku tidak melihat dia?" tanya Senja kemudian.
__ADS_1
"Kak Dami masih sekolah, pulang sekolah dia langsung les matematika. Mungkin menjelang malam baru pulang," jawab Sherli, duduk di tepi ranjang seraya mengusap kepalanya lembut penuh kasih sayang.
"Oh, begitu."
"Senja, kamu istirahat saja dulu. Om sama Tante keluar dulu. Kamu tidak apa-apa kalau kami tinggal sendiri?"
"Iya, Om. Aku gak apa-apa ko. Tante sama Om istirahat juga ya, kalian pasti lelah karena setiap hari menemani aku di Rumah Sakit."
"Baiklah, kami keluar dulu ya, sayang. Jangan sungkan panggil kami jika kamu membutuhkan sesuatu."
Senja mengangguk-anggukkan kepalanya seraya tersenyum ramah. Dia pun menatap kepergian mereka berdua dengan tatapan mata bahagia. Sampai akhirnya, baik Morgan mau pun Sherli benar-benar keluar dari dalam kamar tersebut meninggalkan Senja di kamar itu sendirian.
Sepeninggal mereka berdua. Gadis kecil berusia 5 tahun itu pun bangkit dan duduk dia atas ranjang. Dia meraih satu buah boneka dan memeluknya lalu kembali berbaring. Di tatapnya boneka tersebut, raut wajah gadis itu seketika berubah muram.
"Wahai boneka yang lucu, jika mereka berdua bukan ayah dan ibuku, lalu siapa orang tuaku sebenarnya? Kenapa beliau tidak mendatangi Rumah Sakit sekalipun? Apa aku ini seorang anak yatim piatu?" tanya Senja berbicara dengan boneka, seolah benda itu akan menjadi temannya mulai sekarang. Sedetik kemudian, dia pun mulai menutup kedua mata indahnya dan seketika terlelap.
Sementara itu, Morgan dan istirnya beristirahat di dalam kamar mereka. Setelah menghabiskan waktu selama 2 minggu lamanya berada di Rumah Sakit, akhirnya keduanya bisa kembali ke rumah dengan hati dan perasaan lega.
Bagaimana tidak. Gadis kecil yang mereka beri nama Senja dan saat ini sedang dalam keadaan hilang ingatan itu kembali sembuh seperti sedia kala. Mereka juga merasa bahagia karena gadis itu akan menemani hari-harinya ke depan. Di saat keduanya sedang mendambakan seorang putri, Tuhan tiba-tiba saja mempertemukan keduanya dengan seorang gadis kecil dengan cara yang sama sekali tidak terdugan.
Apakah ini adalah takdir? Atau, ada rencana lain di balik pertemuannya dengan gadis ini yang telah Tuhan persiapkan untuk mereka berdua? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu, yang jelas baik Morgan maupun Sherli benar-benar merasa bahagia sekarang.
"Hmm! Akhirnya kita pulang juga. Mas benar-benar lelah sebenarnya harus bolak-balik Rumah Sakit," decak Morgan merentangkan kedua tangannya, lalu menjatuhkan diri di atas ranjang.
"Aku juga, Mas. Yang paling penting lagi adalah, akhirnya Senja sudah sehat sekarang. Kita hanya perlu menunggu sampai ingatanya kembali lagi dan pulangkan dia ke rumah orang tua kandungnya."
Wajah Morgan seketika berubah murung. Dia menatap langit-langit kamar, lebih tepatnya melayangkan tatapan kosong. Entah mengapa rasanya tidak rela jika dia harus menyerahkan Senja kepada orang tua kandunganya. Ya, meskipun hal itu adalah sikap yang sangat egois, karena sejatinya dia bukanlah siapa-siapa bagi anak tersebut.
__ADS_1
"Kenapa Mas melamun kayak gitu gitu?" tanya Sherli meringkuk tepat di samping suaminya kini.
"Sayang, bagaimana kalau kita mulai berkonsultasi ke Dokter?"
"Berkonsultasi mengenai apa?"
"Kita mulai program hamil. Atau kalau perlu kita lakukan bayi tabung?"
"Hah? Mas serius?"
"Tentu saja. Usia Mas sudah kepala 4. Ya, meskipun wajah Mas masih seperti pemuda usia 20-han, tapi tetap saja Mas tidak ingin hidup kesepian di hari tua Mas nanti. Mas ingin punya banyak anak, sayang. 5 tahun sudah kita menunggu, sudah saatnya kita berusaha dan berihtiar sekarang. Masalah hasilnya, serahkan kepada Tuhan," jelas Morgan panjang lebar.
"Benar juga. Aku juga semakin hari semakin tua, akan tidak baik jika hamil di atas 40 tahunan. Oke, kita lakukan apa yang Mas katakan tadi. Kita mulai program hamil," jawab Sherli tersenyum lebar.
"Tapi, sayang. Sebelum kita melakukan hal itu, bagaimana kalau kita melakukan usaha seperti biasa dulu."
"Hah?"
"Kita lakukan usaha alamiah dulu," bisik Morgan segera menarik selimut dan menutup tubuhnya juga tubuh sang istri menggunakan selimut tebal.
"Astaga, sayang!" teriak Sherli kemudian.
Seketika ranjang pun bergoyang dan bergetar. Setelah menahannya dan tidak bisa melakukannya selama 2 minggu karena harus berada di Rumah Sakit. Akhirnya, Morgan bisa memuntahkan apa yang selama ini dia tahan. Hal yang sama pun dilakukan oleh Sherli. Dia begitu menikmati pendakiannya, tidak peduli meksipun di lakukan di tengah hari saat Matahari sedang terik-teriknya bersinar, dan udara pun sedang panas-panasnya. Hal itu sama sekali tidak menghalangi mereka untuk bercocok tanam.
BERSAMBUNG
...****************...
__ADS_1