Istri Tangguh Milik Tuan Arogan

Istri Tangguh Milik Tuan Arogan
Kantor Polisi


__ADS_3

Setelah selesai mengobati luka di ujung bibir Morgan yang robek akibat di hantam oleh suami Sherli. Keduanya pun duduk di kursi yang berbeda kini, meskipun sebenarnya Morgan ingin sekali berada sangat dekat dengan wanita itu, tapi apalah daya, Sherli sepertinya bukanlah wanita yang mudah untuk dia rayu atau dia jamah tubuhnya begitu saja.


"Saya pulang dulu, Sher. Kalau mantan suami kamu datang kemari dan mengganggu kamu lagi, kamu tinggal nelpon saya. Saya akan langsung terbang kemari, oke?'' pinta Morgan tersenyum penuh percaya diri.


"Emangnya bos Superman apa, bisa langsung terbang ke sini?" jawab Sherli tersenyum begitu manisnya.


"Hahahaha! Anggap saja begitu, untuk kamu saya bisa menjadi apapun yang kamu butuhkan. Di kantor, saya akan menjadi bos yang baik untuk kamu. Ketika kamu sedang kesusahan saya juga bisa jadi Superman, satu lagi ... Saya juga bisa jadi suami yang baik untuk kamu kelak.''


"Dih, bos bisa aja deh."


Sherli seketika tersenyum manis juga tersipu malu. Tidak dapat lagi di pungkiri bahwa satu jurus gombal yang baru saja di lontarkan bosnya itu bagaikan busur panah yang melesat tepat menembus jantungnya kini. Seketika itu juga, perasaan Sherli merasa berbunga-bunga bak taman bunga yang sedang bermekaran.


Morgan pun akhirnya bangkit dan berpamitan. Entah mengapa hati Sherli merasa berat untuk di tinggalkan. Namun apalah daya, laki-laki ini bukan siapa-siapanya selain atasannya di kantor di mana dia bekerja saat ini.


"Bos hati-hati di jalan," ucap Sherli kemudian.


"Kamu juga hati-hati di rumah, Mas pulang dulu," celetuk Morgan membuat Sherli terkejut tentu saja.


"Hah?" Sherli mengerutkan kening.


"Astaga! Maaf, Sher. Saya keceplosan, sudah lama sekali tidak ada yang memanggil saya dengan sebutan Mas soalnya. Hmm ... Saya rindu sekali di panggil Mas oleh seorang wanita."


Lagi-lagi Sherli tersipu malu, laki-laki ini memang pandai sekali mengobrak-abrik hati seorang Sherli.


"Bos bisa aja. Ya udah buruan sana pulang, bisa-bisa saya pingsan nanti di gombalin terus sama bos."


"Ya kalau kamu pingsan 'kan ada saya yang akan menahan kamu, hahahaha!" Tawa Morgan terdengar nyaring, wajahnya pun terlihat sangat bahagia.


Bak seorang laki-laki dewasa yang sedang mengalami masa puber ke 2. Seperti itulah jiwa Morgan saat ini, rasa kesepiannya selama ini seolah terobati semenjak hadirnya sekertaris cantik yang membuat hidupnya terasa lebih berwarna.


Sherli mengantarkan kepergian Morgan sampai laki-laki itu benar-benar masuk ke dalam mobil miliknya. Dia pun melambaikan tangannya saat mobil tersebut mulai melaju pelan sampai akhirnya melesat kencang di jalanan.


"Ya Tuhan, apakah saya tidak akan jauh hati kepada bos Morgan jika dia terus saja memperlakukan saya seperti ini?'' Gumam Sherli tersenyum kecil.


* * *

__ADS_1


Keesokan harinya.


Morgan sedang bekerja seperti biasanya. Kedua matanya nampak menatap layar laptop memeriksa peroyek yang sedang dikerjakan oleh perusahaannya saat ini. Sampai akhirnya, suara ketukan di pintu membuat Morgan seketika menoleh ke arah pintu.


Tok! Tok! Tok!


Ceklek!


Pintu pun di ketuk dan di buka kemudian. Sherli masuk ke dalam ruangan dengan wajah pucat pasi juga keringat yang membasahi pelipisnya kini. Tentu saja hal itu membuat Morgan seketika merasa heran.


"Kamu kenapa, Sherli?" tanya Morgan mengerutkan kening.


"Anu, bos. Di luar ada--" Sherli tidak kuasa meneruskan ucapannya.


"Ada apa?"


"Selamat pagi, Tuan Morgan," sapa 2 orang polisi yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan.


"Selamat pagi, Pak Polisi. Ada apa anda-anda pagi-pagi sudah mengunjungi kantor saya? Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Kami membawa surat penahanan untuk anda, Tuan Morgan yang terhormat."


"Maaf, Tuan. Ini bukan perihal pajak, anda memang selalu bayar pajak tepat waktu."


"Lalu?"


"Ini adalah surat penangkapan atas tuduhan penganiayaan yang anda lakukan terhadap laki-laki bernama Rio. Silahkan anda ikut dengan kami ke kantor polisi."


"Hah?" Sherli dan Morgan tentu saja merasa terkejut.


Keduanya sama sekali tidak menyangkan bahwa Rio akan benar-benar melaporkan masalah kemarin kepada pihak berwajib. Hal yang sebenarnya tidak masuk akal, karena jelas-jelas laki-laki itu yang memulai perkelahian terlebih dahulu.


"Maaf, Pak. Anda salah, Rio yang memukul bos saya terlebih dahulu. Saya tahu betul akan hal itu karena saya juga berada di sana kemarin,'' ucap Sherli mencoba untuk menjelaskan.


"Silahkan jelaskan di kantor."

__ADS_1


"Tapi, Pak--"


"Tidak apa-apa, Sherli. Saya akan ikut ke kantor polisi, seperti apa yang sudah saya katakan tadi, saya adalah rakyat yang taat hukum. Tolong hubungi pengacara dan tolong cancel semua meeting saya hari ini,'' ujar Morgan dengan wajah tenang. Tidak ada rasa khawatir sedikit yang terlihat dari raut wajah seorang Morgan karena dirinya memang tidaklah bersalah.


"Baik, bos. Saya akan menghubungi pengacara bos. Saya juga akan segera menyusul bos ke kantor polisi setelah saya menyelesaikan pekerjaan saya," jalan Sherli.


Morgan menganggukan kepalanya seraya tersenyum kecil. Dia menepuk pundak Sherli pelan mencoba untuk menenangkan, dan memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja. Jelas sekali terlihat dari raut wajah seorang Sherli bahwa wanita itu merasa sangat khawatir. Perlahan Morgan pun mulai berjalan keluar dari dalam ruangan miliknya dan diikuti oleh 2 polisi tersebut.


'Maafkan saya, bos. Gara-gara saya bos harus melewati semua ini,'' gumam Sherli menatap punggung Morgan sampai laki-laki benar-benar menjauh dan menghilang di balik tembok kemudian.


* * *


Di kantor polisi.


"Nah, ini dia orangnya yang telah menganiaya saya," ujar Rio saat melihat Morgan masuk ke dalam kantor polisi.


"Astaga! Si brengsek ini. Apa tidak cukup saya memukuli kamu kemarin?" tanya Morgan menatap tajam wajah Rio penuh rasa dendam.


"Nah 'kan, dia ngaku sendiri telah memukuli saya kemarin. Sudah pak Polisi, cepat jebloskan dia ke dalam penjara."


'Astaga, kenapa saya sampai keceplosan kayak gini? Ini sama saja dengan saya mengakui perbuatan saya sendiri,' (batin Morgan).


"Tunggu, apa anda lupa siapa yang telah memukul saya terlebih dahulu?" tanya Morgan membuat Rio seketika merasa gugup tentu saja.


"Hah? Bohong, Pak. Laki-laki sombong ini yang telah memukuli saya. Sudah cepat masukan dia ke dalam penjara.''


Morgan tersenyum menyeringai. Ingin rasanya dia menghantam wajah laki-laki ini habis-habisan. Akan tetapi, dia mencoba menahannya sedemikian rupa karena tidak ingin memperburuk keadaan.


"Mas Morgan!"


"Bos Morgan!"


Tiba-tiba saja terdengar suara 2 orang wanita memanggil namanya. Tentu saja laki-laki itu sontak menoleh dan mencari sumber suara. Morgan seketika membulatkan bola matanya saat melihat dua wanita cantik berjalan menghampirinya kini.


Ya mereka adalah Megan Queeni sang mantan istri, berjalan secara beriringan bersama Sherli sang sekertaris cantiknya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


...****************...


__ADS_2