
Setelah memastikan tidak ada lagi serpihan kaca yang tertinggal di lantai. Morgan duduk bersama Megan sang istri dengan perasaan terpaksa sebenarnya. Dia tidak bisa berbuat apapun lagi, mengingat sang Istri telah berbesar hati memaafkan kesalahannya di masa lalu, kesalahan besar yang tidak semua wanita bisa memaafkannya begitu saja.
''Tuangkan aku segelas anggur,'' pinta Megan kemudian dan segera di patuhi oleh Morgan.
Laki-laki itu benar-benar menuangkan anggur merah ke dalam gelas yang saat ini di genggam oleh istrinya. Dia pun hanya mengisi setengah gelas saja, tidak ingin Megan terlalu banyak minum nantinya.
''Kurang, Mas. Ko cuma segini? Isi yang penuh dong,'' pinta Megan dengan perasaan kesal.
''Jangan terlalu banyak minum, sayang. Tidak baik untuk kesehatan kamu lho.''
''Jangan banyak omong, isi aja sampai penuh.''
Morgan hanya bisa menghela napas berat lalu benar-benar mengisi penuh gelas tersebut. Megan nampak memutar pelan anggur merah di dalam gelas, dia pun membauinya sekejap lalu benar-benar meminumnya habis hanya dengan sekali tegukan saja.
Glegek! Glegek! Glegek!
Suara anggur merah yang melintasi tenggorokan Megan bahkan terdengar begitu nyaring. Sementara Morgan hanya bisa menatap wajah sang istri dengan perasaan yang sulit di ungkapkan. Di satu sisi dia merasa jengah dengan sikap sang istri, tapi di sisi lain, dia pun mengerti betul bahwa istrinya sedang merindukan putra mereka dan sedang membutuhkan pelampiasan.
''Kalau putra kita masih hidup, dia pasti sudah besar sekarang. Jack juga pasti tampan seperti kamu, Mas. Aku benar-benar merindukan putra kita. Hiks hiks hiks!'' Megan tiba-tiba menangis sesenggukan menahan rasa rindu yang teramat dalam akan sosok sang putra.
Morgan hanya diam tidak mengatakan apapun. Dia hanya akan menjadi pendengar yang baik untuk keluh kesah istrinya tersebut.
''Semuanya gara-gara kamu, Mas. Kamu benar-benar jahat. Seharusnya aku tidak pernah memaafkan kamu, bagaimana bisa aku masih mencintai kamu setelah kesalahan besar yang sudah kamu perbuat, kenapa!? hiks hiks hiks!''
__ADS_1
Morgan masih diam seribu bahasa. Ya ... Dirinya memang salah, sangat salah. Tidak ada wanita sebaik istrinya yang akan memaafkan kesalahan besar yang telah dia perbuat itu, bahkan Megan masih bertahan berada di sisinya selama 10 tahun lamanya.
''Kenapa kamu diam saja, Mas? Jawab Mas, kenapa kamu jahat sekali sama putra kita itu. Haaaa?!'' suara Megan terdengar meliuk-liuk layaknya orang yang sedang mabuk.
''Kamu mabuk, sayang. Kita istirahat ya, sudah cukup minumnya, gak baik untuk kesehatan kalau kamu terlalu banyak minum seperti ini, Mas gendong kamu ke kamar ya,'' jawab Morgan akhirnya membuka suara.
''Tidak, aku masih ingin minum. Tuangkan aku segelas lagi, cepetan!''
''Tapi, sayang--''
Megan membulatkan bola mata menatap wajah suaminya dengan tatapan tajam, membuat Morgan mau tidak mau harus mengikuti keinginan istrinya tersebut. Gelas yang sudah kosong itu pun dia isi kembali dengan anggur merah. Seketika itu juga, istrinya meneguk habis minuman beralkohol tersebut.
Bruk!
''Jahat! Kamu ayah yang jahat, seharusnya kamu cukup mengakui kesalahan kamu saja waktu itu. Tak usah sampai membentak putra kita sampai dia menangis, mungkin dia masih hidup sekarang jika kamu tidak melakukan hal itu. Brengsek kamu, Mas. Aku benci kamu!?'' Megan berteriak histeris, dia bahkan memukuli dada sang suami tiada henti.
Hal itu tentu saja membuat Morgan tidak bisa diam lagi. Dirinya segera memeluk tubuh istrinya juga menangis di dalam pelukannya kini. Bukan hanya Megan saja yang merasa berat dengan semua ini, dia pun merasakan hal yang sama. Betapa selama ini Morgan selalu hidup di dalam penyesalan yang tidak berujung. Jiwanya pun begitu tersiksa sebenarnya.
''Maafkan Mas sayang. Mas benar-benar menyesal, Mas juga tersiksa selama 10 tahun ini sebenarnya. Namun, sedalam apapun penyesalan Mas, putra kita gak akan pernah hidup lagi. Mas minta maaf, kamu boleh memperlakukan Mas sebagai pembantu, kacung atau apalah yang penting kamu merasa puas, tapi Mas mohon jangan seperti ini. Mengungkit masa lalu terus menerus hanya akan membuat jiwa kita merasa tersiksa!'' ucap Morgan menahan rasa sesak sebenarnya.
''Hahahaha! hiks hiks hiks! Dasar mata keranjang, laki-laki brengsek, aku benci sama kamu, Mas. Kenapa kamu mesti menolak aku ajak tercerai dulu? Kenapaaaa? Kenapa juga aku harus terus bertahan di sisi kamu setelah semua yang sudah kamu lakukan? Kamu membunuh putra kita, dasar pembunuuuuh!'' teriak Megan menangis juga tertawa secara bersamaan seperti orang yang telah hilang akal.
Bruk!
__ADS_1
Tubuh Megan seketika ambruk di atas pangkuan Morgan. Megan Queeni benar-benar tumbang karena terlalu banyak meminum alkohol. Kedua mata wanita itu benar-benar terpejam sempurna. Sesekali bibirnya memanggil nama Jack sang putra, air matanya pun bergulir begitu saja membasahi wajah cantiknya kini.
Morgan Maxime hanya bisa menatap wajah sang istri dengan tatapan sayu. Dia sama sekali tidak marah dengan sikap sang istri, meskipun rasa jengah itu kadang menghampiri dan membuat jiwanya merasa lelah. Namun, dia sadar betul bahwa istrinya seperti karena dirinya.
''Maafkan Mas sayang. Maaf saja rasanya gak cukup untuk menebus semua kesalahan yang telah Mas perbuat, Mas akan mengabdikan hidup Mas untuk kamu. Mas akan menghabiskan sisa hidup Mas dengan menebus kesalahan yang telah Mas perbuat. Kamu adalah istri terbaik, ya meskipun sifat Mas yang jelalatan itu tak bisa di obati, tapi hanya kamu wanita yang Mas cintai. I love you, Megan Queeni,'' lirih Morgan mengusap kepala istrinya pelan, lembut dan penuh kasih sayang.
* * *
Keesokan harinya.
Megan mengedipkan kedua matanya secara perlahan. Menahan rasa pusing di kepalanya karena terlalu banyak meminum alkohol semalam. Dia pun hendak merentangkan tangan, tapi wanita itu seketika menghentikan gerakan tangannya saat menyadari bahwa dirinya masih berada di pangkuan suaminya kini.
''Mas Morgan? Astaga, kenapa aku bisa ketiduran di sini? Apa semalam aku terlalu banyak meminum alkohol sampai ketiduran di sini?'' gumam Megan bangkit dari atas pangkuan suaminya.
Morgan yang masih tertidur lelap pun nampak bergeming di tempatnya. Megan menatap wajah tampan suaminya dengan wajah datar. Dia pun mencoba untuk mengingat kejadian semalam dimana dirinya hilang kendali dan memaki suaminya sedemikian rupa.
''Astaga, kenapa aku sampai bersikap seperti itu lagi kepada suamiku sendiri? Tapi, Mas memang pantas mendapatkan semua perlakukan kasar aku itu. Aku memang mencintai kamu, Mas, tapi aku masih belum bisa memaafkan kamu sepenuhnya. Aku pun gak tahu sampai kapan aku akan bersikap seperti ini,'' gumam Megan, semakin menatap lekat wajah suaminya tersebut.
BERSAMBUNG
...****************...
PROMOSI NOVEL
__ADS_1