Istri Tangguh Milik Tuan Arogan

Istri Tangguh Milik Tuan Arogan
Mengulang Malam Pertama


__ADS_3

Morgan tersenyum kecil. Dia pun mengecup pucuk kepala istrinya lembut dan penuh kasih sayang. Selain itu Morgan Maxime juga balas memeluk tubuh sang istri erat.


"Maafkan Mas juga karena bicara terlalu keras tadi. Mas juga minta maaf karena telah mengabaikan kamu, sayang," lirihnya kemudian.


"Tidak, Mas tidak salah sama sekali, aku yang salah. Istri macam apa yang meminta suaminya untuk menikahi wanita lain. So jadi super hero, so baik, padahal aku sendiri gak akan sela dimadu. Membayangkannya saja membuat bulu kuduku merinding."


"Hey, siapa bilang kamu so jadi super hero, so baik? Kamu memang pahlawan ko."


"Dih!"


"Pahlawan karena telah berhasil menaklukan hati seorang Morgan Maxime, hahahaha!" Morgan seketika tertawa nyaring.


"Dih, dasar," decak Sherli tersenyum kecil. Dia pun semakin memperat lingkaran tangannya.


"O iya, sayang. Mas gak lihat Senja?"


"Dia aku tinggalkan di Rumah Sakit. Katanya malam ini Mbak Megan ingin ditemani putrinya."


"Oh begitu? Hmm ... Hari ini Mas gak ke Rumah Sakit. Mas sibuk sekali soalnya. O iya, sayang. Mas akan membeli rumah si Megan, biar uangnya bisa dia pakai untuk biaya pengobatan di Rumah Sakit."


"Hmm!"


"Ko jawabnya cuma, 'hmmm' doang?"


"Terus aku harus jawab apa? Mas juga 'kan yang mindahin Mbak Megan ke ruangan VVIP?"


"Iya, itu karena Mas gak tega aja dia ditempatkan di ruangan yang di huni lebih dari 5 orang. Rasanya sesak di sana. Ya udah, Mas minta aja perawat untuk memindahkan dia ke ruangan yang lebih nyaman. Gak apa-apa 'kan?"


"Ya nggak apa-apa sih. Masalahnya, Mas gak bilang dulu sama aku."


"O iya, Mas lupa. Hahahaha!"


Sherli perlahan mulai mengurai pelukan. Dia menatap wajah Morgan sang Suami dengan tatapan mata sayu. Senyuman manis pun dia layangkan begitu sejuk di pandang.


"Aku gak keberatan jika kita merawat Mbak Megan, kasian dia." Lembut Sherli kemudian.


"Nah, ini nih. Ini yang Mas suka dari kamu."


"Hah?"


"Kamu itu terlalu baik sebagai seorang wanita. Bahkan sebagai seorang manusia. Megan itu mantan istrinya Mas lho, dia juga meminta Mas buat nikahi dia. Kamu masih aja mau buat merawat dia. Sebenarnya hati kamu ini terbuat dari apa sih? Apa sebenarnya kamu adalah bidadari yang turun dari khayangan dan menjelma sebagai manusia?"


"Jangan terlalu berlebihan deh. Aku melakukan ini demi Senja. Kasian kalau anak sekecil itu harus mengurus ibunya yang lagi sakit keras."


"Tetap saja. Wanita lain mana ada yang sebaik kamu, sayang."


"Terserah Mas mau bilang apa. Yang jelas, aku melakukan ini demi Senja, aku sayang sama anak itu. Jadi, jangan memuji aku terlalu berlebihan, oke?"


"Iya-iya, selain cantik, kamu juga baik, dan tidak sombong."


"Nah 'kan? Muji-mujinya berlebihan lagi."

__ADS_1


"Hahahaha! Sherli-Sherli, muach!"


Satu kecupan pun mendarat di bibir mungil sang istri.


"Tapi, sayang. Tubuh kamu masih bau Rumah Sakit, kamu belum mandi juga?"


Sherli menggelengkan kepalanya seraya tersenyum cengengesan.


"Hmm ... Bagaimana kalau kita mandi bareng? Sekalian Mas juga pengen mengulang malam pertama kita."


"Ish, mengulang apaan?"


"Malam pertama kita 5 tahun yang lalu, di kamar mandi itu lho."


"Apaan sih!" Wajah Sherli seketika memerah juga menahan senyuman.


Tanpa basa-basi lagi, Morgan seketika meraih tubuh istrinya dan menggendongnya kemudian. Dengan setengah berlari, dia pun membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Ceklek!


Blug!


Pintu kamar mandi pun di buka dan di tutup kasar setelah keduanya masuk ke dalam sana.


"Arghhh, Mas! Pelan-pelan, sabar ngapa!" teriak Sherli di dalam sana.


"Iya-iya, maaf. Hahahaha! Akkhh ... Sayang!" Suara des*han pun mulai terdengar saling bersahutan.


* * *


Dami menatap wajah ayah dan ibunya secara bergantian. Wajah kedua orang tuanya itu terlihat segar. Senyuman merekah pun terlihat dari kedua sisi bibir mereka kini.


"Mommy cantik sekali pagi ini," goda Dami tersenyum kecil.


"Mommy kamu memang selalu cantik setiap hari, sayang," timpal Morgan mengedipkan satu matanya, tersenyum menatap Sherli kemudian.


"Ish, kalian apaan sih? Ayah sama anak sama aja. Sama-sama pintar menggombal," decak Sherli tersenyum kecil.


"Tapi beneran lho, Mom. Wajah Mommy terlihat lebih segar dari kemarin. Apa kalian sudah baikan?"


"Kenapa harus baikan segala? Orang kami gak apa-apa ko, iya 'kan sayang?"


Sherli mengangguk-anggukkan kepalanya seraya tersenyum manis.


"Syukurlah kalau begitu. Eu ... Aku sudah kenyang, Mom, Dad. Aku berangkat sekolah sekarang ya."


"Tunggu Daddy, kopi Daddy sedikit lagi habis. Kasian kalau kopi bikinan Mommy kamu ini gak di habiskan, bisa mubajir nanti," pinta Morgan menyeruput kopi tersebut sampai tidak bersisa. Dia pun bangkit lalu mendekati istrinya.


"Kami berangkat dulu, sayang, muach!" satu kecupan pun mendarat di kening Sherli penuh kasih sayang.


Hal yang sama pun di lakukan oleh Dami, dia mengecup kedua sisi pipi sang ibu penuh kasih sayang. Setelah itu, keduanya pun benar-benar berangkat untuk melakukan aktivitasnya masing-masing.

__ADS_1


* * *


Sherli menghabiskan waktunya dengan bersantai di rumah. Hari ini dia akan bermalas-malasan setelah sekian lama di sibukkan dengan mengurus dan menjaga Sherli kecil. Ya, meskipun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, dia merasa kehilangan dan juga kesepian.


Dret! Dret! Dret!


Ponsel miliknya yang dia letakkan sembarang di atas meja, tiba-tiba saja berdering. Sherli seketika menoleh dan meraih ponsel tersebut, setelah menatap layarnya sekejap dia pun mengangkat telpon kemudian.


📞 "Halo, selamat siang. Dengan siapa ya?" tanyanya mengerutkan kening.


📞 "Selamat siang, Mbak. Ini dari Rumah Sakit, saya mau menginformasikan kalau keadaan pasien bernama Megan tiba-tiba saja drop. Dia harus di larikan ke ruangan ICU untuk ditangani lebih serius."


📞 "Apa?"


📞 "Saya harap pihak keluarga segera datang ke Rumah Sakit, karena keadaan pasien benar-benar drop sekarang."


📞 "Astaga! Ba-baik, sus. Saya akan segera ke sana sekarang juga."


Ucapkan terakhir Sherli sebelum akhirnya menutup sambungan telpon. Wanita itu segera bangkit dan bersiap-siap untuk ke Rumah Sakit, tapi sebelumnya dia pun terlebih dahulu mengabari suaminya dan memintanya untuk menyusul ke Rumah Sakit.


* * *


Di Rumah Sakit.


Sherli menatap wajah Megan yang saat ini terkulai lemas di atas ranjang. Tubuhnya sama sekali sudah tidak bisa di gerakan. Wajahnya benar-benar putih seputih kapas. Wanita itu benar-benar berada di titik terendah sekarang.


"Mbak, ini aku Sherli. Mbak bisa mendengar aku?" Sherli berbisik di telinga Megan kini, dia hanya menanggapi ucapan Sherli dengan kedipan mata lemah.


"Aku akan menjaga putri Mbak dengan baik, jadi Mbak tak usah khawatir."


Megan kembali mengedipkan kelopak matanya pelan.


"Aku keluar dulu ya, kasian Sherli di luar sendirian."


Megan berusaha untuk mengangguk lemah.


Setelah itu, Sherli pun benar-benar keluar dari dalam ruangan. Di luar, Morgan nampak duduk bersama Sherli kecil. Wajahnya penuh dengan kecemasan. Keringat nampak membasahi pelipis wajahnya kini.


"Mas Morgan? Kamu sudah di sini?" tanya Sherli duduk di samping sang suami.


"Mas baru saja menemui Dokter."


"O ya? Apa kata Dokter? Kenapa Mbak Megan tiba-tiba drop?"


"Sayang! Mas cinta sama kamu. Hanya kamu satu-satunya wanita yang paling berharga di dalam hidup Mas."


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Sherli ketika mengerutkan kening.


"Izinkan Mas menikahi Megan."


BERSAMBUNG

__ADS_1


...****************...


__ADS_2