
Megan berbalik dan pergi begitu saja dari hadapan Morgan. Merasa tidak di hargai? Ya, dia memang merasa kehadirannya tidak di hargai oleh mantan suaminya. Merasa kecewa? Tentu saja, perasaan kecewa itu terselip di dalam lubuk hatinya kini.
Akan tetapi, hal itu sama sekali tidak akan mengurungkan niat Megan untuk kembali merebut hati seorang Morgan. 2 tahun sudah dia mencoba untuk melupakan mantan suaminya itu. Selama ini dia pun sudah mencoba untuk menjalin hubungan dengan banyak pria. Namun, tidak ada laki-laki sepenurut Morgan, tidak ada laki-laki yang sepatuh Morgan terhadapnya ketika mereka masih menjadi suami istri kala itu.
Satu-satunya laki-laki yang pernah tunduk padanya hanyalah Morgan. Dia seperti seorang pawang singa yang mampu membuat sang raja singa bertekuk lutut kepadanya dan mengikuti apapun yang dia perintahkan. Betapa dia merindukan semua itu sekarang.
Perceraiannya 2 tahun yang lalu, sungguh dia menyesali kenapa hal itu bisa terjadi. Meski penyesalan tidak ada lagi gunanya kini, tapi Megan tetap pada pendiriannya bahwa hanya dia yang mampu menaklukan hati Morgan Maxime mantan suaminya, dan hanya dia wanita yang pantas menjadi istri dari laki-laki bernama Morgan Maxime. Megan merindukan perannya sebagai istri tangguh seorang Morgan, dimana dia harus ekstra dalam menjaga suaminya yang mata keranjang juga jelalatan.
* * *
Sementara itu di dalam kantor Polisi. Tidak mampu membutuhkan waktu lama, Afgan sang Pengacara sudah menyelesaikan negosiasinya dengan Rio sang pelapor. Mereka berdua yang semula berbicara di tempat yang terpisah nampak sudah kembali ke ruangan yang sama dimana Sherli dan Morgan berada saat ini.
"Bagiamana hasil negosiasinya? Apakah si brengsek ini bersedia mencabut laporannya?" tanya Morgan menatap wajah Rio dengan tatapan tajam.
"Hey hati-hati ya anda kalau bicara. Yang brengsek itu anda bukan saya!" timpal Rio merasa tidak terima.
Afgan seketika mendekati kliennya. Dia pun membisikkan sesuatu di telinga Morgan kemudian.
"Sabar dulu, Tuan. Untuk saat ini tidak ada jalan lain lagi selain mengalah,'' bisik Afgan.
"Apa? Hahahaha? Morgan Maxime harus mengalah kepada laki-laki brengsek ini!" teriak Morgan membulatkan bola matanya.
Afgan hanya bisa memejamkan kedua matanya. Dia tahu betul seperti apa sifat Morgan yang terkenal arogan dan tidak mau mengalah kepada siapapun. Akan tetapi, dalam hal ini kliennya itu tetap saja berada di posisi yang sulit karena status pelapor yang masih sebagai suami dari wanita bernama Sherli.
"Sebaiknya kita bicara sebentar Tuan Morgan," pinta Afgan kemudian.
Mau tidak mau, Morgan pun mengikuti keinginan Pengacaranya. Dia berdiri dan berjalan menuju tempat lain untuk berbicara hanya berdua saja dengan laki-laki itu. Sepeninggal Morgan, kini tinggalah Sherli dan juga suaminya.
"Aku mohon jangan mempersulit keadaan Mas Rio. Beberapa hari lagi sidang pertama perceraian kita akan di gelar," ucap Sherli tanpa menoleh ke arah Rio sedikitpun.
"Kenapa kamu ingin bercerai denganku?" jawab Rio menoleh dan menatap wajah Sherli lekat.
__ADS_1
"Apa lagi? Kamu itu kasar. Sudah berapa kali kamu melakukan kekerasan sama aku hanya karena masalah sepele? Lepaskan aku, sudah tak sanggup aku menjadi Istri dari suami kasar seperti kamu."
"Apa karena bos kamu itu?"
"Hah? Hahahaha! Jangan ngaco, Mas. Aku baru mengenal dia dari semenjak aku bekerja di kantornya. Jadi, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan bos Morgan."
Rio mengusap wajahnya kasar. Sepertinya dia sama sekali tidak bisa mempertahankan pernikahannya dengan Sherli jika istrinya masih bersikeras ingin bercerai dengannya. Meskipun merasa berat, laki-laki itu akan mengabulkan keinginan istrinya itu untuk bercerai.
"Baiklah, sampai jumpa pengadilan," ucap Rio. Dia pun berdiri dan hendak pergi kemudian.
"Tunggu, Mas Rio. Jangan pergi dulu, cabut dulu laporan kamu," pinta Sherli membuat Rio pun seketika menghentikan langkah kakinya.
"Pak Polisi, saya mencabut laporan ini. Damai saja lah, semua ini saya lakukan demi mantan istri saya ini," ketus Rio lalu pergi begitu saja meninggalkan kantor Polisi.
Tentu saja, Morgan yang mendengar ucapan lantang yang keluar dari mulut Rio pun seketika bersorak senang bukan kepalang.
"Yeeey! Akhirnya si brengsek itu mencabut gugatan tanpa perlu aku mengeluarkan uang sepeserpun, hahahaha!" Tawa Morgan terdengar nyaring.
Setelah menyelesaikan urusan di kantor Polisi. Morgan dan juga Sherli sudah berada di perjalanan menuju kantor. Sherli duduk di jok belakang bersama Morgan dengan perasaan gugup. Entah mengapa, dirinya merasa ada yang berbeda dengan perasaannya juga dengan hatinya.
Aura yang terpancar dari wajah Morgan pun terasa berbeda dia rasa. Apakah dia sudah mulai menyukai bosnya tersebut? Rasa yang selama ini dia tahan kehadirannya, mengingat bahwa proses perceraian dirinya dengan sang suami sama sekali belum selesai.
"Hmm ... Saya pikir malam ini saya akan bermalam di dalam sel," decak Morgan tersenyum menatap keluar jendela mobil.
"Maaf karena saya terlambat datang ke kantor polisi bos," ucap Bram yang saat ini sedang menyetir mobil merasa tidak enak tentu saja.
"Tidak apa-apa, tak usah di pikirkan. Toh masalahnya sudah selesai sekarang."
Bram hanya tersenyum kecil menatap wajah bosnya dari kaca spion yang berada di dalam mobil.
"Sherli."
__ADS_1
''Iya, bos.''
"Sebenarnya saya malas sekali untuk kembali ke kantor. Apa kamu tidak merasa keberatan jika saya mengajak kamu ke rumah saya? Temani saya minum kopi," pinta Morgan mengalihkan pandangannya, menatap wajah Sherli kini.
"Hah? Eu ... Saya--"
"Gak usah merasa khawatir, di sana kita tidak hanya berdua saja ko. Ada Bibi pembantu rumah tangga saya juga.''
"Ba-baik, bos. Namun, sebenarnya masih banyak pekerjaan yang belum saya selesaikan di kantor."
"Tak masalah, pekerjaan masih bisa di selesaikan besok lagi. Lagipula saya yakin kalau kamu juga merasa lelah sebenarnya.''
Sherli hanya tersenyum kecil seraya menganggukkan kepalanya. Lagi-lagi dia merasakan sesuatu yang berbeda dengan hatinya. Perasannya benar-benar merasa campur aduk sulit untuk diartikan.
Mobil pun akhirnya sampai di tempat tujuan. Sebuah rumah besar dan megah berlantai 2 dengan cat berwarna coklat muda mendominasi temboknya, juga halaman luas membentang lengkap dengan rerumputan hijau. Sherli menatap sekeliling dengan tatapan mata penuh rasa takjub. Baginya, rumah tersebut terlihat seperti sebuah istana.
Ckiit!
Mobil pun berhenti tepat di depan teras rumah. Morgan segera keluar dari dalam mobil di susul oleh Sherli kemudian. Keduanya pun berjalan menuju pintu utama dengan senyuman yang mengembang dari kedua sisi bibir masing-masing.
"Selamat datang di rumah saya, Sherli! Rumah ini akan menjadi rumah kamu jiga suatu saat nanti, hahahaha!'' ucap Morgan tertawa lepas.
"Bos bisa saja," lirih Sherli tersipu malu juga dengan wajah yang memerah tentu saja.
Ceklek!
Pintu rumah pun di buka lebar. Morgan dan juga Sherli hendak masuk ke dalamnya kemudian, tapi kedua orang itu tiba-tiba saja menghentikan langkan kakinya masing-masing saat melihat seseorang berada di dalam sana.
"Sedang apa kamu di sini?"
BERSAMBUNG
__ADS_1
...****************...