
Tok! Tok! Tok!
Pintu di ketuk secara berkali-kali, Morgan dan isyrinya berdiri tepat di depan pingu kediaman Megan. Setelah bertanya kepada warga sekitar kompleks, akhirnya mereka mendapatkan alamat presis rumah wanita itu.
Akan tetapi, mereka sama sekali tidak begitu yakin bahwa rumah itu berpenghuni, karena keadaan rumah tersebut nampak berantakan layaknya rumah yang telah lama di tinggalkan. Debu memenuhi seluruh teras rumah, rerumputan liar pun terlihat sudah meninggi bahkan hampir menutupi rumah tersebut.
"Mas, apa benar ini rumahnya Mbak Megan? Kayaknya rumah ini sudah lama kosong deh," tanya Sherli menatap sekeliling.
"Mas juga tidak yakin sebenarnya. Benar kata kamu, sepertinya rumah ini sudah lama di tinggalkan penghuninya."
"Apa yang akan kita lakukan sekarang? Kemana lagi kita harus mencari Mbak Megan? Kasian Senja."
Morgan hanya bisa mengusap punggung sang istri lembut. Dia pun di selimuti rasa khawatir tentu saja. Apa yang sebenarnya telah menimpa mantan istrinya itu?
"Sebaiknya kita pulang sekarang. Kita pikirkan hal ini di rumah," ucapnya kemudian.
"Maaf, apa kalian mencari pemilik rumah ini?" tiba-tiba ada seorang ibu paruh baya yang menghampiri mereka berdua.
"Iya, Mbak. Apakah anda tahu kemana pemilik rumah ini pergi?" tanya Sherli.
"4 tahun yang lalu, pemilik rumah ini sudah pindah. Ada seorang laki-laki yang berniat menjual rumah ini, tapi karena asurat-suratnya tidak lengkap, maka setiap ada yang hendak membeli rumah ini selalu gagal."
"Hah? Mbak yakin?"
"Tentu saja yakin, karena rumah ini adalah rumah saya sebelum di beli oleh Mbak Megan."
"Apa anda tahu kemana Megan pindah?"
"Sayangnya saya tidak tahu, eu ... Tapi saya tahu nomor telpon laki-laki yang akan menjual rumah ini, karena dia meminta saya untuk menawarkan rumah ini kepada siapapun, dan mengatakan bahwa saya akan mendapatkan imbalan 10% dari hasil penjualan nantinya."
"Boleh saya minta nomor teleponnya, Mbak? Saya ada keperluan yang sangat penting sekali."
"Kalau boleh tahu anda berdua siapa ya? Apa anda tertarik mau membeli rumah ini juga?"
"Eu ... Kami sahabatnya Mbak Megan. Kalau boleh kami minta nomor telepon laki-laki itu, ini penting sekali," jawab Sherli sedikit memohon.
"Baiklah, sebentar saya lihat dulu ya."
Wanita itu mengeluarkan ponsel dari saku pakaian yang dia kenakan. Setelah mencari dengan teliti, akhirnya dia pun mendapatkan apa yang dia cari. Nomor yang diinginkan pun segera dikirimkan kepada Morgan.
"Terima kasih, Mbak. Sekali lagi terima kasih atas informasinya."
"Sama-sama, saya permisi dulu kalau begitu."
Morgan dan juga Sherli mengangguk-anggukkan kepalanya seraya tersenyum ramah. Mereka bertiga pun meninggalkan rumah tersebut kemudian. Baik Morgan maupun Sherli sama-sama merasa khawatir sekarang. Apakah Megan baik-baik saja saat ini?
* * *
__ADS_1
Tut! Tut! Tut!
Suara telpon yang belum di angkat.
"Bagaimana, Mas? Apakah nomornya aktif?" tanya Sherli merasa pensaran, dia duduk dengan Senja di dalam gendongannya kini.
"Nomornya aktif, tapi tidak di angkat," jawab Morgan menatap layar ponsel canggih miliknya.
"Sepertinya laki-laki itu bukan orang baik-baik, buktinya kenapa dia mau menjual rumah itu? Apa mungkin Mbak Megan ada bersama dia saat ini?"
Morgan diam tidak menanggapi. Dia menatap lekat layar ponsel seperti sedang mengetik pesan. Beberapa saat kemudian, benda pipih itu pun berdering, Morgan segera mengangkat telpon saat itu juga.
📞 "Halo, maaf menganggu? Saya adalah orang yang jalan membeli rumah anda yang ada di komplek ****" ujar Morgan, membuat Sherli mengerutkan kening
📞 "O ya? Syukurlah, akhirnya rumah itu ada yang membeli juga," ujar seorang laki-laki di dalam telpon.
📞 "Apa bisa kita bertemu sekarang juga?"
📞 "Tentu saja bisa. Saya akan menemui anda di rumah yang akan anda beli itu. Sekalian kita tentukan harganya."
📞 "Baiklah, kita bertemu di sana sekarang juga."
Sambungan telpon pun di tutup kemudian.
"Bagaimana, Mas?" Sherli semakin merasa penasaran.
"Kami akan bertemu di rumah yang tadi."
"Tak usah, sayang. Kalau dia memang orang jahat, Mas sendiri yang akan memberikan pelajaran sama dia." Tegas Morgan penuh penekanan.
"Baiklah kalau begitu."
Morgan mengalihkan pandangannya kepada Senja, yang saat ini nampak memejamkan mata di dalam dekapan istrinya. Kenapa gadis secantik dan selucu ini bisa lahir dari wanita seperti Megan? Sedangkan dirinya dan sang istri sama sekali tidak di beri kesempatan oleh Tuhan untuk memiliki momongan.
Tidak lama kemudian, ponselnya pun kembali berdering. Laki-laki itu kembali menelponnya dan mengatakan bahwa dia sudah sampai di rumah tersebut. Tentu saja, tanpa berpikir panjang lagi, Morgan mengatakan bahwa dirinya akan segera ke sana sekarang juga.
"Mas pergi dulu, sayang." Pamit Morgan kemudian.
"Hati-hati, Mas. Ingat, jangan terlalu emosi."
Morgan hanya menganggukkan kepalanya. Dia pun hendak berjalan keluar dari dalam rumah. Namun, laki-laki itu seketika menghentikan langkah kakinya saat mendengar suara lirih Senja yang tiba-tiba saja memanggil namanya.
"Om mau kemana?" tanyanya, menatap sayu wajah Morgan kini.
"Sayang? Om pikir kamu tidur?" tanya Morgan, mengusap kepalanya gadis kecil itu lembut dan penuh kasih sayang.
"Apa Om mau ketemu sama ibu kandung aku?"
__ADS_1
"Hah? Hahahaha! Kata siapa, sayang? Om hanya ada keperluan penting saja ini."
Wajah Senja nampak kecewa. Jelas sekali terlihat bahwa gadis itu begitu merindukan ibu kandungnya. Meskipun Sherli selalu memperlakuannya dengan sangat baik, tapi tetap saja tidak ada yang bisa menggantikan kasih sayang seorang ibu.
"Om pergi dulu ya, sayang. Kamu tidak usah khawatir, Om akan segera menemukan ibu kandung kamu secepatnya."
Senja hanya menganggukkan kepalanya yang saat ini di sandarkan di dada Sherli. Wajahnya terlihat sayu dan kuyu. Tatapan matanya nampak kosong menatap ke depan.
Setelah kepergian Morgan, tinggalah Sherli dan juga Senja di dalam rumah tersebut. Wanita itu mengusap punggung Senja lembut penuh kasih sayang.
"Sayang, mau bobo di kamar?" tanya Sherli lembut.
"Tante, boleh aku melihat album poto yang waktu itu aku lihat?" pinta Senja secara tiba-tiba.
"Album poto? Hmm ... Tentu saja boleh, kebetulan sekali albumnya ada di sini," jawab Sherli, meraih album tersebut yang saat ini berada di bawah meja.
"Aku mau duduk."
"Boleh, sayang."
Dengan sangat hati-hati, Sherli menurunkan Senja dan duduk tepat di sampingnya kini. Keduanya mulai membuka album poto tersebut dan menatap dengan seksama setiap lembarnya. Kedua mata Senja kini tertuju kepada wajah Megan yang terlihat cantik dan masih sangat muda di dalam poto tersebut.
"Kamu kenal dengan wanita yang berada di dalam poto ini?"
Senja diam seribu bahasa, otaknnya mencoba untuk berfikir keras. Wajah wanita itu terasa tidak asing lagi baginya. Dia pun seperti merasakan ikatan batin dengannya, tapi gadis itu masih mencoba untuk mengingat dan mengingat lebih dalam lagi.
Sampai akhirnya, tiba-tiba saja kepalanya terasa sangat sakit. Dia seketika meringis kesakitan juga menangis sesenggukan. Senja memegangi kepalanya membuat Sherli merasa terkejut tentu saja.
"Argh! Kepala aku sakit, Tante. Arghhh! Hiks hiks hiks!" teriak Senja.
"Astaga, sayang. Kepala kamu sakit lagi? Maafkan Tante sayang, seharunya Tante tidak mengikuti keinginan kamu tadi. Sini biar Tante gendong lagi ya."
Pelan dan sangat hati-hati, Sherli kembali menggendong tubuh mungil gadis itu. Dia pun menimangnya penuh rasa khawatir. Perasaannya merasa berkecamuk tapi masih mencoba untuk menenangkan.
"Sakit, Tante. Kepala aku sakit banget, argh!" ringis Senja memegangi kepalanya.
"Sabar ya, sayang. Tante akan segera menelpon Dokter."
"Tak usah, Tante. Antarkan saja aku kepada Mommy. Aku ingin ketemu Mommy, aku rindu dia. Hiks hiks hiks!" tangis Senja semakin menjadi-jadi.
"Mommy? Apa kamu tahu Mommy kamu ada dimana saat ini? Apa kamu sudah dapat mengingat siapa Mommy kamu."
Senja mengangguk-anggukkan kepalanya seraya menangis sesenggukan.
"Ya Tuhan! Ingatan kamu sudah kembali, Nak?"
"Antarkan aku ke Rumah Sakit, Mommy lagi sakit, Tante. Hiks hiks hiks!"
__ADS_1
BERSAMBUNG
...****************...