
"Hah? Hahahaha! Kamu bilang apa tadi? Jelalatan?" Morgan seketika tertawa nyaring, dia pun duduk di samping Sherli sang istri kini.
"Ko Mas malah ketawa? Emangnya lucu apa?" tanya Sherli mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa.
"Sayang, kamu tidak usah khawatir. Mas gak akan jelalatan sama siapapun lagi mulai sekarang. 'Kan Mas sudah punya kamu, Istri yang sangat cantik. Kecantikan kamu bahkan tidak tertandingi oleh wanita mana pun di dunia ini. Apa lagi servis kamu yang luar biasa itu, beuh ... Mas gak mungkin menginginkan wanita lain lagi di luaran sana."
"Dih! Gombal banget sih," gumam Sherli menahan senyuman di bibirnya.
"Gombal? Semuanya itu kenyataan, bukan gombal. Kamu adalah istri yang sempurna, untuk apa Mas jelalatan sama wanita lain?"
"Yakin kalau penyakit Mas itu gak akan kambuh lagi?"
"Penyakit? Astaga, sayang ..." Morgan seketika tersenyum cengengesan.
"Ya itu namanya penyakit. Di kantor semua karyawan tahu siapa dan seperti apa Mas ini. Banyak karyawan wanita yang mengidolakan Mas lho, mereka juga tahu kalau Mas itu mata keranjang. Selama ini aku hanya menutup telingaku dari omongan-omongan mereka tentang Mas."
"Hah? Jadi seperti itu citra Mas di mata karyawan kantor? Ya ... Wajar sih, Mas 'kan tampan. Wajar kalau mereka mengagumi Mas. Seharusnya kamu bangga dong."
"Iya-iya, aku bangga. Bangga sekali memiliki suami Morgan Maxime yang nakal. Love-love untuk kamu Mas Morgan, puas?"
"Hahahaha! Kamu benar-benar menggemaskan, sayang! Muach ... Muach ... Muach ..." Morgan seketika menge*up bibir sang Istri secara berkali-kali.
"Ikh ... Mas ini, nanti di lihat Dami lho," gerutu Sherli tersenyum kecil.
"Dami gak ada, dia lagi main sama Mbaknya," jawab Morgan memeluk tubuh sang Istri dari arah samping. Rasanya senang sekali bisa memeluk wanita itu kapan pun yang dia mau.
"Jadi gimana?" tanya Sherli menatap lekat wajah suaminya kini.
"Gimana apanya, sayang?"
"Masalah sekertaris itu, bagaimana?"
"Oh itu, kamu tenang saja, sayang. Tidak perlu mengkhawatirkan masalah itu, Mas yang akan pengurusnya, oke honey?"
"Nggak, aku gak percaya sama Mas. Eu ... Atau begini saja. Bagaimana kalau Mas mencari sekertaris laki-laki?"
"Hah? Mana ada yang namanya sekertaris laki-laki? Ngaco kamu."
"Kalau gak ada ya tinggal diadain. Pokoknya, aku gak mau kalau Mas sampai punya sekertaris wanita, oke?"
"Hmm ... Kamu over protektif juga ternyata, tapi tak apa. Mas suka kamu seperti ini. Itu tandanya kamu sudah mulai bucin sama Mas. Iya 'kan?"
"Dih!"
__ADS_1
"Sudah akui saja, Mas suka ko."
Sherli seketika tersipu malu. Apakah kebucinanya terlalu ketara? Sedikit banyaknya dia sudah termakan dengan apa yang pernah dikatakan oleh Megan, dan hal itu mengusik hatinya kini. Jadi, rasanya tidak salah jika dia berjaga-jaga, dan menjaga suaminya.
Sedetik kemudian, Morgan tiba-tiba saja meng*cup tengkuknya lembut. Menyisirnya pelan juga penuh gai*ah. Sontak saja hal itu seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Sherli.
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" tanya Sherli sontak memejamkan kedua matanya kini.
"Entahlah, tubuh kamu seperti magnet. Setiap kali dekat kamu pengennya nempel terus."
"Mas ini, awas ya kalau Mas berani gombalin wanita lain selain aku."
"Tak akan, sayang. Mas janji tidak akan pernah menggombali wanita lain selain istri Mas yang cantik ini."
Bruk!
Seketika itu juga, Morgan Maxime menghempaskan tubuh istrinya hingga berbaring. Dia pun telah siap untuk menerkamnya. Akan tetapi, lagi-lagi dirinya harus menahan keinginannya itu, karena pintu kamar hotel tiba-tiba saja di buka dan Dami bersama baby sister masuk ke dalamnya kemudian.
"Maaf, bu. Saya tidak bermaksud untuk menganggu Ibu dan Tuan," ucap sang baby sister, seketika menutup kedua mata Dami dengan telapak tangannya kini.
"Hah?" Sherli seketika duduk tegak, sementara Morgan segera berdiri juga tersenyum cengengesan.
"Eh ... Ada Dami putranya Daddy. Sudah siap untuk pulang?"
"Hari ini kita pulang ke rumah Daddy ya, mau?" ucap Morgan kemudian.
"Ke rumah Daddy? Bukan ke rumah kita?" jawab Dami dengan begitu polosnya.
"Rumah Daddy rumah kamu juga, sayang. Pokoknya kamu akan mendapatkan kamar yang sangat luas. Daddy juga akan membelikan kamu mainan yang banyak, gimana?"
"Mau, Dad. Mau ... Kita pulang sekarang?"
Morgan menganggukkan kepalanya juga tersenyum sangat lebar. Sementara Sherly, hanya bisa tersenyum menatap wajah suami dan juga putra kesayangannya dengan perasaan bahagia.
"Kalian tidak mengajak Mommy?" tanya Sherli berpura-pura mengerucutkan bibirnya sedemikan rupa, membuat Morgan seketika memutar badan lalu menatap wajah sang istri kemudian.
"Mommy kamu yang cantik itu di ajak jangan ya?" canda Morgan mengalihkan pandangan matanya kepada Dami kini.
"Ajak dong, kasian Mommy nanti sendirian lagi."
"Hmm ... Kamu benar-benar anak yang menggemaskan, muach ..." Satu kecul*pan mendarat di pipi Dami.
* * *
__ADS_1
Sesampainya di rumah.
Ceklek!
Pintu rumah pun di buka lebar. Morgan bersama keluarga kecilnya masuk ke dalamnya kemudian. Dami nampak menatap dengan tatapan mata berbinar rumah yang luasnya 10x lipat dari rumah yang selama ini dia tinggali bersama sang ibu.
"Waah! Rumah Daddy besar sekali?" decak Dami senyuman lebar mengembang dari kedua sisi bibirnya kini.
"Rumah kita, bukan hanya rumah Daddy saja, tapi rumah kamu rumah Mommy kamu juga."
"Boleh aku berkeliling?"
"Tentu saja boleh, tapi ditemani sama Mbaknya ya?"
Dami mengangguk-anggukkan kepalanya seraya tersenyum lebar. Dia pun berlari ke sana kemari dengan di temani baby sister. Suara tawa bahagia pun terdengar nyaring.
'Akhirnya rumah ini tidak akan sepi lagi. Akan ada suara tawa dan suara tangis seorang anak kecil. Saya juga tidak akan merasa kesepian lagi mulai saat ini. Ada Istri dan putra saya yang akan menemani saya di kala suka maupun duka. Terima kasih Tuhan, karena engkau masih memberi kesempatan kepada saya untuk merasakan bahagianya memiliki seorang putra. Meskipun bukan putra kandung tapi saya akan menyayangi dia layaknya anak kandung saya sendiri,' (batin Morgan).
"Mas? Ko malah melamun? Mas tidak menunjukkan kamar kita?" tanya Sherli menatap wajah suaminya dengan tatapan sayu menggoda.
"Oh iya, saya sampai lupa. Putra kita itu menggemaskan sekali soalnya. Hmm ... Kamar kita ada di lantai 2. Bagaimana kalau kita melanjutkan yang tadi."
"Yang tadi yang mana?"
Morgan seketika meraih pinggang istrinya dan menariknya kemudian, hingga tubuh keduanya benar-benar tanpa jarak sedikitpun. Dia pun membisikan sesuatu di telinga Sherli sang istri.
"Mumpung Dami sedang bermain dengan Mbak, gimana kalau kita anu-anu sebentar. Ranjang Mas besar lho, kita bebas bermain dengan gaya apapun," bisiknya kemudian.
Sherli seketika memejamkan kedua matanya, hembusan napas suaminya terasa dingin menyapu permukaan telinganya kini. Aroma maskulin pun tercium begitu menyegarkan, membuat sesuatu di dalam jiwa seorang Sherli seketika terbangun'kan meminta sesuatu yang lain. Sedetik kemudian, dia pun mengangguk tidak sabar.
Keduanya pun tersenyum senang. Tangan mereka saling ditautkan erat berjalan menuju tangga hendak naik ke kamar mereka yang berada di lantai 2.
Akan tetapi, Morgan seketika menghentikan langkah kakinya saat melihat Dami sang putra yang tiba-tiba saja berlari ke arah tangga dan hendak naik ke lantai 2. Refleks, Morgan tiba-tiba saja berteriak kencang membuat Sherli merasa heran.
"TIDAK DAMI, JANGAN NAIK KE ATAS!" teriak Morgan. Bayangan saat Jacky terjatuh pun seketika memenuhi otaknya kini.
BERSAMBUNG
...****************...
PROMOSI NOVEL
__ADS_1