Istri Tangguh Milik Tuan Arogan

Istri Tangguh Milik Tuan Arogan
Tidak Rela


__ADS_3

"Apa Mas Morgan sudah menceritakan tentang permintaan terakhir aku?" tanya Megan dengan nada suara lemah.


"Tidak, tapi aku sendiri yang mendengarnya. Aku mendengar semua yang kalian bicarakan kemarin. Dari awal sampai akhir," tegas Sherli penuh penekanan.


"Lalu, apakah kamu mengizinkan?"


"Meskipun aku mengizinkan, keputusan tetap ada di tangan suamiku. Dia bukan anak kecil yang bisa dipaksa ataupun di ancam. Dia juga yang akan menjalaninya nanti."


"Menjalani apa? Aku hanya ingin pergi sebagai Nyonya Morgan, agar putraku Jacky merasa bahwa kedua orang tuanya masih utuh. Aku tak ingin menjalani rumah tangga atau semacamnya, aku sudah tidak ada semangat untuk melakukan hal ini, apalagi melakukan tugas sebagai seorang istri. Aku gak akan punya kesempatan untuk melakukan hal itu, Sher."


Sherli hanya tersenyum getir. Dia pun mengingat ucapan suaminya saat mengatakan, 'bagaimana jika Megan sembuh? Itu artinya Morgan akan menjadi suami seutuhnya'. Apakah dia sanggup jika hal itu benar-benar terjadi?


Tidak! Jika boleh berkata jujur, Sherli sama sekali tidak siap jika harus benar-benar berbagi suami. Apa lagi harus melihat suaminya mengucapkan ijab qobul dengan wanita lain. Akan tetapi, dia tidak tega melihat keadaan wanita bernama Megan yang terlihat begitu mengenaskan.


"Sherli? Kenapa kamu diam saja? Apa kamu setuju jika suamimu menikahi aku? Cukup nikahi aku secara siri. Karena aku gak butuh status secara negara. Semua itu sama sekali tidak ada artinya karena hidup aku juga tak akan lama lagi," tanya Megan seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Sherli.


"Tadi sudah aku katakan sama Mbak Megan. Percuma saja aku mengizinkan jika Mas Morgan memang tak ingin melakukannya. Keputusan tetap ada di tangan beliau."


"Jadi, intinya kamu mengizinkan?"


Sherli diam seraya memalingkan wajahnya. Dia sendiri tidak tahu apakah dirinya benar-benar mengizinkan atau hanya sekedar merasa kasihan saja? Sherli mencoba untuk menelisik lubuk hatinya yang paling dalam, apa yang sebenarnya dia inginkan?

__ADS_1


"Aku tahu permintaan aku ini memang tidak masuk akal. Aku minta maaf."


Sherli masih diam seribu bahasa. Akhirnya dia pun sadar bahwa dirinya memang tidak rela jika sang suami membagi cintanya untuk wanita lain. Ya, akhirnya dia pun menyadari hal itu dan mengambil keputusan.


"Mohon maaf, Mbak. Sepertinya tidak, aku gak mau berbagi suami dengan wanita lain. Awalnya, aku berfikir kalau aku akan sanggup untuk melakukannya, tapi nyatanya aku tak bisa. Sekali lagi maafkan aku, kalau hanya sekedar memberi dukungan dan semangat agar Mbak kuat menghadapi cobaan ini, aku masih mengizinkan."


"Akan tetapi, kalau harus menikahi Mbak sepertinya aku tak akan sanggup melihatnya. Lebih baik aku kembali menjanda dari pada melihat suamiku menikahi wanita lain, tapi masalahnya, Mas Morgan tidak akan pernah menceraikan aku sampai kapan pun. Itu yang dia katakan kepadaku. Aku harap Mbak mengerti," jawab Sherli penuh keyakinan.


Megan hanya tersenyum getir. Air matanya pun seketika bergulir dari sudut pelupuk matanya kini. Ya, dia pun sadar, sebaik apapun Sherli, dia tidak akan mudah untuk menyerahkan suaminya kepada wanita lain, terlebih suami yang sangat sempurna seperti Morgan Maxime.


"Baiklah, kalau memang kamu tidak mengizinkan, aku pun tak akan memaksa. Aku hanya akan melakukannya jika kamu mengizinkan, itu pula yang aku katakan kepada Mas Morgan," ujarnya kemudian.


"Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk Mbak Megan, aku tak pernah membenci Mbak sedikitpun, sungguh. Mbak fokus saja dalam pengobatan penyakit Mbak ini. Tak usah memikirkan Sherli, karena aku janji akan merawatnya dengan baik."


"Bisakah malam ini kamu meninggalkan Sherli? Aku kesepian sendirian di sini."


"Tentu saja bisa. Tapi, apa Mbak baik-baik saja hanya ditemani oleh Sherli?"


Megan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.


* * *

__ADS_1


Setelah mengunjungi Megan di Rumah Sakit, Sherli kembali ke rumah tanpa membawa Sherli kecil. Dia benar-benar meninggalkan gadis kecil itu untuk menemani ibundanya.


Bruk!


Sherli menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Tubuhnya benar-benar terasa lelah, begitupun dengan pikirannya yang terlalu banyak memikirkan sesuatu. Belum lagi rasa bersalahnya kepada Morgan sang suami karena telah memintanya untuk menikahi wanita lain.


Ceklek!


Pintu kamar pun tiba-tiba saja di buka. Morgan suami tercinta masuk ke dalam kamar setelah pulang bekerja. Laki-laki itu berjalan menuju kamar mandi hendak membersihkan diri. Lagi-lagi, Morgan mengabaikan keberadaan istrinya di sana.


"Mas!" sapa Sherli membuat Morgan seketika menghentikan langkah kakinya.


"Maaf, sayang. Sekali tidak tetap tidak. Mas gak akan pernah menikahi Megan mau seperti apapun kamu membujuk Mas. Satu lagi, Mas gak akan pernah menceraikan kamu sedahsyat apapun badai yang menimpa Rumah Tangga kita, paham?" tegas Morgan penuh penekanan.


Bukannya menanggapi ucapan suaminya, Sherli bangkit dan turun dari atas ranjang. Dia pun berjalan menghampiri lalu seketika memeluk tubuh suaminya penuh penyesalan.


"Maafkan aku, Mas. Aku janji gak akan pernah mengatakan hal itu lagi. Aku tak akan meminta Mas untuk menikahi wanita manapun, cukup aku saja satu-satunya Istri seorang Morgan Maxime."


BERSAMBUNG


****************

__ADS_1


__ADS_2