Istri Tangguh Milik Tuan Arogan

Istri Tangguh Milik Tuan Arogan
Suami Takut Istri


__ADS_3

Lemas, kedua kaki Morgan seketika merasa lemas dan juga gemetar tentu saja. Di saat dirinya mencoba untuk menahan diri bahkan menuruti semua apa yang dikatakan oleh istrinya. Menjadi suami yang penurut bahkan harga dirinya di injak-injak sedemikian rupa, Morgan menyaksikan dengan kedua matanya sendiri Megan Queeni sang istri berada di dalam mobil bersama seorang laki-laki bahkan terlihat sangat mesra.


Begini ternyata rasanya di khianati. Apakah dia terlalu egois apabila merasa sakit hati sementara dirinya pun pernah melakukan hal yang sama terhadapnya sang istri? Batin Morgan Maxime seketika dilanda dilema. Laki-laki itu meraih kembali bunga mawar yang dia jatuhkan. Dirinya menatap bunga tersebut dengan tatapan mata penuh kebencian. Entah dia benci kepada bunga tersebut atau, dia membenci Megan istri yang selama ini dia cintai dengan sepenuh hati.


"Jadi seperti ini kelakukan kamu selama ini? Kamu meminta saya untuk setia, sementara kamu sendiri bersenang-senang dengan laki-laki lain? Sungguh luar biasa. Kita lihat saja nanti, apakah pernikahan kita masih bisa bertahan ke depannya?" gumam Morgan dengan bola mata memerah menahan rasa amarah.


Dia pun masuk ke dalam mobil. Morgan akan berpura-pura tidak tahu akan hal ini, sebelum dia memergoki perselingkuhan sang istri. Yang jelas, hati seorang Morgan merasa sakit yang tiada terkira, sakit karena dikhianati di saat dia bersusah payah untuk menahan diri.


* * *


Malam hari.


Morgan menunggu kedatangan Megan yang sudah larut malam masih belum juga pulang. Dia pun tetap akan memberikan kejutan berupa makan malam romantis yang dia adakan di balkon rumahnya di lantai 2. Laki-laki itu nampak menatap ke bawah dimana dia ingin melihat dengan mata kepalannya sendiri dengan siapa istrinya itu pulang.


Ckiiit!


Sebuah mobil berhenti tepat di depan pagar. Mobil tersebut adalah mobil sang istri tentu saja. Terlihat dari kejauhan bahwa yang mengendarai mobil tersebut bukanlah istrinya melainkan seorang laki-laki.


"Harus saya apakan istri saya itu?'' gumam Morgan menatap tajam wajah sang istri di bawah sana.


Tidak lama kemudian, mobil tersebut pun meninggalkan tempat itu, sementara Megan membuka pagar dan mulai memasuki halaman. Wajah wanita itu terlihat begitu bahagia, sangat jauh berbeda dengan wajah Morgan yang saat ini terlihat sangat kecewa.


15 menit kemudian, Megan pun sampai di lantai dua dimana kamar mereka berada, dan tempat dimana Morgan menyiapkan makan malam romantis tepat di balkon kamar.


Ceklek!


Pintu kamar pun di buka, Megan masuk ke dalam kamar dan seketika terkejut saat melihat balkon kamar sudah di tata sedemikian rupa bahkan terlihat romantis. Buket bunga nampak sudah berada di atas meja tersebut. Wanita itu pun berjalan menuju balkon dengan senyuman yang mengembang sempurna dari kedua sisi bibirnya kini.


"Sayang? Apa ini?" tanya Megan dengan mata berbinar menatap suaminya.

__ADS_1


"Sebenarnya Mas ingin makan malam romantis dengan kamu, sayang. Tapi sepertinya gagal deh, makanannya udah keburu dingin, bunganya juga sudah mulai layu. Kamu pulangnya kemalaman soalnya. Eu ... Sebenarnya kamu habis dari mana sih?" tanya Morgan berusaha untuk bersikap tenang di tengah perasaannya yang sebenarnya campur aduk sulit untuk diungkapkan.


"Eu ... Itu, teman-teman aku ngajakin jalan tadi. Biasalah teman-teman sosialitanya aku," jawab Megan terlihat gugup.


"O ya? Ngomong-ngomong katanya mau beli tas edisi terbatas? Mana tasnya, Mas mau lihat."


Megan semakin merasa gugup tentu saja. Dia bahkan mengepalkan kedua tangannya merasa kesal. Tidak biasanya suaminya itu banyak bertanya seperti ini. Megan pun menarik napas berat dan menghembuskannya kasar, dia juga memutar bola matanya merasa kesal dan hendak memuntahkan kemarahannya.


"Mas! Kamu--''


"Huaaaa! Mas ngantuk banget, makan malamnya batal. Ini semua biar besok di bereskan sama Bibi. Mas mau tidur," celetuk Morgan lalu masuk ke dalam kamar begitu saja, mengabaikan Megan yang hendak mengatakan sesuatu sebenarnya.


"Mas!? Aku belum selesai bicara?" teriak Megan semakin merasa kesal, tapi diabaikan oleh Morgan tentu saja.


Morgan hanya tersenyum menyeringai, lalu meringkuk di atas ranjang dengan menutup hampir seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Dia pun seketika memejamkan kedua matanya. Lebih tepatnya, Morgan pura-pura tertidur merasa malas untuk menanggapi ocehan sang istri.


'Mas tau Mas salah, sangat salah. Mas pikir selama ini kamu adalah istri yang baik, istri yang bisa berbesar hati memaafkan kesalahan besar suaminya, istri tangguh yang bisa tahan dengan sikap Mas yang mata keranjang. Mas bahkan mencoba menahan diri selama ini. Mas jadi suami patuh yang takut kepada istrinya. Namun, semuanya salah, kamu bukanlah istri yang baik apalagi istri tangguh, Mas kecewa sama kamu,' (batin Morgan).


Akan tetapi dia sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun, yang dia dengar saat ini adalah suara dengkuran sang suaminya yang terdengar nyaring, menandakan bahwa suaminya itu benar-benar telah tertidur lelap. Merasa kesal, Megan meraih bantal dan melemparkannya tepat mengenai kepala suaminya tersebut.


Bruk!


Bantal pun dilemparkan dan mendarat sempurna tepat di kepala Morgan, tapi laki-laki itu masih bergeming di tempatnya dengan kepala yang seluruhnya tertutup dengan bantal.


"Dasar suami tak guna. Istrinya ngomong malah tidur. Ngeselin banget sih," ketus Megan, dia pun berjalan ke arah kamar mandi lalu masuk ke dalamnya.


* * *


2 hari kemudian.

__ADS_1


Morgan menyewa detektif swasta untuk mengikuti istrinya kemana pun dia pergi. Bukan tanpa alasan dirinya melakukan hal itu. Dia hanya ingin lebih memastikan apa saja yang sebenarnya dilakukan oleh istrinya tersebut.


Benar saja, beberapa potret kebersamaan Megan dengan seorang laki-laki pun terpampang jelas dan nyata. Laporan di sertai bukti pun dia terima dari dari detektif tersebut.


"Ini bayaran kamu. Terima kasih," ucap Morgan menyerahkan amplop berisi uang kepada sang detektif.


"Terima kasih, Tuan. Kalau anda membutuhkan jasa saya lagi, jangan sungkan untuk menghubungi saya. Saya pasti akan segera datang kemari," jawab detektif tersebut menerima amplop dan memeriksa isi di dalamnya.


"O iya, apa kamu tahu sekarang dia sedang berada di mana?"


"Terakhir saya mendapati istri Tuan masuk ke dalam apartemen, maaf saya tidak bisa masuk ke dalam apartemen tersebut karena hanya penghuni tertentu saja yang bisa masuk ke dalam sana.''


"Baiklah, kamu boleh pergi sekarang.''


"Baik, Tuan. Saya permisi kalau begitu."


Morgan menganggukkan kepalanya. Dia pun menatap lembaran demi lembaran poto sang istri yang terlihat mesra dengan seorang laki-laki yang usianya terlihat masih muda. Morgan Maxime, meraih ponsel canggih miliknya lalu menelpon asistennya kemudian.


📞 "Halo, Bram. Siapkan mobil, kita akan pergi ke suatu tempat," ucap Morgan di dalam sambungan telpon.


📞 "Baik, bos,'' jawab sang asisten patuh.


Sambungan telpon pun seketika di tutup saat itu juga.


"Mari kita akhiri pernikahan yang melelahkan ini, Megan. Jacky, maafkan Daddy karena harus mengecewakan kamu. Daddy harap kamu mengerti perasaan Daddy.'' Gumam Morgan mengusap wajahnya kasar.


BERSAMBUNG


...****************...

__ADS_1


PROMOSI NOVEL



__ADS_2