Istri Tangguh Milik Tuan Arogan

Istri Tangguh Milik Tuan Arogan
Senja


__ADS_3

"Apa Mas yakin dengan apa yang Mas katakan ini? Mas mau merawat anak ini sampai ingatannya pulih?" tanya Sherli hanya ingin lebih memastikan saja sebenarnya.


"Apa kita ada pilihan lain lagi? Itu juga sebagai bentuk pertanggung jawaban Mas karena telah membuat dia menjadi seperti ini?" Morgan penuh keyakinan.


Sherli terdiam sejenak. Dia pun mengalihkan pandangannya menatap gadis kecil dan cantik yang saat ini sedang mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Tatapan mata sayu juga wajah polosnya terlihat mengiba. Belum lagi, kepalanya yang saat ini di balut dengan perban, membuat sang anak terlihat begitu mengenaskan.


Sebagai seorang obu, seketika dia membayangkan betapa khawatir ibu dari anak ini? Bagaimana perasaannya jika dia tahu bahwa putrinya baru saja mengalami kecelakaan dan dalam keadaan hilang ingatan.


"Bagaimana dengan orang tua dia, Mas? Mereka pasti merasa khawatir karena putri mereka tiba-tiba menghilang," tanya Sherli kemudian.


"Orang tua macam apa yang membiarkan anak sekecil ini berkeliaran sendirian di jalan raya? Kamu gak lihat, tidak ada siapapun kemarin, dia benar-benar sendirian."


Sherli seketika diam seribu bahasa. Benar juga apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya itu. Anak ini benar-benar sendirian. Kemana orang tuanya? Apakah dia anak jalanan? Maksudnya adalah, anak yang sering dia lihat di jalan seperti para pengamen dan lain sebagainya.


Sherli semakin merasa iba, dia pun mendekatkan wajahnya dan hendak berbicara lembut dan penuh kasih sayang kepada anak tersebut. Tatapan mata mereka berdua seketika saling bertemu. Wajah polos sang anak menatap sayu wajah Sherli kini.


"Apa kalian kedua orang tuaku?" tanya sang anak dengar nada suara lemah.


'Aku harus menjawab apa? Kalau aku mengantakan bahwa kami bukan kedua orangnya, dia pasti akan merasa sangat kecewa,' (batin Sherli).


"Sayang, kami Om dan Tante kamu. Apa kamu tidak ingat sama sekali siapa nama kamu?" jawab Sherli lembut.


"Tidak, memangnya namaku siapa?"


Sherli seketika menoleh dan menatap wajah suaminya kini. Dia pun mengerutkan kening tidak tahu harus menjawab apa lagi. Hal yang sama pun nampak di rasakan oleh Morgan. Dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Om, Tante. Kenapa kalian diam saja?" tanya sang anak masih dengan nada suara lemah.


"Eu ... Sayang, sebenarnya--"


"Senja, nama kamu Senja, sayang. Itu memang bukan nama asli kamu, kita bisa menggantinya nanti ketika ingatan kamu sudah kembali," sela Morgan tersenyum ramah.


"Mas?"


"Tak apa, sayang. Itu hanya panggilan sementara, kita tidak tahu harus memanggil dia apa kalau kita tidak memberinya nama."


"Benar juga. Hmm ... Kamu dengar apa yang Om katakan tadi, nama kamu Senja. Nama Tante, Sherli, panggil dengan sebutan Tante saja. Sedangkan Om ini adalah Om Morgan, kamu mengerti, sayang?"


Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya. Senyuman kecil pun nampak menghiasi bibir mungilnya kini. Dia menatap wajah Morgan dan juga Sherly secara bergantian.

__ADS_1


* * *


3 hari kemudian.


Ceklek!


Pintu kamar rawat inap di buka lebar. Dami masuk ke dalamnya kemudian, dia masih memakai seragam putih biru karena baru saja pulang setelah menimba ilmu di Sekolah Menengah Pertama.


"Kamu sudah pulang, sayang?" tanya Sherli menatap sayu wajah sang putra penuh kasih sayang.


"Iya, Mom." Dami berjalan menghampiri lalu menyalami sang ibu.


"3 hari ini Mommy gak pulang, makannya aku ke sini sekarang."


"Maaf, sayang. Senja tidak ada yang menjaga soalnya, makannya Mommy di sini terus. Kasian dia."


"Memangnya dia siapa?" tanya Dami, menatap wajah Senja penuh tanya tanya.


"O iya Mommy sampai lupa. Kenalkan, namanya Senja, dia akan tinggal bersama kita mulai saat ini. Kamu bisa menganggap dia adik mulai sekarang."


Baik Dami maupun Senja saling menatap satu sama lain kini. Anak berusia 5 tahun itu nampak menyunggingkan senyuman polos. Dami yang selama ini merasa kesepian karena hanya seorang anak tunggal, tentu saja dia merasa senang ketika tahu bahwa dirinya memiliki adik perempuan.


"Kenalkan, nama aku Dami. Kamu bisa memanggilku kakak mulai sekarang." Dami mengulurkan tangannya berkenalan.


"Aku senja, senang sekali bisa memiliki kakak seperti kak Dami," jawab Senja menerima uluran tangan Dami, mereka berdua pun saling bersalaman seraya saling melemparkan senyuman.


"Kaka baru pulang sekolah?" tanya Senja menatap seragam putih biru sang kakak.


"Iya, kamu belum sekolah memangnya."


"Aku gak tau apakah aku sudah sekolah apa belum. Aku gak ingat."


Dami seketika menoleh dan menatap wajah Sherli sang ibu. Dia mengerutkan kening tanda tidak mengerti dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Senja. Tidak ingat apapun? Apa mungkin Senja hilang ingatan? Batin Dami kembali diliputi berbagai tanda tanya.


"Mom?" Decak Dami, menatap sayu wajah sang ibu, tatapan matanya seolah dapat di mengerti oleh Sherli karena wanita itu seketika menganggukkan kepalanya.


"Aku hilang ingatan, kak. Aku bahkan tidak tahu siapa orang tua aku. Beruntung ada Om Morgan dan Tante Sherli yang bersedia menemani aku di sini," lirih Senja, dengan suara khas anak kecil, cempreng dan menggemaskan.


"O ya? Jangan lupa, ada kakak Dami juga mulai sekarang. Kakak akan menjaga kamu, Senja."

__ADS_1


Senja tentu saja tersenyum senang. Dia menatap wajah Sherli dan juga Dami secara bergantian. Tidak lama kemudian, pintu kembali di buka lebar. Morgan masuk ke dalam ruangan, tersenyum menatap keluarga kecilnya tercinta.


"Senangnya melihat kalian bahagia," ujar Morgan berjalan menghampiri dan berdiri di antara Sherli dan juga Dami sang putra.


"Ko Mas udah pulang? Ini 'kan masih jam 3 sore," tanya Sherli menoleh dan menatap wajah sang suami.


"Mas sengaja pulang cepat, Mas ingin segera ketemu dengan Senja. Bagaimana keadaan kamu, sayang? Apa sudah agak baikan?" tanya Morgan tersenyum ramah menatap wajah Senja kini.


"Aku sudah baik-baik saja, Om. Meskipun kepalaku masih suka agak pusing," jawab Senja yang juga tersenyum ramah.


"Syukurlah, mudah-mudahan saja minggu depan kamu sudah bisa pulang ya."


Senja seketika menunduk sedih. Mendengar kata pulang membuat hatinya tiba-tiba sedih entah kenapa. Satu lagi, dia tidak tahu harus pulang kemana?


"Sayang, kenapa kamu murung seperti itu? Apa ada yang sakit?" tanya Sherli lembut dan penuh kasih sayang.


"Aku gak tau harus pulang kemana, Tante."


"Hah? Hahahaha! Tentu saja pulang ke rumah Om dong, sayang. Om akan merawat kamu sampai ingatan kamu kembali, oke?"


"Om serius?"


"Tentu saja, sayang. Jadi, jangan sedih seperti ini. Sampai ingatan kamu kembali, kamu akan kami anggap seperti putri sendiri."


"Kalau sampai ingatanku tidak kembali lagi, bagaimana?"


"Kalau sampai terjadi seperti itu, maka Om akan mengadopsi kamu sebagai putri Om."


"Yeeeey ... Aku bakalan punya adik perempuan," Dami seketika bersorak senang, senyuman lebar nampak mengembang dari kedua sisi bibirnya kini.


Tentu saja hal itu membuat Morgan dan juga Sherli mengerutkan kening. Apa selama ini, Dami begitu mendambakan seorang adik? Ada rasa sesal yang kini terselip di di dalam lubuk hati seorang Sherli.


'Maafkan Mommy, Nak. Karena Mommy belum bisa memberikan seorang adik seperti yang kamu harapkan,' (batin Sherli).


BERSAMBUNG


...****************...


PROMOSI NOVEL

__ADS_1



__ADS_2