Istri Tangguh Milik Tuan Arogan

Istri Tangguh Milik Tuan Arogan
Sehati


__ADS_3

Morgan begitu menikmati waktunya di kediaman Sherli. Wanita itu seperti asupan nutrisi baginya. Dengan hanya melihat wajahnya saja sudah cukup membuat jiwa seorang Morgan merasa segar. Bukan berarti dirinya tidak ingin melakukan hal lebih seperti yang selalu dia lakukan dengan wanita lain dengan dalih membeli kenikmatan.


Hal yang berbeda dia rasakan kepada wanita ini. Morgan yang begitu memuja kenik*atan tubuh wanita bahkan merasa sungkan hanya untuk sekedar menyentuh telapak tangannya saja. Dia begitu menghargai Sherli dan tidak ingin wanita itu di perlakukan sama seperti wanita-wanita lain yang pernah tidur dengannya.


Cangkir yang dia genggam pun sudah terlihat kosong. Laki-laki itu bahkan membolak-balik si cangkir yang sudah tidak ada setetes pun kopi di dalamnya. Senyuman nakal pun mengembang dari kedua sisi bibirnya kini.


"Astaga, ini gelas udah kosong aja si? Cepat banget habisnya. Apa mungkin karena kopinya begitu nikmat sampai-sampai saya tidak sadar bahwa kopi ini sudah habis? Hahahaha!" ucap Morgan juga tertawa renyah seperti biasanya.


"Mau saya bikinkan lagi?" tawar Sherli.


"Sebenarnya sih saya ingin sekali meminum beberapa cangkir kopi lagi, tapi hari sudah mulai gelap. Tidak baik jika saya bertamu terlalu lama di rumah kamu ini, mengingat status kamu yang belum jelas."


"Belum jelas? Maksudnya bos?"


"Maksud saya. Status kamu itu masih abu-abu, istri orang bukan, janda belum. Saya takut tetangga kamu ada yang berfikir yang bukan-bukan tentang kamu."


"Eu ... Terima kasih sudah berkata seperti itu. Saya merasa tersanjung bos. Saya juga merasa dihargai sebagai seorang wanita," lirih Sherli tersipu malu. Lagi dan lagi, hatinya merasa berbunga-bunga kini.


"Hahahaha! Saya memang laki-laki yang pandai dalam menghargai wanita, terutama wanita yang memiliki kecantikan yang luar biasa seperti kamu."


Sherli semakin merasa tersanjung. Jiwanya pun benar-benar melambung ke angkasa lepas. Lagi-lagi, rayuan maut yang dilontarkan oleh laki-laki bernama lengkap Morgan Maxime itu pun mampu meruntuhkan benteng pertahanan di dalam hati seorang Sherli. Laki-laki ini juga sukses mengobati rasa kesepian yang selama ini terasa menggerogoti hidupnya yang dia jalani dengan kurangnya kasih sayang.


"Saya pulang dulu, kalau begitu. Terima kasih kopinya lho, lain kali buatkan saya beberapa cangkir kopi sekaligus biar gak cepat habis," pamit Morgan, berdiri tegak meskipun tubuhnya terasa berat untuk beranjak dari kursi tersebut.


"Baik, bos. Hati-hati di jalan."


"Ko bos lagi. Kamu lupa apa yang saya katakan tadi? Jangan panggil saya dengan sebutan bos ketika kita sedang tidak berada di kantor. Dari tadi kamu panggil saya bos terus."


"Oh ... Maaf saya lupa, Mas Mor-gan. Hehehehe!" ralat Sherli tersenyum cengengesan.


"Nah, begitu dong. Saya pulang dulu. Titip salam buat Dami, saya janji akan membawa dia jalan-jalan hari minggu nanti."


"Baik, Mas. Nanti saya sampaikan salamnya sama Dami."


Morgan menganggukkan kepalanya. Dia pun mulai berjalan keluar dari dalam rumah di antarkan oleh Sherli sampai ke halaman depan. Wajah kedua manusia itu terlihat begitu bahagia layaknya sepasang anak muda yang sedang dimabuk asmara.

__ADS_1


"Hadeuh, kapan sidang cerai kamu selesai diadakan dan kamu resmi menyandang status janda?" celetuk Morgan secara tiba-tiba.


"Hah?" Sherli mengerutkan kening tentu saja.


"Hahahaha! Kamu hati-hati di rumah. Mas pulang dulu."


Sherli menganggukkan kepalanya seraya tersenyum manis. Dia pun melambaikan tangannya saat laki-laki itu mulai masuk ke dalam mobil miliknya. Perlahan, mesin mobil pun mulai dinyalakan dan seketika melaju pelan sampai akhirnya melesat kencang di jalanan.


* * *


Waktu berlalu dan hari berganti. 2 bulan dilewati tanpa terasa, baik Sherli maupun Morgan melewati hari-harinya dengan penuh semangat. Jiwa mereka benar-benar terasa muda lagi kini.


Hari ini, Sherli terpaksa tidak masuk kantor. Dia izin cuti selama beberapa hari karena harus menyelesaikan sidang perceraian. Hari ini adalah sidang terakhir yang di jalani oleh wanita itu, yang itu artinya adalah sidang putusan perceraian tersebut.


Sementara itu, Morgan terpaksa melakukan pekerjaannya tanpa di bantu oleh sang sekertaris. 2 hari ini dirinya sama sekali tidak bertemu wanita bernama Sherli, tentu saja membuat hari-harinya terasa hampa. Laki-laki itu nampak sedang memeriksa berkas lalu membubuhkan tanda tangannya dengan wajah datar.


"Sherli sayang. Saya rindu sekali sama kamu. Kapan kamu mulai bekerja lagi?" gumamnya secara tiba-tiba.


Rasa rindunya kepada wanita itu terasa begitu menggebu. Padahal mereka hanya tidak bertemu selama 2 hari saja. Namun, rasa cintanya yang membara kepada sekretarisnya tersebut membuatnya semakin serasa akan gila apabila tidak melihat wajahnya sekejap saja.


Dret! Dret! Dret!


"Ya Tuhan, apakah kamu merindukan saya? Di saat saya sedang memikirkan kamu, eh kamu nelpon saya. Hahahaha!" tawa Morgan terdengar nyaring, dia pun meraih ponsel tersebut lalu mengangkat telpon.


📞 "Halo, sayang."


📞 "Hah?"


📞"Maksud saya, halo Sherli. Aduuh ... Saya terlalu merindukan kamu soalnya, sampai-sampai saya keceplosan memanggil kamu dengan sebutan sayang."


📞"Mas bisa saja. Eu ... Apa saya mengganggu? Mas Morgan pasti sedang sibuk?"


📞"Kata siapa? Waktu saya milik kamu, 24 jam yang saya punya milik kamu, Sherli."


📞"Eu ... Kalau begitu, boleh saya meminta tolong sama Mas?"

__ADS_1


📞"Tentu saja boleh. Katakan, kamu mau minta tolong apa?"


📞"Begini, Mas. Saya masih di gedung pengadilan, kalau Mas tidak keberatan saya--"


📞"Tentu saja tidak, saya ke sana sekarang juga. Kamu tunggu sebentar," sela Morgan, padahal Sherli sama sekali belum menyelesaikan ucapannya.


📞"Hah? Ko Mas tahu apa yang akan saya katakan?"


📞"Tentu saja saya tahu, kita 'kan sehati. Hahahaha!"


📞"Astaga, Mas Morgan."


📞"Saya ke sana sekarang ya."


📞"Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya Mas."


Tut! Tut! Tut!


Sambungan telpon pun seketika terputus. Morgan dengan begitu antusiasnya bangkit dan berdiri tegak. Dia meraih jas hitam yang melingkar sembarang di belakang kursi lalu memakainya kemudian. Setelah itu, dia berjalan menuju pintu dan hendak membukanya.


Ceklek!


Pintu pun di buka dari luar. Morgan seketika membulatkan bola matanya saat melihat Megan berdiri tepat di depan pintu kini. Wajah wanita itu nampak terdapat beberapa luka lebam, begitu pun dengan ujung bibir Megan yang terlihat robek mengeluarkan darah segar.


"Mas! Hiks hiks hiks!"


Grep!


Megan tiba-tiba saja memeluk Morgan erat. Tentu saja hal tersebut membuat Morgan seketika di buat dilema juga penuh tanda tanya. Di satu sisi dia merasa penasaran dengan apa yang terjadi kepada mantan istrinya yang tiba-tiba datang dengan wajah babak belur setelah 2 bulan tidak menunjukkan batang hidungnya. Di sisi lain, ada Sherli yang saat ini sedang menunggu kedatangannya.


Lalu, apa yang akan dilakukan oleh Morgan? Di tunggu bab selanjutnya ya.❤️


BERSAMBUNG


...****************...

__ADS_1


PROMOSI NOVEL



__ADS_2