
"Apa? Muntah-muntah?" Morgan seketika merasa terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Sherli kecil.
Tanpa basa-basi lagi, dia pun segera berlari ke arah belakang dimana Sherli sang istri berada saat ini. Apa mungkin istrinya itu sedang Sakit? Atau jangan-jangan? Tidak ingin terlalu larut berbagai pertanyaan yang mengusik relung hatinya, dia pun akan mencari tahu jawabannya saat itu juga.
"Sayang! Kamu dimana?!" teriak Morgan penuh rasa khawatir, dia mengedarkan pandangannya menatap sekeliling.
"Iya, Mas. Aku di sini," jawab Sherli dengan nada suara lemah keluar dari dalam kamar mandi.
"Kamu kenapa, sayang? Kata Sherli-- aduh! Kenapa namanya dia bukan Senja aja sih? ribet 'kan kalau kayak gini," celetuk Morgan tiba-tiba saja merasa bingung sendiri. Dia bahkan mengusap wajahnya kasar tidak tahu hendak bertanya apa sebelumnya.
"Mas? Mas mau nanya apa tadi? Ko jadi bingung gitu?"
"Eu ... Tadi katanya kamu muntah-muntah? Kamu sakit, sayang? Apa perlu kita ke Rumah Sakit?"
"Iya, Mas. Tiba-tiba mual, kepala aku juga agak pusing gini. Padahal semalam masih baik-baik aja lho."
"Serius?"
Sherli menganggukkan kepalanya seraya memijit pelipis wajahnya pelan. Tanpa di sangka dan tanpa aba-aba lagi, tiba-tiba saja Morgan menggendong tubuh Sherli, membuat istrinya itu merasa terkejut tentu saja.
"Mas? Kamu apa-apaan?" tanya Sherli membulatkan bola matanya.
"Kita harus ke Rumah Sakit sekarang juga, Mas gak mau kalau kamu sampai kenapa-napa."
"Iya, tapi akunya turunin dulu, Mas. Aku masih bisa jalan ko."
"Gak usah, biar Mas gendong aja."
__ADS_1
Tanpa basa-basi lagi, Morgan segera berjalan bersama Sherli sang istri di dalam gendongannya. Hal itu tentu saja membuat Dami dan Sherli kecil yang saat masih menyantap sarapan pagi pun seketika merasa heran.
"Dad? Mommy kenapa?" tanya Dami segera berdiri dan berjalan tepat di belakang sang ayah.
"Mommy gak apa-apa, Dam," jawab Sherli tersenyum cengengesan.
"Bohong, Mommy mu sakit. Daddy akan bawa dia ke Rumah Sakit," sela Morgan menatap lurus ke depan.
"Siapa tahu Mommy gak sakit, tapi--"
Morgan seketika menghentikan langkah kakinya.
"Tapi apa maksud kamu?" tanyanya kemudian.
"Dad, apa Daddy gak curiga kalau sebenarnya Mommy ha-mil?" celetuk Dami membuat Morgan seketika merasa terkejut tentu saja.
Sherli hanya senyum-senyum sendiri.
"Ko malah senyum-senyum gak jelas gitu? jawab pertanyaan Mas mu ini, sayang!"
"Makannya turunin dulu aku-nya, main gendong-gendong aja. Nanti aku jelasin, Mas sayang," rengek Sherli dengan nada suara manja.
"Ya udah iya, tapi beneran kamu hamil 'kan?"
"Mas!"
"Iya-iya ..."
__ADS_1
Pelan tapi pasti Morgan mulai menurunkan tubuh istrinya lalu membantunya untuk duduk di ruang tamu. Morgan, Dami dan Sherli nampak duduk saling hadapan. Tidak lama kemudian, Sherli kecil pun datang dan duduk di atas pangkuan Dami sang kakak.
Semua yang ada di sana menatap wajah Sherli dengan tatapan tajam merasa penasaran. Tentu saja hal itu membuat Sherli merasa gugup. Bukannya mengobati rasa penasaran keluarga kecilnya, wanita itu tersenyum cengengesan kini.
"Kalian kenapa sih? Bikin Mommy gugup aja. Hehehehe!"
"Jawab pertanyaan Mas dulu, apa kamu beneran hamil?" tanya Morgan dengan dada suara serius. Bahkan, tatapan matanya nampak semakin tajam menatap wajah sang istri tercinta.
"Mas sayang. Sebenarnya, satu bulan yang lalu aku konsultasi lagi sama Dokter kandungan, dan embrio pun udah di tanam di rahim aku sebenarnya, hehehe!"
"What! Kamu gak bohong 'kan? Kenapa Mas sama sekali gak tahu masalah ini? Kamu benar-benar terlalu, sayang. Seharusnya kamu melakukan hal itu sama Mas? Kenapa kamu melakukannya sendirian?"
"Waktu itu Mas lagi sibuk masalah--" Sherli menahan ucapannya, juga membuat Morgan tersadar, apakah waktu yang dimaksudkan oleh istrinya itu adalah saat dirinya menikahi Megan Queeni?
Morgan seketika termenung, apakah waktunya itu dirinya terlalu fokus dalam satu hal? sampai melupakan hal lain yang sangat penting bahkan lebih penting dari apapun, yaitu mengenai program bayi tabung? Morgan mengusap wajahnya kasar juga seketika menarik napas berat.
"Maafkan Mas, sayang. mas sampai lupa tentang hal itu. Mas yang salah. Sekarang, kita ke Rumah Sakit, kita cek kandungnya kamu, sekalian kita antar anak-anak ke sekolah," lirih Morgan dan segera di jawab dengan anggukan oleh istrinya.
* * *
Di Rumah Sakit.
"Apa? Dokter gak salah 'kan? Istri saya kemungkinan hamil kembar?"
...****************...
PROMOSI NOVEL
__ADS_1