Istri Tangguh Milik Tuan Arogan

Istri Tangguh Milik Tuan Arogan
Berbagi Suami


__ADS_3

"Sayang! Apa yang kamu katakan? Apa mungkin kamu mendengar semuanya?" tanya Morgan merasa terkejut.


"Ya, aku mendengarnya. Semua yang Mas bicarakan dengan Mbak Megan, aku mendengarnya dari awal sampai akhir."


"Sayang, istrinya Mas. Mas gak mungkin menikahi wanita lain hanya karena dia sedang sekarat."


"Tapi Mbak Megan berbeda, Mas. Dia mantan istrinya Mas, dan umurnya dia gak akan lama lagi. Mas hanya akan menjadi suaminya selama 2 bulan. Setelah itu--"


"Kalau dia sembuh bagaimana? Mas akan menjadi suaminya dia untuk selamanya. Apa kamu benar-benar rela di madu? Apa kamu sungguh ikhlas berbagi suami dengan wanita lain?"


Sherli diam menundukkan kepalanya. Buliran air mata pun semakin deras membasahi wajah cantiknya kini. Dia mencoba untuk menelisik lubuk hatinya yang paling dalam. Apakah dia benar-benar rela jika suaminya menikahi wanita lain? Apakah dirinya benar-benar ikhlas berbagi suami dengan wanita lain?


Wanita bernama lengkap Iva Sherli Jovanka itu pun seketika mengusap wajahnya kasar. Dadanya memang terasa sesak kini. Dengan hanya membayangkannya saja membuat hatinya terasa sakit, tapi dia tidak ingin menjadi wanita jahat yang hanya diam saja ketika mendengar permintaan terkahir dari wanita yang sedang sekarat.


"Aku ikhlas, Mas. Lagipula itu hanya sementara. Mas gak dengar apa yang Dokter katakan? Usia Mbak Megan gak akan lama lagi. Tidak ada harapan untuk dia bisa sembuh lagi. Dia hanya ingin meninggal sebagai Nyonya Morgan. Hanya itu," lemah Sherli penuh penekanan.


"Tapi tetap saja, mana mungkin Mas menikahi Megan. Mas gak mungkin punya 2 istri sekaligus. Dulu, Mas memang hobi bermain wanita, Mas juga mata keranjang seperti yang kamu tau, tapi tidak pernah sedikitpun terlintas di dalam pikiran Mas untuk memiliki 2 istri sekaligus."


"Ceraikan aku kalau begitu, dengan seperti itu Mas hanya akan memiliki 1 istri saja."


"Hah? Kamu gila Sherli, gilaaaa! Mana mungkin Mas menceraikan kamu? Mas cinta sama kamu, hanya kamu wanita yang paling berharga di dalam hidupnya Mas. Tidak! Mas tak akan pernah melakukan hal gila itu." Morgan menolak dengan sangat tegas.


"Ya sudah, Mas nikahi Mbak Megan. Cukup secara siri saja seperti yang dia inginkan. Mas tau, permintaan terkahir dari seseorang yang sedang dalam keadaan sekarat itu harus di penuhi, kalau tidak dia akan meninggal dengan tidak tenang."


"Cukup! Cukup sayang. Mas mohon jangan mengatakan hal seperti itu lagi. Kamu terlalu baik sebagai seorang wanita dan sebagai seorang Istri. Tapi maaf, untuk pertama kalinya Mas benar-benar merasa kecewa sama kamu. Kebaikan kamu terlalu berlebihan. Meminta suami kamu untuk menikahi wanita lain adalah permintaan yang sangat tidak masuk akal." Morgan seketika bangkit lalu berjalan menuju kamar mandi dan benar-benar masuk ke dalamnya.


Ceklek!

__ADS_1


Blug!


Pintu kamar mandi pun di buka dan kembali di tutup setelah Morgan Masuk ke dalamnya. Dia berdiri di belakang pintu kamar mandi menyandarkan punggung dan juga kepalanya. Dada seorang Morgan seketika terasa sesak. Ini adalah cobaan yang paling berat yang harus dia hadapi di dalam penikahannya.


Laki-laki itu seketika terduduk lemas tepat di belakang pintu. Di saat hatinya sedang dilanda dilema, istrinya malah memintanya untuk menikahi wanita itu. Itu adalah permintaan yang paling tidak masuk akal.


Morgan Maxime mengusap wajahnya kasar. Buliran bening pun seketika berjatuhan begitu saja membasahi wajah tampan seorang Morgan. Bukan air mata iba karena mengetahui bahwa mantan istrinya sedang berada di ambang kematian, bukan juga air mata kecewa karena istrinya tercinta memintanya utuk menikahi wanita lain, tapi hatinya benar-benar merasa perih karena dia sama sekali tidak tahu jalan mana yang harus dia ambil.


'Ya Tuhan, apa yang harus saya lakukan sekarang? Setelah engkau memberi saya kebahagiaan yang tidak terukur, kenapa engkau memberi hamba cobaan di luar batas kemampuan hamba? Saya harus bagaimana? Saya harus apa sekarang?' (batin Morgan).


* * *


Keesokan harinya.


Sepasang suami istri yang biasanya terlihat mesra dan tidak segan saling menghujani pasangan masing-masing dengan pujian dan gombalan, hal berbeda terlihat pagi ini. Morgan dan istrinya saling mendiamkan satu sama lain. Ini adalah pertama kalinya mereka melakukan hal tersebut setelah 5 tahun pernikahan.


"Mom, Dad. Kalian baik-baik saja?" tanya Dami menatap wajah ayah dan juga ibunya secara bergantian.


"Hah? Apa maksud kamu, sayang? Kami baik-baik saja," jawab Sherli tersenyum dipaksakan.


"Tidak, kalian tidak baik-baik saja. Aku bisa melihatnya dengan jelas. Apa pun masalah yang sedang kalian hadapi, ingatlah selalu bahwa ada aku putra kalian. Aku sangat sedih melihat kalian seperti ini."


Morgan seketika menghentikan gerakan mulutnya yang saat ini sedang menyantap sarapan paginya. Dia menatap wajah Dami dengan tatapan mata sayu penuh penyesalan.


"Sayang! Putranya Daddy yang paling baik, kami baik-baik saja. Beneran deh," ujar Morgan kemudian.


"Apa kalian seperti ini gara-gara Mommy aku?" celetuk Senja yang juga berada di sana sedang menyantap sarapan.

__ADS_1


"Hah? Tidak, sayang. Seperti yang Om Morgan katakan tadi, kami baik-baik saja," jawab Sherli mengusap kepala gadis itu lembut dan penuh kasih sayang.


Setelah mengatakan hal itu, mereka ber-4 pun melanjutkan sarapan pagi mereka tanpa sepatah katapun lagi. Semuanya nampak larut dalam pikiran masing-masing. Kehangatan pagi yang biasa terasa dari keluarga kecil seorang Morgan benar tidak terlihat sama sekali.


"Mas sudah kenyang. Mas berangkat dulu," ujar Morgan memecah keheningan.


"Aku juga sudah kenyang, Mom. Aku berangkat sekolah dulu." Dami melakukan hal yang sama.


Baik Dami maupun Morgan bangkit secara bersamaan. Keduanya nampak menghampiri Sherli dan bersalaman, hal yang memang selalu mereka lakukan ketika hendak berangkat ke kantor maupun ke sekolah.


"Kalian hati-hati," pinta Sherli dengan wajah datar, menatap putra dan juga suaminya yang saat ini hendak melakukan aktifitas masing-masing.


"Tante, boleh tidak kalau aku minta di antar ke Rumah Sakit?" pinta Senja kemudian.


"Tentu saja boleh, sayang. Agak siangan Tante akan antar kamu ke Rumah Sakit ya," jawab Sherli ramah.


"Terima kasih, Tante. Aku minta maaf karena telah merepotkan Tante dan Om."


"Sayang? Kenapa kamu bilang seperti itu? Kami tidak merasa direpotkan sama sekali, Tante sama Om sayang sama kamu, Senja."


"Nama aku Sherli, Tante."


"O iya, Tante sampai lupa. Tante akan memanggil kamu dengan panggilan Sherli mulai sekarang, Tante gak nyangka nama kita sama ternyata."


"Mommy pernah bilang sama aku, kalau dia punya teman wanita bernama Sherli. Kata Mommy, dia adalah wanita yang sangat baik dan lembut, Mommy sangat mengagumi wanita itu, Mommy berharap aku bisa tumbuh menjadi wanita seperti itu kelak. Apakah mungkin teman Mommy itu adalah Tante?"


BERSAMBUNG

__ADS_1


...****************...


__ADS_2