Istri Tangguh Milik Tuan Arogan

Istri Tangguh Milik Tuan Arogan
Trauma


__ADS_3

Morgan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia bahkan menyalip setiap mobil yang berada di hadapannya tanpa rasa takut. Sebenarnya Bram pun sudah menawarkan diri untuk menyetir seperti biasa, tapi Morgan sama sekali menolak dan memilih untuk menyetir mobilnya sendiri, sementara sang supir dia tinggal di rumahnya.


"Pelan-pelan bos. Bos kenapa sebenarnya?" tanya Sherli yang merasa ketakutan tentu saja.


"Saya takut, Dami kenapa-napa, kalau dia memang terjatuh dari tangga dia harus segera di bawa ke Rumah sakit," jawab Morgan, tatapan matanya lurus menatap ke depan.


"Iya, tapi hati-hati bawa mobilnya. Saya takut, bos! Haaaa!" Teriak Sherli benar-benar merasa ketakutan.


Akan tetapi, Morgan sama sekali tidak mengindahkan teriakan wanita itu. Dia terus saja melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Rasa traumanya di masa lalu membuat Morgan benar-benar hilang akal. Hanya dalam waktu 20 menit saja, mobil yang dikendarai olehnya sampai juga di tempat tujuan.


Ckit!


Mobil pun berhenti tepat di tepi jalan. Morgan segera keluar dari dalam mobil, begitu pun dengan Sherli. Keduanya segera berlari memasuki halaman lalu masuk ke dalam rumah kemudian.


"Dam ... Dami ...!" teriak sherli.


"Mom!" Dami yang saat ini sedang di gendong oleh sang baby sister pun segera memanggil ibunya.


"Kamu, baik-baik saja, Dami? Apa ada yang sakit? Mbak bilang kamu jatuh dari tangga?" tanya Sherli segera menggendong tubuh putra kesayangannya itu.


"Aku baik-baik saja ko, Mom. Aku cuma jatuh di tangga depan, berdarah sedikit, tapi aku tidak apa-apa," jawab Dami, memeluk tubuh sang ibu erat.


Morgan yang menyaksikan hal itu seketika merasa lega. Kedua kakinya nampak gemetar menatap wajah Dami yang terlihat baik-baik saja. Seketika itu juga, dia pun segera menghampiri Sherli dengan wajah yang pucat pasi. Ingatannya saat Jacky jatuh di tangga hingga putranya itu meregang nyawa di depan matanya benar-benar membuat Morgan merasa tersiksa.


Ternyata, selama ini dia diam-diam menyimpan rasa trauma. Wajahnya memang selalu terlihat ceria, tapi jauh di dalam lubuk hati seorang Morgan Maxime, dia sama sekali tidak pernah merasa bernapas dengan tenang selama ini.


"Sherli, boleh saya gendong Dami?" pinta Morgan kemudian.


"Dami, mau di gendong sama Om Morgan?" tanya Sherli menatap lekat wajah putra kesayangannya.

__ADS_1


"Mau, Mom," jawabnya dengan suara polosnya.


Pelan tapi pasti, Morgan pun mulai meraih tubuh mungil Dami, dia menggendongnya seraya memeluknya erat. Tentu saja hal itu membuat hati seorang Sherli merasa terhenyak. Ada apa sebenarnya dengan bosnya tersebut?


"Kamu baik-baik saja 'kan? Katakan sama Om, mana yang sakit? Kita ke Rumah Sakit ya, sayang," tanya Morgan kemudian.


"Gak ada yang sakit ko, Om. Lutut aku saja yang berdarah, tapi beneran gak sakit ko. Jadi, Om gak perlu membawa aku ke Rumah Sakit."


"Yakin kamu baik-baik saja? Boleh Om lihat luka kamu?"


Dami menganggukkan kepalanya seraya tersenyum lebar.


Perlahan, Morgan pun mulai duduk dengan Dami berada di atas pangkuannya. Dia pun memeriksa luka di lutut putra dari sekretarisnya itu. Luka tersebut nampak sudah di balut dengan perban berwarna putih dan tidak ada luka lain lagi.


"Syukurlah, hanya luka kecil. Kamu tahu, Om khawatir banget saat mendengar kamu jatuh dari tangga. Om pikir kamu benar-benar jatuh dari tangga yang sangat tinggi," lirih Morgan mengusap kepala Dami lembut dan penuh kasih sayang.


"Aku cuma jatuh di tangga depan, Om. Apa Om benar-benar khawatir sama aku?"


"Hah?"


"Sayang! Lebih baik kamu istirahat dulu sama Mbaknya ya, kasian Om Morgan merasa keberatan lho menggendong kamu kayak gitu," pinta Sherli tidak ingin putranya itu merasa bingung dengan ucapan Morgan barusan.


"Baik, Mom. Eu ... Om Morgan, aku tidur dulu ya. Nanti kalau aku udah bangun, Om mau 'kan ajak aku jalan-jalan ke mall?"


"Dami, sayang ..." Sherli membulatkan bola matanya tentu saja.


"Gak apa-apa Sher. Iya Dami, sayang. Om janji bakalan ajak kamu jalan-jalan ke mall, atau kemanapun yang kamu inginkan, tapi kalau luka di lutut kamu sudah sembuh ya. Sekarang kamu istirahat dulu sama Mbaknya."


Dami mengangguk patuh. sherli pun segera meraih tubuh mungil sang putra lalu menyerahkannya kepada sang baby sister. Morgan hanya bisa menatap wajah Dami dengan tatapan penuh kasih sayang. Pernah merasakan sakitnya kehilangan juga begitu mendambakan seorang putra membuat naluri seorang ayah yang selama ini terpendam di dalam jiwanya pun seketika benar-benar terpancar, membuat Sherli merasa tersentuh tentu saja. Alangkah bahagianya Dami jika dia memiliki seorang ayah seperti Morgan.

__ADS_1


"Maaf, bos. Apa boleh saya bertanya sesuatu? Bos tidak perlu menjawabnya jika memang merasa keberatan dengan pertanyaan saya ini," tanya Sherli kemudian.


"Kamu mau nanya apa? Katakan saja jangan sungkan."


"Eu ... Sebelumnya saya mohon maaf. Apa sebenarnya bos memiliki putra yang sudah meninggal dunia? Sekali lagi saya mohon maaf, saya hanya merasa penasaran."


Raut wajah Morgan seketika berubah muram, dia pun menundukkan kepalanya mencoba untuk menyembunyikan kesedihan yang tiba-tiba saja membuat dadanya terasa sesak kini. Hal tersebut tentu saja membuat Sherli merasa tidak enak.


"Maaf saya--"


"Tidak usah meminta maaf, saya memang memiliki seorang putra sebenarnya. Dia meninggal saat masih berusia 7 tahun. Persis sebesar Dami. Dia jatuh dari tangga. Makannya saya syok saat mendengar Dami jatuh dari tangga tadi," jawab Morgan dengan nada suara berat, dia pun masih menundukkan kepalanya, tidak ingin jika Sherli sampai melihat kesedihan di yang terpancar jelas dari raut wajahnya kini.


"Astaga! Jadi itu sebabnya bos bersikap seperti itu tadi? Maaf, saya benar-benar baru tahu hal ini sekarang."


"Tidak apa-apa ko, kamu juga harus tahu hal ini. Kamu 'kan calon Istri saya, hahahaha!" decak Morgan seketika tertawa ringan. Meskipun hanya suara tawa yang terdengar dipaksakan.


"Bos bisa aja."


Wajah Sherli seketika memerah juga tersipu malu. Lagi-lagi hatinya merasa berbunga-bunga. Sepertinya, wanita itu telah benar-benar jatuh hati kepada bosnya tersebut. Setiap rayuan maut yang dilontarkan dari mulut manis seorang Morgan, benar-benar telah mampu meruntuhkan benteng pertahanan yang selama ini mengurung hati wanita bernama lengkap Iva Sherli Jovanka.


"Bos mau saya bikinkan kopi? Tadi bos sama sekali belum sempat meminum kopi yang dibikinkan bibi lho."


"Eu ... Sher. Bisakah kamu jangan memanggil saya dengan sebutan bos ketika kita sedang berada di luar kantor?"


"Hah? Lalu, saya harus memanggil bos dengan sebutan apa?"


"Mas ... Panggil saya dengan sebutan Mas Morgan. Bisa?"


"Eu ... Ba-baik Mas Mor-gan," jawab Sherli dengan wajah memerah, juga tersipu malu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


...****************...


__ADS_2