Istri Tangguh Milik Tuan Arogan

Istri Tangguh Milik Tuan Arogan
Kekerasan


__ADS_3

Morgan seketika membulatkan bola matanya saat dia melihat Megan mantan istrinya sedang di cengkeram kuat oleh seorang laki-laki. Rambut wanita itu nampak berantakan, wajah Megan yang semula cantik jelita pun kini terlihat babak belur.


Ujung bibirnya mengeluarkan darah segar. Luka lebam terlihat membiru di bagian pipi mulusnya. Belum lagi, air mata membasahi wajahnya kini. Wanita ini benar-benar terlihat berantakan.


"Mbak Megan?" tanya Sherli hanya ingin lebih memastikan bahwa dia tidak salah dalam mengenali wanita itu.


"Sherli, Mas Morgan. Tolong aku," lirih Megan mengiba.


"Dasar laki-laki tidak tahu diri."


Morgan tiba-tiba saja berjalan menghampiri, dia meraih pergelangan tangan laki-laki itu lalu menghantamnya seketika itu juga. Sementara Megan segera beringsut ke arah Sherli dan berlindung di belakang tubuh wanita itu.


Bruk!


Plak!


Buk!


Pukulan pun dia daratan secara berkali-kali hingga laki-laki itu tersungkur dia atas aspal kini. Laki-laki itu benar-benar tidak berdaya. Dia berusaha untuk bangkit dan segera berlari seketika itu juga dengan wajah yang babak belur tentu saja.


Morgan hendak mengejarnya, tapi Sherli sang istri berusaha untuk mencegah dan memintanya untuk berhenti. Sontak Morgan Maxime segera menghentikan langkah kakinya dan menghampiri Sherli kini.


"Astaga Megan! Ada apa sama kamu? Kenapa kamu bisa hidup seperti ini? Siapa dia?!" tanya Morgan membulatkan bola matanya.


"Terima kasih atas pertolongannya, aku permisi," jawab Megan singkat dan hendak pergi.


"Tunggu, Mbak. Luka Mbak harus diobati dulu," cegah Sherli merasa iba.


"Gak usah Sherli. Aku malu ketemu dengan kalian dalam keadaan seperti ini, kebetulan rumahku ada belakang sana, aku pergi sekarang."

__ADS_1


"Istri saya sudah baik-baik menawarkan untuk mengobati luka kamu, Megan. Duduk dulu di halaman. Biarkan Sherli mengobati lukamu itu," ujar Morgan dengan wajah datar.


"Aku gak mau nyusahin kalian berdua."


"Sudahlah masuklah dulu. Kebetulan aku selalu menyediakan obat-obatan untuk luka, kamu bisa langsung pergi setelah aku obati luka kamu itu," lirih Serli sedikit memaksa.


Mau tidak mau Megan pun mengikuti keinginan Sherli, meskipun sebenarnya dia benar-benar merasa malu, sangat malu. Penampilannya sangat berantakan, dia tidak ingin terlihat mengenaskan di depan mantan suaminya dan juga istri baru dari suaminya tersebut.


Sedangkan Morgan, bukan tanpa alasan dia bersedia menolong mantan istrinya itu. Meskipun dia sempat dibuat kesal dengan semua yang telah dilakukan oleh Megan, tapi dirinya tidak bisa diam saja ketika melihat seorang wanita diperlakukan dengan kasar.


Ketiganya pun mulai memasuki halaman. Morgan hanya mempersilahkan mantan istrinya itu untuk duduk di kursi yang berada di halaman, kursi yang sama saat dirinya dan sang istri duduk santai sebelumnya.


"Sayang, Mas ambilkan kotak obat dulu," ucap Morgan kepada istrinya dan hanya di jawab dengan anggukan oleh Sherli.


Morgan pun segera masuk ke dalam rumah untuk mengambil apa yang baru saja dia sebutkan. Tinggallah Sherli dan juga Megan Queeni di tempat itu kini. Megan menatap wajah Sherli dengan tatapan mata sayu.


"Kenapa kamu menolongku, Sherli? Apa kamu tidak takut kalau aku akan merebut suamimu?" tanya Megan merasa heran.


"Kamu benar-benar percaya diri Sherli. Ya, aku percaya sama kamu, Mas Morgan sangat mencintaimu. Aku salut sama kamu, Sher."


"Maaf, bukan maksud aku untuk mencampuri urusan Mbak Megan, tapi sebenarnya yang tadi itu siapa? Kenapa Mbak diperlukan seperti ini?" tanya Sherli benar-benar merasa penasaran.


"Hmm ... Dia itu pacar aku, Sher. Dia memang selalu seperti itu saat sedang kesal. Tidak segan untuk memukul bahkan menganiaya aku seperti ini."


"Seharusnya Kamu segera tinggalkan laki-laki seperti itu. Memangnya gak ada laki-laki lain lagi di dunia ini?" decak Morgan, berjalan menghampiri dengan membawa kotak obat.


"Iya, Mbak. Jika belum menikah saja sudah berani melakukan kekerasan fisik, bagaimana nanti kalau sudah menikah?" timpal Sherli.


Megan hanya tersenyum getir. Semenjak dirinya berpisah dengan Morgan, kehidupannya benar-benar berantakan. Berusaha untuk mengejar kembali mantan suaminya itu, tapi hasilnya sia-sia dan Morgan sudah sah menjadi suami dari wanita bernama Sherli kini.

__ADS_1


Hal tersebut membuat Megan merasa hilang arah sebenarnya. Dia nekat menerima cinta dari laki-laki yang awalnya selalu bersikap manis terhadapnya, tapi laki-laki itu ternyata memiliki sikap san sifat yang sangat kasar. Beruntung, kekasihnya itu belum sempat menikahi dirinya. Dia pun bertekad akan segera mengakhiri hubungan itu tanpa kompromi.


"Aku mulai obati ya, Mbak. Maaf, mungkin rasanya akan sedikit perih," ucap Sherli seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Megan.


"Argh!" ringis Megan saat Sherli mulai membersihkan bagian wajahnya yang memar.


"Maaf Mbak. Aku akan lebih hati-hati."


"Tak masalah. Cuma sakit sedikit ko. Lanjutkan saja," jawab Megan lagi-lagi dia tersenyum getir.


Morgan hanya bisa menatap wajah istri dan mantan istrinya dengan tatapan mata sayu. Betapa dia merasa kagum dengan kebaikan Sherli yang bersedia membantu wanita yang notabenenya adalah mantan istrinya sendiri.


Setelah puas menatap wajah istirnya, kini Morgan mengalihkan pandangannya kepada Megan. Dia menatap penuh rasa iba. Wanita yang pernah menyandang status sebagai Nyonya Morgan itu benar-benar terlihat sangat mengenaskan.


'Jack pasti akan merasa sedih jika melihat kamu seperi ini, Megan,' (batin Morgan).


"Nah sudah selesai, tapi ini hanya pertolongan pertama, Mbak. Sebaiknya Mbak ke Rumah Sakit besok," ujar Sherli kemudian.


"Baiklah, sekali lagi aku benar-benar berterima kasih kepada kalian berdua. Terutama sama kamu Sherli. Aku gak nyangka karena ternyata kamu adalah wanita yang sangat baik. Pantas jika Mas Morgan sangat mencintai kamu, aku doakan semoga pernikahan kalian langgeng," lirih Megan terdengar tulus.


"Sama-sama Mbak. Sudah sepantasnya kita saling tolong-menolong sebagai sesama manusia, saran saya lebih baik Mbak segera akhiri hubungan Mbak dengan laki-laki itu sebelum terlambat. Maaf, kalau saya terlalu ikut campur dengan urusan pribadinya Mbak."


"Gak apa-apa, terima kasih atas sarannya. Aku permisi dulu."


Megan seketika bangkit lalu hendak pergi dari tempat itu. Namun, wanita itu seketika menoleh dan kembali menatap wajah Morgan dan juga istrinya secara bergantian. Senyuman kecil pun dia layangkan kemudian.


"Kalian benar-benar pasangan yang serasi," ucap Megan kemudian. Dia pun melanjutkan langkah kakinya dengan langkah gontai.


BERSAMBUNG

__ADS_1


...****************...


__ADS_2