Istri Tangguh Milik Tuan Arogan

Istri Tangguh Milik Tuan Arogan
Orang Tua Kandung


__ADS_3

"Mommy?" Senja Refleks mengucapkan kata tersebut, padahal dia sama sekali tidak mengenal sosok wanita yang ada di dalam album tersebut.


Ya, sepertinya tebakan kalian semua benar. Sosok wanita itu adalah Megan Queeni, wanita itu belum diketahui keberadaanya sampai saat ini. 5 tahun setelah wanita itu diketahui hamil entah oleh siapa, Megan benar-benar hilang bak di telan bumi.


Entah apakah dia masih hidup atau sudah berpindah alam, tidak ada satu pun orang yang tahu, kecuali ...


Kecuali gadis kecil yang di beri nama Senja. Gadis yang saat ini dalam keadaan hilang ingatan itu pun sama sekali tidak tahu keberadaan ibunya. Dia pun tidak mengerti kenapa dirinya bisa memanggil wanita itu dengan sebutan 'Mommy'.


Setelah menatap lekat wajah Megan di dalam album yang sebenarnya sudah sedikit usang itu, tiba-tiba saja Senja merasakan rasa sakit yang tiada terkira di kepalanya. Gadis kecil berambut panjang itu seketika memegangi kepala seraya meringis juga menangis kesakitan.


"Argh! Kepala aku sakit! Tolong! Om, Tante, arghhhh! hiks hiks hiks," teriak Senja menjatuhkan album yang semula berada di atas pangkuannya.


"Astaga, Nona Senja! Kamu kenapa, Nak?!" Beruntung Bibi segera melihat Senja, dia berlari menghampiri lalu segera menggendong tubuh mungilnya, dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"Sakit! Arrrgghh! Om Morgan, tolong aku! Mommmyyyyyy!"


Bruk!


Tubuhnya pun seketika terkulai lemah di dalam pangkuan bibi. Senja benar-benar tidak sadarkan diri karena tidak kuasa menahan rasa sakit yang tiada terkira.


* * *


Satu jam kemudian.


Morgan dan istrinya segera pulang ke rumah setelah di beri kabar oleh bibi bahwa Senja tiba-tiba saja tidak sadarkan diri. Keduanya benar-benar diliputi rasa khawatir, terutama Sherli. Dia merasa bersalah karena telah meninggalkan gadis kecil itu sendirian di rumah.


Dokter pun segera di panggil untuk memeriksa keadaan Senja. Apa yang sebenarnya terjadi dengan anak ini? Kenapa bisa tiba-tiba pingsan seperti ini? Apakah otaknya sedang berusaha kertas untuk mengingat sesuatu? Baik Morgan maupun Sherli memikirkan hal yang sama kini.


"Bagaimana keadaan Senja, Dok?" tanya Morgan sesaat setelah sang Dokter menyelesaikan tugasnya.

__ADS_1


"Sepertinya, pasien melihat atau mengingat sesuatu yang berhubungan dengan ingatannya yang hilang. Hal itu menyebabkan otaknya berusaha untuk mengingat sesuatu, akan tetapi karena berusaha terlalu keras hal itu menimbulkan rasa sakit yang teramat sangat hingga menyebabkan pasien pingsan," jelas Dokter.


"Mengingat sesuatu yang berhubungan dengan ingatannya yang hilang?" Sherli refleks mengulangi ucapan sang Dokter.


"Tunggu, Dok. Maksud anda anak ini baru saja melihat sesuatu yang berhubungan dengan ingatannya? Tapi itu tidak masuk akal, Dok? Senja belum pernah tinggal di sini sebelumnya. Kami bahkan belum menemukan orang tua kandungnya. Kami kesulitan melakukan hal itu, karena sama sekali tidak memiliki informasi apapun tentang ibu dari anak ini," tanya Morgan mengerutkan kening tentu saja.


"Saran saya, sebaiknya anda segera melakukan langkah yang serius untuk mencari orang tua dari anak ini. Kalau perlu kalian minta bantuan kepada Polisi biar mereka yang mencarikan-nya untuk kalian."


Morgan seketika termenung. Rasanya berat sekali untuk melepas anak ini. Walaupun belum lama bertemu dengan Senja, tapi ikatan batin mereka seperti sudah saling terpaut. Morgan telah menyayangi Senja layaknya putri sendiri.


Hal yang sama pun sepertinya di rasakan oleh Sherli, dia yang dari awal ingin sekali mengembalikan Senja kepada ibunya, mengingat bahwa dia pun seorang ibu di sini, dan tahu betul bagaimana perasaan sang ibu yang putrinya tiba-tiba saja menghilang, merasa sangat berat untuk melepaskan Senja.


Akan tetapi, mereka berdua harus tetap melakukan hal itu. Karena walau bagaimana pun, gadis kecil ini bukanlah putrinya, bukan darah daging mereka. Ada seorang ibu yang saat ini sedang merasa kehilangan, dan pastinya menanti kepulangan dari gadis kecil yang mereka beri nama Senja.


"Ba-baik, Dok. Kami akan berusaha untuk mencari keberadaan ibu dari anak ini, terima kasih atas sarannya," jawab Morgan dengan berat hati sebenarnya.


"Baiklah, saya berharap anak ini segera bertemu dengan orang tua kandungnya. Saya permisi dulu kalau begitu," pamit Dokter kemudian.


Sang Dokter menganggukkan kepalanya seraya tersenyum ramah.


Morgan dan Dokter tersebut berjalan keluar dari dalam kamar. Sedangkan Sherli, dia duduk di tepi ranjang menatap nanar wajah Senja yang saat ini seperti sedang tertidur lelap. Wanita itu meraih pergelangan tangannya dan mengusap punggung tangannya lembut dan penuh kasih sayang.


"Sayang, maafkan kami berdua karena tidak segera mencari keberadaan ibu kamu, tapi Nak, sebenarnya apa yang kamu lihat sampai-sampai kamu pingsan seperti ini?" gumam Sherli.


Tidak lama kemudian, gadis kecil itu mengedipkan kedua matanya. Mata indahnya nampak di tarik pelan dan lemah, sampai akhirnya benar-benar terbuka sempurna. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah Sherli, wajah anggunya terlihat begitu menyejukkan.


"Mommy?" gumam Senja sepertinya dia refleks mengatakan hal itu.


"Sayang, ini Tante Sherli. Apa masih ada yang sakit?" tanya Sherli mengusap lembut kepala gadis itu penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Aku mau gendong."


"Di gendong? Boleh sayang, Tante akan menggendong kamu ya."


Dengan sangat hati-hati, Sherli meraih tubuh mungil Senja. Pelan tapi pasti, dia pun benar-benar menggendongnya lalu berdiri dan menimangnya layaknya seorang bayi.


Ringan, tubuh Senja benar-benar terasa ringan. Berat tubuhnya bahkan lebih ringan dari sang putra saat Dami di usia yang sama dahulu kala. Kedua mata Senja pun refleks terpejam seolah merasa begitu nyaman berada di dalam dekapan Sherli kini.


Selang beberapa lama kemudian, Morgan pun kembali dan berjalan menghampiri. Dia berdiri tepat di depan sang istri kini. Kedua mata Morgan menatap wajah Senja dengan tatapan sayu merasa iba.


"Apakah dia sudah siuman?" tanya Morgan setengah berbisik.


"Sudah, Mas. Dia memanggilku dengan sebutan Mommy tadi. Senja juga minta di gendong. Mungkin dia sedangkan merindukan dekapan ibunya," jawah Sherli.


"Kasihan sekali kamu, Nak. Maafkan Om karena Om tidak segera mencari keberadaan ibumu."


Sherli hanya tersenyum menanggapi. Setelah memastikan Senja tertidur dengan begitu lelapnya, dia pun membaringkan tubuh mungilnya di atas ranjang dengan sangat hati-hati. Wanita itu pun hendak pergi bersama sang suami, tapi pergelangan tangannya tiba-tiba saja di genggam oleh Senja yang ternyata tidak tertidur sama sekali.


"Temani aku di sini, Tante. Aku takut tidur sendirian," lemahnya kemudian. Tatapan matanya nampak sayu menatap wajah Sherli penuh harap.


"Sayang, Tante pikir kamu sudah tidur. Baiklah, Tante akan tidur di sini bersama kamu," jawab Sherli, segera naik ke atas ranjang lalu meringkuk tepat di samping Senja kini.


Morgan hanya bisa menatap kedua wanita itu dengan tatapan nanar. Baik Sherli maupun gadis kecil bernama Senja, dia begitu menyayangi keduanya. Namun, apalah daya dirinya tetap harus melepas salah satu dari mereka karena Senja tetap harus kembali kepada orang tua kandungannya.


"Apa Om juga boleh menemani kamu di sini?" tanya Morgan tersenyum ramah dan segera di jawab dengan anggukan senang oleh Senja.


Tanpa basa-basi lagi, dia pun segera naik ke atas ranjang dan melakukan hal yang sama seperti istrinya kini. Senja benar-benar di apit oleh kedua orang yang sebenarnya bukan siapa-siapanya. Namun, entah mengapa gadis itu merasa sangat bahagia karena ini adalah kali pertamanya dia merasakan hal yang seperti itu.


"Aku sayang kalian berdua. Andai saja Om dan Tante adalah ayah dan ibuku, mungkin aku akan menjadi anak yang paling beruntung di dunia ini."

__ADS_1


BERSAMBUNG


...****************...


__ADS_2