Istri Tangguh Milik Tuan Arogan

Istri Tangguh Milik Tuan Arogan
Kanker


__ADS_3

Morgan memarkir mobilnya tepat di belakang sebuah mobil berwarna hitam. Sepertinya mobil tersebut milik laki-laki yang akan menjual rumah milik mantan istrinya. Apakah laki-laki itu kekasih Megan, atau mereka memang sudah nikah? Morgan tidak tahu pasti tentang hal itu.


Ceklek!


Blug!


Pintu mibil pun di buka dan di tutup setelah Morgan keluar dari dalamnya. Benar dugaan istrinya, laki-laki itu adalah laki-laki yang sama dengan orang yang pernah dia pukuli habis-habisan 5 tahun yang lalu.


Sontak saja tanpa berfikir panjang lagi, Morgan tiba-tiba saja mencengkram kuat kerah kemeja yang dikenakannya sesaat setelah dia berada di depan orang tersebut. Tentu saja, apa yang dilakukan oleh Morgan membuat laki-laki yang masih belum dikatahui namanya itu merasa terkejut dan juga heran.


"Dasar brengsek, kamu sembunyikan dimana si Megan? Laki-laki tidak tahu diri!" teriak Morgan dengan tatapan mata tajam menatap wajah laki-laki itu penuh emosi.


"Apa maksud anda? Siapa anda? Bukankah saya akan ketemu dengan orang yang akan membeli rumah ini? Kenapa jadi anda yang datang kemari?" tanyanya, membulatkan bola matanya merasa kesal.


"Saya memang sengaja mengatakan, bahwa saya yang akan membeli rumah ini supaya kita bisa ketemu. Katakan dimana kamu menyembunyikan Megan mantan Istri saya. Katakaaaaan!" Morgan semakin berteriak histeris.


"Tenang dulu. Saya sama sekali tidak menyembunyikan mantan Istri anda!"


Bruk!


Satu pukulan tiba-tiba saja mendarat di wajah laki-laki tersebut, membuatnya seketika tersungkur di atas lantai. Morgan benar-benar telah hilang akal. Entah apa telah terjadi dengan dirinya, dia pun berjalan menghampiri dan hendak memberikan pukulan kedua.


"Megan sakit! Mantan istri anda sakit!" teriak laki-laki tersebut, membuat Morgan seketika menghentikan langkah kakinya merasa terkejut tentu saja.


"Apa? Megan sa-kit?" Morgan sontak memundurkan langkah kakinya.


"Betul sekali, itu sebabnya aku berusaha untuk menjual rumah ini. uang itu akan aku gunakan untuk biaya pengobatan Megan!"


"Kamu tidak bohong 'kan?"


"Untuk apa aku bohong? Anda bisa ikut denganku ke Rumah Sakit kalau Anda memang tidak percaya. Sudah lebih dari


4 tahun ini dia menderita kanker."


"Kanker? Ya Tuhan. Megan Queeni," decak Morgan mengusap wajahnya kasar, seraya memejamkan kedua matanya kini.


"Gimana, Anda bersedia untuk ikut saya ke Rumah Sakit? Anda pasti penasaran 'kan dengan kondisi mantan istri Anda itu?"


"Tunggu! Kamu suaminya?"


"Bukan. Siapa bilang aku suaminya. Aku hanya teman dekatnya saja. Kami memang pernah menjalin hubungan, tapi hubungan kami kandas 5 tahun yang lalu. Namun, karena aku merasa kasian sama dia, aku terpaksa menemani dia dalam keadaan sakit seperti ini."

__ADS_1


"Lalu, siapa ayah dari anaknya?"


"Anak? Maksud kamu Sherli?"


"Sherli? Nama anak itu Sherli?"


'Ya Tuhan, kenapa dia memberi nama anak itu dengan nama istri saya? Astaga, Megan. Ada apa dengan kamu,' (batin Morgan).


"Kamu kenal sama anak itu? Jadi, kamu bukan ayah dari anak itu?" tanya Morgan semakin merasa penasaran.


"Tentu saja bukan. Megan menderita kanker rahim, mana mungkin dia bisa hamil. Anak bernama Sherli itu adalah anak yang sengaja dia adopsi dari panti asuhan, aku dengar semenjak dia dinyatakan tidak bisa hamil lagi, Megan sengaja mengadopsi seorang bayi dan di beri nama Sherli."


Kaki Morgan seketika merasa lemas. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa mantan istrinya itu menjalani hidup yang lebih mengenaskan dari yang dia kira. Sakit, rasanya hati seorang Morgan merasakan rasa sakit yang tiasa terkira. Bagaimana perasaan Jacky, jika dia tahu bahwa ibundanya sedang dalam keadaan sekarat sekarang.


Terlebih, dia sama sekali tidak bisa menepati janjinya kepada mendiang sang putra untuk menjaga ibunya tersebut. Dada seorang Morgan tiba-tiba saja merasa sesak. Kilasan-kilasan masa lalu kini memenuhi otak kecilnya. Wajah Megan saat tersenyum manis menatap wajahnya pun seketika terbayang di depan mata. Morgan mengusap wajahnya kasar, mencoba untuk menepis bayangan-bayangan itu dari pikirannya.


"Antarkan saya ke Rumah Sakit. Saya juga akan membeli rumah ini untuk biaya pengobatan dia. O iya, siapa nama kamu?"


"Nama aku John. Aku akan mengentarkan Anda ke sana sekarang juga," jawab laki-laki bernama John diam-diam tersenyum menyeringai.


* * *


Sesampainya di Rumah Sakit.


Akhirnya, keduanya pun sampai di ruangan tersebut. Ruangan kelas 3 dimana di huni oleh lebih dari 6 orang pasien. Perlahan Morgan pun masuk ke dalam sana, hal yang tidak terduga pun terjadi, Sherli sang istri juga Sherli kecil yang semula dia beri nama Senja nampak sudah berada di sana.


"Sayang! Kamu di sini juga?" tanya Morgan membulatkan bola matanya.


"Mas Morgan? Aku berkali-kali menelpon kamu tapi tak di angkat. Itu sebabnya aku ke sini naik taksi. Ingatan Senja sudah kembali, Mas," jawab Sherli, berdiri dan menyambut kedatangan sang suami yang datang bersama John.


"Syukurlah kalau begitu, Mas lega mendengarnya."


Morgan seketika mengalihkan pandangannya kepada pasien, yang saat ini sedang duduk dengan bersandar bantal di belakang punggungnya. Wajah wanita itu nampak pucat pasi, kedua pipinya pun nampak tirus dan kurus. Rambut Megan yang semula coklat panjang pun kini di tutup dengan kerudung kecil.


Megan nampak tersenyum kecil. Senyuman menahan rasa getir juga senyuman menahan rasa sakit tentu saja. Tidak ada wajah penuh percaya diri, tidak ada pula tatapan mata angkuh yang selama ini selalu diperlihatkan oleh wanita itu. Megan benar-benar terlihat mengenaskan.


"Tante, aku lapar," ucap Sherli kecil secara tiba-tiba, Gadis itu seolah ingin memberi waktu kepada mereka berdua untuk berbicara.


"Kamu lapar? Ya udah, kita ke kantin Rumah Sakit ya," jawab Sherli tersenyum ramah.


"Sayang, kamu tak apa-apa kalau Mas di sini?" tanya Morgan kemudian.

__ADS_1


"Tentu saja tak apa-apa Mas. Aku juga gak akan lama ko."


"Ya sudah, kalian hati-hati ya."


Sherli dan Sherli kecil pun menganggukkan kepalanya secara bersamaan. Keduanya pun berjalan keluar dari dalam ruangan dengan saling berpegangan tangan.


"Eu, aku juga permisi dulu kalau begitu." John pun seketika berpamitan.


Kini tinggalah mereka berdua, lebih tepatnya ada pasien lain juga yang berbaring di tempat masing-masing. Morgan nampak duduk di kursi yang berada tepat di tepi ranjang. Tatapan matanya menatap iba wajah sang mantan.


"Terima kasih karena kalian telah menjaga Sherli selama ini. Aku sempat merasa khawatir karena dia tidak pulang-pulang. Aku tidak bisa mencarinya karena keadaan aku yang tidak memungkinkan," lirih Megan dengan nada suara lemah.


"Kenapa kamu menamai anak itu dengan nama istri saya?"


"Apa lagi, karena istrinya Mas wanita yang baik dan lembut. Aku berharap putriku bisa menjadi wanita baik seperti istrinya Mas. Jujur, aku kagum dengan kebaikan sikap Sherli."


Morgan hanya tersenyum kecil.


"Umurku gak akan lama lagi, Mas. Dokter bulang, aku hanya akan bertahan selama 2 bulan lagi. Tapi jujur, aku senang sekali karena aku akan segera bertemu dengan Jack. Aku merindukan dia, sangat merindukan diam, Mas. Itu sebabnya aku mengadopsi seorang anak, agar aku tidak terlalu kesepian."


"Hus, jangan pernah berkata seperti itu Megan. Banyak penderita kanker yang bisa sembuh seperti sedia kala. Contohnya penyanyi terkenal itu, beliau bisa sembuh dan sehat lagi. Bahkan sudah bisa manggung sana sini lagi. Kamu juga pasti akan sembuh, Megan. Saya akan membeli rumah kamu untuk biaya pengobatan sampai kamu sembuh."


"Tapi aku gak ingin sembuh."


"Kalau kamu tak ingin sembuh, untuk apa kamu mengadopsi anak itu? Setidaknya kamu harus bertanggung jawab untuk membesarkan dia. Bukan mati begitu saja."


Megan menundukkan kepalanya menahan rasa getir. Dia memang menyayangi Sherli kecil layaknya putri kandungnya sendiri, tapi dia lebih ingin bertemu dengan Jacky di alam sana. Rasa rindunya kepada mendiang sang putra terasa menggebu tidak bisa lagi dia tahan.


"Megan, saya janji akan membantu biaya pengobatan kamu sampai sembuh. Ini adalah sebagai bentuk kemanusiaan saya, selain itu saya juga tidak ingin Jacky merasa sedih di alam sana, karena saya membiarkan ibunya menderita sendirian menahan rasa sakit ini," ujar Morgan kemudian.


"Tak usah, itu percuma saja Mas. Aku akan tetap mati juga pada akhirnya. Aku hanya ingin meminta satu hal sama kamu. Anggap saja ini adalah permintaan terakhir aku."


"Apa permintaan kamu? Katakan saja, saya akan memenuhinya selagi saya mampu."


"Aku ingin mati sebagai Nyonya Morgan." Pinta Megan membuat Morgan merasa terkejut tentu saja.


BERSAMBUNG


...****************...


PROMOSI novel

__ADS_1



__ADS_2