
Proses pertama pun selesai dilakukan. Morgan dan Sherli tinggal menunggu sel telur dan sel ****** yang telah di ambil dari tubuh keduanya membuahi dengan sempurna sebelum ditanamkan di rahim Sherli nantinya.
Keduanya nampak sudah berada di dalam perjalanan pulang. Morgan harus segera kembali ke kantornya, tapi sebelumnya dia pun hendak mengantarkan sang Istri pulang terlebih dahulu ke rumah. Namun, Sherli tiba-tiba saja menolak dan lebih memilih untuk ikut sang suami ke kantor.
"Tumben sayang, kamu ikut Mas ke kantor," tanya Morgan, menoleh dan menatap istrinya sejenak lalu kembali menatap ke depan.
"Tidak apa-apa sih, lagi pengen aja," jawab Sherli tersenyum datar.
"Hmm! Baiklah, kamu bisa temani Mas di kantor, Mas jadi semangat juga sih kalau ditemani sama kamu."
Sherli hanya tersenyum kecil.
Akhirnya, mobil yang dikendarai oleh Morgan pun sampai di tempat tujuan. Mobil tersebut mulai melipir dan berhenti di parkiran khusus Direktur.
Ceklek!
Blug!
Pintu mobil pun di buka dan kembali di tutup rapat setelah keduanya keluar dari dalamnya. Sherli berjalan dengan menggandeng mesra tangan suaminya. Senyuman pun nampak mengembang sempurna dari kedua sisi bibir mereka kini.
"Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku datang ke kantor," gumam Sherli menatap sekeliling, gedung yang semula adalah tempatnya untuk mencari nafkah sebelum akhirnya dipersunting oleh Morgan Maxime.
"O ya? Selama ini kamu memang istri yang sangat baik, kamu lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Bahkan untuk sekedar belanja ke mall saja kamu jarang-jarang lho."
"Ya, karena aku bukan tipe istri yang suka menghambur-hamburkan uang suami."
"Kenapa? Bukankah uang di cari untuk dihambur-hamburkan? Suami mencari uang juga untuk dihabiskan istri, percuma dong Mas kasih kamu uang belanja yang sangat besar kalau tidak dihabiskan?"
"Dih? Dasar, suka-suka aku dong Mas. Aku hanya membeli barang-barang penting saja ko."
"Jangan gitu dong, sayang. Belilah barang-barang mewah seperti atas branded, sepatu atau pakaian dari desainer bernama, Mas gak apa-apa ko, malah kalau uang kamu kurang bisa Mas tambahin nanti."
"Iya-iya, Tuan boros. Aku akan mengikuti apa yang anda katakan, aku akan menghabiskan uang seperti yang Mas katakan tadi, membeli tas mewah, pakaian branded, dan barang-barang mahal lainnya. Puas!" tegas Sherli penuh penekanan.
"Hahahaha! Begitu dong, itu baru namanya istri seorang Morgan Maxime."
Sherli hanya tersenyum kecil.
Mereka pun akhirnya sampai di lantai atas dimana ruangan Direktur berada. Sherli nampak mengerutkan kening karena seorang wanita terlihat duduk di kursi sekertaris, lengkap dengar beberapa berkas pekerjaan juga laptop yang sedang menyala kini.
"Selamat siang, bos," sapa sang sekertaris, sesaat sebelum mereka berdua masuk ke dalam ruangan.
Ceklek!
Blug!
Pintu ruangan di buka dan di tutup kembali setelah mereka berdua masuk ke dalam ruangan.
"Mas!"
__ADS_1
"Iya, sayang. Kamu lelah? atau, mau Mas ambilkan minum? Kamu pasti capek 'kan?" tanya Morgan duduk di kursi kebesarannya.
"Tidak, bukan itu."
"Lalu?"
"Sejak kapan kamu punya sekertaris wanita? Cantik pula? Ko aku gak pernah tahu?"
"Oh itu, baru beberapa bulan ini, sayang."
"Enak dong bisa cuci mata!"
"Hah?"
Morgan seketika mengerutkan kening. Dia pun berdiri lalu menghampiri sang istri seraya tersenyum cengengesan.
"Maksud kamu apa, sayang? Mana mungkin mata bisa di cuci?"
"Maksudnya itu cuci mata, Mas. Cuci mata, Mas 'kan biasanya jelalatan kalau liat perempuan cantik," celetuk Sherli, wajahnya seketika terlihat masam lengkap dengan bibir yang dikerucutkan.
"Hahahaha! Tidak ko, sayang. Kamu bisa tanya dia kalau mau, Mas sama sekali tidak jelalatan. Ya, kalau lirik-lirik dikit tak apalah." Morgan seketika tertawa menggoda, ekspresi wajah istrinya begitu menggemaskan.
Plak!
Satu pikulan pun mendapat di bahu suaminya keras, membuat Morgan seketika meringis kesakitan
"Argh! Sakit, sayang. Hahahaha! Sejak kapan kamu jadi cemburuan kayak gini, hah? Kamu tahu sendiri kalau cintanya Mas hanya untuk kamu Iva Sherli Jovanka."
"Penyakit? Astaga, sayang. Penyakit Mas itu sudah lama sembuh ko, sejak Mas punya istri yang cantik dan lembut seperti kamu, tapi sayang. Kamu menggemaskan juga kalau lagi cemburu kayak kini, rasanya pengen gigit deh! Aum ..." Morgan merentangkan telapak tangannya seperti hendak menerkam.
"Dih, gak lucu tau!"
"Sayang, Sherli-nya Mas Morgan. Sekertaris Mas itu namanya Diana, dia sudah punya suami ko. Mana mungkin Mas jelalatan sama Istri orang. Gak level banget sih."
"Oh, jadi kalau dia janda atau masih perawan baru level kamu gitu?"
"Hah?"
"Akh, Sudahlah. Pokoknya aku bakalan di sini sampai Mas selesai kerja." Sherli seketika meringkuk di atas kursi.
"Ya bagus dong, Mas jadi lebih semangat bekerja kalau ditemani sama bidadari cantik seperti kamu."
"Gombal."
"Ko gombal sih? Mas serius sayang. Kamu itu penyemangat Mas lho. Tapi, sayang. Ko kamu tiba-tiba cemburuan kayak gini? Padahal, kamu tahu lebih dari siapapun bahwa hanya kamu wanita yang Mas cintai di dunia ini," tanya Morgan duduk tepat di samping istrinya kini.
"Entahlah, tiba-tiba saja aku kayak gini. Selama ini 'kan si Bram yang jadi sekertaris sekaligus asisten kamu."
"Si Bram 'kan sudah resign beberapa bulan yang lalu. Apa kamu lupa?"
__ADS_1
"Bukan lupa, tapi memang Mas gak pernah cerita sama aku."
"Masa sih? Apa Mas lupa kali ya."
"Alasan."
"Eu ... Sayang, kamu pasti lelah. Mas pijitin ya?"
"Gak usah. Mas terusin saja pekerjaan Mas."
"Tak apa, Mas pijitin kamu sebentar, setelah itu baru Mas selesaikan pekerjaan Mas."
Sherli diam tidak menanggapi, dia pun seketika memejamkan kedua matanya saat telapak tangan suaminya mulai memijit pelan kedua kakinya kini. Morgan bahkan meletakkan kedua kaki mulus istrinya di atas pangkuannya.
"Kaki kamu mulus sekali, sayang. Tidak ada kaki seputih dan semulus kamu lho," decak Morgan, memijat pelan kedua kaki Sherli sang istri.
"Sudah cukup, Mas. Nanti perkejaan kamu terbengkalai lho kalau kayak gini terus."
"Sebentar lagi, sayang. Satu putaran lagi."
Sherli hanya tersenyum kecil.
Tok ... Tok ... Tok ....
Ceklek!
Pintu ruangan pun di ketuk dan di buka kemudian. Diana sang sekertaris masuk ke dalam ruangan. Wanita itu pun seketika merasa tidak enak karena melihat sang bos sedang bermesraan dengan istrinya. Namun, ada rasa kagum yang kini terselip di dalam lubuk hatinya kini, dia sama sekali tidak menyangka bahwa bos galaknya itu bisa bersikap sangat manis terhadap istrinya.
'Bos Morgan so sweet banget sih. Aku gak nyangka kalau dia bisa bersikap manis kepada istrinya,' (batin Diana).
"Eu ... Maaf, bos. Saya tidak bermaksud untuk mengganggu Bos," ucap Diana hendak berbalik dan kembali keluar dari dalam ruangan.
"Tak masalah. Apa ada hal penting yang ingin kamu laporkan?" tanya Morgan, menghentikan gerakan tangannya. Dia pun berjalan ke atas meja lalu duduk di kursi kemudian.
"Eu ... Ini bos, laporan yang baru saja saya terima dari cabang kita di luar kota." Diana meletakkan beberapa kertas laporan di atas meja.
"Baiklah, saya akan periksa sekarang juga. Kamu bisa kembali ke tempat kamu bekerja."
"Baik, bos." Wanita itu pun seketika berbalik dan hendak pergi.
"Tunggu, Diana!" Pinta Sherli tiba-tiba saja bangkit dan menghampiri Diana kini.
Dia menatap tubuh wanita itu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Pakaian sekertaris dari suaminya itu memang terlihat elegan. Namun, dia sama sekali suka dengan bagian atas tubuhnya yang kini terekspos memperlihatkan belahan dada. Belum lagi, rok pendek di atas lutut yang memperlihatkan kaki jenjangnya, membuat Sherli seketika mengerutkan kening.
"Eu ... Iya, Nyonya," jawab Diana sontak menghentikan langkah kakinya.
"Bisa tidak, kalau mulai besok kamu memakai pakaian yang agak tertutup? Bukan apa-apa, kasian tubuh kamu kalau sampai di biarkan terbuka seperti ini. Apa kamu gak malu sama sekali tubuh kamu dilihatin sama laki-laki mata keranjang nantinya?" tegas Sherli penuh penekanan membuat Diana seketika merasa malu tentu saja.
BERSAMBUNG
__ADS_1
...****************...