Istri Tangguh Milik Tuan Arogan

Istri Tangguh Milik Tuan Arogan
Kuda Liar


__ADS_3

Morgan benar-benar di buat kewalahan. Dia tidak menyangka jika sang istri bisa seliar ini, seaktif ini. Berkali-kali suara de*ahan itu lolos begitu saja dari bibirnya. Tubuhnya pun berkali-kali mengejang tidak kuasa menahan gelombang kenik*atan yang disuguhkan oleh sang istri tiada henti.


Berbagai gaya pun mereka lakukan. Ranjang yang berukuran super besar membuat keduanya bisa dengan leluasa melakukan gaya apapun yang mereka inginkan. Jika biasanya Morgan yang bermain aktif dan pasangannya yang di buat klepek-klepek dengan permainannya, yang terjadi kini malah sebaliknya.


Morgan Maxime benar-benar bertekuk lutut merasa kewalahan saat bermain dengan istrinya tercinta. Keresahan yang semula dia rasakan pun seketika sirna. Rasa gundah yang semula dia rasakan pun kini menghilang. Jiwa Morgan benar-benar terasa ringan setelah di buat melayang ke angkasa lepas.


Sampai akhirnya puncak itu pun mereka dapatkan secara bersamaan. Keduanya mengerang panjang dengan tubuh yang gemetar. Sungguh, Morgan tidak perlu lagi untuk membeli kepuasan dari wanita lain seperti yang selalu dia lakukan selama ini.


Apa yang dia inginkan telah dia dapatkan dari Sherli, wanita yang mampu memberikan apa yang selama ini dia cari. Wanita ini benar-benar istri yang sempurna dalam segala hal. Betapa Morgan semakin mencintai istrinya melebihi dari apapun yang ada di dunia ini.


Bruk!


Sherli terkulai lemas di atas raga suaminya kini. Napasnya nampak terengah-engah menyandarkan kepalanya di dada bidang Morgan suaminya tercinta. Senyuman kecil pun nampak mengembang dari kedua sisi bibirnya kini.


"Akh! Sayang, kamu liar sekali. Mas suka," lirih Morgan meng*cup kepala Sherli penuh kasih sayang.


"Liar?" Sherli mengerutkan kening.


"Iya, seperti kuda liar yang sulit untuk dikendalikan. Mas sampai klepek-klepek lho ini."


"Dih, aku ko di samain sama kuda liar?"


"Maksudnya, kemampuan kamu di atas ranjang. Bukan kamu-nya."


"Oh itu? Hehehehe!" Sherli hanya tersenyum cengengesan.


Perlahan dia pun mulai menjatuhkan diri tepat di samping Morgan kini. Tubuh polosnya meringkuk tepat samping raga sang suami. Dia pun melingkarkan tangannya di perut kotak-kotak bak roti sobek lalu seketika memejamkan kedua matanya.


"Kamu pasti lelah," lirih Morgan meng*cup kepala istrinya lembut.


"Nggak juga. Aku hanya ngantuk aja, Mas."

__ADS_1


"O ya? Ya udah, kamu tidur aja kalau begitu. Mas mandi bulu sebentar."


Sherli menganggukkan kepalanya.


Morgan seketika mulai bangkit lalu turun dari atas ranjang. Dia menutup tubuh istrinya dengan selimut tebal. Setelah itu, dia pun berjalan ke arah kamar mandi dan masuk ke dalamnya kemudian.


Selang 20 menit, laki-laki itu pun keluar dari dalam kamar mandi. Dengan hanya membalut tubuhnya menggunakan kimono handuk berwarna putih dia pun segera memakai pakaian lengkap.


Sementara sang istri sepertinya benar-benar tertidur lelap. Posisi tidurnya masih sama saat Morgan meninggalkannya di atas ranjang beberapa saat yang lalu. Laki-laki itu duduk tepat di tepi ranjang. Menatap wajah Sherli, wanita sempurna yang baru saja dia nikahi.


"Kamu adalah wanita yang luar biasa, sayang. Selama ini saya selalu saja merasa haus akan kenik*atan, entah sudah berapa wanita yang telah melayani saya selama ini, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang seperti kamu, sayang. I love you, Serli, muach," satu kec*pan dia layangkna di kening istrinya tercinta.


Tiba-tiba saja, suara dengkuran pun terdengar. Bibir istrinya nampak sedikit terbuka dan mengeluarkan suara khas orang yang sedang tidur. Tentu saja hal tersebut membuat Morgan seketika tertawa kecil.


"Astaga, sayang. Saya pikir wanita cantik tak bisa mengorok. Kamu sama juga ternyata," gumam Morgan menahan suara tawanya.


* * *


Hari berganti waktu berlalu, setiap hari di jalani dengan sangat bahagia. Baik Morgan maupun Sherli merasakan hal yang sama sebenarnya. Namun, ada sesuatu yang membuat Morgan masih merasa tidak tenang sampai sekarang. Yaitu, tangga.


Ya ... Anak tangga tinggi menjulang yang menjadi penghubung antara lantai 1 dan lantai 2 itu masih saja menjadi momok yang menakutkan bagi Morgan. Sampai saat ini rasa traumanya masih belum juga berkurang, ingin rasanya dia obati tapi dirinya merasa bingung harus memulainya dari mana.


Satu-satunya cara agar dia bisa menjalani hari-hari bahagaianya dengan tenang adalah dengan pindah dari rumah itu ke rumah yang hanya satu lantai. Dengan berat hati, dia akan mengutarakan keinginannya itu kepada Sherli sang istri.


Mereka berdua nampak sedang dalam sedang berbaring bersama Dami yang telah tertidur lelap kini. Malam yang semakin larut tidak membuat keduanya merasa mengantuk.


"Sayang, ada yang ingin Mas bicarakan sama kamu sebenarnya," ucap Morgan memulai pembicaraan.


"Hmm ... Aoa yang ingin Mas bicarakan? Sepertinya serius sekali, ada apa sebenarnya?" tanya Sherli menatap lekat wajah suami tercinta.


"Sebenarnya, Mas ingin pindah dari rumah ini."

__ADS_1


"Hah? Maksud Mas?" Sherli mengerutkan kening.


"Eu ... Bagaimana kalau kita bicara di luar, sambil minum kopi?"


Sherli mengangguk-angguk kepalanya. Dia pun bangkit lalu turun dari atas ranjang. Hal yang sama pun di lakukan oleh Morgan, keduanya berjalan keluar dari dalam kamar secara bersamaan.


Morgan dan istrinya akhirnya memutuskan untuk duduk di halaman belakang, semilir angin malam berhembus begitu menyegarkan. Langit malam yang bertabur bintang membuat suasana malam terasa begitu indah. Dengan ditemani secangkir kopi hangat juga beberapa camilan yang memang sengaja Sherli sajikan di atas meja kini.


"Coba Mas katakan, apa sebenarnya maksud dari ucapan Mas tadi?" tanya Sherli memulai pembicaraan.


"Begini, sayang. Mas berencana untuk menjual rumah ini, Mas ingin pindah ke rumah yang hanya satu lantai."


"Mas serius? Mas udah lama lho tinggal di rumah ini. Apa Mas gak sayang menjual rumah ini?"


"Sudah lebih dari 20 tahun Mas tinggal di sini, ini juga rumah pertama yang Mas beli dengan uang Mas sendiri. Banyak kenangan pahit yang sulit sekali Mas lupakan. Mas hanya ingin hidup bahagia dengan tenang dan tidak dihantui rasa takut setiap kali Dami naik ke lantai 2."


Sherli seketika meraih pergelangan tangan suaminya, lalu menggegam jemarinya erat. Dia pun mengusap punggung tangan Morgan lembut penuh kasih sayang.


"Apa perlu kita mendatangi psikiater untuk mengobati rasa trauma Mas itu?" tanya Sherli membuat Morgan seketika tertawa tentu saja.


"Hah? Psikiater? Hahahaha!" Morgan tertawa nyaring. Namun, hanya sebuah tawa yang dipaksakan sebenarnya.


"Malah ketawa, aku serius nanya, Mas. Mengingat bahwa Mas sudah bertahun-tahun merasa tersiksa, bahkan kamar kita saja sampai pindah ke lantai 1 lho agar Dami tidak perlu naik-turun tangga."


Morgan seketika menundukkan kepalanya. Apa dia ikuti saja saran istrinya itu? Sebenarnya, dia ingin sekali menghilangkan rasa trauma itu sejak lama. Namun, dirinya masih merasa ragu untuk melakukannya.


"Bagaimana?" tanya Sherli kemudian.


"Begini saja, kita pindah saja dulu dari rumah ini. Setelah itu baru Mas bersedia untuk berkonsultasi ke Psikiater. Mas juga ingin menghilangkan rasa trauma Mas ini. Mas ingin menjalani setiap harinya tanpa rasa takut. Terutama, Mas ingin melihat Dami bebas bermain dimana pun di dalam rumah tanpa takut dia akan naik ke lantai 2." Kedua mata Morgan seketika berkaca-kaca.


BERSAMBUNG

__ADS_1


...****************...


__ADS_2