
Keduanya terkulai lemas di atas ranjang. Pendakian yang baru saja mereka lakukan benar-benar luar biasa. Kebekuan yang selama ini mereka tahan seketika mencair. Bagi seorang Morgan, 2 minggu seperti 2 tahun lamanya. Dia yang biasnya bisa melakukan sehari 3 kali, dan sekarang baru melakukannya setelah 2 minggu lamanya.
Sungguh, jiwa Morgan seketika terasa ringan. Bibirnya nampak menyunggingkan senyuman yang begitu lebar. Lagi dan lagi, kemampuan istrinya dalam hal memuaskannya di atas ranjang selalu membanggakan dan membuka jiwanya terasa melayang ke awang-awang.
"I love you," bisik Morgan
"I love you too," jawab Sherli tersenyum manis.
* * *
Sore hari.
Ceklek!
Pintu kamar di buka lebar. Dami masuk ke dalam kamar dimana Senja berada saat ini. Senyuman lebar nampak mengembang sempurna dari kedua sisi bibir seorang Dami kini. Dia menatap dan menghampiri gadis kecil itu dengan perasaan senang.
"Kamu sudah pulang ternyata, apa kamu sudah sembuh benar?" tanya Dami duduk di tepi ranjang.
"Kak Dami baru pulang? Aku nungguin dari tadi lho," jawab Senja, menatap sayu wajah Dami kini.
"O ya? Apa kamu beneran nungguin kakak?"
Senja menganggukkan kepalanya seraya tersenyum lebar.
"Mau main sama kakak?"
Senja kembali menganggukkan kepalanya.
"Aku mau bermain di kamar kak Dami? Aku ingin tahu seperti apa kamar kakak."
"Boleh, kita ke kamar kakak."
"Tapi--" Senja seketika menundukkan kepalanya.
"Tapi, kenapa?"
"Tante Sherli bilang, aku harus banyak beristirahat. Sedangkan aku benar-benar merasa bosan, sudah seharian ini aku di kamar terus," lirih Senja kemudian.
"O ya? Memang iya sih, kamu baru saja pulang dari Rumah Sakit. Harus banyak beristirahat, kalau bisa jangan terlalu banyak bergerak dulu. Eu ... Gimana kalau kaka gendong?"
Senja seketika tersenyum lebar seraya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Baiklah, kamu naik di punggung kakak ya."
Dami memunggungi Senja kemudian. Dia pun meminta gadis kecil itu untuk naik ke punggungnya. Tanpa basa-basi, Senja segera mengikuti apa yang dimintakan oleh sang kaka. Pelan tapi pasti, dirinya mulai naik di punggung Dami kini.
"Nah, pegangan ya. Kita ke kamar kakak sekarang," ujar Dami mulai berdiri dan berjalan dengan sangat hati-hati bersama Senja yang saat ini berada di punggungnya.
__ADS_1
"Apakah aku berat?" tanya Senja melingkarkan kedua tangannya di leher Dami.
"Nggak sama sekali. Kamu ringan sekali, Senja. Seringan kapas malah."
"O ya?"
Dami menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil. Sampai akhirnya mereka pun sampai di kamar yang di tuju. Dami membuka pintu kamar dan masuk ke dalamnya kemudian. Tanpa rasa sungkan dia pun membaringkan tubuh Senja di atas ranjang miliknya kini.
"Kamu tunggu di sini. Kakak mau bersih-bersih dulu ya, Setelah itu kakak akan temani kamu bermain, oke?"
Senja menganggukkan kepalanya, dia pun menatap sekeliling kamar yang ternyata lebih luas dari kamar miliknya itu. Kamar tersebut terlihat putih bersih karena memang bernuansa putih, hampir semua barang yang ada di kamar itu berwarna putih.
Dami berjalan menuju kamar mandi dan masuk ke dalamnya kemudian. Sementara Senja, segera berbaring di atas ranjang seraya menunggu Dami selesai membersihkan diri.
* * *
Di lain tempat. Morgan dan juga istrinya baru saja selesai membersihkan diri. Mereka bahkan sempat berendam air dingin agar tubuh keduanya yang sempat memanas menjadi segar kembali tentu saja. Sepasang suami istri itu pun berjalan menuju kamar Senja yang hendak melihat keadaanya.
Ceklek!
Pintu kamar pun di buka lebar. Morgan dan juga Sherli masuk ke dalam kamar, keduanya pun seketika membulatkan bola matanya merasa terkejut karena anak yang mereka cari tidak berada ditempatnya kini.
"Senja?" Morgan berusaha untuk memanggil.
"Senja kemana, Mas? Ko dia gak ada di sini?" tanya Sherli seketika merasa khawatir.
"Hmmm! Kita cari di dalam rumah. Mungkin dia sedang berkeliling rumah? Tahu sendiri, anak usia segitu rasa penasarannya tinggi."
"Kamu jangan panik dulu, kita cari keluar ya."
Sherli menganggukkan kepalanya dengan perasaan khawatir. Keduanya berjalan keluar dari dalam kamar secara bersamaan. Akan tetapi, sepasang suami istri itu seketika menghentikan langkah kakinya saat mendengar suara Dami seperti sedang membacakan sebuah dongen untuk seseorang.
"Stt! Sayang, dengar itu," bisik Morgan, berhenti tepat di depan pintu dan mengintip dari celah pintu yang sedikit di buka.
"Dami," gumam Sherli, menatap dengan seksama wajah sang putra yang saat ini sedang membacakan sebuah ceria.
Anak itu duduk tepat di tepi ranjang, satu buah buku dongeng berada di pangkuannya dan nampak sedang di baca dengan seksama. Sementara Senja berbaring, menatap dan mendengarkan apa yang sedang di bacakan oleh putra mereka itu. Kedua mata gadis itu nampak mulai menahan rasa kantuk.
"Akhirnya, Cinderella dan pangeran hidup bahagia untuk selamanya." terdengar suara terakhir Dami, sebelum anak itu kembali menutup buku dongeng.
Senja benar-benar tertidur lelap kini, Dami yang menyaksikan hal itu segera merapikan selimut yang saat ini menutupi sebagian tubuh kecil gadis tersebut. Senyuman manis pun Dami layangkan, menatap wajah Senja dengan tatapan sayu penuh kasih sayang.
"Selama ini sebenarnya Dami begitu kesepian. Dia senang sekali saat aku kenalkan dengan Senja." Lirih Sherli menatap wajah Dami di dalam sana.
"Benarkah? Hmm ... Kasian sekali dia. Selama ini Dami selalu terlihat baik-baik saja, meskipun Mas selalu memanjakan dia dengan uang dan memberikan apapun yang dia inginkan, tapi tetap saja yang dia ingin adalah teman, saudara, tempat untuk berbagi dalam suka maupun duka."
Sherli diam seribu bahasa. Yang dikatakan oleh suaminya memanglah benar adanya. Dia pun membulatkan tekadnya bahwa dia akan benar-benar melakukan program hamil.
__ADS_1
"Besok kita ke Dokter, Mas. Aku ingin secepatnya melakukan program bayi tabung," ujar Sherli kemudian dan segera di jawab dengan anggukan senang oleh suaminya tercinta.
* * *
Keesokan harinya.
Sherli dan juga Morgan benar-benar mendatangi Rumah Sakit untuk berkonsultasi dengan Dokter. Keduanya bertekad bahwa akan melakukan program bayi tabung demi mendapatkan momongan.
Meskipun usia Morgan sendiri sudah berkepala 4, tapi hal itu sama sekali tidak menghalangi dirinya untuk terus berusaha agar bisa mendapatkan seorang putri seperti yang dia inginkan.
Dalam proses bayi tabung, sel ****** dan sel telur diambil dari pasangan suami istri. Kemudian di laboratorium kedua sel tersebut dipertemukan sehingga terjadi pembuahan.
Hasil pembuahan ditempatkan dalam inkubator khusus hingga berkembang menjadi embrio. Selanjutnya, embrio ditanam ke rahim agar berkembang menjadi janin seperti kehamilan biasa.
Seperti itulah proses yang akan dilakukan oleh keduanya. Tak masalah jika Morgan harus libur sejenak dalam melakukan aktivitas di atas ranjang. yang terpenting sekarang adalah Istrinya bisa hamil dan memberinya keturunan, darah dagingnya sendiri.
"Apakah anda siap untuk melakukan proses demi proses yang akan kita lakukan?" tanya sang Dokter.
"Siap, Dokter. Eu ... Tapi, Dok. Apakah boleh saya request sesuatu?" tanya Morgan tersenyum cengengesan.
"Request apa, Tuan? Katakan saja."
"Hmm ... Bisa tidak kalau bayinya kembar? Kalau perlu kembar 5 sekaligus juga tidak apa-apa. Masalah biaya, saya akan bayar berapapun itu, hehehehe!" pinta Morgan tersenyum cengengesan. Sungguh permintaan yang sangat tidak masuk akal sebenarnya.
"Mas?! Apa Mas bercanda? 5 bayi kembar? Astaga, memangnya anak kucing apa kembar 5 sekaligus!" ketus Sherli mengusap wajahnya kasar merasa kesal.
"Kenapa? Kamu gak mau? Biar Prosesnya sekalian lho. Ibarat kata pepatah, sekali mendayung 2-3 pulau terlampaui."
"Program bayi tabung itu prosesnya agak sulit. Tidak semudah yang selama ini kita bayangkan. Betul 'kan, Dok?" Sherli mengalihkan pandangannya kepada sang Dokter.
"Seperti itulah kira-kira. Program bayi tabung itu susah-susah gampang. Tidak jarang juga yang gagal meskipun telah mengeluarkan banyak uang. Namun, bukan berarti anda juga akan gagal. Jika Nyonya bisa menjaga tubuh Nyonya baik-baik setelah embrio di tanamkan di rahim Nyonya, maka kemungkinan berhasil akan besar," jawab sang Dokter tersenyum ramah.
"Nah, Mas dengarkan?"
"Iya-iya, sayang. Mas 'kan cuma usul aja tadi."
Sherli hanya tersenyum datar.
"Sekarang, silahkan kalian ikut dengan saya. Kita akan melakukan proses pertama yaitu pengambilan sel telur dan sel ****** dari tubuh kalian."
"Siap, Dok," jawab Keduanya secara bersamaan.
'Ya Tuhan, lancarkanlah proses demi prosesnya. Kalau bisa, saya ingin bayi kembar ya Tuhan. Tidak kembar 5 juga tak masalah, kembar 3 mungkin?' (batin Morgan).
BERSAMBUNG
...****************...
__ADS_1
PROMOSI NOVEL