
Morgan seketika berada diambang dilema. Dia pun mengurai pelukan mantan istrinya tersebut dan sedikit memundurkan langkah kakinya, menatap wajah Megan dengan seksama. Morgan nampak mengerutkan kening, wajah cantik sang Mantan Istri benar-benar tercoreng kini.
"Wajah kamu kenapa?" tanya Morgan kemudian.
"Mas Morgan. Hiks hiks hiks!" Yang di tanya hanya menangis sesenggukan.
"Astaga, di tanya malah nangis. Sebenarnya kamu kenapa? Wajah kamu babak belur, Megan?"
"Boleh aku masuk dulu, tenggorokan aku juga kering banget ini."
"Tapi saya buru-buru Megan. Saya harus--"
"Aku sedang kesakitan seperti ini Mas masih bisa bilang seperti itu? Aku tahu Mas memang membenci aku, tapi setidaknya Mas masih punya hati nurani."
"Ya sudah begini saja, saya akan mengantarkan kamu ke Rumah Sakit, luka kamu harus di obati. Lagi pula, kenapa juga kamu datang ke sini? Kamu mendatangi tempat yang salah, Megan."
"Itu karena aku baru saja mendapatkan kekerasan se*sual, bos aku sendiri berusaha untuk memp*kosa aku, Mas. Hiks hiks hiks!" Megan seketika kembali menangis sesenggukan.
"Apa? Kamu serius? Astaga! Kurang ajar sekali bos kamu itu. Ya udah saya antarkan kamu ke Rumah Sakit, walau bagaimana pun luka di wajah kamu harus segera diobati lho. Sayang sekali kalau wajah cantik kamu harus tercoreng seperti ini, nanti bisa-bisa kamu kesulitan mencari calon suami lagi," celetuk Morgan.
"Gak usah ke Rumah sakit segala, Mas. Cukup di obati di sini saja. Biasanya kamu selalu menyediakan obat-obatan di kantor 'kan?" Megan bersikeras.
"Sekarang sudah tidak ada lagi, saya mohon ke Rumah sakit saja. Saya benar-benar ada keperluan penting banget, Megan. Ini menyangkut hidup dan mati saya, menyangkut masa depan saya."
"Mas? Apa kamu sama sekali tidka merasa khawatir sedikitpun? Walau bagaimana pun aku ini adalah mantan istri kamu, Mas."
"Hanya mantan, bukan istri. Oke?"
Megan hanya bisa menarik napas berat merasa kecewa tentu saja. Dia pun mengepalkan kedua tangannya merasa kesal. Kedatangan dirinya ke kantor sang suami dalam keadaan terluka sekalipun tidak membuat Morgan merasa tersentuh sedikit pun.
__ADS_1
"Kita berangkat sekarang? Saya hanya takut luka kamu infeksi nantinya. Saya juga punya perasaan lho. Buktinya, saya masih bersedia mengantarkan kamu ke Rumah Sakit, padahal saya sedang buru-buru banget lho ini," ujar Morgan lagi masih berusaha untuk membujuk.
Mau tidak mau, akhirnya Megan pun menganggukkan kepalanya meskipun merasa sangat kecewa. Keduanya pun berjalan secara beriringan keluar dari dalam sana.
"Sekertaris kamu udah tidak bekerja lagi di sini, Mas?" tanya Megan merasa penasaran karena dirinya sama sekali tidak melihat Sherli berada ditempatnya.
"Siapa bilang? Sherli lagi cuti, ini saya mau menjemput dia," celetuk Morgan.
Megan seketika menghentikan langkah kakinya. Dia pun menatap wajah Morgan dengan tatapan tajam merasa semakin kesal.
"Jadi ini urusan penting kamu, Mas Morgan? Urusan yang kata kamu sangat penting bahkan menyangkut hidup dan mati kamu segala? Hanya gara-gara kamu akan ketemu sama si Sherli?" tanya Megan membulatkan matanya.
"Memangnya kenapa? Dia adalah urusan yang paling penting di dalam hidup saya saat ini. Dia juga adalah jantung saya dan masa depan saya. Maaf, Megan. Saya harus berkata jujur sama kamu, saya mencintai Sherli. Jadi saya harap, mulai saat ini berhentilah menemui saya seperti ini karena saya tidak ingin ada kesalahpahaman di antara saya dengan Sherli nantinya."
Dada Megan seketika merasa sesak tentu saja. Mantan suaminya itu terang-terangan mengatakan hal itu sungguh membuat Megan merasa kecewa. Bola matanya pun nampak memerah lengkap dengan buliran air mata yang memenuhi pelupuknya kini.
"Maafkan saya, Megan. Saya tahu tujuan kamu ke sini untuk apa. Namun, saya mohon jangan melakukan hal ini lagi, kita tidak akan mungkin bisa bersama seperti dulu lagi, karena perasaan saya untuk kamu sudah tidak tersisa lagi di hati saya," jelas Morgan ingin memperjelas keadaan.
"Tidak sama sekali, Megan. Saya memang pernah mencintai kamu, tapi itu dulu. Rasa cinta itu sudah tidak ada lagi kini. Saya harap kamu bisa menemukan laki-laki yang lebih baik yang bisa menggantikan saya."
Megan mengusap wajahnya kasar. Mencoba untuk membersihkan buliran air mata yang saat ini berjatuhan dengan begitu derasnya. Rasanya sakit sekali, ketika kita di tolak mentah-mentah oleh laki-laki yang dahulu pernah memperlakukannya bak seorang ratu.
"Sekarang kita ke Rumah Sakit, obati luka kamu dan istirahatlah di rumah. Jika bos kamu sampai melakukan hal seperti ini, sebaiknya kamu resign saja dari perusahaan itu. Atau kalau perlu kamu laporkan dia ke kantor polisi."
"Gak usah, Mas. Aku bisa pergi ke Rumah sakit sendiri," ketus Megan kemudian. Dia pun pergi begitu saja meninggalkan mantan suaminya dengan hati dan perasaan hancur
'Astaga, kalau kamu bisa ke sana sendiri kenapa pake mampir dulu ke sini? Buang-buang waktu saja sih,' (batin Morgan).
* * *
__ADS_1
Sementara itu, Sherli yang saat ini masih berdiri tepat di depan gedung pengadilan nampak menatap melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya kini. Sudah lebih dari satu jam dia menunggu kedatangan bosnya di tempat itu. Dengan perasaan kesal, wanita itu pun beranjak dari tempat tersebut lalu berdiri di trotoar berharap yang di tunggu akan segera datang.
Jika dalam waktu 30 menit Morgan sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya, maka Sherli terpaksa akan pulang sediri dengan menaiki taksi. Saat ini, dia hanya butuh di hibur. Perceraiannya bersama sang mantan suami tetap saja menyisakan luka yang menganga di lubuk hatinya yang paling dalam.
Sampai akhirnya, yang di tunggu pun datang juga. Mobil yang dikendarai oleh Morgan terlihat dari kejauhan dan perlahan mulai melipir dan berhenti tepat di depannya kemudian.
Ckiiit!
Mobil mewah berwarna hitam itu pun berhenti tepat di depan tubuh Serli kini. Laki-laki itu keluar dari dalam mobil lalu menghampiri dirinya. Entah mengapa wajah bosnya itu terlihat lebih tampan dari biasanya. Stelan jas berwarna putih yang dikenakan oleh Morgan membuat ketampanannya yang terpancar kian terlihat memukai di mata Sherli.
"Maaf, karena telah membuat kamu menunggu lama. Ada urusan mendadak tadi," ucap Morgan kemudian.
"Tidak apa-apa, Mas Morgan. Saya yang salah, sudah tahu Mas sibuk, tapi saya masih saja menelpon Mas," jawab Sherli, menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak merasa gatal sama sekali.
"Astaga, kenapa kamu bilang seperti itu? Tadi saya sudah bilang sama kamu kalau waktu yang saya miliki adalah milik kamu, jadi kamu tak usah merasa sungkan seperti ini. Apalagi status kamu sudah jelas sekarang, hahahaha!" Morgan tertawa nyaring seperti biasanya.
"Mas bisa aja," jawab Sherli, wajahnya seketika memerah tersipu malu.
"Kita pergi sekarang?"
Sherli menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.
Morgan membukakan pintu mobil dan meminta Sherli masuk ke dalamnya. Dia pun kembali menutup pintunya setelah memastikan bahwa wanita itu duduk dengan nyaman di dalam sana. Setelah itu, dirinya pun berlari ke arah samping lalu melakukan hal yang sama kemudian.
"Kamu mau ke mana sekarang? Saya tahu bagaimana perasaan kamu saat kini, Sherli. Tidak mudah menerima sebuah perceraian meskipun kita sendiri yang menginginkan hal itu. Jadi, saya akan menghibur kamu hari ini, kamu tinggal mengatakan mau pergi ke mana, saya akan menjadi supir pribadi kamu yang akan mengantarkan kamu kemanapun kamu ingin pergi," ucap Morgan penuh perhatian.
BERSAMBUNG
...****************...
__ADS_1
PROMOSI NOVEL