
Hari-hari yang dijalani oleh Morgan terasa begitu berwarna semenjak wanita bernama Sherli bekerja sebagai sekretarisnya kini. Setiap hari dijalani dengan semangat yang menggebu bahkan penampilan Morgan semakin terlihat nyentrik membuat ketampanannya kian bertambah berkali-kali lipat tentu saja.
Tut! Tut! Tut!
Suara telpon yang belum di angkat.
☎️ "Halo cantik, bawakan saya berkas yang kemarin. Jangan lupa sebentar lagi kita akan meeting di luar bersama klien penting," ucap Morgan sesaat setelah sekretaris cantiknya itu mengangkat telpon.
☎️ "Baik, Pak bos," jawab Sherli singkat lalu seketika itu juga langsung menutup telpon.
Morgan meraih cermin dari dalam laci meja kerjanya. Dia pun menyisir rambutnya serapi mungkin, dirinya menatap wajah tampannya dari dalam pantulan cermin dan memastikan bahwa penampilannya benar-benar tampan sempurna.
Ceklek!
Pintu ruangan pun di buka tanpa di ketuk terlebih dahulu, Sherli sang sekertaris masuk ke dalam ruangan tersebut. Dia menatap bosnya yang saat ini sedang bercermin bahkan, senyuman pun nampak mengembang lebar dari kedua sisi bibir seorang Morgan.
"Maaf, Pak Bos. Saya masuk tidak ketuk pintu dulu. Saya pikir Pak bos tidak sedang melakukan apapun," ucap Sherli saat Morgan mulai menoleh dan dan menatap wajahnya kini.
"Tidak apa-apa cantik. Pintu ruangan ini selalu terbuka untuk kamu, bahkan pintu rumah saya pun terbuka lebar untuk wanita secantik kamu. Kamu boleh ko berkunjung ke rumah saya kapan pun kalau kamu mau," jawab Morgan, kembali memasukan cermin dan sisir tersebut dalam laci meja kerjanya.
"Hah?"
"Tidak usah difikirkan. Saya hanya bercanda ko, tapi Sherli wajah kamu kian hari tambah cantik aja. Apa proses perceraian kamu sudah selesai?"
Sherli sama sekali tidak menanggapi pertanyaan bosnya. Dia berjalan menghampiri lalu meletakkan di atas meja apa yang tadi di pinta oleh bosnya tersebut.
"Ini berkas yang bos minta, saya permisi, bos. Masih ada yang harus saya kerjakan," pamit Sherli kemudian.
"Tunggu! Buru-buru amat. Kamu tidak lupa 'kan kalau kita akan meeting penting bersama klien sebentar lagi?"
"Iya, Pak bos. Saya tidak lupa ko. Ini saya mau menyiapkan berkas pentingnya."
"Baiklah kalau begitu."
Sherli pun membungkukkan tubuhnya memberi hormat lalu berbalik dan hendak keluar dari dalam ruangan.
"Tunggu Sherli."
__ADS_1
Wanita itu sontak menghentikan langkah kakinya lalu kembali menoleh dan menatap wajah bosnya tersebut.
"Iya, Pak bos. Apa masih ada yang harus saya kerjakan?" tanyanya kemudian.
"Kamu tidak menjawab pertanyaan saya tadi? Apakah proses perceraian kamu sudah selesai?"
Sherli seketika menarik napas berat. Sebenarnya dia merasa sangat tidak nyaman jika urusan pribadinya di bicarakan di kantor. Namun, dia tetap harus menjawab pertanyaan bos genitnya itu, karena Morgan pasti akan terus bertanya hal yang sama jika dia belum mengobati rasa penasaran bosnya tersebut.
"Sidang pertama akan diadakan Minggu depan, Pak bos. Saya mau minta izin untuk tidak masuk kerja selama satu hari itu, apa boleh?"
"Tentu saja boleh. Apa kamu mau saya antar ke kantor pengadilannya?"
"Hah? Eu ... Tidak usah, Pak bos. Saya bisa pergi sendiri ke sana. Terima kasih atas izinnya." Sherli hendak melanjutkan langkah kakinya.
"Tunggu, astaga. Saya belum selesai bertanya."
Sherli kembali menarik napas berat, merasa malas menanggapi pertanyaan yang kembali akan di lontarkan oleh bosnya.
"Iya, Pak bos."
"Hah?"
"Kalau waktu itu kamu yang melamar untuk bekerja di kantor saya ini. Nanti, giliran saya yang akan melamar sebagai calon suami baru kamu kelak, hahahaha!"
Sherli memejamkan kedua matanya. Ada apa sebenarnya dengan bosnya ini? Memangnya sebuah perceraian itu adalah sesuatu yang harus di tertawakan atau di banggakan? Meskipun dia sendiri yang menginginkan perceraian ini, tapi tetap saja harus berpisah dengan laki-laki yang pernah mengisi hatinya itu terasa sangat menyakitkan untuknya.
Seharusnya bosnya itu lebih tahu dari siapapun karena sang bos pun pernah berada di posisinya 2 tahun yang lalu saat Morgan bercerai dengan istrinya. Batin Sherli merasa kesal sebenarnya.
"Saya permisi, Pak bos," pamit Serli kemudian, dan hanya di jawab dengan anggukan oleh Morgan.
'Astaga, Sherli kamu semakin cantik setiap harinya. Saya benar-benar merasa tidak sabar menunggu status kamu sebagai seorang janda,' (batin Morgan).
Ceklek!
Blug!
Pintu ruangan pun di buka dan di tutup kemudian setelah Sherli benar-benar keluar dari dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
* * *
30 menit kemudian, Morgan dan sekretarisnya pun sudah berada di perjalanan menuju Restoran mahal dimana Morgan akan mengadakan meeting penting dengan klien yang sangat penting menurutnya. Karena kliennya yang satu ini akan menanamkan investasinya dengan keuntungan 25% yang Morgan janjikan setiap bulannya.
Mereka berdua pun sampai di tempat tujuan bersama Bram juga tentunya. Mobil pun mulai melipir dan memasuki area parkiran lalu berhenti kemudian.
Ckiiit!
Mobil berhenti tepat di area parkir. Morgan keluar dari dalam mobil diikuti oleh Sherli kemudian. Sementara Bram dia hanya akan menunggu di dalam mobil sampai meeting selesai diadakan.
"Meeting-nya di dalam,'' imbuh Morgan dan hanya di jawab dengan anggukan kecil oleh Sherli.
Dia pun berjalan secara beriringan bersama bosnya tersebut. Penampilan Morgan terlihat sangat sempurna. Stelan jas berwarna merah lengkap dengan dasi berwarna putih pun membuatnya menjadi pusat perhatian saat laki-laki itu mulai masuk ke dalam Restoran.
"Di sana!" Morgan menunjuk meja nomor 19, meja yang sengaja dia pesan dan berada di barisan paling belakang.
Sherli hanya mengangguk patuh, berjalan menuju meja yang di sebutkan. Sesampainya di sana, Morgan nampak menarik kursi dan meminta Sherli untuk duduk kemudian. Tentu saja hal itu membuat Sherli merasa tidak nyaman.
"Gak usah, Pak bos. Saya bisa melakukannya sendiri ko,'' ujar Sherli kemudian.
"Tidak apa-apa, kliennya ko bisa belum datang? Padahal sudah saya tegaskan, bahwa saya tidak suka dengan keterlambatan. Ini udah jam 1 siang lho. Malah saya yang datang duluan,'' gerutu Morgan merasa kesal. Dia pun duduk di kursi setelah memastikan Sherli duduk dengan nyaman.
"Mungkin sebentar lagi datang bos. Jam segini jalanan memang macet."
"Hmm ... Tapi tetap saja, menunggu adalah hal yang paling tidak saya sukai. Eu ... Sambil menunggu klien datang, bagaimana kalau kita pesan makanan terlebih dahulu?''
"Boleh, Pak bos. Kebetulan saya juga sudah mulai lapar,'' jawab Sherli memegangi perut rampingnya.
"Oke, kita pesan makanan yang paling enak di restoran ini."
Baru saja Morgan hendak memesan makanan. Dia pun membuka lemar demi lembar buku menu makanan, tiba-tiba yang di tunggu pun akhirnya datang. Laki-laki itu nampak menghentikan gerakan tangannya lalu menatap kliennya tersebut.
"Kamu?"
BERSAMBUNG
...****************...
__ADS_1