
Dari tempatnya berdiri, Wisnu melihat Farel yang tampak sedang berbicara dengan batang pohon mangga. Sehingga Wisnu pun menegur muridnya itu.
"Farel, lagi apa kamu?"
"Eh enggak, Pak. Saya cuma lagi lihat pohon mangga, kapan berbuahnya ya Pak?" ucap Farel beralasan supaya Wisnu tidak curiga ada Elang yang keluar kelas di jam pelajaran.
Wisnu berdecak sambil mengelengkan kepala. Lalu dia menyuruh Farel untuk bersiap berlari.
Sementar itu, Elang segera keluar dari tempat persembunyiannya, mencari Ayana di beberapa sudut sekolah namun hasilnya nihil. Elang berkacak pinggang saat dia menemui jalan buntu mencari keberadaan Ayana.
Firasat Elang mendadak menjadi tidak enak. Sebab sebelumnya Ayana tidak bilang akan ada urusan.
"Ay, kamu ada di mana sih?" gumam Elang cemas ketika panggilan telepon tidak diangkat oleh Ayana.
Elang berdecak kesal, memasukan lagi ponsel ke dalam saku kemeja.
"Kemana lagi aku harus cari Ayana ya? Andai saja ada seseorang yang tahu segalanya, maka aku akan tanya di mana istriku berada."
Ting.
Lampu di otak Elang menyala seketika. Bersamaan dengan bola mata yang membelalak lebar ketika menyadari suatu hal.
"Orang yang tahu segalanya tentang sekolah ini?" Elang menjetikan jari. "Pak Trisno, jawabannya."
Elang berlari di koridor kelas menuju ruang kepala sekolah. Sampai di depan pintu, Elang terdiam sejenak untuk mengatur nafasnya yang tersengal.
Tepat ketika tangan Elang mengetuk, saat itu juga pintu terbuka lebar menampakan Tedi yang berdiri di ambang pintu. Alhasil ketukan tangan Elang tak sengaja mengenai jidat Tedi yang plontos berkilau.
"Eh, maaf, Pak Tedi," ucap Elang pada Tedi yang mengaduh dan mengusap jidatnya.
"Elang, kamu mau apa kemari?" tanya Tedi melayangkan tatapan sebal.
"Saya mau menemui Pak Trisno."
"Pak Trisno lagi sibuk dan nggak bisa diganggu. Memang kamu ada urusan apa sih?"
Elang mengusap tengkuknya sambil berpikir mencari alasan.
"Pak Trisno yang menyuruh saya kemari, Pak," Elang tersenyum untuk menutupi kebohongannya.
Sedangkan Tedi tak langsung percaya. Dia tahu Elang adalah murid yang rajin bolos dan gemar berbohong. Dia menyipitkan mata memandang wajah Elang dengan sorot penuh selidik.
"Kamu lagi nggak alasan mau bolos sekolah kan?"
Elang menghela nafas serta memutar bola mata malas.
"Astaga, Pak Tedi. Saya memang disuruh kemari. Lagipula masa saya mau bolos, pamit dulu sama kepala sekolah sih, Pak."
"Oh iya yah. Benar juga," Tedi bergumam sambil menganggukan kepala. Lalu dia menggeser tubuhnya untuk menciptakan sedikit ruang untuk bisa dilalui Elang. "Ya sana, masuk!"
__ADS_1
Elang menghembuskan nafas lega karena Tedi tak menaruh curiga padanya. Terlebih Tedi segera pergi dari pintu kepala sekolah sehingga dia bebas berbincara dengan Trisno.
Elang melangkah masuk sambil mengucapkan kata permisi, lalu dia berjalan mendekati meja kerja kepala sekolahnya itu.
Trisno sedang menunduk membaca sebuah buku. Begitu menyadari Elang masuk, Trisno pun mendongak dari buku yang dia baca.
"Ada apa, Raynar?"
"Pak, apa Bapak tahu di mana Ayana sekarang?" tanya Elang to the point dengan nada tidak sabar.
"Bu Ayana, Elang," Trisno meralat ucapan Elang. "Bu Ayana sedang pergi karena ada urusan mendadak."
"Urusan apa, Pak?"
Trisno tak langsung menjawab. Sejenak dia memandang wajah Elang yang terlihat jelas tengah dilanda cemas.
Kemudian Trisno mengangkat alis dan melempar pandangan. Sedangkan Elang yang sudah tidak sabar, mengepalkan tangan lalu mencondongkan tubuh agar lebih dekat dengan sang kepala sekolah.
"Pak, katakan! Di mana Bu Aya sekarang?"
"Sebelumnya, jawab dulu pertanyaan dari saya, Raynar," Trisno menatap tajam Elang untuk melihat kesungguhan pemuda itu. "Ada hubungan apa kamu dengan Bu Aya?"
*
*
*
Beberapa saat sebelumnya.
"Bu Ayana."
Panggilan dari Trisno membuat Ayana menoleh ke belakang. Dia menundukan kepala saat sang kepala sekolah berjalan menghampirinya.
Sekarang ini Ayana hendak menuju lapangan untuk mengajar murid didiknya seperti biasa. Akan tetapi Trisno memanggil dan sepertinya pria enam puluh dua tahun itu ingin berbicara sesuatua yang penting.
"Ada apa, Pak Trisno?"
"Untuk hari ini saya kosongkan jadwal mengajar Bu Aya, karena ada sesuatu hal yang penting."
Dahi Ayana mengerut bingung. Lantas dia pun bertanya, "Apa itu Pak?"
Trisno menghela nafas sebelum berbicara. "Relasi saya bernama Bram Rasyid sedang jatuh sakit dan ingin Bu Aya menemui beliau di rumahnya."
Ayana terdiam sesaat. Di dalam benaknya bermunculan sederet pertanyaan yang membuat dahinya semakin mengerut.
Ada apa dengan Pak Bram? Apa urusannya dengan aku? Jangan-jangan dua orang yang kemarin itu memang benar-benar anak buah Pak Bram?
Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi benak Ayana dan menciptakan rasa penasaran yang besar.
__ADS_1
"Maaf, kalau boleh tahu, kenapa harus saya ya, Pak?"
Trisno mengangkat bahu tapi bibirnya sedikit melengkungkan senyuman.
"Mungkin saja Bu Aya mau dijadikan mantunya Pak Bram," ledek Trisno.
Dan Ayana hanya bisa tertawa garing sambil mengusap tengkuknya. Tak menyangka kepala sekolah yang terkenal berwibawa bisa memberikan candaan pada bawahannya.
"Pak Trisno, ada-ada saja."
Trisno pun menjelaskan bahwa Ayana akan diantar supir menuju kediaman Bram dan kelas akan dipegang sementara oleh Wisnu, guru olahraga yang lain.
Sehingga Ayana tak perlu mencemaskan murid didiknya dan hanya berfokus pada pertemuannya dengan Bram.
Di sepanjang perjalanan, Ayana terus menerka-nerka tujuan Bram memintanya datang ke rumah si pengusaha kongklomerat itu.
Tiba-tiba dering ponsel mengalihkan atensi Ayana. Dia melihat layar yang menampilkan nama Elang di layar.
Akan tetapi saat Ayana hendak mengangkat telepon itu, si sopir yang mengantar Ayana berkata, "Bu Aya, sudah sampai."
Lantas Ayana pun mendongak dan memilih mematikan ponselnya. Karena dia berpikir Elang meneleponnya hanya untuk mengucapkan kata-kata gombal seperti biasa.
Ayana turun dari mobil. Kemudian bola matanya berbinar kala menatap bangunan mewah yang menjadi tempat tinggal Bram.
Saking terpananya, Ayana tak sadar ada dua orang pria yang datang untuk menyambut kedatangannya.
"Selamat pagi, Nona Ayana," sapa dua pria itu serempak seraya menundukan kepala.
Ayana tersentak, melihat wajah dua pria yang kemarin berkelahi dengan Elang. Dia menatap Asep dan Slamet secera bergantian dengan tatapan tak percaya.
"Lho kalian kan yang kemarin mau culik saya?"
Asep dan Slamet saling tatap sebelum akhirnya mereka menundukan kepala lagi.
"Maaf, Nona. Kami bukan penculik."
"Oh, jadi kalian benar-benar anak buah Pak Bram?" Ayana tersenyum kaku sekaligus tidak enak hati pada Asep dan Slamet. "Maaf kalau begitu. Saya tidak tahu kalau kalian…"
"Tidak apa-apa, Nona. Kita juga yang salah karena sikap kami yang terlalu mencolok seperti seorang penculik."
Mereka mempersilahkan Ayana masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu menunggu Bram keluar dari kamar.
Sejenak Ayana mengedarkan pandangan ke sekeliling mengagumi setiap sudut rumah yang sangat mewah dan pastinya mahal.
Tiba-tiba bola mata Ayana melebar, jantungnya seperti melompat dari tempatnya ketika dia melihat foto keluarga yang tergantung di dinding.
Pasalnya di foto itu, terpotret Bram berdiri bersama pria muda yang sangat mirip dengan Elang. Bukan hanya mirip tapi pria itu bagaikan fotokopian dari suami Ayana.
"Nggak mungkin," gumam Ayana tercengang.
__ADS_1