Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
48. Tidak Bisa Tidur Tenang


__ADS_3

Diva menundukan kepala tampak lesu. Lalu dia mengelengkan kepalanya.


"Nggak, Ay. Aku tahu kok jawaban Elang pasti dia nggak cinta sama aku."


"Ya, tapi seenggaknya perasaan kamu jadi lega, Div."


"Kalian sedang apa di sini?" tanya Bram tiba-tiba mengejutkan Ayana dan Diva.


Dua wanita itu menoleh, menatap Bram yang juga sedang menelisik mereka dengan alis menaut. 


"Kami lagi ngobrol, Dad. Daddy sudah pulang? Elang mana?"


"Maksud kamu Raynar? Dia masih di kantor. Daddy pulang lebih dulu, karena Daddy capek," Bram berkata ketus.


Dia melonggarkan sedikit dasi yang terasa mencekik di leher. Lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Ayana berjalan setengah berlari mengejar Bram. Dia melangkahkan kaki lebar agar bisa mengimbangi langkah ayah mertuanya.


Sama halnya dengan Ayana, Diva juga berjalan di belakang mertua dan menantu itu untuk dapat mengawasi apa yang mereka bicarakan.


"Dad, apa Daddy sudah ada calon ibu mertua untukku?"


Bram menyeringai saat melirik Ayana. "Kamu itu menantu yang aneh. Biasanya menantu perempuan itu tidak suka kalau serumah dengan mertua."


"Ini keinginan cucu Daddy. Kalau aku sih nggak masalah tinggal sama mertua, biar ada temen adu mulut."


"Jangan memakai alasan ngidam untuk meminta Daddy menikah lagi! Karena itu tidak mungkin terjadi," kata Bram seraya melayang tatapan dingin dan tegas.


Kemudian Bram mempercepat langkah kakinya agar Ayana tidak bisa mengikutinya lagi. Tepat saat itu juga lengan Ayana dicekal oleh Diva yang wajahnya menampilkan kemarahan.


Ayana menghempaskan tangannya agar terlepas dari cengkraman Diva. Dengan santai, dia membalas sorot marah dari dua manik mata Diva.


"Ayana, stop! Jangan mak comblangin aku sama ayah mertua kamu lagi! Aku muak," Diva menggeram sambil melirik ke arah pintu kamar Bram. Takut jika tuannya itu mendengar ucapannya.


Lalu Diva kembali memandang Ayana dengan mata mendelik geram. "Aku nggak suka kamu jodoh-jodohin aku sama Tuan Bram. Dia itu sudah lanjut usia dan aku nggak selera sama terong kisut."


"Meskipun terong kisut tapi masih enak dimakan kok," seloroh Ayana asal-asalan.


Sedangkan Diva mendengus mengejek. "Memangnya kamu pernah makan terong kisutnya Tuan Bram, sampai bisa bilang begitu."


"Nggak pernah. Aku cuma makan terong mengkerut anaknya Tuan Bram."

__ADS_1


"Eits, tunggu! Kok kita jadi bahas terong," Diva berkacak pinggang, kembali pada sikap mengintimidasi.


Sementara Ayana juga menatap lurus ke bola mata Diva sambil melipat tangan di depan dada.


"Oke, aku bakal berhenti jodohin kamu sama ayah mertuaku, tapi dengan satu syarat. Kamu harus jujur ke Elang tentang perasaan kamu dan juga rencana kamu itu."


Sontak Diva membulatkan mata lebat. Tentu saja dia tidak mau menuruti kemauan Ayana yang sudah pasti akan membuat Elang semakin membencinya.


Diva pun menggelengkan kepala dengan cepat. Tanda bahwa dia tidak menyetujui persyaratan Ayana


Diva lebih memilih beranjak pergi agar tidak lagi di ganggu oleh Ayana. Tapi wanita itu malah mengikuti setiap langkah Diva.


"Hei, Diva, kenapa kamu pergi? Kamu menolak syarat dari aku? Oke, kalau begitu aku akan ceritakan langsung rencana jahatmu yang ingin mengaku memiliki anak dari Elang."


Secepat kilat, Diva memutar badan untuk bisa melihat Ayana. Dia sangat ketakutan bahkan saat Ayana mengutak-atik ponselnya.


Segera Diva berlari menghampiri Ayana lalu merebut ponsel di tangan wanita itu. Mulut Diva setengah melongo tak percaya ketika dia melihat satu pesan suara terkirim di layar ponsel.


Bahkan pesan suara itu langsung bercentang biru yang artinya, Elang sudah mendengar rekaman suara Diva.


"Kamu kirim rekaman itu ke Elang?" tanya Diva tercengang.


Ayana merebut kembali ponsel yang ada di tangan Diva. "Sekarang, mau nggak mau kamu harus mengaku, Diva."


*


*


Malam hari, Elang baru bisa pulang ke rumah. Dia melewatkan makan malam karena sekarang sudah pukul sepuluh malam. 


Beberapa lampu rumah pun sudah dimatikan. Suasana sepi hingga Elang dapat mendengar jelas derap langkah kakinya.


Ketika Elang menaiki tangga, dia seketika berhenti begitu melihat Diva yang kebetulan akan turun ke lantai bawah. Pandangan mata mereka bertemu, tapi segera terputus karena Elang memalingkan muka.


Elang melanjutkan langkah kakinya menaiki tangga, melewati tubuh Diva seolah wanita itu tidak ada di hadapannya.


Namun, secepat kilat, Diva menahan lengan Elang meminta sedikit waktu untuk berbicara.


"Kamu mau apa? Aku sedang sangat lelah," kata Elang ketus.


Diva menelan salivanya. Mendadak sangat sulit baginya untuk berbicara. Seolah tenggorokannya tercekat sebongkah batu.

__ADS_1


"Bisa kita duduk sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan."


"Katakan saja di sini!" 


"A-aku… aku cinta sama kamu, Lang," ucap Diva langsung ke inti dengan nada terbata-bata. 


Sementara Elang hanya diam, mengalihkan pandangan ke arah lain. 


"Maaf, Diva. Tapi aku menganggapmu nggak lebih dari seorang teman."


Kepala Diva menunduk menatap jari kakinya. Dia mengepalkan tangan berusaha untuk tidak menangis.


Diva menggigit bibir bawahya saat kedua manik matanya telah menggenang. Segera Diva menyeka ujung matanya menggunakan punggung tangan.


"Dan satu lagi yang harus kamu tahu," ucap Diva masih dengan kepala menunduk. "Aku iri sama Ayana, Lang. Dia dengan mudah mendapatkan cinta darimu."


Elang menyeringai. "Itu sebabnya kamu ingin mengaku hamil anak aku, supaya kamu bisa diterima di keluarga ini? Supaya kamu juga bisa mendapatkan aku? Seperti apa yang Ayana dapatkan? Aku nggak nyangka kamu bisa punya niat licik seperti itu, Va."


Diva mendongak menatap Elang. Satu bulir bening mengalir dari ujung mata. Dia meraih tangan Elang tetapi secepat kilat, Elang menampik tangan Diva.


"Lang, sebenarnya itu cuma niatan aku yang terlintas begitu saja di kepala. Aku nggak sungguh-sungguh ingin menjebak kamu dan mengaku hamil anak kamu."


Elang berdecak memandang wajah Diva. Biasanya dia tidak akan tega jika melihat seorang perempuan menangis, akan tetapi entah kenapa kali ini dia tidak tersentuh pada Diva yang terus menitikan air mata.


Elang teringat bagaimana dia telah berbuat baik pada Diva namun, nyatanya wanita yang sudah dia anggap teman malah memiliki niatan licik terhadapnya.


Tak ingin membuang waktu, Elang berbalik dan menaiki anak tangga.


"Lang, aku minta maaf," Diva memelas. Namun, Elang tetap mengayunkan kaki menaiki anak tangga. 


"Elang," teriak Diva kencang hingga menggema di suasana rumah yang sepi dan seketika ayunan kaki Elang pun terhenti.


Diva naik beberapa anak tangga menyusul Elang yang masih tetap memunggunginya. Seakan tidak mau menatap Diva.


"Lang, aku mohon maafkan aku."


Elang menghembuskan nafas. Tanpa menatap ke arah Diva, Elang pun berkata, "Aku sudah maafkan kamu kok."


Bibir Diva melengkungkan senyuman dengan mata berbinar, dia memandang punggung Elang. Tetapi senyum di bibir Diva menghilang seketika saat Elang meneruskan kalimatnya.


"Tapi setelah aku tahu kamu memiliki niatan licik kepadaku, jangan harap aku mau menganggapmu teman lagi."

__ADS_1


Elang berjalan naik ke lantai atas menuju kamarnya. Sedangkan Diva hanya termenung di tempat dengan perasaan sesal dan penuh kecewa.


Dengan langkah gontai, Diva berjalan ke dapur. Dia masih belum mengantuk dan jawaban Elang menjadikannya tidak bisa tidur tenang malam ini.


__ADS_2