
"Aya, satu sekolahan sekarang pada jelek-jelekin kita," kata Elang begitu dia sampai di hadapan Ayana.
Tak lama Abian dan Farel juga ikut berhenti tepat di belakang Elang. Mereka berdua sudah seperti dua ekor anak ayam yang tidak mau jauh dengan induknya.
"Aku sudah tahu kok," jawab Ayana dengan ekspresi wajah datar.
"Dan kamu tahu siapa dalang di balik semua ini? Diva, Ay."
Ayana berdecak sambil menggelengkan kepala. "Nggak mungkin Diva, Lang. Memang kamu punya bukti kuat dia yang nyebar gosip tentang kita."
"Lah terus siapa lagi? Dia pasti sakit hati dan balas dendam dengan cara seperti ini."
"Sudah deh, Lang. Jangan salahkan orang lain! Salah kita sendiri sering mesra-mesraan di sembarang tempat. Jadi ketahuan kan?"
Ayana berjalan melewati Elang, tapi detik berikutnya pria itu juga ikut berjalan berdampingan bersama Ayana.
"Terus sekarang bagaimana, Ay?"
"Sudah. Nggak perlu dengerin kata orang. Cuek aja."
Ayana semakin mempercepat langkah kakinya. Sementara Elang ditahan oleh Abian dan Farel. Mereka mengajak Elang untuk segera masuk ke kelas.
Di sepanjang perjalanan menuju kelas Elang selaui ditatap sinis oleh siswa yang berpapasan dengannya. Begitu duduk di dalam kelas pun Elang merasa tidak tenang.
Abian menepuk pundak Elang untuk menenangkan sahabatnya itu. Bisik-bisik dari teman sebelah mereka terdengar dari telinga Elang.
Mereka membicarakan Elang dan Ayana yang berciuman mesra. Banyak dari mereka yang berspekulasi sendiri bahwa Elang adalah simpenan Ayana.
Sama halnya di ruang guru, Ayana juga langsung mendapatkan tatapan tajam dari para guru. Akan tetapi Ayana berusaha untuk tidak peduli.
Dia duduk santai di meja kerjanya sembari menunggu briefing pagi. Tak sampai tiga menit Ayana duduk, beberapa rekan guru langsung mengkerubungi Ayana.
Dari sorot mata, jelas mereka mengintimidasi Ayana serta menginginkan penjelasan.
"Bu Aya, sebenarnya ada hubungan apa sih, Bu Aya sama Elang?" tanya Bu Dewi yang super kepo.
"Iya, Bu. Kok kita tiba-tiba dapet kiriman foto yang nggak senonoh guru sama murid?" timpal Bu Selly.
Ayana menghela nafas dan berkata. "Semua itu salah paham. Sebenarnya saya cuma menium mata Elang yang lagi kelilipan."
"Jangan bohong, Bu Aya! Kita nggak buta kok. Jelas-jelas Bu Aya cium Elang. Mana mesra banget lagi."
__ADS_1
Ehem… ehem..
Suara deheman Tedi menjeda sesi introgasi para guru terhadap Ayana. Mereka serempak menoleh pada Tedi, si guru BK, yang baru saja masuk ke dalam ruang guru.
Tedi berjalan menghampiri meja Ayana. Dari raut wajahnya, jelas menggambarkan perasaan Tedi saat ini adalah kecewa.
Tapi Tedi berusaha bisa saja ketika berkata, "Bu Aya, dipanggil Pak Trisno menghadap ke ruang kepala sekolah."
Ayana menganggukan kepala seraya berdiri dari duduknya. "Baik, Pak."
Kemudian Ayana melesat keluar ruang guru. Setiap langkah Ayana masih biaa mendengar suara para guru yang saling berbisik membicarakannya.
Begitu pula saat Ayana berjalan ke lorong yang menghubungkan ruang guru dengan ruang kepala sekolah. Dia berpapasan dengan murid yang berbisik dengan teman sebelahnya sambil melirik pada Ayana.
Sesampainya di depan ruang kepala sekolah, Ayana mengetuk pintu pelan dan terdengar sahutan dari dalam yang memintanya untuk masuk saja.
Ayana memutar gagang pintu dan dilihatnya Pak Trisno yang duduk di kursi kebesarannya sebagai kepala sekolah. Ayana tak dapat menebak raut wajah Trisno saat ini. Laki-laki itu pandai sekali dalam hal menyembunyikan perasaannya.
Jadi Ayana menurut saja ketika Trisno menyuruhnya duduk kosonh yang tersedia di depan meja kepala sekolah.
*
*
*
Elang menggebrak meja menahan rasa geram di dada. Membuat Abian yang duduk di sebelahnya sampai terlonjak kaget.
Lantas Abian pun menenangkan Elang dengan menepuk pundak sahabatnya. Dia tahu saat ini Elang sangat marah. Dia saja yang mendengar semua tudihan semua teman kelas ikut merasa geram, apalagi Elang.
Detik berikutnya, Elang menghambur ke luar kelas dan Abian pun berlari mengikutinya.
"Lang, kamu mau kemana?"
"Aku nggak tahan, Bi. Oke, kalau mereka ngomongin aku di belakang, nggak masalah. Tapi, saat ini Ayana juga pasti jadi bahan gunjingan sama guru-guru yang lain. Aku nggak terima kalau Ayana digituin," jelas Elang menampilkan wajah penuh amarah.
"Ya, tapi kan, Lang. Kalau kamu menemui Bu Aya sekarang, satu sekolah malah tambah heboh nanti."
"Aku nggak peduli. Aku mau ketemu Ayana sekarang."
Segera Elang berjalan menuju ruang guru. Karena pastinya, Ayana belum berada di lapangan.
__ADS_1
Tepat saat Abian hendak mengejar Elang, dia dicegat oleh sebuah suara yang memanggilnya. Abian pun menoleh dan melihat Farel yang berjalan menghampiri.
Kentara sekali jika belum ada guru yang masuk ke kelas mereka. Menjadikan para murid bebas berkeliaran di koridor kelas.
Sama halnya dengan Abian dan Farel yang mengikuti langkah Elang di sepanjang jalan menuju ruang guru.
Tiba-tiba Abian dan Farel menabrak punggung Elang disebabkan pria itu mendadak berhenti.
"Kenapa, Lang?"
"Aya masuk ke ruang kepala sekolah," ucap Elang tanpa melepas pandangannya ke arah Ayana. "Pasti terjadi sesuatu."
"Eh, Lang. Mau kemana lagi sih?" teriak Abian saat melihat Elang membelokkan arah menuju ruang kepala sekolah.
Dia dan Farel berlari mengikuti Elang. Mereka bertiga merapatkan diri ke pintu yang tidak tertutup dengan sempurna.
Melalui celah pintu, mereka mengintip dan menguping pembicaraan Ayana bersama Trisno.
"Banyak dari orang tua murid yang menginginkan Bu Ayana untuk berhenti mengajar di sekolah ini."
Kata-kata yang terucap dari Pak Trisno membuat ketiga murid di depan pintu tercengang. Terutama Elang yang langsung mengepalkan tangan dan melesat masuk ke dalam.
"Nggak bisa, Pak! Bu Aya nggak boleh keluar dari sekolah ini," teriak Elang mengagetkan Ayana dan Trisno.
Trisno memegangi dadanya sambil menghela nafas. "Elang, kalau masuk biasakan ketuk pintu terlebih dahulu."
"Maaf, Pak. Tadi saya lupa," kata Elang menyesal. "Pak, saya nggak setuju jika Bu Aya keluar dari sekolah. Ini semua salah saya. Saya yang minta Bu Aya mencium saya."
Trisno menatap Ayana dan Elang secara bergantian.
"Elang, saya memang sudah tahu kalian itu sepasang suami istri. Saya pun tidak mempermasalahkan hubungan kalian yang juga guru dan murid. Hanya saja, jangan menyalahgunakan kepercayaan saya ini dengan bermesraan di lingkungan sekolah," Trisno berkata seraya menatap lurus pada Elang.
"Saya tahu, saya salah, Pak. Tapi jangan berhentikan Ayana, Pak. Saya mohon."
Trisno menggelengkan kepala. "Ini sudah menjadi keputusan saya bersama para orang tua murid. Mulai hari ini Bu Aya tidak lagi mengajar di sekolah ini."
Elang menundukan kepala pasrah. Dapat dia rasakan sebuah tangan yang mengusap bahunya.
Tanpa menoleh pun, Elang tahu Ayana kini tengah menguatkannya untuk dapat menerima keputusan dari Trisno.
Ayana mencondongkan tubuhnya untuk berbisik di depan daun telinga Elang.
__ADS_1
"Lang, nggak apa-apa. Aku akan tetap jadi guru olahragamu di ranjang kok."