Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
73. Secepatnya


__ADS_3

Abian dan Elang berjalan di lorong rumah sakit untuk menemui Farel. Setelah menemukan supplier yang cocok untuk memasok produk dagangan, mereka berniat menemui Farel untuk melanjutkan diskusi bisnis yang akan mereka bangun.


Namun, begitu Elang dan Abian hendak membuka pintu ruangan, mereka mendengar suara teriakan dari dalam. Sontak Abian dan Elang buru-buru melesat masuk. 


Namun, mereka tak menemukan ada Farel di dalam ruangan. Tempat tidur pasien itu kosong, hanya ada selimut dan bantal yang terpuruk berantakan. 


Lantas Abian menunduk mencari sosok Farel di bawah kolong tempat tidur. 


"Lho, Farel mana?" gumam Abian terheran. "Kok nggak ada?"


Elang ikut mencari dengan menelisik ke dalam tempat sampah. 


"Iy nih. Di tong sampah juga nggak ada. Coba kamu telepon orang tuanya Farel, Bi."


Ketika Abian mengeluarkan ponsel, mereka mendengar lagi suara teriakan yang sangat jelas berasal dari kamar mandi. Sehingga tanpa banyak berpikir, mereka langsung lari ke sumber suara. 


Namun, apa yang mereka lihat justru membuat mereka tercengang. Bahkan tubuh mereka tidak bisa bergerak saking terkejut. 


Mereka melihat Farel yang tidak memakai celana dan ada satu orang wanita sedang berjongkok di depannya. 


Otak kotor Abian dan Elang pun berkerja dengan sangat cepat dalam menyimpulkan kondisi yang ada. Mereka berdua serempak membekap kedua tangan untuk menutupi mulut yang menganga karena tak percaya Farel bisa berbuat mesum dengan seorang wanita di luar ikatan pernikahan. 


Tanpa sepengetahuan Farel dan secepat kilat, Abian langsung memotret pemandangan tak senonoh itu untuk dijadikan barang bukti. 


"Farel?" teriak Elang. 


Farel menoleh dan tersentak saat melihat dua sahabatnya sudah ada di depan pintu. Lalu dia pun melempar pandangan pada Hani yang masih saja memadangi benda keramatnya. 


"Kamu pergi! Pergi dari sini!" Farel meraung marah membuat siapapun yang melihatnya pasti akan ketakutan. 


Begitu pula Hani yang langsung kabur keluar dari kamar mandi, menerobos tubuh Abian dan Elang. 


"Hai, kalian sedang apa di sana? Tutup pintunya!" teriak Farel. 


Tanpa berkata apa-apa, Elang menutup pintu dan langsung memandang wajah Abian. 


"Kamu lihat tadi, Bi?"

__ADS_1


Abian mengangguk. "Aku nggak nyangka Farel ternyata diam-diam menghayutkan."


Elang memiringkan badan untuk berbisik pada Abian. "Sepertinya kita harus lapor ke orang tua Farel, supaya mereka segera dinikahkan."


Abian mengangguk setuju. "Betul, Lang. Supaya mereka nggak bikin dosa lagi."


Detik berikutnya, ponsel milik Elang berbunyi. Dia langsung mengangkat satu panggilan masuk begitu melihat si penelepon adalah Ayana. 


"Halo, Ay. Kenapa, Sayang?"


"Lang, aku mau rujak buah yang kemarin. Cepetan ya? Aku nggak mau tahu, pokoknya yang seperti kemarin. Titik."


Tut… tut… tut… 


Elang menatap ponsel dengan raut wajah tercengang. Dia sungguh heran kenapa Ayana menjadi sangat suka makan rujak buah, padahal sebelumnya tidak pernah seperti itu. 


Melihat sahabatnya yang berekspresi aneh setelah meneruam telepon, membuat Abian penasaran dan dia pun menyenggol Elang. 


"Kenapa, Lang?"


Elang menghela nafas sambil memasukan lagi ponselnya. "Ini, Ayana pengin rujak buah yang kemarin aku beli di Mbok Nilem."


"Aku males kalau harus berhadapan lagi sama Mbok Nilem."


Abian menyeringai menatap Elang. "Tumben. Biasanya kamu bakal melakukan apapun buat Ayana."


"Ya sih. Tapi ini Mbok Nilem, Bi. Aku males berurusan sama Mbok Nilem, karena suka nyumpahin orang. Gimana nanti kalau suatu hari nanti aku beneran punya anak yang budeg?"


Abian tertawa melihat Elang yang percaya pada perkataan Mbok Nilem. Lantas dia menepuk bahu Elang dan berkata, "Sudah, Lang. Jangan dipikirkan! Mending kamu beli rujak buah di tempat lain tapi kamu bilangnya rujak itu belinya dari Mbok Nilem. Beres kan?"


Elang menerawang, memikirkan ucapan Abian dan dia pun bergumam, "Iya juga ya?"


Elang menarik lengan Abian untuk mengajak sahabatnya itu keluar. 


"Ya sudah. Yok temenin aku beli rujak buah."


"Lho, Farel gimana?" tanya Abian menunjuk pintu kamar mandi di mana Farel masih ada di dalam entah apa yang sedang dilakukannya. 

__ADS_1


"Biarin. Toh ada ceweknya."


Elang dan Abian keluar dari gedung rumah sakit dan kebetulan tak jauh dari sana ada pedagang rujak buah. Sehingga Elang langsung membeli tanpa perlu pikir panjang. 


Setelah itu, mereka pulang ke rumah Farel dengan Elang yang bertujuan mengantarkan rujak buah untuk Ayana dan Abian yang hendak melaporkan perbuatan Farel. 


Begitu sampai di halaman rumah, Elang langsung naik ke atas ke lantai dua. Sedangkan Abian bertugas masuk ke dalam rumah untuk menemui orang tua Farel. 


Abian mengetuk pintu beberapa kali. Namun tak ada respon dari dalam. Abian menduga, orang tua Farel sedang tidak ada di rumah. 


Tepat saat Abian berniat pulang, ada satu mobil yang berhenti di depan rumah. Abian sangat mengenali mobil tersebut sebagai mobil milik ayah Farel. 


Dan benar saja, sepasang suami istri paruh baya turun dari mobil dan menautkan alis terheran begitu memandang Abian. 


"Lho, Abian? Kok ada di sini? Farelnya kan ada di rumah sakit?" tanya ibu Farel bingung. 


Abian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mendadak dia jadi ragu untuk melaporkan hasil penemuannya. 


Secara bergantian, Abian menatap dua orang dewasa di depannya yang memakai pakaian rapi. Seperti habis menemui acara penting. 


"Begini, Tante. Hhmm, saya jadi nggak enak ngomongnya."


"Ngomong aja, Bi. Ada apa?" 


Abian menarik nafas panjang dan menghembuskannya melalui mulut. Lalu dia pun menceritakan apa yang Farel perbuat di kamar mandi rumah sakit bersama seorang wanita. 


Tak tanggung-tanggung, Abian juga memperlihatkan foto di mana Farel tak memakai celana dan Hani berjongkok di depannya. 


Ibu Farel membulatkan mata dan menutup mulutnya yang menganga dengan satu tangan. Satu tangan lagi dia raih ponsel milik Abian dan menunjukanhya pada ayah Farel. 


Ekspresi yang ditampilkan ayah Farel tampak datar kala menatap foto itu. Tapi Abian dapat melihat dengan jelas dari pancaran mata ayah Farel, pria itu sedang memendam rasa marah. 


Ayah Farel mendengus dan mengembalikan ponsel milik Abian setelah puas melihat foto Farel dan Hani. 


"Belum juga satu jam yang lalu dia ingin membanggakan kita, tapi nyata apa? Dia sudah bikin ulah lagi," kata ayah Farel geram. 


"Maaf, Om. Bukan saya mau ikut campur tapi sebaiknya, Om jangan marahin Farel! Lebih baik langsung nikahkan saja, Om. Biar mereka nggak bikin dosa lagi," ucap Abian memberi saran. 

__ADS_1


Ibu Farel mengangguk, menyetujui perkataan Abian. Lalu dia melirik suaminya, sambil berkata, Iya, Pa. Papa kan baru aja damai sama Farel. Sebaiknya kita tanya Farel dulu soal kebenaran ini."


"Ya sudah. Kita ke rumah sakit sekarang. Kalau terbukti benar mereka melakukan perbuatan kotor seperti yang Abian lihat, aku akan nikahkan mereka secepatnya."


__ADS_2