Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
57. Modus


__ADS_3

Elang menggela nafas berat. Terpaksa dia turun dari tempat tidur, memakai lagi pakaian, dan membantu menarik selimut untuk menutupi tubuh Ayana. 


Kemudian dia membuka sedikit pintu agar bisa menyembulkan kepalanya keluar. Dia menatap jengah pada Bram yang sudah berdiri di depan pintu.


"Ada apa, Dad?"


"Ada yang ingin Daddy bicarakan. Ayo ikut Daddy ke ruang baca!"


"Di sini saja, Dad. Ada apa?" tanya Elang dengan sedikit menggeram.


"Ikut Daddy!" perintah Bram penuh penekanan.


Membuat Elang mau tak mau menuruti kemauan Bram. Sesaat dia menoleg pada Ayana agar menunggunya sebentar, lalu menutup pintu dan berjalan mengekori sang ayah ke ruang baca.


Di ruangan itu, Bram langsung menjatuhkan bokongnya ke sebuah sofa beludru dan menyambar sebuah buku tebal. Dia membacanya dengan serius, mengabaikan Elang yang menanti pembicaraan dengannya.


"Sorry, Dad. Daddy ingin bicara apa?" Elang bertanya dengan menahan kesabaran.


Bram mendongak dari buku yang dia baca untuk menatap wajah Elang. 


"Temani Daddy membaca buku," katanya singkat.


"Apa?" Elang tercengang. "Tapi, Dad. Aku…"


"Jangan banyak membantah! Temani Daddy membaca buku."


Elang menghela nafas. Andai saja pria tua yang ada di depannya bukan ayah kandung, mungkin saja Elang sudah pergi jauh ke galaksi andromeda.


Elang duduk di sofa samping tempat duduk Bram. Sambil otaknya memikirkan cara agar bisa keluar dari ruang baca tanpa kena omel sang ayah.


Tak butuh waktu lama, Elang memiliki ide. Dia sengaja menyalakan musik seriosa bernada pelan dan lembut dari ponselnya. Tak lupa juga dia membuka jendela agar angin sepoi-sepoi masuk ke dalam ruangan.


Elang yakin suasana yang begitu syahdu itu cocok sekali tidur siang. Ditambah cuaca terik di luar, siapa yang tidak tergoda untuk menyelam alam mimpi.


Seperti perkiraan Elang, kelopak mata Bram perlahan tapi pasti mulai terasa berat. Beberapa kali Bram mengerjapkan mata serta menguap pertanda dia sangat mengantuk.


Bram tak kuasa menahan kantuk yang mendera. Sehingga hanya beberapa menit kemudian, kepala Bram pun terkulai lemas di sandaran sofa dengan kedua mata terpejam.


"Yes," Elang bersorak sambil mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya.


Dia segera meninggalkan ruang baca untuk kembali ke dalam kamar. Namun, kebahagiaan Elang harus sirna karena dia juga mendapati Ayana yang tertidur meringkuk di balik selimut tebal.


"Aya. Ay," Elang mengguncangka bahu Ayana supaya wanita itu terbangun. "Bangun, Ay! Kita lanjutkan yang tadi."

__ADS_1


Ayana melengkuh. Dia yang belum memakai pakaian pun menarik selimut sampai menutupi dada.


"Elang, urusan dengan Daddy nya sudah?"


Elang mengangguk sebagai jawaban. Dengan senyum terukir di bibir, Elang naik ke atas ranjang, atau lebih tepatnya ke samping Ayana.


"Kalau Daddy kemari lagi, bagaimana, Lang?"


Elang mengerutkan kening, tampak sedang berpikir, lalu dia menjentikan jari. Dia membisikan sesuatu pada Ayana untuk menyampaikan rencana yang ada di dalam kepala agar mereka bebas berolahraga tanpa diganggu siapapun.


"Bagaimana?" tanya Elang setelah berbisik di telinga Ayana.


"Oke, aku setuju."


Ayana pun bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu. Tepat saat tangan Ayana memegang gagang pintu, Elang berseru memanggil Ayana.


Membuat Ayana memutar badan untuk menatap Elang dan bertanya, "Apa lagi?"


"Kamu mau keluar dengan keadaan seperti itu?" Elang bertanya menatap tajam badan Ayana yang tak memakai kain sehelai pun.


Ayana menunduk memandang tubuh polosnya. Lalu dia terkekeh saat menyadari kecerobohannya.


Dia mengambil pakaian yang tergeletak di lantai. Memakainya satu per satu. Setelah itu, baru lah dia keluar melewati daun pintu.


Ayana berkata pada pelayan bahwa Elang sedang sakit lalu meminta untuk memanggil Bram dan juga dokter pribadi. Dengan ekspresinyang menyakinkan, si pelayan itu pun percaya saja.


Pelayan wanita yang tampak masih muda dan polos itu pun verjalan tergopoh menuju ruang baca untuk memanggil Bram. Sedangkan Ayana kembali ke kamarnya.


Tak lama, pelayan tadi bersama Bram masuk ke dalam kamar. Dari raut wajah yang ditampilkan Bram, jelas pria itu tengah dilanda kepanikan. 


Dia menelisik pandangan ke tubuh Elang yang sedang meringkuk di bawah selimut dengan sekujur tubuh yang bergetar menggigil.


"Raynar, are you oke, Son?" tanya Bram cemas.


Apalagi Elang menggigil dengan sangat menyakinkan. Benar-benar seperti orang sakit.


"Aku sakit, Dad."


"Kalau begitu, Daddy akan panggil dokter Grifin untuk kemari," kata Bram bertambah cemas.


Bram mengabaikan Ayana yang berdiri tak jauh dari tempat tidur. Dia membungkuk untuk bisa melihat wajah Elang.


"Tidak perlu Dad. Tadi aku sudah berkonsultasi online dengan dokter."

__ADS_1


"Oh begitu ya? Lalu apa kata dokter? Kamu butuh apa? Katakan pada Daddy!"


"Kata dokter, aku harus banyak olahraga dan minum susu hangat."


Bram menarik nafas panjang. Dia menenggakkan punggung dan menatap pelayan yang berdiri di belakangnya. "Kau dengar itu! Buatkan segelas susu hangat untuk Raynar!"


"Tidak perlu menyuruh pelayan, Dad," ucap Elang buru-buru.


Alis Bram menaut, serta menoleh cepat pada Elang untuk meminta penjelasan kenapa Elang melarangnya menyuruh pelayan membuatkan susu.


"Aku hanya perlu minum susu dan berolahraga bersama Ayana di tempat tidur, Dad."


Bram melingkarkan bola matanya sambil berusaha mencerna ucapan Elang. Tak mau ambil pusing, Bram pun menuruti saja permintaan sang anak semata wayangnya.


"Baiklah kalau itu kemauanmu," ucap Bram sedikit ragu sambil sekilas melirik Ayana. "Lalu Daddy bisa berbuat apa untukmu?"


"Daddy jangan ganggu aku selama aku dan Ayana berolahraga. Cukup itu saja, Dad."


Kening Bram semakin mengkerut. Pertanda bahwa dia sangat heran akan permintaan Elang. Namun, sekali lagi dia tidak mau ambil pusing. Selama ada cara agar putranya sembuh, apapun akan dia lakukan.


Bram melangkah keluar dengan hati yang gundah. Sebelum menutup pintu, dia memandang Elang yang terbaring di atas ranjang dan terbungkus selimut. 


Ketika itu, hati Bram serasa bergetar. Selama ini dia tahu kalau putranya jarang sekali sakit. 


Apa mungkin aku terlalu memaksa Raynar untuk bekerja di kantor sampai dia jatuh sakit? Pikir Bram dalam hati.


Glek.


Pintu pun ditutup oleh Bram.


Detik berikutnya di dalam kamar…


"Yeeaah."


Elang menyibak selimut serta berjingkrak dari tempat tidur. Sedangkan Ayana bertepuk tangan kecil memandang Elang dengan senyum yang lebar.


Ayana dan Elang kompak berkata, "Kita berhasil."


Lalu keduanya pun bersorak riang karena mereka tidak akan diganggu lagi oleh Bram.


Tiba-tiba Ayana menekan jari telunjuknya ke bibir sebagai tanda agar Elang diam. Dia melirik ke arah pintu, takut jika Bram masih ada di dekat kamar mereka.


Elang berhenti bersorak, bukan karena dia menuruti perintah Ayana untuk diam tetapi disebabkan dia langsung membungkam bibir Ayana dengan bibirnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2