
Drrrtt… Ddrrtt… Drrrtt…
"Hp kamu getar tuh, Lang," ucap Abian menunjuk ponsel Elang yang tergeletak di atas meja.
Dahi Elang mengerut heran melihat nama Ayana tertera di layar ponsel. Dengan sigap, dia langsung menyambar ponsel dan menekan tombol hijau.
Lalu dia menempelkan ponsel ke daun telinga. Namun, baru satu detik benda itu menempel, secepat kilat dia jauhkan kembali karena tak kuat mendengar suara lengkingan dari Ayana di seberang telepon.
"Eelllaaannnggg!"
Baru setelah Ayana berhenti berteriak, Elang menempelkan lagi ponsel ke telinga.
"Ada apa, Ay?" tanya Elang dengan perasaan gugup.
"Kenapa kamu nggak pulang? Kamu di mana?"
"Aku masih di rumah sakit. Kan tadi kamu bilang nggak akan kasih jatah."
"Terus, kamu santai-santai saja gitu aku nggak ngasih jatah? Kamu nggak bujuk aku? Atau apalah gitu."
Elang membuka mulut hendak berbicara tetapi Ayana lebih dulu berkata, "Oh, aku tahu, kamu lebih milih teman-teman kamu daripada aku. Iya kan? Aku nggak penting lagi bagi kamu."
Elang menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Bukan gitu, Ay. Oke deh, aku pulang sekarang. Kamu tunggu aja lima menit lagi."
Elang mematikan ponsel lalu menatap Abian dan Farel. Dia menjelaskan pada dua temannya kalau dia tidak bisa menemani dan harus pulang secepatnya sebelum Ayana mengamuk.
Farel serta Abian pun memaklumi, meski mereka menyadari sikap Ayana yang sedikit aneh.
Elang bergegas meraih kunci motor vespa milik Farel. Sebelum pergi, Elang memberikan secarik kertas yang membuat Farel mengerutkan kening dan mendongak menatap Elang dengan sorot mata kebingungan.
"Ini kertas apa, Lang?"
"Itu biar kamu semangat," ucap Elang santai.
Dalam sekejap, sorot mata Farel berubah berbinar menatap Elang. Dia merasa terharu akan sikap Elang yang memberikannya kertas yang pasti berisikan kata-kata semangat.
Lantas Farel pun membuka kertas itu dan membaca isinya. Bola mata Farel membulat sempurna dan kembali dia memandang Elang yang tersenyum semringah sambil menaikkan alisnya.
"Gimana? Kamu jadi semangat untuk segera keluar dari rumah sakit kan?"
Farel memeras kertas itu hingga membentuk bola dan melemparkannya ke dada Elang.
"Semangat apaan? Ini surat tilang," geram Farel.
Melihat Farel mengamuk karena motor vespanya kena tilang, Elang hanya bisa tertawa.
Ketika mengantar Farel ke rumah sakit, motor yang dikendarai Elang kena tilang begitu sampai rumah sakit. Untung saja, polisi mengerti akan kondisi Elang yang harus segera membawa Farel ke rumah sakit.
Meskipun begitu, Elang tetap dikenakan tilang dan mau tak mau harus menguras dompet untuk membayar tilang tersebut.
__ADS_1
"Dah sana, pergi! Ntar Bu Aya ngamuk lagi," kata Abian menyuruh Elang yang masih cengenegsan.
*
*
*
Elang melaju kendaraannya di jalanan malam yang cukup lengang karena saat ini waktu telah menunjukan tengah malam. Sehingga waktu tempuh ke rumah Farel, bisa lebih cepat dari saat biasa.
Elang langsung naik ke lantai dua begitu sampai di rumah Farel. Dengan sangat pelan-pelan, dia membuka pintu dan mendapati Ayana yang sedang duduk di atas kasur sambil menangkup wajah menggunakan telapak tangan.
"Aya," panggil Elang seraya mendekat dan duduk di samping istrinya. "Ay, kamu nggak apa-apa?"
Tak ada jawaban dari Ayana. Malah samar-samar Elang mendengar suara terisak. Membuat Elang terkejut menyadari jika Ayana sedang menangis.
"Ay, kamu nangis?"
Ayana mendongak, memperlihatkan pipi yang basah dan juga mata merah.
"Kamu jahat, Lang. Kamu tinggalin aku sendirian," isak Ayana.
Ada satu hal yang Elang baru sadari, yaitu perubahan sikap Ayana yang mudah berubah. Diantara keheranannya itu, Elang terdiam sejenak lalu kedua tangannya bergerak merengkuh tubuh Ayana untuk masuk ke dalam dekapannya.
Tangisan Ayana semakin pecah dalam pelukan Elang. Tetesan air matanya membasahai kaos yang dipakai oleh sang suami.
Dengan pelan nan lembut, Elang mengusap rambut Ayana. Membiarkan wanita itu menangis menumpahkan isi hatinya.
"Aku juga nggak tahu, Lang. Aku sedih saat sendirian di kamar dan nggak ada kamu," rengek Ayana seperti anak kecil.
Elang menarik nafas panjang. Berusaha untuk tetap tenang dan bersabar.
"Ya sudah jangan nangis lagi. Aku kan sudah ada di sini."
Elang melepas pelukan, menangkup kedua pipi Ayana dan melabuhkan kecupan di bibir sekilas. Awalnya, hanya kecupan sekilas namun detik berikutnya Elang menjatuhkan lagi kecupan di bibir, dagu, dan leher.
Semakin lama, kecupan-kecupan itu berubah panas. Terlebih ketika kecupan sudah sampai di daerah yang menjadi favorit Elang.
Sambil tangannya bergerak melucuti pakaian Ayana, Elang menyesap salah satu dari dua aset kembar milik sang istri.
Tak ada penolakan dari Ayana, bahkan dia juga ikut membantu melepaskan pakaian yang melekat di tubuh Elang. Hingga akhirnya mereka berbaring di kasur tanpa ada sekat penghalang.
Kulit mereka saling menempel, saling memberi dan menerima kehangatan.
Ayana menggigit bibir bawah untuk memperkecil suara erangann yang keluar dari mulut. Harus dia akui semakin hari Elang semakin pandai dalam memuaskannya.
Dan malam itu, mereka lewati dengan berolahraga malam. Pinggang Elang bergerak naik turun di atas tubuh Ayana hingga dua insan itu berkeringat dan kelelahan.
Setelah menumpahkan benihnya untuk kesekian kali, Elang menjatuhkan diri di samping Ayana. Dia menarik selimut lalu mengecup kening Ayana sebelum pergi tidur.
__ADS_1
Namun, di saat rasa kantuk menyergap, Ayana mengguncangkan bahu Elang. Membuat pria itu terpaksa membuka setengah matanya.
"Lang, aku pengin rujak," rengek Ayana.
Elang menaikan alis tampak tak percaya. "Apa? Rujak?"
Sambil memanyunkan bibir, Ayana menganggukan kepala. "Aku pengin banget rujak buah, Lang. Buahnya yang komplit, pedes, trus ada buah mangganya. Tapi buah mangganya yang benar-benar asem. Jangan yang manis!"
Elang melirik ke layar ponsel untuk melihat alat penunjuk waktu. Dia menghela nafas berat ketika kembali menatap Ayana.
"Ini masih jam tiga pagi, Ay. Mau cari rujak buah di mana? Lagian kalau pagi-pagi makan rujak, nanti kamu bisa kena asam lambung lho. Nanti siang aja ya?"
Ayana merengek jauh lebih keras dari sebelumnya. Bibir merah alami milik Ayana maju hingga menyerupai paruh bebek dan tak henti-hentinya kaki Ayana menendang selimut.
"Aku mau rujak buah sekarang. Titik. Mau kamu cari ke ujung dunia pun aku nggak peduli, pokoknya aku mau rujak buah."
Elang menghela nafas, lalu berdecak sambil memaksakan diri membuka mata. Dia menyibak selimut yang membungkus tubuhnya dan bangkit berdiri.
"Iya, aku akan cari. Kamu tunggu saja di sini. Oke? Jangan ke mana-mana!"
Ayana mengangguk cepat dengan senyum yang merekah di bibir. Dia membenarkan selimut yang menutupi tubuh sementara Elang masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka supaya menghilangkan rasa kantuk.
Begitu keluar dari kamar mandi, Elang segera memakai pakaiannya dan saat itu juga Ayana berkata, "Ingat ya, Lang? Rujak buahnya harus yang komplit, bumbunya pedes, trus yang paling penting ada mangga mudanya."
"Iya, iya, Baginda Ratu," ucap Elang lesu seraya menutup resleting jaketnya.
"Oke, bye," Ayana melambaikan tangan begitu melihat Elang berjalan ke arah pintu dengan langkah gontai.
Elang memeluk dirinya sendiri ketika berada di halaman. Hawa dingin langsung menusuk hingga ke tulang. Membuat gigi Elang bergemeletuk hebat.
Beberapa saat berlalu, Elang masih berdiri di depan gerbang rumah Farel sambil berpikir kemana dia akan pergi.
Karena tak kunjung menemukan ide, akhirnya Elang menelepon Abian. Berharap sahabatnya itu bisa membantu permasalahan yang tengah dia alami.
"Jadi, kamu tahu nggak pedagang rujak yang buka jam tiga pagi begini?" tanya Elang setelah selesai bercerita pada Abian.
"Hmm, di depan pintu masuk komplek rumah aku sih ada pedagang rujak, namanya Mbok Nilem. Tapi bukanya siang, Lang."
Elang menghela nafas. "Kalau gitu sih nggak usah ngomong, Bi."
"Tapi kalau kamu ketok pintu rumahnya dan cerita permasalahan kamu, mungkin Mbok Nilem mau buatin rujak buah, Lang. Orangnya baik kok, suka membantu orang lain tapi..."
"Oke, aku otw sekarang," potong Elang.
"Eh, Lang. Tunggu tapi Mbok Nilem itu... "
Tut. Tut. Tut.
Di seberang sana, Abian berdecak kesal kala telepon dimatikan secara sepihak oleh Elang.
__ADS_1
"Padahal aku mau bilang kalau Mbok Nilem itu punya masalah pendengaran," Abian menarik nafas mencoba untuk berprasangka baik. "Semoga nggak bakal terjadi masalah deh."