Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
72. Objek Tontonan


__ADS_3

Di salah satu ruangan rawat inap di rumah sakit, tampak seorang pemuda sedang berbaring miring membelakangi dua orang tua yang berdiri di samping brankar. 


Dua orang tua itu menatap nanar dengan perasaan yang hancur melihat sang anak diam seribu bahasa. Sejak kejadian naas itu, Farel memang belum pernah berbicara sepatah kata pun pada orang tuanya. 


Padahal bersama dua sahabatnya, dokter dan perawat, Farel mau berbicara banyak. 


"Rel, mama bawa sop ayam kesukaan kamu nih. Mama sengaja masak spesial buat kamu. Kamu makan ya? Mumpung masih anget," ucap ibu Farel. 


Farel hanya menggela nafas dan memejamkan mata berusaha untuk tidur. Melihat respon Farel, dua orang saling bertatapan dengan mata yang berkaca-kaca. 


Ayah Farel mengusap bahu sang istri agar bisa memberi sedikit kesabaran. 


"Rel, maafin Papa, Nak. Memang ini semua salah Papa yang selama ini selalu maksa kamu untuk dapet nilai bagus. Papa janji nggak akan seperti itu lagi dan Papa sekarang bakal bebasin kamu meraih cita-cita apapun itu. Selama positif, Papa pasti akan dukung kamu. Tapi Papa mohon bicara sama Papa dan Mama. Oke?" 


Penuturan panjang lebar sang ayah tak terlalu digubris oleh Farel. Dia sama sekali tak memberi respon. 


"Ya sudah kalau kamu nggak mau bicara lagi sama Papa dan Mama. Mama ngerti kok. Mama akan kasih waktu buat kamu sendiri dulu jadi…" Ibu Farel menjadi ragu. "Jadi Mama minta tolong ke Hani untuk jaga kamu di sini."


Kelopak mata Farel yang tadinya tertutup rapat, langsung membelalak hanya dalam satu detik begitu sang mama mengucapkan nama Hani. 


"Kamu masih ingat kan? Hani, teman masa kecil kamu. Dia baru pulang dari Seul dan dia nggak keberatan buat temenin kamu di sini."


Secepat kilat, Farel membalikkan badan menatap sang mama dan berkata, "Apa? Mama minta tolong ke Hani? Jangan bercanda dong, Ma! Dari sekian banyak teman aku, masa Hani sih yang Mama mintain tolong."


Bukannya menyahut perkataan Farel, justru ibu Farel menoleh pada suaminya dengan senyum yang berkembang di bibir. 


"Pa, akhirnya, Farel mau ngomong sama kita," kata ibu Farel girang. 


Sedangkan Farel langsung membekam mulutnya karena baru saja menyadari kalau dia sedang puasa berbicara pada orang tuanya. 


Farel melirik sang ayah yang tersenyum simpul dengan tatapan hangat lurus kepadanya. Tangan kekar sang ayah terulur menepuk bahu Farel. 


"Nah gitu dong, Rel, bicara sama Papa Mama."


Farel menundukan kepala dengan menggigit bibir bawahnya. Mendadak bola matanya berembun kala dia ingin mengeluarkan perasaan yang selama ini terpendam. 


"Pa, Ma, maafin Farel. Aku belum bisa membanggakan Papa dan Mama. Tapi aku janji, begitu keluar dari rumah sakit, aku akan berusaha lebih keras lagi untuk bisa membuat Papa dan Mama bangga."


Ayah Farel tersenyum, tangannya perlahan bergerak memeluk tubuh sang anak. Sontak Farel terkejut melihat sang ayah memeluknya bahkan Farel mendengar suara terisak. 


Ibu Farel yang melihat pemandangan ayah dan anak itu juga ikut menangis. Sebuah pemandangan yang jarang sekali dia lihat. 


"Kamu nggak perlu melakukan apapun, Papa juga sudah bangga sama kamu, Nak. Asalkan kamu bahagia, Papa juga bahagia," Ayah Farel mengusap punggung anaknya. "Maafkan Papa juga ya? Selama ini perlakuan Papa membuat kamu tertekan."


"Iya, Pa. Farel mengerti kok."

__ADS_1


Ketika ayah Farel melepas pelukan, sudah tak ada lagi air mata. Hanya bola matanya saja yang tampak memerah. 


Sementara ibu Farel masih terisak sambil menyeka pipinya yang basah. Dia sungguh terharu karena pada akhirnya hubungan dengan sang anak kembali membaik. 


"Mama sama Papa tinggal dulu sebentar ya? Kamu sama Hani dulu," ucap sang mana. 


"Tapi, Ma. Please, jangan Hani yang datang ke sini! Mama pakai alasan apa kek supaya Hani nggak perlu datang ke rumah sakit," Farel memohon dengan merapatkan kedua telapak tangannya. 


Sayangnya, wanita paruh baya yang yang sudah delapan belas tahun merawat Farel itu mengelengkan kepala dengan senyum di wajahnya. 


"Sekarang Hani sudah ada di resepsionis rumah sakit, jadi mana bisa Mama mengusir Hani."


"Lagi pula Hani itu pengin banget ketemu kamu lho, Rel. Sudah lima tahun kan kalian nggak ketemu?" imbuh ayah Farel. 


Farel berdecak sambil memajukan bibir tanda bahwa dia tidak suka akan kabar kedatangan Hani. Namun, kedua orang tua Farel malah tersenyum dan kemudian berpamitan pergi meninggalkan Farel. 


Selain karenaingin memberikan waktu pada Farel, mereka memang ada urusan yang tidak bisa ditinggal. Sehingga mereka meminta Hani, temanmasa kecil Farel untuk menemani Farel di rumah sakit. 


Beberapa menit setelah orang tua Farel pergi, pintu ruangan perlahan terbuka dan menyembullah sebuah kepala dari seorang wanita cantik. 


"Hy, Farel," sapa Hani riang, gembira dan juga manja. 


Farel merespon dengan menghela nafas sambil memutar bola matanya. Lalu dia memalingkan muka, tak ingin menatap Hani. 


Meski dulu mereka berteman dekat, tapiada satu hal yang Farel benci dari seorang Hani yaitu, sifat centilnya yang tidak ada obat. 


Dan bukannya duduk di kursi, Hani malah bergabung naik ke atas ranjang. Dia duduk tepat di samping tubuh Farel dan mencondongkan tubuh agar bisa semakin dekat menatap Farel. 


Kini wajah Farel dan Hani hanya berjarak lima sentimeter. Hani dengan senyum di bibirnya sedangkan Farel dengan tatapan dinginnya. 


"Rel, kamu nggak cium aku?"


Satu pertanyaan yang membuat bola mata Farel membelalak lebar karena terkejut. Bagaimana tidak terkejut jika ada seorang wanita yang begitu datang langsung minta cium. 


"Enggak!" jawab Farel singkat. "Minggir sana! Wajah kamu merusak pemandangan tahu."


"Tapi dulu kamu sering cium aku kalau kita ketemu," ucap Hani dengan bibir manyun manja. 


Farel berdecak kesal. "Itu dulu. Waktu kita umur empat tahun. Awas, minggir! Aku mau ke kamar mandi."


Hani turun dari ranjang, tangannya menjulur berniat membantu Farel bangun. Namun, segera Farel menampik tangan Hani dengan kasar. 


"Ih, aku kan mau bantu kamu, Rel. Kaki kamu pasti masih sakit kan buat jalan? Sini biar aku tuntun kamu."


"Nggak perlu," seru Farel galak. 

__ADS_1


Namun, detik berikutnya Farel meringis saat merasakan rasa ngilu begiti dia menggerakan kaki kirinya. 


"Tuh kan, kata aku juga apa? Kaki kamu masih sakit."


Meski awalnya menolak, akan tetapi Farel pasrah juga saat Hani bersikeras memapahnya menuju kamar mandi. 


Begitu sampai di kamar mandi, Farel menautkan alis heran karena Hani tetap berdiri di sampingnya. Wanita berkulit putih dan rambut bergelombang itu menampilkan senyum yang tidak pudar dari wajahnya. 


"Kamu mau apa? Keluar sana!" ketus Farel. 


"Aku mau nemenin kamu. Ya, siapa tahu kamu kepeleset, kan bahaya."


"Nggak perlu. Sana keluar!"


Hani memanyunkan bibirnya dan menghentakan kaki kesal. "Ih, Rel. Aku nggak mau keluar. Aku mau di sini."


"Kalau kamu tetap di sini, kamu bakal lihat penampakan ular piton. Emang kamu mau dipatuk ular piton?"


Farel menyeringai sebab dia tahu sejak dulu, Hani paling takut dengan ular. Dan ketakutan Hani itu, Farel gunakan agar Hani mau keluar dari kamar mandi. 


Namun, lima tahun berpisah, ada banyak perubahan yang Farel tidak ketahui dari seorang Hani. Wanita itu tidak sepolos yang Farel kira. 


"Maksud kamu ular piton yang ada di dalam celana kamu, Rel? Ya sudah, buka aja."


Farel mebulatkan mata sempurna saking terkejutnya. Secepat kilat dia menahan celananya yang hendak diturunkan oleh Hani. 


"Kamu mau apa?" teriak Farel pada Hani yang sudah berjongkok di depannya. 


"Kata kamu pengin ke kamar mandi, ya dibuka dong celananya."


Hani semakin kuat menurunkan celana Farel. Begitu pula dengan Farel yang semakin kuat mempertahankan benda keramatnya agar tidak terlihat oleh seorang wanita. 


"Eh, Han, jangan gila ya?"


"Memang kenapa sih? Waktu kita kecil dulu sering mandi bareng dan aku lihat anu kamu."


"Ya tapi sekarang sudah berubah bentuk."


Lalu tiba-tiba… 


Breettt. 


Celana yang dipakai Farel sobek menjadi dua dan bagian yang digenggam Hani langsung merosot ke bawah. Tak terelekan lagi benda keramat yang berusaha Farel tutupi, kini menjadi objek tontonan Hani. 


*

__ADS_1


*


Maaf ya kemarin othor nggak up. Terima kasih untuk para pembaca yang sudah membaca sejauh ini dan semoga pembaca semua masih setia mengikuti kisah Elang dan Bu Aya sampai tamat nanti. 😊


__ADS_2