Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
54. Banteng Ngamuk


__ADS_3

"Mba Aya, jangan ngomporin kita ya? Bisa saja suami saya dan Mba Titin namanya sama Samsul?" ucap Susi yang berusaha untuk tidak langsung percaya sebelum ada bukti.


"Begini saja. Kalau kalian nggak percaya. Sekarang kalian coba tunjukan foto suami kalian masing-masing!"


"Oke."


Baik Titin dan Susi sama-sama mengambil ponsel di dalam tas yang mereka bawa. Lalu mereka menunjuka  foto Samsul dan wajah mereka pun berubah pucat ketika Samsul yang mereka bicarakan adalah orang yang sama.


Dengan mata mendelik, Susi mencocokan wajah suaminya dengan foto di ponsel Titin.


Begitu pula dengan Titin. Rasanya dia ingin menangis saat itu juga, menyadari bahwa selama ini dia telah dimadu. 


Pantas saja Samsul jarang pulang ke rumah. Alasannya kerja lembur, ada urusan di luar kota, dan bla bla bla… tapi kali ini Titin sadar bisa saja dia sebenarnya pergi ke rumah istri yang lain.


"Kok suami kita sama? Atau jangan-jangan kamu duluan yang ngegoda suami saya ya?" tuduh Susi pada Titin.


"Nggak, Mbak," elak Titin menggelengkan kepala. "Saya malah nggak tahu kalau Mas Samsul sudah punya istri. Dia bilang ke saya masih perjaka."


Susi melihat gelagat Titin yang masih polos, membuat hati kecilnya percaya bahwa wanita itu tidak berbohong.


"Mas Samsul juga bilang begitu sama saya. Kalau begitu Mas Samsul dong yang sudah bohingin kita."


Sedangkan Ayana tersenyum tipis melihat dua wanita di depannya menggeram kesal. Meskipun Ayana sangat senang, dia harus bersikap biasa saja karena rencana utamanya baru akan dimulai.


"Sekarang kalian sadar kan, kalau selama ini kalian dibohongi sama Samsul," kata Ayana melirik Titin dan Susi bergantian. "Nah, sekarang aku mau tunjukan sama kalian sifat asli Samsul itu bagaimana."


"Maksudnya, Mbak?" tanya Titin bingung.


Ayana melirik layar ponsel untuk melihat penanda waktu yang tertera di layar. "Kita tungga lima menit lagi. Samsul bakal datang ke sini. Tapi kalian jangan dulu ada yang menyapa Samsul. Oke?"


Susi dan Titin menganggukan kepala. Mereka menunggu kedatangan Samsul yang ternyata benar adanya.


Ternyata Samsul datang lebih cepat dari waktu perkiraan. Dia tidak melihat keberadaan Ayana dan juga dua istrinya karena mereka duduk di sudut cafe yang terhalang oleh tamanan hias.


Samsul langsung menjatuhkan bokong di salah satu kursi yang masih kosong dengan tangan sibuk bermain ponsel. Wajah Samsul tampak berseri gembira karena dia akan bertemu dengan mitra bisnis yang akan membuatnya semakin kaya raya.

__ADS_1


Titin dan Susi hendak bangkit tapi tangan mereka di tahan oleh Ayana. Lantas mereka pun mengerutkan wajah kebingungan saat Ayana meminta mereka untuk tetap tenang dan melihat apa yang terjadi selanjutnya.


Ayana menyambar ponsel untuk menelepon seseorang. "Diva, sekarang giliran kamu masuk!"


Sesuai perintah dari Ayana, Diva masuk ke dalam cafe dan berjalan menghampiri Samsul. Diva sengaja berdandan cantik dan tidak lupa memakai pakaian kurang bahan supaya targetnya tergoda.


"Permisi, Mas. Saya boleh duduk di sini?" Diva bertanya, menjadikan Samsul mendongak dari ponsel yang dia mainkan.


Bola mata Samsul membulat sempurna dengan sorot mata berbinar memandang tubuh wanita cantik di depannya.


Wajah Diva yang dipoles make up tebal membuatnya terlihat cantik sekaligus menggoda, apalagi saat pandangan mata Samsul turun ke bagian dua bukit yang berdesakan, seolah ingin keluar dari crop top yang digenakan.


Samsul menelan saliva dan melanjutkan kegiatan mengasyikan memandangi tubuh bagian bawah Diva yang memakai rok denim super mini.


Jiwa pemburu wanita dalam diri Samsul langsung meronta, seketika benda pusala miliknya langsung berubah ke mode on. Tegak lurus bagai tiang bendera, membuat celana Samsul terasa sesak.


Melihat tidak mendapat respon, Diva mengibaskan tangan di depan mata Samsul.


"Mas," panggil Diva yang terdengar begitu menggoda. "Lho kok malah melamun?"


"Eh, maaf. Gimana ya?" tanya Samsul canggung sambil mengusap tengkuknya


"Saya boleh duduk di sini, Mas? Meja yang lain sudah penuh semua. Saya lagi nunggu temen, Mas. Sebentar aja kok. Boleh kan?"


"Oh, boleh dong," Samsul menepuk kursi di sampungnya. "Silahkan duduk!"


Setelah mengucapkan terima kasih, Diva duduk di kursi samping Samsul. Saat itu juga satu lengan Samsul melingkar di sandaran kursi yang diduduki Diva.


Pandangan mata Samsul pun tidak pernah lepas dari dua benda kenyal nan padat berisi yang menonjol di depan dada Diva. 


"Kalau boleh tahu, nama siapa, Mbak?" 


"Saya Diva. Kalau Mas nya?"


"Saya Samsul. Oh ya, kamu mau pesan sesuatu? Bilang saja. Biar saya yang bayar," ucap Samsul yang dengan senang hati mengeluarkan uang demi mendapatkan perhatian dari Diva.

__ADS_1


"Saya pesan minum saya deh, Mas. Tapi bener nih Mas yang bayarin."


"Iya bener dong. Masa bohongan sih."


Samsul memanggil pelayan dan memesanakan minuman untuk Diva. Sementara itu, di salah satu sudut cafe, Ayana berusaha menenangkan Susi dan Titin untuk jangan dulu mendekati Samsul.


Kepala Susi dan Titin sudah mengeluarkan asap, pandangan mereka tak pernah lepas dari Samsul yang sedang bermesraan dengan wanita lain. Kalau bukan karena Ayana, mereka pasti sudah melompat dan langsung mencakar Samsul dengan kuku panjang yang mereka punya.


Samsul dan Diva mengobrol santai dengan sesekali diselingi gelak tawa. Hingga sampai pada minuman diantar ke meja, Diva mengambil gelas hendak meminumnya, akan tetapi minuman itu malah tumpah mengenai rok.


"Yah, tumpah. Basah deh rok aku."


Secepat kilat, Samsul langsung berinisiatif mengeluarkan sapu tangan yang ada di saku kemejanya. 


"Pakai ini, Div. Masih bersih kok. Sini biar aku yang bersihin ya?" 


Dengan senang hati, Samsul mengelap rok denim Diva menggunakan sapu tangannya. Dia tak mau melewatkan kesempatan emas untuk dapat memandang paha putih mulus Diva secara bebas.


Samsul sampai berdecak pelan memandang bagian bawah tubuh Diva. Jiwa pemburunya pun semakin meronta, begitu pula dengan benda pusaka yang kini menuntut meminta dipuaskan.


"Mas Samsul, biar saya sendiri saja," ucap Diva yang risih dipandangi oleh Samsul. 


Tangan Diva terulur ingin merebut sapu tangan Samsul. Akan tetapi Samsul malah menjauhkan tangannya.


"Sudah. Kamu diam saja. Biar saya yang bersihkan."


"Tapi, Mas. Nanti kalau ada yang marah gimana?"


"Siapa yang marah? Nggak ada kok. Saya ini jomblo alias perjaka ting-ting," kata Samsul mengedipkan satu matanya.


"Oh, gitu ya? Jomblo."


Bukan Diva yang berkata. Melainkan Susi yang berteriak dengan kencang di belakang Samsul.


Perlahan dengan rasa takut yang menyergap, Samsul menoleh ke belakang dan langsung terlonjak kaget dari tempat duduknya saat melihat Susi dan Titin sudah berkacak pinggang seperti banteng ngamuk.

__ADS_1


__ADS_2