Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
61. Jawab Jujur


__ADS_3

Bram yang tidak peka akan raut terkejut Samantha terus saja mengguncangkan bahu Abian. "Ayahnya Abian ini sering cerita banyak tentang Abian. Oh ya, ngomong-ngomong, Dokter Samantha jangan lupa besok datang ke rumah, aku ingin mengetahui kondisi kesehatan cucuku."


Setelah itu, Bram berpamitan untuk pergi karena dia ada urusan penting. Tersisa Samantha dan Abian yang masih berdiri di samping mobil.


Samantha menatap tajam pada Abian, rahang wanita itu mengetat karena marah, dan tangannya juga terkepal kuat.


Sebagai objek yang dipandangi oleh Samantha, Abian merasa kikuk dan dia pun mengusap tengkuknya yang terasa meremang.


"Bi, jadi kamu itu masih sekolah? Kamu bohong kalau kamu itu seorang pengusaha?" Samantha mencecar pertanyaan dengan nada geram. 


"Sebenarnya aku masih sekolah, Tha," Abian mengakui pada akhirnya. "Cuma lima tahun lagi aku pasti bakal jadi pengusaha pakaian dalam yang sukses kok. Aku pastikan itu."


Samantha berdecak sambil melipat tangan di depan dada. 


"Tapi kenapa kamu bohong? Oke deh, nggak apa-apa kalau kamu bohong di depan Joshua. Tapi kenapa kamu juga bohong ke aku juga? Kenapa kamu nggak jawab jujur aja kalau kamu masih sekolah? Terus kamu juga  bohong soal produk pakaian dalam kamu? Buat apa? Supaya aku terkesan sama kamu? Gitu?"


Mendengar ocehan Samantha yang panjang lebar, membuat Abian bingung harus menjawab yang mana dulu. 


Ini pertama kalinya dia menghadapi seorang wanita. Karena seumur hidup dia belum pernah dekat dengan wanita apalagi pacaran.


Abian menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, tapi ingin sekali dia garuk saking bingung harus berbuat apa.


"Aku minta maaf. Aku pikir kamu nggak akan suka kalau dekat sama anak sekolah jadi aku…"


"Kamu berbohong dan mengaku sebagai seorang pengusaha? Iya?" Samantha menghela nafas. "Sudah deh, Bi. Aku malas kalau dekat sama cowok yang awal pertemuan aja sudah bohong. Apalagi nanti saat menjalin hubungan yang lebih serius."


Detik berikutnya, dia masuk ke dalam mobil. Tanpa menunggu Abian ikut masuk, dia langsung menjalankan mobil hendak meninggalkan tempat parkir.


"Tha, tunggu!" Abian mengetuk jendela kaca mobil. "Aku minta maaf."


Kaca mobil perlahan turun membuat bibir Abian melengkungkan sebuah senyuman. Namun, senyum itu hilang ketika melihat wajah garang Samantha.


"Apalagi?"


"Kita masih bisa ketemuan kan?" tanya Abian.


"Nggak," jawab Samantha judes. 


Dia merogoh tas kecil untuk mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah. Lalu dia menempelkan uang itu di dada Abian.


"Terima ini!" perintah Samantha.


"Ini apa?" Abian bertanya dengan dahi mengerut bingung saat menerima uang dari tangan Samantha.


"Itu uang bayaran untuk kamu yang sudah mau menemani aku ke pesta pernikahan Joshua dan mulai detik ini kita nggak akan ketemu lagi. Ngerti?"


Abian menodongkan kembali lembaran uang ke dalam mobil, membuat Samantha bingung meskipun raut mukanya tetap menunjukan rasa marah.

__ADS_1


"Aku nggak akan terima uang itu," Abian menghembuskan nafas perlahan. "Aku nggak butuh uang itu karena dengan kenal sama kamu saja, itu sudah cukup buat aku bahagia."


Abian mundur beberapa langkah menjauhi mobil dengan wajah penuh kekecewaan. Namun, dia masih bisa memberikan senyuman terakhirnya untuk Samantha.


Bahkan Abian melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan mereka. 


Samantha terdiam untuk beberapa saat. Ada rasa bersalah juga kasihan pada Abian akan tetapi dia tetap kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan lambat.


Tiba-tiba…


"Samantha, tunggu!" 


Samantha mendengar Abian berteriak dari belakang. Menjadikan dia menginjak rem secara mendadak.


Dari kaca spion, Samantha melihat Abian yang berlari menghampiri mobilnya. 


"Ada apa?" Samantha bertanya. Kali ini dengan nada suara yang lebih kalem, tidak galak seperti tadi.


Entah kenapa Samantha malah berharap Abian mencegahnya pergi dan memohon kesempatan untuk sekali lagi memulai hubungan mereka.


Namun, ucapan yang keluar dari mulut Abian adalah…


"Aku tarik ucapanku. Aku butuh ongkos untuk pulang."


Abian terkekeh malu. Sedangkan Samantha hanya bisa memanyunkan bibirnya sambil menghempaskan selembaran uang yang tepat mengenai muka Abian.


*


*


*


Kelopak mata Elang terpejam namun tangannya tak henti-hentinya memainkan bagian tubuh Ayana yang kini menjadi mainan favoritnya. 


Sementara Ayana berbaring dengan pandangan mata lurus menatap langit-langit kamar. Kemudian dia menoleh pada Elang yang dia tahu belum tidur lelap.


"Lang," panggil Ayana.


"Hmm."


Jawaban Elang hanya berupa gumaman yang kurang jelas tanpa ada niat untuk membuka mata.


"Sepertinya Daddy sudah mau menerima aku sebagai menantunya. Jadi menurutku, nggak masalah kita jujur ke Daddy jika aku sebenarnya nggak hamil."


Seketika Elang menghentikan permainan tangannya dan perlahan membuka mata. Pemandangan pertama yang dia lihat tentu saja wajah cantik dari istrinya.


Menjadikan Elang terdorong untuk mengecup bibir Ayana sekilas.

__ADS_1


"Kalau kita bilang jujur, yang ada Daddy akan marah. Jadi sebaiknya kita tetap berpura-pura saja."


"Tapi, Lang. Kalau ketahuan bagaimana? Daddy tahu dari orang lain, pasti Daddy akan bertambah marah."


Elang menggelengkan kepala dengan mantap. Perlahan tangan Elang menyusup masuk ke dalam pakaian Ayana untuk mengusap perut wanita itu.


"Selama ini kita main nggak pernah pakai pengaman atau pun alat kontrasepsi. Jadi aku yakin, di dalam sini pasti sudah tumbuh benihku."


Ayana membuka mulut hendak berbicara. Akan tetapi bibir Elang lebih dulu membungkam mulutnya sehingga dia tak dapat mengeluarkan kata-kata.


Mereka berdua berperang bibir dengan sangat panas, siap untuk memulai pertempuran dan tiba-tiba…


Tok… tok… tok…


Suara ketukan pintu membuat Ayana dan Elang saling melepas ciuman dan menoleh ke arah pintu.


"Aku berani taruhan, pasti Daddy yang mengetuk pintu," kata Elang dengan perasaan jengah turun dari ranjang.


Elang tidak habis pikir dengan sang ayah. Seolah Bram seperti memiliki alarm di dalam tubuh yang akan berbunyi jika dia berciuman dengan Ayana.


Elang mengayunkan pintu terbuka. Tanpa lebih dulu melihat orang yang berdiri di depan pintu, dia berkata, "Ada apa sih, Dad? Aku lagi nggak mau diganggu."


"Maaf, Tuan," ucap seorang pelayan menundukan kepala. "Tapi Tuan Bram meminta agar Nona Ayana diperiksa oleh Dokter Samantha."


"Oh, terus, sekarang mana Dokter Samanthanya?" 


"Aku di sini," ucap Samantha yang berjalan mendekat dengan raut muka yang sulit diartikan. 


Hanya satu yang bisa Epang tangkap dari tatapan dokter muda itu. Marah. 


Meski Elang tidak tahu Samantha marah pada siapa dan apa yang menyebabkan dia marah. Dia mempersilahkan Samantha untuk masuk dan kemudian menutup pintu.


Wanita si pelayan rumah berjalan turun ke lantai bawah untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda dan dia berpapasan dengan Bram yang hendak menaiki tangga.


"Dokter Samantha sudah datang?"


"Sudah, Tuan. Dokter Samantha sudah ada di dalam kamar Tuan Muda."


"Ah, bagus."


Bram mempercepat langkah kakinya saat menaiki tangga dan berjalan ke arah pintu kamar Elang.


Tangan Bram terangkat berniat mengetuk pintu tapi pergerakan tangannya terhenti ketika dia mendengar sebuah ucapan yang disinyalir keluar dari mulut Samantha.


"Aku sudah membantu menutupi kebohongan kalian dengan mengatakan Ayana hamil, tapi kalian malah seperti sedang mempermainkan aku tahu."


Deg.

__ADS_1


Jantung Bram berdegup dengan kencang seketika itu. Bola matanya membelalak tanda dia sangat terkejut.


"Apa? Jadi mereka selama ini membohongi aku?"


__ADS_2