
Sementara itu, di lantai dua rumah Farel, Elang membuka pintu kamar sewanya dan menemukan Ayana yang sedang melipat baju dan meletakkannya ke dalam lemari.
Elang berjalan mendekat dengan senyum merekah di bibir, duduk di samping Ayana lalu menyerahkan plastik berisi rujak buah.
"Nih, Sayang. Rujak buah pesanan kamu."
"Belinya di tempat yang kemarin kan?"
"Iya, yang kemarin kok."
Segera atensi Ayana langsung beralih ke rujak buah di depannya. Dia langsung membuka bungkusan, mengambil satu potong buah jambu dan memakannya.
Elang mengamati mimik wajah Ayana yang datar tanpa ada ekspresi. Dia yakin Ayana tak mungkin bisa membedakan rujak buah Mbok Nilem dengan yang lain sebab Elang sudah mencicipi bumbunya yang memang terasa sama di lidahnya.
Namun, mendadak Ayana terisak menangis, membuat Elang bingung kelabakan.
"Lho, Ay. Kamu kenapa nangis?"
"Ini bukan rujak yang kemarin. Kamu bohong," ucap Ayana mengusap air mata yang melintas di pipi.
Elang menghela nafas. Tak percaya kebohongannya akan terbongkar secepat itu.
"Maaf, Ay," Elang menggaruk kepalanya mencari alasan yang cocok. "Sebenarnya pedagang yang kemarin sudah nggak jualan lagi, Ay."
Ayana melipat tangan di depan dada dan memalingkan wajah. Bibir Ayana dimajukan hingga menyerupai paruh bebek.
"Bohong!" sentak Ayana. "Bilang jujur aja, Lang. Kalau kamu males dateng ke pedagang yang kemarin kan? Kamu itu jadi ayah gimana sih?"
Elang mengerutkan kening saat Ayana mengucapkan kata 'ayah'. Butuh beberapa detik untuk mencerna perkataan itu hingga akhirnya dia bertanya, "Maksudnya jadi ayah? Kamu lagi… "
"Iya, aku hamil," kata Ayana ketus. Lalu dia meraih benda kecil yang terletak di atas meja samping tempat tidur.
Diberikannya benda kecil itu pada Elang yang semakin mengerutkan dahi.
Elang mengenali benda panjang dan pipih itu sebagai alat tes kehamilan dan ada dua garis merah tergambar jelas di ujung testpack.
"Ay, kamu hamil?" tanya Elang memastikan.
"Iya," Ayana mendengus kesal. "Perbuatan kamu tuh, aku jadi hamil. Aku nggak mau tahu pokoknya kamu harus tanggung jawab, Lang."
"Ay, ini beneran kan? kamu beneran hamil?"
"Lang, kalau kamu tanya sekali lagi, aku sumpal mulut kamu pakai kaos kaki. Mau?"
Detik berikutnya, Elang bersorak dan tertawa puas. Diciuminya testpack yang ada di tangannya dengan hati yang penuh gembira.
Melihat tingkah Elang, Ayana melongo tak habis pikir. Seharusnya yang Elang cium adalah dirinya atau setidaknya bagian perut Ayana. Tapi Elang malah mencium alat testpack.
__ADS_1
"Lang, itu jangan dicium gitu dong," protes Ayana dengan menampilkan ekspresi jijik.
"Ya, suka-suka aku lah, Ay. Aku tuh seneng, kamu lagi hamil."
"Ya, tapi itu kan bekas pipis."
"Hah apa?" Seketika Elang langsung menjatuhkan testpack ke lantai dan dia segera mengusap mulutnya menggunakan punggung tangan. "Hoek hoek… Kok kamu nggak bilang sih, Ay?"
*
*
*
Di tempat lain, Farel yang sudah berbaring kembali di atas brankar menatap jengkel pada Hani. Sementara wanita yang sedang ditatap hanya senyum-senyum malu.
"Rel, aku ada sesuatu buat kamu. Ini aku beli khusus buat kamu."
Hani meraih paperbag di atas meja dan mengeluarkan sebuah kemeja berwarna pink. Hani merentangkan kemeja itu untuk memperlihatkannya pada Farel.
"Gimana? Aku beli ini khusus buat kamu. Bagus kan?"
Farel hanya berdecak lalu membuang muka. Namun, Hani sama sekali tidak terpengaruh akan sikap cuek Farel.
Wanita itu tetap percaya diri menempelkan kemeja ke tubuh Farel. Sejenak Hani memandang penampilan Farel dengan kemeja yang menempel di atas dadanya.
Tangan Hani meraih bawah baju pasien yang digunakan Farel, berniat untuk membantu melepaskan. Akan tetapi segera tangan Hani ditampik kasar oleh Farel.
"Apaan sih? Aku nggak mau pakai kemeja pink model cewek gitu." Farel menunjuk kemeja di tangan Hani.
"Ih, nggak masalah kali cowok pakai kemeja pink. Malah tambah keren. Sekarang kamu buka baju itu terus kamu cobain ini."
"Enggak," jawab Farel tegas. "Itu cuma modus kamu aja kan? Setelah kamu tadi lihat bagian bawah, sekarang kamu pengin lihat bagian atas tubuh aku."
Hani menggelengkan kepala dengan cepat. "Nggak gitu, Rel. Sumpah. Aku cuma mau lihat kamu pakai kemeja ini. Itu doang. Habis itu aku janji nggak bakal ganggu kamu lagi."
Sejenak Farel berpikir sambil memandang wajah Hani yang memohon. Lalu dia pun menarik nafas panjang dan mengulurkan tangan meminta kemeja di tangan Hani.
"Bawa ke sini kemejanya. Tapi janji ya? Setelah aku coba kemeja jelek ini, kamu jangan ganggu aku lagi."
Hani menaruh tangan kanannya di pelipis, memberikan tanda hormat dan berkata, "Siap, Komandan."
Sesuai permintaan Farel, Hani memutar badannya menghadap ke tembok selama Farel mengganti bajunya.
Mula-mula Farel membuka pakaian pasien rumah sakit, kemudian dia mengulurkan tangan ingin meraih kemeja pink pemberian Hani yang tersampir di sandaran kursi.
Namun, sayang. Tangan Farel tak sampai untuk mengambil kemeja itu. Malah yang ada, kemeja beserta pakaian pasien jatuh semua ke lantai.
__ADS_1
Mendengar Farel berdecak kesal, Hani bertanya dengan tetap menghadap ke tembok.
"Kenapa, Rel?"
"Kemejanya jatuh. Tolong dong ambilin!" kata Farel yang menarik selimut menutupi badannya yang telanjang.
"Oke."
Hani berbalik badan, memungut baju di lantai dan ketika hendak menyerahkan pada Farel, dia tersandung kaki kursi yang mengakibatkan dia terjatuh ke atas tempat tidur, menindih tubuh Farel.
Hani dapat merasakan sesuatu benda di bagian tengah tubuh teman masa kecilnya itu.
Dan dapat dipastikan oleh Hani, bahwa benda yang dia tindihi itu adalah objek yang beberapa menit yang lalu dia tonton.
Tepat saat itu juga, pintu ruangan terbuka lebar dengan kedua orang tua Farel berdiri tepat di ambang pintu. Mereka terkejut akan pemandangan yang sedang mereka lihat.
Meski Farel menutupi tubuhnya dengan selimut, tapi sangat tampak jelas jika pemuda itu sedang tidak memakai baju dan ada Hani yang menunduk tepat di bagian sensitif milik Farel.
"Farel? Hani?"
Farel dan Hani serempak menoleh ke arah pintu. Segera Hani berdiri tegak dan mundur beberapa langkah menjauh dari tempat tidur Farel.
"Papa nggak nyangka ternyata di belakang, kalian melakukan perbuatan mesum. Apa kalian nggak malu sama diri kalian sendiri?"
"Papa, tadi itu kita…"
"Cukup, Rel." potong ayah Farel yang matanya melotot marah.
"Papa, sudah. Jangan bertengkar lagi sama Farel!" ucap ibu Farel berusaha menengahi. "Mending kita ikuti saja saran dari Abian."
Farel mengerutkan dahi, memandang kedua orang tuanya secara bergantian dengan perasaan yang tidak enak.
"Memang Abian kasih saran apa?"
"Papa akan nikahkan kamu sama Hani. Secepatnya."
"Apa?" teriak Farel. "Aku nggak mau, Pa."
"Nikah? Sama Farel?" Hani terperangah. "Yes."
*
*
*
Buat yang merasa ceritanya jadi melenceng ke kisah Farel dan Hani, sabar. Nanti juga akan kembali ke kisah Ayana dan Elang kok. Ini cuma selingan aja.
__ADS_1
Dan author mau mengucapkan Selamat hari senin, teman-teman, jangan lupa vote. Oke?