Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
46. Ancaman Ayana


__ADS_3

"Tapi bagaimana caranya agar semua orang percaya aku hamil anaknya Elang ya?"


"Nggak usah berkhayal! Elang bukan orang bodoh yang gampang kamu tipu."


Diva terperanjat ketika mendengar sebuah suara wanita yang tidak asing di telinganya. Lantas dia pun menoleh ke kanan dan kiri mencari orang di sekitrnya.


Sejauh mata memandang Diva tidak melihat siapapun. Dia berada di taman samping rumah yang benar-benar sepi.


Lalu Diva mengusap tengkuknya yang meremang. Badan Diva mendadak menjadi bergetar ketakutan.


"Aku di atas," kata suara itu lagi.


Diva mendongak dan melihat Ayana yang sedang di balkon sambil menunduk ke bawah. Ayana melambaikan tangan seraya menyunggingkan senyuman penuh makna.


"Ayana? S-sedang apa kamu di situ?"


Ayana menyeringai. "Sedang apa? Ini kan balkon kamarku. Ya, terserah aku dong mau apa."


"Kamu dengar ucapan aku tadi?" Diva bertanya menampilkan wajah pucat nan gugup.


"Tentu saja aku dengar. Bahkan aku merekam rencanamu tadi," kata Ayana sambil memperlihatkan ponsel di tangannya.


Kemudian Ayana memutar kembali hasil rekaman suara Diva yang ingin mengaku hamil anak Elang. 


Seketika manik mata Diva membelalak, wajahnya pias dan keringat dingin mulai membanjiri kening.


"Ayana, kamu mau apa dengan rekaman itu? Cepat hapus!"


"Enaknya mau aku apain ya?" 


Ayana berpura-pura tampak sedang berfikir dengan seringai yang terpatri di bibirnya. Lalu Ayana melambaikan tangan ke bawah sambil melangkah  ke dalam kamar.


Bersamaan dengan Ayana yang masuk kamar, pintu pun terbuka menampilkan Elang dengan dua kantong plastik.


"Ini pesanan kamu, Ay."


Elang menyodorkan kantung plastik itu ke Ayana. Namun, bukannya diterima, Ayana justru menghempaskan kantung itu ke lantai. 


Kemudian, dengan kasar, Ayana mendorong dada bidang Elang hingga pria itu terjerembab di atas kasur. Tentu saja, Elang menautkan alis terheran akan sikap Ayana yang mendadak berubah agresif.


Terlebih sekarang Ayana merangkak di atas tubuh Elang, menurunkan celana berikut juga bokser, lalu memainkan gundukan daging di antara pangkal paha menggunakan tangannya.


"Ay, kamu kenapa sih?" Elang bertanya ditengah merasakan getaran nikmat yang diciptakan oleh Ayana.


Ayana mendongak menatap Epang dengan tangan yang masih memegang benda menegang itu.


"Aku nggak mau kamu menduakan aku. Ngerti?"

__ADS_1


Meski bingung, Elang tetap menggangguk mengiyakan ucapan Ayana. 


"Kalau sampai kamu mendua, maka aku akan…" Ayana mengeratkan tangan yang sedang digunakan untuk memainkan junior Elang. "Memotong ini jadi dua "


Sontak Elang membulatkan mata lebar. Bukan hanya kaget akan ancaman Ayana tapi juga tangan Ayana yang mencengkram kuat benda pusakanya.


"Setelah memotongnya jadi dua, aku akan gigit!"


"Aargh."


"Aku cabik-cabik!" teriak Ayana semakin mengeratkan cengkaraman tangan.


"Aarrggghhh"


"Terus aku buang ke sungai. Mau?"


Dengan mata yang membelalak, Epang menggelangkan kepala cepat. Dia menelan salivanya karena takut dengan raut muka yang ditampilkan istrinya.


Meskipun Ayana hanya sekedar mengancam tapi itu sudah cukup membuat Elang ketakuta.


"Bagus! Kalau begitu jangan pernah selingkuh! Ngerti?"


"Iya, Ay."


Ayana menunduk untuk kembali memainkan benda menegang milik Elang. Kali ini dia memainkannya dengan mulut yang membuat Elang menggeram merasakan getaran nikmat tiada tara.


Bahkan saat waktunya makan malam pun, Ayana dan Elang masih betah berada di dalam kamar. Sampai-sampai Bram kembali turun tangan mengetuk pintu dan menyuruh Elang dan Ayana makan malam.


Tentu saja saat Ayana dan Elang masuk ke ruang makan, mereka disambut oleh tatapan dingin dari Bram. Namun, mereka seperti tak mempermasalahkan raut tak senang dari Bram.


"Dad," panggil Elang di saat mereka tengah menikmati makanannya.


"Apa?" sahut Bram ketus tanpa menoleh pada Elang.


"Ayana, sedang ngidam dan Daddy harus menurutinya. Kalau nggak, nanti cucu Daddy bakal sedih."


Sekilas Bram melirik pada Ayana, lalu beralih menatap Elang. "Memang istrimu mengidam apa?"


Bukan Elang yang menjawab tapi Ayana dengan spontan dia berkata, "Aku ingin punya ibu mertua, Dad."


Uhuk… uhuk… uhuk…


Bram terbatuk sambil menepuk-nepuk dadanya. Segera dia menyambar air putih di atas meja dan meneguknya sampai habis.


Kemudian Bram melempar pandangan ke arah Ayana dengan mata melotot tak percaya. Sungguh dia tak habis pikir dengan menantunya. 


Kebanyakan menantu perempuan sering kali memiliki hubungan kurang baik dengan ibu mertuanya. Tapi entah apa yang membuat Ayana justru ingin memiliki ibu mertua.

__ADS_1


"Maksudnya, kamu ingin Daddy menikah lagi?" Ayana mengangguk dan Bram pun menyeringai. "Jangan ngaco kamu! Daddy tidak mau menikah lagi. Lagian kamu itu ngidam kok aneh banget."


Ayana memberengut dengan satu tangannya mengusap perut. 


"Kalau begitu, Daddy mau cucu Daddy ini sedih?"


"Betul yang dikatakan Ayana, Dad. Lagipula aku juga ingin melihat Daddy bahagia bersama seorang wanita."


Bram menghela nafas jengah. Sungguh dia tidak berminat untuk menikah karena banyak wanita yang hanya mengincar hartanya saja. 


Apalagi diusianya yang menginjak enam puluh dua tahun, mana mungkin ada wanita yang mau menikah dengannya.


Sedangkan Ayana menatap Bram sambil tersenyum tipis. 


Seolah tahu apa yang sedang dipikirkan ayah mertuanya, Ayana pun berkata, "Daddy, jangan khawatir! Masih banyak wanita muda yang mau menikah dengan Daddy kok."


Elang mengangguk setuju dengan perkataan Ayana. "Daddy itu masih terlihat tampan tahu. Pasti masih banyak wanita yang terpesona dengan Daddy."


"Ya, betul. Salah satu contohnya Diva, Dad."


Uhuk… uhuk… uhuk…


Bram terbatuk dan kembali dia meneguk minumannya. Setelah itu, dia menyeka mulut dengan menggunakan serbet putih yang menjadi tanda bahwa dia sudah selesai menyantap makan malamnya.


Bukan hanya Bram saja yang terkejut, Diva yang sedang berdiri di salah satu sudut ruang makan pun ikut terkejut. Dia mendelik menatap Ayana.


Bram pergi meninggalkan ruang makan sambil menggerutu tak jelas, sedangkan Elang juga telah selesai menyantap makanannya. 


"Kamu ke kamar saja dulu. Aku mau bicara sama Diva," ucap Ayana pada Elang yang mengangguk dan melangkah pergi.


Seketika Diva pun menghampiri Ayana. Dia menatap intens Ayana yang masih menguyah dengan santai.


"Maksud kamu apa, hah? Kenapa kamu bilang seperti itu pada Tuan Bram?"


Ayana tersenyum tipis, membalas tatapan Diva dengan tak kalah tajamnya.


"Aku hanya bermaksud membantu kamu. Kamu bilang iri sama aku kan? Daripada kamu menjadi perebut suami orang, mending kamu incar saja ayah mertuaku."


Diva melongo setelah mendengar ucapan Ayana. Terlebih Ayana mengatakannya dengan sangat santai.


Sesaat Diva menggelengkan kepala cepat. Membayangkan menikah dengan pria tua seperti Bram saja sudah membuat Diva bergidik geli, apalagi sampai itu benar terjadi.


"Mana mungkin aku menikah dengan pria yang usianya terpaut empat puluh tahun denganku. Kamu jangan mengada-ngada, Ay?"


Ayana mengangkat bahu. "Memang apa yang salah? Ayah mertuaku tampan, mirip seperti anaknya."


Ayana bangkit berdiri. Dia tersenyum penuh arti sebelum akhirnya dia melangkah meninggalkan ruang makan.

__ADS_1


Sedangkan Diva masih bergidik mengeri membayangkan jika benar dia menikah dengan Bram.


__ADS_2