Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
59. Masih Takut


__ADS_3

Sang pelayan di seberang sana berbicara dengan suara yang terdengar ragu-ragu, takut dia salah bertutur kata. Sebab si pelayan mendengar nada kemarahan dari kalimat pertanyaan yang dia lontarkan.


Sekali lagi si pelayan menjelaskan, "Nona Ayana dan Tuan Bram sedang berolahraga, Tuan."


"Olahraga apa maksudmu?" tanya Elang geram. Bahkan tangannya sampai mengepal kuat.


"Tadi Tuan Bram bilang, olahraga yang sama seperti Tuan lakukan bersama Nona Ayana lakukan semalam."


"Apa?" Elang berteriak dengan sangat kencang. Sampai mengagetkan Abian dan Farel. 


Saat itu juga, bahu Elang ditepuk oleh Abian. Lalu Elang menoleh pada arah yang ditunjuk oleh sahabatnya itu, di mana pengawas ujian telah masuk ke dalam ruangan.


Elang menghembuskan nafas berat. Terpaksa dia harus menutup telepon dan masuk ke dalam ruang ujian.


Selama mengikuti ujian, waktu bergulir dengan sangat lambat bagi Elang. Dia selalu menatap jam dinding yang tergantung di salah satu sudut ruangan.


Perasaan Elang tidak tenang, sama seperti peserta ujian yang lain. Hanya bedanya, murid lain tidak tenang karena frustasi memikirkan jawaban soal ujian. Sedangkan Elang resah karena memikirkan Ayana.


Apalagi ketika teringat suara teriakan Ayana yang sempat dia dengar, membuat hatinya semakin gelisah.


"Setelah ujian berakhir, aku harus langsung pulang," gumam Elang mengepalkan tangan mantap.


*


*


*


Semantara itu, di sebuah rumah mewah ada suasana yang berbeda dari biasanya. Karena rumah semegah itu pada hari-hari biasa selalu terasa sepi dan hening.


Pemilik rumah selalu menghabiskan waktu dengan membaca dan tidaj suka jika ada keributan. Namun, kali ini berbeda. 


Suara teriakan seorang wanita menggema ke penjuru ruangan. Sampai terdengar oleh tukang kebun yang sedang memotong rumput di taman.


"Terus, Dad. Lebih cepat!"


Begitulah sekiranya suara teriakan sang wanita.


Membuat seseorang yang mendengarnya pasti akan berpikir dan menebak apa yang tengah wanita itu lakukan.


"Ayo, Dad! Lebih cepat lagi!" teriak Ayana menyemangati Bram yang sedang berlari di atas treadmil.


Bram terus mengayunkan kakinya semakin cepat. Tanpa terasa peluh telah membanjiri sekujur tubuhnya dan nafasnya pun semakin terengah.

__ADS_1


"Aya, jadi ini yang kalian lakukan semalam?" Bram menoleh pada Ayana untuk melihat ekspresi wajah menantunya. "Jangan bohong kamu!"


Ayana mengangguk sebagai jawaban. Dia berbohong, "Benar, Dad. Semalam aku dan Elang lari di tempat di dalam kamar."


Merasa tak kuat lagi untuk terus berlari, Bram menyerah dan memilih untuk turun dari alat treadmil. Dia menyambar handuk kecil untuk dia gunakan menyeka dahinya.


Sedangkan Ayana menghela nafas. Dia tidak habis pikir dengan mertuanya itu. 


Daddy nggak tahu maksud dari olahraga di dalam kamar, pikir Ayana.


Tak lama, pelayan yang sejak tadi berdiri di dekat Bram berjalan mendekat. Pelayan itu melaporkan jika Elang menelepon sekitar satu jam yang lalu.


Namun, Bram tampak tidak peduli. Perhatian Bram teralihkan pada pembahasan acara ulang tahun Raynar yang sebentar lagi akan diadakan.


Ayana yang ikut menyimak percakapan antara Bram dan si pelayan, tiba-tiba tersentak karena dia teringat sesuatu.


"Dad, boleh nggak kalau aku mengundang kedua orang tuaku ke acara ulang tahunnya Elang?"


Bram melirik sekilas lalu kembali berbicara dengan si pelayan. Melihat reaksi Bram yang seolah mengabaikannya, membuat Ayana memanyunkan bibir tapi dia tetap bertanya sekali lagi dengan sopan.


"Dad, boleh nggak kalau…"


"Iya, iya, boleh," jawab Bram ketus. Detik berikutnya dia mengacungkan jari telunjuk untuk memberi peringatan pada Ayana. "Tapi ingat! Orang tuamu tidak boleh mengumbar apapun yang berkaitan dengan Raynar. Mengerti?"


Ayana menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk sebuah bulatan sambil berkata, "Oke."


"Siap, Dad! Aku nggak akan bilang ke siapapun termasuk Elang," kali ini Ayana mengacungkan jempolnya. "Rahasia Daddy aman."


"Oh, jadi sekarang kalian main rahasia-rahasian, hah!"


Teriakan membahana dari seorang Elang mengejutkan Ayana dan Bram. Mereka terlonjak seketika itu dan langsung menoleh ke sumber suara.


Tepatnya ke arah pintu, di mana di sana sudah ada Elang yang berdiri dengan berkacak pinggang.


Perlahan Elang mengayunkan kaki untuk menghampiri Ayana dan Bram. Dia menatap tajam pada dua orang itu secara bergantian.


Elang memandangi sang ayah yang sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Membuat Elang mendengus kasar dan melempar pandangan tajam pada Ayana.


"Kalian habis melakukan apa?" teriak Elang penuh amarah. 


"Daddy meminta Ayana mengajari olahraga seperti yang kalian lakukan tadi malam," terang Bram tanpa raut wajah berdosa.


Menjadikan manik mata Elang membelalak lebar. "Apa?"

__ADS_1


"Daddy juga ingin terlihat sehat bugar sepertimu. Apa itu salah?"


"Salah. Ini salah besar," raung Elang yang kemarahannya semakin memuncak.


"Lang, tunggu! Kamu salah paham. Aku itu cuma…"


"Cuma apa, Ay. Kamu pikir aku nggak denger teriakan kamu yang…" Elang menirukan suara Ayana. "Terus, Dad. Lebih cepat!"


"Ish, Elang. Dengarkan dulu! Aku cuma menyemangati Daddy yang lari di atas treadmill," teriak Ayana yang tidak kalah kencang dengan Elang.


Dan Bram pun menganggukan kepala, membenarkan perkataan Ayana, lalu dahinya mengerut.


"Memang apa yang salah? Kenapa kamu marah-marah tidak jelas?"


Elang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dapat dia rasakan wajah yang panas akibat menahan malu. Pastilah sekarang, wajahnya sudah semerah buah tomat.


Elang nyengir kuda sambil menatap malu pada Bram dan juga Ayana.


"Nggak salah kok kalau Daddy ingin olahraga sama Ayana. Hanya saja… aku jadi ingin olahraga juga…"


"Oke, sekarang giliran aku olahraga sama kamu," ucap Ayana yang detik berikutnya mengangkat tubuh Elang.


Sontak Bram dan juga Elang membelalakan mata melihat Ayana yang mampu mengangkat tubuh Elang lalu membawa pergi ke kamar.


Bahkan Bram sampai tidak bisa menutup mulutnya yang melongo. 


"Wow. Ternyata aku punya menantu perkasa," gumam Bram.


"Aya, kamu mau apa?" tanya Elang terheran ketika Ayana menutup pintu dengan satu kakinya. 


Kemudian dia menurunkan tubuh Elang dan mendorongnya hingga pria itu terhempas ke atas ranjang.


Dengan seringai di wajah, Ayana naik ke atas ranjang, membuka kancing pakaian Elang satu per satu tapi pergerakan tangannya seketika dicekal oleh Elang.


"Kamu mau apa?" Elang mengulang pertanyaannya.


"Menurutmu?" Ayana balik bertanya dengan alis terangkat dan bibir yang menyeringai.


Tanpa aba-aba, Ayana menurunkan kepala siap menerkam gundukan daging milik Elang.


Saat itu juga, Elang menjerit karena kaget, membuat Ayana mengurungkan niatnya, lalu mendongak menatap Elang dengan ekspresi sebal.


"Diam kenapa sih, Lang? Kan sudah sering dimakan, kenapa masih takut sih?" gerutu Ayana.

__ADS_1


Elang terkekeh pelan. "Takut aja, Ay. Takut kamu nggak sengaja gigit."


"Diem ya! Jangan jerit lagi!" Perintah Ayana kembali menundukan kepala untuk memainkan milik Elang.


__ADS_2