
"Orangnya baik dari mana? Aku sampai dipukul lebih dari satu kali, Bi," ucap Elang setelah dia menceritakan pertemuannya bersama Mbok Nilem. "Mana pakai nyumpahin anak aku nanti budeg lagi. Ih amit-amit."
Abian tergelak tertawa dengan pandangan mata yang fokus mengendarai mobil. Dia melirik sekilas pada Elang yang duduk di kursi samping.
"Udah deh, Lang. Jangan dianggep serius!"
Elang yang masih menampilkan wajah kesal langsung melempar pandangan ke luar jendela.
Hari ini mereka berdua pergi untuk mencari suplier untuk produk dari bisnis yang akan mereka jalani. Hanya Elang dan Abian sebab Farel masih berada di rumah sakit masih dalam proses pemulihan.
"Eh, ngomong-ngomong kamu bakal dateng ke acara ke lulusan nggak, Lang?"
Elang mengangkat bahu masih dengan menatap ke pemandangan di luar jendela. "Enggak, ah. Males."
Abian pun menganggukkan kepala. "Aku juga nggak akan dateng, sebab dua sahabat aku juga nggak ada."
Elang menoleh pada Abian dan bertanya, "Siapa?"
"Aku."
"Yang nanya."
"Yey, dasar bubuk rengginang."
Abian juga ikut menoleh ke samping, tangannya terulur hendak menoyor kepala Elang namun sahabatnya berusaha menghindar.
Akibatnya, Abian kurang fokus dalam mengendarai mobil. Dia tidak menyadari ada satu bocah perempuan memakai seragam SD menyeberang jalan.
Dan ketika pandangan Abian kembali fokus ke jalanan, jarak mobil dan bocah perempuan itu sudah sangat dekat. Secepat kilat, Abian menginjakkan rem yang membuat dirinya dan Elang terhuyun ke depan.
Sementara bocah perempuan di depan sana berteriak karena saking takutnya. Bagian depan mobil hanya menyenggol sedikit tubuh si bocah, membuatnya terjatuh ke jalanan aspal.
Bola mata Abian membulat sempurna, jantungnya berdebar kencang karena kejadian yang baru saja dia alami. Lalu dia menatap Elang yang juga sama tegang.
"Aduh, Lang. Bagaimana ini? Mana aku belum punya SIM lagi."
"Ya kita turun lah. Mau apa lagi?" kata Elang sambil melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil.
Elang dan Abian turun dari mobil, mendekati dan membantu bocah perempuan itu berdiri. Sekilas Elang menelisik penampilan si bocah yang memakai tas kuda poni untuk memastikan tak ada luka serius.
"Adek, nggak apa-apa? Ada yang sakit nggak?" tanya Elang penuh perhatian.
"Nggak apa-apa kok, Om," ucap si bocah dengan manik mata yang berkaca-kaca seperti ingin menangis.
Abian memiringkan badan untuk dapat berbisik pada Elang.
__ADS_1
"Ternyata benar ya, Lang? Cewek itu selalu bilang nggak apa-apa padahal sebenarnya dia menahan rasa sakit."
"Maksud kamu apa?"
Abian menunjuk lutut kanan si bocah yang mengucurkan sedikit darah. "Tuh lihat lututnya ada luka gores. Pasti sakit tuh. Tapi selalu aja yang namanya cewek pasti bilang nggak apa-apa. Yang kaya begini nih, yangbikin cowok pusing."
Elang menundukan kepala melihat lutut yang sempat ditunjuk oleh Abian. Dia menghela nafas dan kembali ke mobil untuk mengambil plester yang tersimpan di dalam tas kecil miliknya.
Elang menempelkan plester itu ke lutut si bocah yang terluka. Lalu mendongak menatap wajah anak perempuan itu.
Elang melihat ada bulir meluncur dari ujung mata, menjadikan Elang mengulurkan satu ibu jarinya untuk menyeka air mata.
"Sudah, jangan nangis! Sudah nggak sakit lagi kan?" tutur Elang lembut.
Si bocah mengangguk sembari tersenyum yang memperlihatkan lesung pipi. "Makasih, Om."
"Ecie elah, kamu dipanggil om, Lang. Tapi emang sih muka kamu itu sudah kelihatan tua," seloroh Abian yang kemudian mengalihkan pandangan ke arah si bocah. "Dek, mau ikut ke dokter nggak? Takutnya luka Adek kena infeksi."
Bocah perempuan itu tampak meremas tali tas dengan kuat, sambil menatap takut pada Abian, bocah itu menggelengkan kepala.
"Nggak, Om. Aku nggak apa-apa kok."
"Om tahu, biasanya cewek kalau bilang nggak apa-apa itu artinya ada sesuatu. Jadi, ayo, ikut Om ke rumah sakit biar diobatin itu lukanya."
Bocah itu mundur satu langlah dan menggelengkan kepala lebih mantap dari sebelumnya.
"Sudah deh, Bi. Dia nggak mau. Nggak usah kita paksa. Mending kita masuk lagi ke mobil," kata Elang yang menarik lengan Abian.
Namun, Abian menolak ajakan Elang. Dia kembali menatap si bocah dengan sorot mata bersalah.
"Tapi aku kasihan, Lang. Seenggaknya aku tanggung jawab melakukan sesuatu buat bocah ini."
Elang berdecak dan lebih memilih meninggalkan Abian untuk lebih dulu masuk ke dalam mobil.
Abian berjongkok untuk menyejajarkan pandangan dengan bocah perempuan bernama Tisa. Abian tahu nama bocah itu setelah melirik ke bed nama yang terpasang di seragam si bocah.
"Nama kamu Tisa ya? Rumah kamu di mana? Biar Om yang anter kamu pulang, gimana? Lutut kamu pasti sakit kan, kalau dipakai jalan? Jadi mending kamu ikut Om ke mobil."
"Tisa."
Sebuah teriakan dari seberang jalab membuat Abian otomatis menoleh. Detik berikutnya, Abian merasa ada angin sejuk menerpa wajahnya kala melihat seorang wanita cantik berjalan ke arahnya.
Atau lebih tepatnya, berjalan ke arah Tisa dan ikut berjongkok di samping Abian.
Wanita itu langsung memeluk Tisa untuk sesaat. Lalu menangkup dua pipi gembil milik Tisa.
__ADS_1
"Maaf ya, Kakak telat jemput kamu," ucap si wanita dengan raut wajah bersalah.
"Nggak apa-apa kok, Kak," Tisa mendekatkan wajahnya ke telinga kakaknya dan berbisik dengan suara yang terdengar ketakutan. "Tadi aku dipaksa ikut ke mobil sama Om itu, Kak. Sepertinya dia penculik, deh."
Wanita itu langsung melempar tatapan dingin ke arah Abian. Segera dia bangkit berdiri dan satu tangannya menyeret bahu Tisa untuk bersembunyi ke belakang punggungnya.
Merasa ditatap dengan sorot yang aneh, membuat Abian bingung. Namun begitu, dia tetap tersenyum ramah dan mengukurkan tangan bermaksud untuk bersalaman sebagai tanda perkenalan.
"Hai, nama aku Abian. Maaf, tadi aku nggak sengaja nyerempet Tisa. Makanya lutut dia jadi berdarah," terang Abian.
Sontak si wanita itu membelalakan mata dan melirik ke lutut Tisa yang ada plester menempel di sana.
Lalu tiba-tiba…
Bugh.
"Aarggh!"
Abian mengerang kesakitan sambil mengusap ujung bibirnya yang kini membiru. Dia tak akan menyangka mendapat bogem mentah dari seorang wanita.
"Apa-apaan ini?" teriak Abian tak terima dipukul tanpa sebab.
Si wanita melipat lengan bajunya dan langsung memasang kuda-kuda. Sedangkan Elang yang melihat temannya dipukul malah tertawa puas di dalam mobil.
"Ini pelajaran buat penculik anak seperti kamu," kata si wanita berang dan kembali melayangkan tinju ke arah muka Abian.
Untung saja, kali ini Abian bisa menghindarinya.
"Hai, tunggu! Kamu salah paham. Aku cuma mau tanggung jawab ke adik kamu."
Wanita itu mendengus, "Mana ada penjahat yang mau mengaku kejahatannya."
Kemudian kaki si wanita mengayun siap menendang ke arah pangkal paha Abian. Namun, beruntungnya Abian dengan sigap menangkap kaki perempuan itu.
Abian langsung bersimpuh dengan memeluk betis si wanita. Lalu dia memelas, "Iya, iya, terserah kamu mau anggap aku ini penjahat atau penculik, terserah kamu tapi please, jangan tendang junior aku!"
Tisa yang berdiri di belakang kakaknya tertawa melihat tingkah Abian memohon pada seorang wanita. Begitu pula Elang yang semakin menggelegar suara tawanya.
"Ini tuh masa depan aku. Bisa hancur bila kamu tendang. Please, aku mohon jangan ditendang!"
Wanita itu melingkarkan bola mata sambil menggelengkan kepala. "Penculik kaya kamu, nggak akan aku biarkan lolos. Kamu harus tetap dapet hukuman."
Abian menarik nafas panjang. Raut mukanya telah menunjukan rasa pasrah dan siap menerima takdir.
"Oke, baiklah. Kalau itu kemauan kamu," Abian berdiri dengan kedua kaki yang dibuka lebar. "Sebagai hukumannya, aku siap jika juniorku dibuat berdiri sama kamu."
__ADS_1
Bola mata si wanita membelalak lebar dan pipinya pun seketika bersemu malu tapi si wanita itu berteriak dengan garang, "Apa kamu bilang?"
"Tapi bohong. Kabuuurrr!"