
Sebelum Elang dan Abian masuk, tiba-tiba Ayana menahan bahu mereka. Lantas Ayana melirik pada kedua orang tua Farel yang juga hendak masuk.
"Biarkan mereka dulu yang masuk," bisik Ayana.
Elang mengangguk pelan. Lalu dia, Abian dan Ayana duduk di kursi tunggu selama orang tua Farel ada di dalam.
Elang menceritakan pada Abian apa yang menjadi masalah Farel hingga membuat sahabatnya itu mencoba untuk bunuh diri.
Abian pun terkejut mendengar cerita Elang. Berkali-kali dia menggelengkan kepala tak percaya. Sedangkan Ayana yang sudah mendengar cerita Elang dua kali hanya terdiam tidak bisa lagi berkomentar.
Abian dan Elang melongok melalui celah pintu. Mereka melihat dua orang tua Farel sedang duduk di kursi samping brankar.
Ibu Farel sudah berhenti menangis meski kedua manik matanya masih mengalirkan air mata. Sedangkan ayah Farel, pria itu sejak tadi berwajah datar.
Entah mungkin ayah Farel sedang menahan perasaannya dan berpura-pura tegar di hadapan sang istri.
"Farel, bangun, Nak," isak mama Farel. "Mama janji nggak akan menuntutmu untuk selalu mendapat nilai sempurna. Mama janji, asalkan kamu bangun."
Tangan ibu Farel mengelus lembut rambut Farel. Dengan mata yang sembab dia pandangi wajah anaknya.
Lalu ayah Farel berdehem dan berkata, "Iya, Rel. Papa nggak akan lagi maksa kamu. Sekarang kamu bebas untuk menentukan masa depan kamu sendiri."
Melihat pemandangan haru dari keluarga Farel, Abian hanya bisa menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Dia mulai berandai, jika saja kedua orang tuanya mengucapkan kata-kata itu.
"Apa aku juga harus bunuh diri supaya orang tuaku nggak banding-bandingin aku terus ya?" gumam Abian menatap kosong.
Detik berikutnya, Abian langsung menggelengkan kepala cepat. "Enggak ah. Aku kan belum merasakan enaknya kawin."
"Aku jadi kasihan sama Farel. Aku juga pernah diposisi dia. Dipaksa menuruti kemauan orang tua," bisik Ayana yang terdengar oleh Elang.
"Untung dulu waktu kamu loncat dari lantai dua, ditangkap sama aku. Iya nggak, Ay?" Elang menyahut dengan senyum di wajah saat mengingat bagaimana awal pertemuan mereka yang tidak terduga.
Di dalam ruangan, orang tua Farel menghela nafas frustasi melihat tak ada perubahan dari Farel. Mereka saling berpandangan dengan sorot putus asa terpancar dari bola mata.
Akhirnya mereka pun keluar dari ruangan, dan tak sengaja berpapasan dengan Abian dan Elang.
"Tolong bantuannya. Kami sudah berusaha tapi nggak ada hasil," kata ibu Farel bernada lemah dan suara yang serak.
"Kalian kan teman dekat Farel, pasti kalian mengenal Farel dengan baik. Jadi tolong beri semangat pada anak kami," timpal ayah Farel yang lebih terkesan memohon.
"Baik, Om. Kita pasti bakal semangati Farel," Elang menyikut Abian. "Ayo, Bi. Masuk."
__ADS_1
Begitu masuk, pandangan Elang hanya tertuju pada tubuh Farel yang terbaring di atas brankar dengan kedua mata yang terpejam.
Perban putih melingkar di kepala Farel. Begitu pula di bagian kaki kiri dan ada luka lebam di beberapa titik tubuh Farel.
"Farel," panggil Abian yang duduk di kursi tepi brankar. "Kamu kenapa sih pakai acara bunuh diri segala? Nggak keren tahu."
"Rel, bangun!" kata Elang mencondongkan tubuh menatap Farel lebih dekat. "Jangan mati sekarang, Rel! Kamu itu masih muda belum merasakan nikmatnya surga dunia."
Abian mengangguk menyetujui perkataan Elang. "Betul itu, Rel. Apa mungkin kamu ingin langsung menikmati surga akhirat? Tapi itupun kalau kamu masuk surga kan?"
"Ish, Abian, serius dong. Kita itu lagi semangatin Farel," protes Elang menyikut Abian.
Sahabatnya itu hanya cengengesan tanpa rasa bersalah.
Kembali Elang menatap wajah Farel yang terpejam dengan sorot mata yang penuh akan rasa kasihan.
"Masih untung kakimu yang patah, Rel. Bukan benda pusakamu. Kalau benda itu sampai ikut patah, alamat nggak bisa bikin anak deh," gumam Elang.
"Betul tuh, Rel. Emang kamu nggak penasaran bagaimana rasanya bikin anak. Elang aja sudah ngrasain tuh. Aku sama kamu aja yang belum."
Kemudian Abian menoleh pada Elang dan dia pun bertanya, "Lang, memang tidur sama cewek enaknya? Aku penasaran, emang seenak apa sih?"
Tiba-tiba Elang tersentak setelah mendengar perkataannya sendiri. Bola matanya mendadak membulat sempurna karena dia mendapatkan ide brilian.
Meski ide Elang bisa dikatakan terlihat konyol, tapi apa salahnya jika dicoba terlebih dahulu.
Sebelumnya Elang memastikan pintu ruangan ditutup rapat. Hanya ada dirinya dan Abian membuat Elang leluasa menjalankan aksinya.
Lalu Elang pun naik ke atas brankar lebih tepatnya dia duduk di atas perut Farel dengan penuh kehati-hatian. Abian yang melihat tingkah Elang hanya bisa mengerutkan kening kebingungan.
Sambil menatap heran Elang, Abian bertanya, "Kamu mau apa, Lang?"
Elang melempar pandangan pada Abian seraya menampilkan senyum smirk. "Kalau kita nggak bisa bikin dia bangun, seenggaknya kita bisa bikin juniornya Farel bangun."
Bola mata Abian mendelik tak percaya. Mulutnya pun melongo lebar setelah mendengar ide dari Elang.
Lantas tangan Abian pun terulur untuk menempelkannya ke dahi Elang. Abian menduga kalau pengusiran yang dilakukan Bram berakibat pada kondisi kejiwaan sahabatnya itu.
"Kamu masih sehat kan?" tanya Abian. "Kalau Ayana tahu kamu terong main terong…"
"Hush," potong Elang sambil menempelkan jari telunjuk ke bibir, memberi isyarat agar Abian tidak banyak bicara. "Ini cuma rahasia kita berdua. Jangan bilang-bilang ke orang lain apalagi Ayana! Mengerti?"
__ADS_1
Dengan ragu, Abian mangangukan kepala menyetujui permintaan Elang.
Entah kenapa dia merasa ikut tegang sekaligus merinding. Begitu pula dengan Elang.
Elang menatap Farel sekilas. Sambil bergidik ngeri, tangan Elang mengusap bagian luar celana pasien yang dipakai Farel.
"Ini akan menjadi pertama dan terakhir aku membangunkan junior seseorang," kata Elang bergidik ngeri.
Tangan Elang terus mengusap dengan mata terpejam. Dengan sangat terpaksa, Elang melakukan cara ini untuk membuat Farel bangun.
Tak lama tangan Elang merasakan sesuatu bangkit berdiri dan dia pun membelalakan mata menoleh pada Abian.
"Bagaimana? Apa berhasil?"
Bibir Elang merekahkan senyum lebar. "Berhasil, Bi."
"Kalau begitu terus lakukan, Lang!"
Elang hanya mengusap bagian luar celana Farel. Dia tidak sudi jika harus menyusup masuk. Itu pun Elang lakukan dengan terpaksa.
Dan rasa terkejut Abian tidak sampai di situ saja, dia tak sengaja melihat jari tangan Farel yang mulai bergerak. Sehingga Abian pun menepuk bahu Elang dan menunjuk ke arah tangan Farel.
"Lihat, Lang! Ide kamu berhasil," seru Abian penuh rasa gembira.
Dia memiringkan tubuh tepat di depan muka Farel. "Rel, bangun! Farel!"
Perlahan tapi pasti Abian dan Elang melihat kelopak mata Farel yang sedikit terangkat.
Mulanya Farel mengerjapkan mata pelan dan kemudian sepasang mata coklat itu membelalak dan menoleh pada dua sahabatnya.
Farel tidak berkata apa-apa. Dia hanya diam memandang dengan dahi mengerut tampak kebingungan melihat dua sahabatnya bersorak riang.
Tepat saat itu juga, pintu terbanting terbuka menampilkan Ayana yang tercengang melihat Farel telah sadarkan diri. Namun, ada satu pemandangan yang membuat Ayana semakin syok.
Yang tak lain dan tak bukan adalah tangan Elang yang masih menempel di atas pangkal paha Farel.
Ayana langsung membekap mulutnya menggunakan dua tangan. Lalu berteriak, "Elang! Aku nggak nyangka ternyata kamu… "
Elang dan Abian terdiam seketika. Secepat kilat, Elang menarik tangannya dari benda pusaka milik Farel dan menatap pada Ayana dengan raut tegang.
"Ternyata kamu… "
__ADS_1