
Elang langsung mengunci pintu begitu masuk kamar. Sedangkan Ayana bergelayut manja di lengannya sambil sesekali mendengus di bagian leher.
Elang mengusap tangan tak sabar untuk mengejar setorannya. Namun, seketika itu pula Ayana mengernyitkan wajah dan mengibaskan tangan di depan hidung.
"Elang, kamu bau. Tadi kamu mandi nggak sih?"
"Aku bau?"
Elang malah balik bertanya sambil mendengus dirinya sendiri. Dia pun menyadari jika perkataan Ayana memang benar.
Dan dia teringat bahwa tadi pagi dia belum sempat mandi dikarenakan bangun tidur, dia harus langsung mengurus pekerjaan kantor.
"Oh, Ay, aku lupa. Aku mandi dulu ya? Biar wangi."
Ayana pun mengangguk dan menunggu Elang sambil duduk di tepi ranjang.
Sedangkan Elang masuk ke kamar mandi. Di sana dia menyalakan shower serta menuangkan sabun cair ke seluruh tubuhnya banyak-banyak.
Di saat Elang tengah mandi, tiba-tiba pintu terbuka lebar dan Ayana dengan tergesa-gesa masuk ke dalam.
Elang melihat Ayana melepas celana panjang yang dipakai istrinya itu. Membuat Elang pun tersenyum penuh arti serta berdecak kagum.
Di bawah guyuran shower, Elang menarik lengan Ayana untuk melakukan percintaan di kamar mandi. Namun, Ayana justru mendorong tubuh Elang agar menjauh dan Elang pun kaget dibuatnya.
"Kenapa, Ay?" tanya Elang heran.
"Seharusnya aku yang tanya, kamu kenapa?" Ayana balik bertanya dengan nada kesal.
Wajah Elang semakin bingung menatap Ayana yang sudah tak memakai kain penghalang di bagian bawah tubuhnya.
"Tujuan kamu masuk ke kamar mandi dan membuka celana, itu untuk membuat anak di sini kan?"
Ayana berdecak dan melingkar bola matanya malas. Lalu dia pun menggelengkan kepala.
"Kita sepertinya nggak bisa, Lang," ucap Ayana dengan muka yang kecewa.
"Nggak bisa? Kenapa, Ay?" tanya Elang dengan wajah tak kalah kecewa.
"Ada tamu bulanan."
"Oh, itu gampang," jawab Elang enteng.
Dia pun mematikan shower, memakai bathrobe dan berjalan keluar kamar mandi.
__ADS_1
Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar yang tak ada siapapun. Sehingga dia pun beranjak keluar kamar.
Di lorong depan pintu kamar pun tidak ada siapa-siapa. Membuat dia masuk kembali ke dalam kamar.
Elang mengambil ponsel untuk menelepon satpam yang bertugas menjaga gerbang depan. Tak butuh waktu lama, sambungan telepon pun terhubung.
"Iya, Tuan. Ada apa?" tanya satpam dari seberang sana.
"Tolong siapapun tamu yang datang ke rumah, usir dan jangan ganggu aku dengan Ayana!"
"Siap, Tuan. Memang nggak ada tamu yang datang kok."
Elang menyipitkan mata serta alisnya menaut bingung. "Kamu yakin nggak ada tamu?"
"Yakin lah, Tuan. Orang saja jaga di pintu gerbang nggak ada siapa-siapa yang masuk ke rumah."
Elang semakin kebingungan. Sejenak dia menjauhkan ponsel dan mencoba untuk berpikir sejenak.
Lantas siapa tamu bulanan yang dimaksud Ayana? Pikir Elang dalam hati.
Kemudian dia kembali mendekatkan ponsel ke daun telinga untuk dapat berbicara dengan penjaga.
"Kalau begitu, tolong kamu cek semua pintu dan jendela. Siapa tahu ada tamu yang menyusup masuk!"
Sementara itu, di dalam kamar, Elang tersenyum lebar setelah mematikan telepon. Kini tak ada lagi yang mengganggu Elang dalam proses pembuatan Raynar Junior.
Tepat ketika itu juga, Ayana baru saja keluar dari kamar mandi dan Elang langsung memeluk tubuh Ayana dan membantingnya ke atas ranjang.
"Ay, sudah beres," ucap Elang dengan penuh percaya diri dan senyum merekah di bibir. "Tamu bulananmu sudah aku usir. Jadi nggak ada lagi yang ganggu kita."
Mendengar ucapan Elang, Ayana hanya bisa melongo dengan mata menyipit. Sungguh dia tidak mengerti maksud perkataan Elang.
"Maksud kamu apa, Lang? Mengusir tamu bulananku? Ya nggak bisa lah."
"Ya bisa dong, Ay. Apa sih yang nggak bisa dilakukan oleh Elang Angkasa."
Elang merebahkan diri di atas tubuh Ayana menghimpit wanita itu dan siap menyosor bibirnya.
"Lang, tunggu dulu!" tangan Ayana menahan dada bidang Elang. "Kamu pikir tamu bulananku itu apa?"
"Seseorang yang datang ke rumah setiap sebulan sekali. Iya kan? Memang apa yang salah?"
Ayana berdecak sambil menghela nafas. "Bukan, Lang. Tamu bulanan itu maksudnya aku sedang menstruasi."
__ADS_1
"Apa?" Elang memekik tercengang. "Jadi kita nggak bisa bikin adonan Raynar dan Ayana Junior?"
Ayana menggelengkan kepala dengan wajah kecewa. Lalu tangan Ayana menekan bahu Elang agar pria itu berbaring di sisinya.
"Tapi tenang saja. Aku bisa memuaskanmu dengan cara lain?"
Ayana tersenyum yang mengandung sejuta makna. Dia mengangkat alisnya dua kali sambil tangannya melepas tali bathrobe yang melingkar di pinggang Elang.
Kemudian tangan Ayana memberi pijatan lembut di gundukan daging yang perlahan menggeliat bangun tegak berdiri.
Lama-kelamaan, Elang merasakan getaran yang menenangkan juga nikmat. Dia mengerang pelan sambil mencium bibir Ayana.
Tak mau menganggur, tangan Elang pun masuk ke dalam baju Ayana dan meremas dua benda kenyal yang sangat seru dimainkan jika dibandingkan dengan meremas squishy.
Karena jika benda ini diremas, maka saat itu juga terdengar suara desahaan yang memicu gairah.
Waktu berlalu dengan pasangan suami istri yang saling memberi dan menerima kenikmatan dengan cara mereka sendiri.
Akan tetapi kegiatan mereka terjeda dengan ketukan suara pintu. Awalnya Ayana dan Elang tak memperdulikan suara itu. Namun, lama-kelamaan pintu diketuk semakin keras.
Ditambah suara teriakan Diva yang terus memanggil nama Elang dan juga Ayana, membuat Ayana terpaksa menghela nafas dan menghentikan kegiatannya. Lalu dia membuka pintu setelah memastikan Elang terbungkus oleh selimut.
"Ada apa?" tanya Ayana bernada ketus pada Diva yang berdiri di depan pintu.
"Ada dokter Samantha yang menunggu untuk memeriksa kandunganmu," kata Diva seraya menunjuk seorang wanita yang berdiri tepat di sampingnya.
Dokter wanita muda yang memakai kacamata persegi dengan rambut lurus bagai pasta spageti itu pun tersenyum dan menundukan kepala memberi hormat.
"Ini perintah langsung dari Tuan Bram. Beliau ingin mengetahui kondisi cucunya yang ada di dalam kandungan Nona Ayana," jelas Dokter Samantha.
"Waduh, bisa ketahuan kalau ternyata aku nggak hamil," gumam Ayana sangat pelan sehingga hanya dia saja yang mendengar.
"Bagaimana, Nona? Apa Nona sudah siap diperiksa?"
Ayana tersenyum kaku. "Tunggu sebentar, Dok. Saya bicara dulu dengan suami saya."
Dokter Samantha mengangguk dan Ayana pun menutup pintu sejenak. Dia berjalan mendekati Elang yang masih berbaring di atas ranjang.
Ayana menceritakan secara singkat kedatangan dokter Samantha. Lalu Elang hanya menanggapi secara santai.
Bahkan Elang menyuruh dokter Samantha masuk setelah Elang memakai pakaiannya.
"Kamu yakin, Lang?" tanya Ayana memastikan. "Kita pasti bakal ketahuan bohong begitu dokter Samantha periksa aku."
__ADS_1
"Tenang saja, Ay. Aman kok."