
"Nikah sama aku."
Brisia terperangah mendengar satu kalimat itu keluar dari pemuda tampan tapi sedikit gila. Lalu detik berikutnya, benak Brisia langsung mencerna situasi yang ada.
Dia menarik salah satu sudut bibirnya membentuk seringai. Dia mendorong dada Abian dengan sekuat tenaga membuat pria itu terhenyak kaget.
"Kamu pikir aku bodoh."
Abian membelalakan mata terkejut mendengar Brisia mengucapkan hal itu. Sedangkan Brisia tersenyum penuh makna.
"Aku tahu Tisa nggak diculik. Ini pasti rencanamu saja kan?"
"Aku nggak bohong. Aku memang lihat Tisa diculik," Abian berkata membela diri.
Tepat saat itu juga, ponsel milik Brisia berbunyi menandakan ada satu panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"Halo?"
"Halo, Brisia. Kamu sedang mencari adikmu? Dia ada bersama kami," kata seseorang di seberang telepon yang sebebarnya adalah Farel.
Sejenak Farel menjauhkan ponsel dari telinganya agar Brisia tidak mendengar bahwa dia sedang menahan tawa. Lalu Farel menoleh pada Elang dimana pria itu sedang bermain dengan Tisa di sebuah taman.
"Hei, kamu siapa? Dimana adik aku?" seru Brisia penuh amarah.
Tut. Tut. Tut.
"Sial," geram Brisia ketika mendapati sambungan telepon dimatikan.
Dia mengepalkan tangan serta meremas ponsel dengan sangat kuat. Lalu dia melempar pandangan ke arah Abian yang juga sedang menatapnya.
"Aku benar, kan? Adikmu diculik."
Brisia berjalan mendekat dengan ekspresi geram. Tanpa ada aba-aba, Brisia langsung menampar pipi Abian yang membuat pria itu terkejut bukan main.
"Aku bukan perempuan bodoh yang mudah kamu tipu. Ini pasti rencanamu kan? Ayo, ngaku!" Brisia berteriak, lalu meraih bagian depan pakaian Abian dan mengguncangnya. "Katakan! Dimana Tisa?"
Tak mau dianggap lemah oleh wanita, Abian menahan dua tangan Brisia agar tangan wanita itu tidak meremas bajunya. Namun, Brisia tetap memberontak dan berteriak.
Membuat mereka berdua pusat perhatian banyak orang. Tentu saja, Abian perlu mengambil tindakan agar atensi orang-orang terlalihkan.
Dengan cepat, Abian membekap mulut Brisia dan menarik tubuh wanita itu ke dalam mobil.
__ADS_1
"Tahu begini, mending culik kakaknya dari pada adiknya," keluh Abian sambil mengambil tali yang tersimpan di kursi belakang yang dipakai untuk mengikat tangan Brisia.
"Tolong! Tolong! Aku diculik!" teriak Brisia dari dalam mobil.
Namun tak ada yang mendengar teriakan Brisia itu karena Abian segera membekap mulut dengan mulut.
Rasa panik menyelimuti Abian seketika. Dia mengedarkan pandangan ke penjuru sisi mobil untuk mencari benda yang sekiranya dapat dipakai untuk menyumpal mulut Brisia.
Tepat ketika Abian sedang mencari, Brisia mengambil kesempatan menggunakan kakinya yang terbebas. Dia mencoba mengayunkan kaki menendang perut Abian yang membuatnya membungkuk dan meringis kesakitan.
Brisia tertawa puas. Lalu berniat keluar dari mobil tapi sayangnya Abian tak kalah cepat menahan pintu supaya tetap tertutup.
Kemudian Abian menindihi tubuh Brisia agar wanita itu tidak kabur lagi darinya.
"Sebenarnya apa mau kamu, hah?" tanya Brisia dengan mata melotot dan di bawah kungkungan Abian.
"Menurutmu?" Abian balik bertanya sambil menampilkan seringai.
"Jangan macam-macam atau aku cabik-cabik benda pusakamu!" ancam Brisia begitu melihat sorot mata Abian yang seperti orang kelaparan.
"Coba saja kalau bisa," jawab Abian enteng.
Sayangnya, saat Brisia mengangkat pinggul bermaksud untuk terlepas, yang terjadi justru pinggulnya itu menabrak inti tubuh Abian dan dapat dia rasakan dari luar benda yang menonjol dan keras.
Seperkian detik Brisia tertegun. Namun, dia kembali fokus untuk membebaskan diri.
Sementara itu, Abian hanya bisa tertawa karena melihat Brisia yang menggeliat di bawah tubuhnya.
Tentu saja pergerakan yang dilakukan Abian dan Brisia menyebabkan mobil yang mereka tumpangi bergoyang. Membuat orang-orang yang lewat mengerutkan kening.
Benak mereka langsung menyimpulkan hal kotor mengenai mobil bergoyang di pinggir jalan. Terlebih, diikuti pula suara deru nafas dan jeritan wanita dari dalam.
Sebagian dari mereka membelalakan mata karena terkejut dan sebagian lagi menggelengkan kepala tak habis pikir dengan anak muda zaman sekarang yang senang mengumbar kemesraan di sembarang tempat.
"Sampai kapan pun aku nggak mau nikah sama kamu," tegas Brisia. "Aku bakal laporin kamu ke polisi karena ini sudah termasuk tindakan kejahatan."
"Kamu nggak bisa lari dan nggak bisa keluar dari mobil ini sampai kamu mau nikah sama aku."
Tepat saat itu, ada satu mobil polisi yang melintas di jalan tak jauh dari mobil milik Abian. Lalu mobil polisi itu pun berhenti setelah melihat pemandangan yang menarik perhatian pengemudianya.
Seorang polisi berperawakan tinggi tegap turun dan langsung berjalan menghampiri mobil yang terlihat bergoyang dipinggir jalan.
__ADS_1
"Ck. Dasar sukanya mesum di pinggir jalan. Kalau anakku yang berbuat begini sudah aku nikahkan mereka sekalian biar nggak mengganggu ketertiban," gumam polisi itu sambil memandang mobil bergoyang di depannya.
Awalnya, polisi itu hendak mengetuk kaca jendela mobil dan berniat bicara dengan baik-baik. Namun, dahi polisi itu langsung mengerut kala mendengar suara yang tak asing dari dalam.
"Lho kok itu kaya suaranya Brisia?"
Lantas, langsung saja polisi itu membuka pintu mobil dan betapa syoknya dia kala mendapati sepasang sejoli bertindihan dengan nafas tersengal.
Rambut si wanita berantakan begitu pula dengan pakaiannya yang kusut. Sedangkan kondisi si pria yang berada di atas tampak terengah dengan ada berkas merah di pipi hasil tamparan Brisia.
Keduanya mendongak begitu pintu terbuka, sama-sama menunjukan keterkejutan di wajah dua insan itu yang langsung duduk tegak.
"Brisia?" kata polisi itu terkejut.
"Papa?"
"Apa? Papa?" Abian tersentak kala mendengar Brisia memanggil polisi di depannya dengan sebutan papa.
Tampak mengetat rahang polisi yang masih terlihat gagah di usianya yang sudah memasuki paruh baya itu. Pertanda bahwa dia sedang menahan gejolak rasa amarahnya yang tercipta setelah melihat perbuatan sang anak.
"Papa nggak nyangka ya, Brisia. Papa pikir kamu lagi jemput adik kamu, tapi nyata kamu malah lagi kumpul kebo dengan seorang pria."
"Papa!" pekik Brisia. "Aku bukan kumpul kebo. Justru aku sedang di… "
Abian lagi-lagi membekap mulut Brisia dan berkata, "Kami memang sudah tidur bareng,Om. Hanya saja Brisia belum hamil. Maka dari itu nikahkan kami segera, Om."
"Apa! Kurang ajar."
Ayah Brisia menarik bagian depan baju Abian untuk menyeretnya keluar. Lalu tak dapat dielakan oleh Abian satu bogem mentah mendarat di pipinya hingga membuat Abian tersungkur ke tanah.
"Apes dah. Tadi kena tampar anaknya, sekarang malah kena tinju bapaknya. Tapi biar deh yang penting bisa kawin."
Sedangkan Brisia segera keluar dari dalam mobil. Dia melingkarkan lengan di perut ayahnya supaya sang ayah melindunginya dari pria aneh bin mesum bernama Abian.
Akan tetapi, tangan ayah Brisia malah menampik Brisia dengan sorot mata tajam penuh amarah.
"Papa?" panggil Brisia dengan raut wajah sedih dan mata yang berkaca-kaca.
"Pulang sekarang dan jangan keluar rumah sampai hari pernikahanmu!" perintah ayah Brisia tegas.
"Apa? Hari pernikahan?"
__ADS_1