
"Jawab pertanyaanku!" bentak Brisia yang membuat Abian kembali tersentak.
Abian mengangkat tangannya saking takut pada raut muka Brisia yang sangat garang.
"Aku cuma…"
Baru dua kata keluar dari mulut Abian, tiba-tiba bibirnya dibungkam dengan bibir milik Brisia dengan penuh tuntutan. Hingga Abian bahkan tidak bisa bernafas.
"Brisia," ucap Abian lirih kala ciuman itu terhenti sejenak.
Lalu tanpa berkata-kata, Brisia kembali melanjutkan ciuman yang kali ini lebih panas. Sementara Abian sendiri berada di dalam perasaan antara bingung dan saking senangnya karena apa yang dia tunggu-tunggu akhirnya terjadi juga.
Saking bingung dan senang, Abian sampai tidak tahu harus berbuat apa. Beberapa menit Abian hanya terpaku dengan tubuh tak bergerak sedikit pun menyaksikan Brisia yang menggeliat mengendus dadanya.
Segera Abian menggelengkan kepala agar cepat tersadar dan dia pun menggendong tubuh Brisia menuju kamar.
Abian tek perlu risau mengunci pintu karena hanya mereka berdua yang tinggal di dalam ruamh.
Sesampainya di kamar, Abian berseru, "Pembobolan segel dimulai."
*
*
*
Di tempat yang bersamaan, kini Ayana sudah diperbolehkan dokter untuk pulang ke rumah. Ayana sudah memakai pakaian rapi sambil menimang baby Tiger yang sedang terlelap.
Kemudian bersama Elang, mereka masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu mereka di halaman rumah sakit. Sang sopir mengemudikan kendaraan mewah itu dengan perlahan.
Sedangkan di kursi belakang, Elang yang duduk di samping Ayana terus saja mengusik baby Tiger yang belum mau bangun dari tidurnya.
Sampai tak terasa mobil sampai di depan rumah megah yang di depannya sudah berdiri Bram menyambut kedatangan Ayana dan Elang.
Persis di belakang Bram pula sudah berbaris pala pelayan rumah. Namun, yang paling menonjol dari para pelayan itu adalah kehadiran seorang wanita muda yang memakai seragam pengasuh.
"Welcome to your home, baby Tiger," sapa Bram kala menyambut cucunya yang ada di gendongan Ayana.
Tubuh kecil Tiger menggeliat dan kedua matanya yang bersinar pun perlahan terbuka. Hal tersebut tentu mengundang tawa serta rasa bahagia tersendiri dari dalam lubuk hati Bram.
Kemudian wanita muda yang memakai seragam pengasuh maju menghampiri Ayana.
"Ayana, Raynar, perkenalkan dia Rose. Dia yang akan menjadi pengasuh Tiger di rumah."
Ayana memalingkan muka untuk menatap wanita cantik yang akan membantunya mengurus Tiger dan secara serempak kedua wanita itu sama-sama tersenyum dengan senyuman yang hangat.
"Biarkan baby Tiger bersama saya, Nona. Sementara itu Nona Aya bisa beristirahat," kata Rose penuh kelembutan.
Dalam sekali pandang, Ayana langsung tersentuh pada pribadi Rose. Jika dilihat Ayana dan Rose tampak seumuran tapi Rose lebih menonjolkan sisi keibuan.
"Tidak perlu. Terima kasih. Aku masih ingin bersama anakku," tolak Ayana secara halus.
Melihat reaksi Ayana, Elang hanya menghela nafas. Dia mengambil Tiger dari gendongan Ayana dengan hati-hati lalu memberikannya pada Rose.
"Nah ini, aku titip Tiger."
"Tapi, Lang. Tiger belum minum susu," protes Ayana pada suaminya sambil memasang wajah cemberut.
__ADS_1
Akan tetapi Elang menanggapinya dengan santai. Dia hanya mendekatkan diri ke tubuh Ayana lalu berbisik, "Kamu lupa ya? Aku juga belum kebagian minum susu."
Seketika Ayana terdiam dengan mata yang melotot kaget. Tangan Ayana segera ditarik oleh Elang menuju ke dalam rumah.
Tepat saat di ambang pintu, Elang berhenti mendadak lalu memutar badan untuk mengarahkan pandangan pada Bram.
"Dad, kami titip Tiger sebentar."
Bram tersenyum seraya mengacungkan jempol dan menjawab, "Oke."
Tentu saja Bram tidak akan menolak menjaga Tiger. Selain dikarenakan Tiger adalah cucu pertamanya, Bram juga bisa dengan leluasa memiliki kesempatan berdua bersama Rose.
Firasat Ayana yang sebelumnya menduga bahwa ayah mertuanya itu jatuh cinta lagi ternyata terbukti benar.
Ayana menyaksikan sendiri bagaimana tatapan teduh Bram kala memandang Rose yang menggendong Tiger. Namun, detik berikutnya, tangan Ayana kembali ditarik oleh Elang menuju kamar.
Begitu keduanya masuk, Elang langsung mengunci pintu di belakang punggungnya tanpa melepas pandangan ke arah Ayana yang melipat kedua tangan.
"Lang, aku kan masih…"
"Iya aku tahu," kata Elang seraya mendekat dan mendekap tubuh Ayana. "Aku pengin seperti ini sebentar saja."
Elang semakin mempererat pelukannya seraya menarik nafas panjang. Hingga dia dapat menghirup aroma tubuh Ayana yang kini mematung.
Sejenak Ayana mengatur nafas sebelum akhirnya dia melepas pandangan ke luar jendela dimana dia menangkap pemandangan tidak biasa.
Ayana melihat di luar sana di bawah naungan sebuah gazebo, Bram sedang duduk bersama dengan pengasuh Rose. Tampak mereka berdua seperti sepasang kekasih yang sangat serasi.
"Lang, sepertinya kamu bakal punya ibu sambung deh."
"Hmm" Elang menjawab dengan gumaman tanpa mengangkat kepala yang dia letakan di bahu Ayana.
Terlebih selama di ruamh sakit, Ayana selalu fokus dengan Tiger dan dirinya mulai diabaikan. Lantas tangan Elang mengusap punggung Ayana di balik bajunya.
Tangan nakal Elang melepas pengait bra dan senyum seringai pun terlukis di bibir pria itu.
Kemudian, secara perlahan, Ayana mengangkat kepala Elang agar dapat menatap lurus pada wajah suaminya.
"Lang, aku boleh nggak, mengajar lagi jadi guru olahraga?"
Elang menggeleng dengan cepat dan mantap. "Enggak boleh."
"Ayo dong, Lang. Boleh ya?" ucap Ayana bernada manja.
Tak lupa Ayana memainkan dagu Elang dalam rangka menggoda sang suami agar keinginannya dituruti.
"Memang kamu nggak puas jadi guru olahragaku?"
"Bukan gitu, Lang. Dari dulu aku tuh pangin banget jadi guru olahraga, jadi boleh ya? Meski aku jadi guru, aku akan berusaha mengutamakan kamu sama Tiger kok."
Ayana semakin mendayu-dayukan suaranya agar terdengar seksi dan meluluhkan hati Elang. Tak lupa juga tangannya bermain di dada bidang sang suami.
Sementara itu, Elang mengerucutkan bibir tampak sedang menimbang-nimbang.
"Oke deh."
"Bener?"
__ADS_1
Elang menggangguk setuju.
"Yes," pekik Ayana riang. "Makasih, Sayang."
*
*
*
Satu minggu kemudian.
Ayana berjalan dengan langkah ringan dan penuh kegembiraan. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari perrama Ayana kembali bekerja di sebuah sekolah yang merupakan salah satu dari sekian banyak sekolah swasta milik sang ayah mertua.
Meskipun begitu, Ayana merasa tidak dispesialkan. Dia tetap mengikuti aturan sekolah.
Salah satunya, dia diminta untuk memberi materi olahraga secara teori sesuai perintah dari kepala sekolah. Jadi hari ini Ayana akan memberikan pelajaran di dalam kelas.
Ada rasa aneh yang mengganjak memang, tapi Ayana tetap menampik pikiran itu. Bahkan membuang semua pikiran negatif yang bersarang di benaknya.
"Ini pintu ya, Bu Aya," tunjuk kepala sekolah wanita yang terlihat masih muda.
Setelahnya, kepala sekolah itu pergi tanpa memberikan sepatah kata apapun. Perasaan Ayana pun semakin tidak enak.
Namun, sekali lagi Ayana tetap berusaha berpikir posistif. Dia menghirup nafas panjang untuk menenangkan perasaannya.
"Huft, mungkin karena sudah lama nggak mengajar kali ya? Jadi agak grogi," gumam Ayana pada dirinya sendiri yang masih berdiri di depan pintu kelas.
Ayana kembali mengatur nafas sebelum akhirnya membuka pintu secara perlahan. Senyum lebar langsung Ayana tampilkan sebaik mungkin untuk menyambut murid didiknya.
"Selamat pagi, anak-an…" ucapan sapa Ayana menggantung kala melihat murid didiknya yang ada di kelas itu hanya ada satu.
Satu murid itu duduk di bangku tepat di tengah ruang kelas. Sambil melipat tangan dan ekspresi wajah datar, murid itu menatap Ayana.
"Selamat pagi juga, Bu Aya," sapa sang murid dengan gaya santai.
Seketika Ayana berkacak pinggang dan menatap kesal pada muridnya.
"Elang, maksud kamu apa sih?"
"Seperti yang kamu lihat, Bu Aya. Murid Ibu Aya cuma saya," Elang berdiri dan berjalan mendekat pada Ayana. Dengan gerakan cepat, Elang langsung merengkuh pinggang Ayana. "Jadi, ayo kita belajar, Bu."
"Lang, ini bukan seperti yang aku mau."
Dan Elang mengerut marah, "Jadi kamu nggak mau sama aku?"
"Bukan begitu. Maksudnya…"
Elang langsung membungkam bibir Atana dengan bibirnya. Tak mengizinkan wanita itu untuk berbicara.
"Sampai kapan pun kamu itu guru olahragaku. Oke?"
Tamat.
Hai, pembaca yang sudah mengikuti dan selalu menanti sampai sekarang ini.
Sebelumnya author mau mengucapkan terima kasih banyak pada semua pembaca semua. Mohon maaf kalau cerita ini masih banyak kurangnya dan jarang update.
__ADS_1
Sebenarnya bulan lalu tuh hp author tuh jatuh dan rusak nggak bisa dipakai dan itulah alasan kenapa author jadi jarang update.
Nah, dengan up nya bab ini sudah menandakan kalau cerita ini sudah tamat ya? Mungkin akan disambung dari sudut cerita anaknya Ayana dan Elang, tapi entah kapan. 😁