Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
47. Katakan Saja


__ADS_3

"Gimana, Bi? Kamu mau kan kencan sama Samantha. Dia itu dokter lho," kata Elang saat mereka sedang duduk di taman sekolah.


Abian mendongak dari buku yang dia sedang dia baca. Tampak berpikir sejenak.


"Ya aku sih seneng-senang aja dia ajak kencan sama cewek cantik. Tapi memang dia mau gandengan sama anak sekolahan kaya aku?"


"Kamu jangan bilang lah kalau kamu anak SMA."


Abian menghela nafas lalu mengalihkan pandangan pada Farel yang sangat fokus pada bukunya. Lantas Abian pun memungut sebuah batu kecil dan melemparkannya pada Farel.


Farel sendiri terlonjak kaget, lalu mendongak menatap sebal pada Abian.


"Kamu serius banget sih, Rel?" tanya Abian yang menyeringai dengan tatapan mengejek.


"Ya serius lah. Bentar lagi kita kan ujian nasional. Kalau aku dapat nilai jelek yang ada aku bakal digorok sama orang tua aku."


"Ya sama, Rel. Tapi santai dikit napa? Dari tadi belajar mulu."


Farel memberengutkan bibir tapi tetap saja menutup bukunya. Dia menatap dua sahabatnya dengan sorot mata lelah dan juga kantung mata yang menghitam.


"Aku heran sama kalian. Kok bisa sih santai-santai aja. Padahal ujian nasional itu minggu depan lho."


"Aku sih santai karena emang nggak mau lulus," sahut Elang santai.


Membuat Abian dan Farel tercengang mendengar jawaban dari Elang dan serempak bertanya, "Lah kok gitu?"


Elang tersenyum sekilas lalu melempar pandangan ke arah lapangan di mana ada Ayana yang sedang berjalan melintas sambil mengobrol dengan salah satu rekan guru.


"Supaya punya waktu satu tahun lagi bersama Ayana."


"Ya elah. Buncin ya bucin tapi nggak gitu juga kali," kata Abian melirik tajam pada Elang dengan satu kaki terangkat ke atas bangku taman.


"Betul tuh. Lagian apa nggak bosen dari bangun tidur sampai tidur lagi ketemu Ayana terus," Farel menimpali sambil membuka lagi bukunya.


Elang tak menanggapi perkataan dua sahabatnya atensinya tertuju penuh pada Ayana sampai wanita itu tak terlihat menghilang di balik pintu ruang guru.


Bagaikan terhipnotis, Elang bangkit berdiri dan melangkah menuju ruang guru. Dia meninggalkan Abian dan Farel yang keheranan akan tetapi membiarkan saja sahabatnya itu berbuat sesuka hati.


Elang berjalan sampai pada dia di depan pintu ruang guru, bertepatan dengan Tedi yang keluar dari ruangan tersebut.


"Elang… Elang… kamu lagi… kamu lagi…" geram Tedi sambil menggelangkan kepala. "Mau apa kamu ke sini?"

__ADS_1


"Saya mau ketemu Bu Aya, Pak," Elang menggaruk tengkuknya. "Ada tugas yang belum saya kumpulkan."


Kepala Tedi melongok ke dalam pintu, terdengar jika Tedi memanggil Ayana dan tak lama wanita yang sangat ingin ditemui Elang pun keluar ruangan.


Selepas itu, Tedi melangkah pergi karena ada urusan genting yang harus dia kerjakan. 


Sementara itu, Ayana langsung menarik lengan Elang ke sudut sekolah yang sepi. Dia tahu jika Elang ingin bertemu dengannya, itu tandanya pria itu kangen dan ingin bermesraan dengannya.


Ayana menarik nafas panjang sebelum dia berbicara, "Ada apa, Lang?"


Elang menyeringai, menumpu satu tangannya ke tembok tepat di samping kepala Ayana, dan satu tangan lagi menarik dagu Ayana agar menatap lurus padanya.


Namun, Ayana menampik tangan Elang sambil berdecak kesal.


"Elang, ini sekolah. Kalau mau mesra-mesraan nanti di rumah. Aku lagi sibuk," ketus Ayana yang hendak pergi.


"Nanti dulu, Ay," Elang menahan lengan Ayana. "Aku mau cium."


Ayana berdecak kesal serta memutar bola matanya malas. Meskipun begitu, Ayana meletakan satu tangan ke pipi Elang lalu mencium bibir Elang sekilas.


Ayana buru-buru menarik kepalanya. Kemudian menolah ke sekitar, memastikan tak ada yang melihat adegan tadi.


"Oke, deh."


Elang pun berpisah dengan Ayana. Dia tidak tahu kalau ada satu murid yang sejak tadi bersembunyi di balik pohon palem tak jauh dari pintu ruang guru.


Murid laki-laki itu tersenyum saat manatap hasil jepretan kamera yang memperlihatkan Ayana tengah mencium Elang. Lalu murid itu mengirimkan foto tersebut ke salah satu kontak di ponselnya dengan nama 'Pak Samsul'.


Di waktu yang sama, seorang pria sedang duduk santai di kursi goyang. Dia menatap ponselnya saat benda canggih itu berdering.


Senyum tersungging di bibir pria itu kala membuka pesan yang berisikan foto seorang wanita mencium pria muda memakai seragam sekolah.


"Ayana, jadi suami kamu masih sekolah?" gumam Samsul sambil tertawa mengejek. "Masih mending aku, Aya. Daripada suami bocil seperti dia."


Kemudian Samsul mengirimkan foto itu ke seseorang. Dia juga menuliskan perintah agar foto itu disebar ke semua orang terdekat Ayana.


Samsul tersenyum lebar ketika si orang suruhan menyanggupi perintah darinya.


"Tunggu saja, Ayana. Kamu pasti akan menyesal dan malu punya suami seperti dia."


*

__ADS_1


*


*


Pulang dari sekolah, Ayana langsung pulang dengan diantar oleh sopir menuju rumah Bram. Dia pulang sendiri karena Elang harus pergi ke kantor atas perintah sang ayah.


Ketika mobil sampai di depan rumah, Ayana turun dari mobil dan berjalan melintasi halaman. Belum sampai meraih pintu, dia mendengar suara samar-samar seseorang yang sedang berbicara.


Lantas Ayana pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah, dia berjalan menuju sumber suara dan mendapati Diva yang sedang berjongkok sambil menelepon seseorang.


Tampak Diva tak menyadari keberadaan Ayana, sebab dia berjongkok membelakangi Ayana dan sangat serius berbincang dengan orang di seberang telepon.


"Iya, sekarang aku kerja jadi pelayan rumah, nanti kalau aku sudah menerima gaji pasti aku akan kirim uang," ucap Diva dengan nada geram.


Ayana tak bisa mendengar perkataan orang di seberang telepon. Sekalipun dia sudah sangat dekat berada di belakang punggung Diva.


"Kamu itu nggak punya tahu malu ya? Dulu kamu merebut ayah dari ibuku. Sekarang nggak punya malu memeras anak tirimu sendiri."


Tut.


Diva menutuskan telepon dengan wajah yang penuh akan gurat kekesalan. Dia menggenggam kuat ponselnya. Ingin sekali dia melempar ponsel, tapi saat teringat sulitnya mencari uang, dia mengurungkan niat itu.


Sehingga sebagai bentuk melampiaskan amarahny, Diva pun berteriak kencang dan membuat Ayana terlonjak kaget.


Ayana mengusap dadanya untuk memenangkan jantung yang hampir saja copot. Setelah menarik nafas panjang, Ayana pun berkata, "Nah, sekarang kamu tahu kan? Betapa menyebalkannya wanita yang mencoba merebut suami orang."


Diva terlonjak kaget. Seketika dia langsung memutar badan dan mendelikan mata melihat Ayana berada di sampingnya.


"Ayana? Sejak kapan kamu di sini?" Diva berkata tergagap dengan mata yang menelisik menatap wajah Ayana. "Kamu itu ya? Selalu saja mencuri dengar perkataanku."


Ayana tersenyum tipis seraya melipat tangan di depan dada. Dia sama sekali tak menggubris kekesalan Diva.


"Masih mau jadi pelakor?" tanya Ayana menyeringai.


"Cukup, Aya." Diva menarik nafas panjang dengan mata terpejam. "Aku itu iri sama kamu. Aku yang lebih dulu jatuh cinta sama Elang, tapi malah kamu yang mendapatkan dia."


"Kalau kamu cinta sama Elang, kenapa kamu nggak menyatakan cintamu sejak dulu?" Ayana bertanya dengan gaya yang santai. 


Diva terdiam tak mampu menjawab. Dia pun baru menyadari kenapa dia tidak mengatakan perasaannya sedari dulu.


Ayana menepuk bahu Diva perlahan. "Supaya hatimu lega, katakan saja perasaanmu pada Elang!"

__ADS_1


__ADS_2