Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
45. Pencuri Di Minimarket


__ADS_3

Elang menatap jejeran pembalut wanita dari berbagai merek yang terpajang di rak mini market. Sejenak dia membenarkan masker yang menyembunyikan setengah wajahnya.


"Ini memalukan."


Elang menengok kanan dan kiri memastikan tak ada orang yang melihatnya. Lalu dia mengambil pembalut sesuai pesanan dari Ayana dan menaruhnya ke dalam saku jaket.


Elang sengaja tidak memasukannya ke dalam keranjang agar orang lain tidak melihat isi belanjaannya, dan akan Elang keluarkan jika sudah berada di meja kasir.


Namun, tindakan Elang itu justru disalahpahami oleh salah satu karyawan mini market yang mengawasi Elang dari ujung rak.


Selain pembalut wanita, Ayana juga memesan beberapa cemilan makanan ringan yang sudah berada di keranjang belanja. 


Sekarang saatnya Elang membayar di kasir. Dia mengantri di barisan paling belakang. Sambil mengantre, Elang berniat mengambil dompetnya yang berada di saku celana.


Akan tetapi dahi Elang mengerut heran sebab dia tak menemukan dompet yang dia cari di saku manapun.


Detik berikutnya, Elang baru sadar kalau dompetnya masih berada di dalam mobil. Lantas Elang pun keluar dari mini market hendak mengambil dompetnya.


Tepat saat dia membuka pintu mini market, suara teriakan salah satu karyawan toko membuat langkah Elang terhenti.


"Pencuri! Ada pencuri!"


Sontak Elang menoleh ke kiri dan kanan mencari sosok pencuri yang dimaksud oleh karyawan toko. 


"Pencuri? Mana pencuri? Mana?" tanya Elang setengah panik.


Elang memutar badan dan melihat karyawan toko menunjuk lurus ke arahnya dan diikuti oleh tatapan dingin para pengunjung minimarket.


Elang pun sadar kenapa dia dianggap sebagai pencuri. Dia mengangkat kedua tangan dan berkata, "Aku bukan pencuri. Kalian salah paham."


Karyawan pria yang tadi meneriaki Elang maju mendekat dan mengambil pembalut dari saku jaket. Dia mengangkat tinggi-tinggi pembalut itu hingga semua pengunjung dapat melihat benda yang dikira dicuri oleh Elang.


Alhasil Elang pun hanya bisa menunduk malu. Berusaha dia menyembunyikan benda kebutuhan wanita tiap bulan itu, tapi karyawan toko malah menunjukan secara terang-terangan pada semua orang.


"Lalu ini apa?"


"Maaf, kamu salah paham. Aku hanya menyimpan di dalam jaket bukan bermaksud mencuri."


Karyawan pria itu menyipitkan mata, menelisik raut wajah Elang untuk mencari kebohongan yang sengaja disembunyikan.


"Lalu kenapa kamu keluar dan belum membayar belanjaanmu?"

__ADS_1


"Dompetku ketinggalan," seru Elang geram. "Sekali lagi aku katakan! Aku bukan pencuri. Bahkan aku bisa membeli semua isi minimarket ini, kalau perlu dengan karyawan-karyawannya."


Karyawan pria itu menganggukan kepala perlahan.


"Ya tapi jangan disembunyikan seperti ini dong, Dek. Kita kan jadi salah paham," ucap karyawan toko.


Dek? Hei aku ini pria dewasa yang sudah memiliki istri tahu, gumam Elang dalam hati.


Ingin rasanya Elang mengurung pria karyawan minimarket itu ke dalam box freezer. Tapi Elang tak melakukan hal itu. Dia lebih memilih untuk diam sambil mengiris malu.


*


*


Mobil yang dikendarai Elang masuk ke pelataran rumah mewah. Dia turun dari mobil dengan kedua tangan menenteng tas belanja.


Ketika berjalan masuk ke dalam rumah, Elang tak sengaja bertabrakan dengan Diva di pintu depan. Diva yang hendak keluar dan begitu memperhatikan jalan membuatnya bertabrakan dengan Elang dan tas belanjaan pun terjatuh.


Serempak Elang dan Diva sama-sama membungkuk untuk memungut barang-barang yang berjatuhan. 


Seketika kening Diva mengerut saat mendapati pembalut wanita tergeletak di lantai. Tangan Diva bergerak berniat memungutnya tapi Elang lebih dulu mengambilnya.


"Elang, untuk apa kamu beli roti bersayap?"


"Ayana? Tapi bukankah Ayana sedang hamil?" 


Sejenak Elang menoleh kanan dan kiri memastikan tak ada orang yang mencuri dengar. Karena kalau terdengar oleh Bram, maka urusannya akan semakin rumit.


Elang pun menceritakan pada Diva jika sebenarnya Ayana tidak hamil. Mereka terpaksa berbohong agar Bram tidak memisahkan Ayana dengan Elang.


Diva pun cukup tercengang mendengar cerita dari Elang. Akan tetapi sebisa mungkin dia bersikap tenang dan berjanji pada Elang kalau dia akan ikut merahasiakan tentang kehamilan Ayana.


"Raynar, sedang apa kamu di sini?" tanya Bram yang tiba-tiba muncul, mengagetkan Elang dan Diva.


"I-ini, Dad. Aku habis beli cemilan untuk Ayana."


"Cemilan?" Pandangan Bram turun ke kantong plastik putih yang sedang dipegang oleh Elang. "Tapi di rumah kan banyak cemilan-cemilan sehat?"


"Iya, Dad. Ayana sedang ngidam cemilan dari minimarket," kata Elang terbata-bata takut kebohongannya tercium oleh Bram.


"Ada-ada saja. Katakan pada istri kamu, jangan makan sembarangan! Daddy nggak mau cucu Daddy kenapa-kenapa."

__ADS_1


"Ya, sudah aku ke kamar dulu, Dad."


"Eh, tunggu dulu."


Tangan Bram menahan lengan Elang saat pandangan matanya menangkap benda yang sangat mencurigakan berada di dalam kantong belanja. Lantas dia pun menunjuk benda itu dengan dahi mengerut.


"Itu apa?"


"Pembalut wanita, Dad."


"Iya, Daddy juga tahu itu. Tapi kenapa kamu beli benda itu? Istri kamu kan sedang hamil?"


Elang tergagap saat ingin menjawab pertanyaan dari Bram. Rasa gugup membuat Elang tak sanggup untuk berbicara dengan jelas.


Satu bulir keringat meluncur di kening Elang dan tangannya pun gemetaran di saat otaknya sedang berpikir mencari alasan yang tepat.


Tiba-tiba Diva yang masih belum pergi dari ruang tamu akhirnya maju satu langkah mendekati Bram. Dia menundukan kepala sebelum berkata.


"Benda itu punya saya, Tuan."


Bram melempar pandangan ke arah Diva. "Punya kamu?"


"Iya, tadi saat tahu bahwa Tuan Raynar pergi ke minimarket, saya nitip pembalut wanita."


"Ooh, begitu. Daddy kira itu untuk Ayana."


Tanpa terlihat oleh Bram, Elang menghela nafas lega dan mengelus dada, bersyukur karena Bram pergi tanpa menaruh curiga sama sekali. 


Lantas Elang pun menoleh ke arah Diva dan mengulas senyuman pada wanita itu.


"Thank ya, Div," ucap Elang tulus. "Aku ke atas dulu. Ayana pasti sudah nunggu aku dari tadi."


Diva hanya mengangguk, menatap kepergian Elang yang menaiki tangga dengan langkah yang tergesa-gesa.


Sesaat, Diva terdiam dan merenung. Jika Diva boleh mengatakan, dia sebenarnya iri dengan kehidupan Ayana. 


Wanita itu bukan saja merebut Elang, pria yang dia kagumi sejak awal bertemu, tapi juga bisa menjadi nyonya di rumah mewah tempat Diva bekerja.


Diva menghela nafas berat. Sambil menundukan kepala, dia berjalan perlahan keluar rumah. Di saat itu lah Diva tiba-tiba mendapatkan sebuah ide cemerlang.


Senyum pun mengembang di bibir Diva, matanya berbinar serta kedua tangannya terlipat di depan dada.

__ADS_1


"Kalau Ayana saja bisa berbohong sedang hamil anaknya Elang, kenapa aku nggak bisa? Bahkan dengan kebohongannya itu, mau tak mau Tuan Bram menerima Ayana di rumah ini. Aku pun juga harus melakukan hal yang sama," Diva bergumam pada dirinya sendiri.


Lalu dia menautkan alis tampak sedang berpikir. "Tapi bagaimana caranya agar semua orang percaya aku hamil anaknya Elang ya?"


__ADS_2