
"Lang, Lang, tunggu!"
Ayana berseru kala Elang telah membawanya keluar kamar. Meski raut wajahnya menunjukan rasa sakit yang tak tertahankan, namun Ayana menahan Elang karena dia ingat satu hal.
"Kenapa Ay?"
"Tas bayinya ketinggalan."
Plak.
Elang memukul jidatnya sendiri setelah sadar akan kelalaianya meninggalkan barang penting untuk kelahiran bayinya.
"Oh iya. Hampir aja lupa."
Secepat mungkin Elang masuk kembali ke dalam kamar untuk mengambil tas besar yang berisi perlengkapan bayi yang sudah disiapkan Ayana jauh-jauh hari sebelumnya.
Setelah memastikan tidak ada lagi barang bawaan yang tertinggal, Elang keluar dan menemukan Ayana yang berjalan sendiri.
"Ay, hati-hati!"
"Nggak apa-apa, Lang. Katanya kalau mau melahirkan harus banyak jalan."
Bersamaan dengan mereka yang telah berada di halaman rumah, saat itu juga muncul mobil milik Farel. Sang pemilik mobil menyembulkan kepala melalui jendela mobil begitu melihat Ayana yang terlihat kesakitan.
"Ada apa, Lang?"
Elang menoleh pada sahabatnya itu. Lalu menghela nafas lega dan berkata, "Syukur ada kamu, Rel. Aya mau melahirkan. Tolong anter kita ke rumah sakit dong."
Ada sedikit keterkejutan dalam diri Farel mendengar Ayana akan melahirkan dan detik berikutnya dia pun dengan sigap membantu membukakan pintu belakang.
Dengan dipapah oleh Elang, Ayana masuk ke dalam mobil dan ketika Farel siap melajukan kendaraannya, tampak Hani keluar dari rumah menghampiri mereka.
"Farel, tunggu! Kamu mau ke mana?" Teriak Hani yang kemudian menoleh ke arah Ayana di kursi belakang." Lho, ada apa ini?"
"Bu Aya mau melahirkan. Kamu nggak usah banyak tanya, cukup diem di rumah," perintah Farel yang sudah hafal tabiat istrinya.
Namun, Hani justru menggelengkan kepalanya tanda tidak menyetujui. Dia bahkan masuk ke kursi samping pengemudi tanpa perlu menunggu izin dari Farel.
"Aku juga mau ikut."
"Tapi, Han. Kamu mau apa ikut? Yang ada cewek kaya kamu tuh cuma bisa bikin repot."
Mendengar perkataan Farel, seketika bibir Hani manyun seperti paruh bebek. Dia tidak terima jika dia dikatakan hanya bisa bikin repot orang. Meski perkataan itu benar.
__ADS_1
"Aku janji nggak akan bikin repot," kata Hani tegas.
"Tapi, Han…"
"Udah. Dia ikut aja," sela Ayana dari kursi belakang. Tampak raut wajah Ayana yang tidak sabar melihat perdebatan sepasang suami istri di depannya yang hanya menyita waktu.
"Tapi, Ay…"
"Hei, kamu nggak dengar kata Aya? Hani ikut aja. Sekarang, cepat jalankan mobilnya," protes Elang memotong ucapan Farel.
Sehingga Farel pun tak punya pilihan lain selain menyalakan mesin mobil dan melajukan kendaraan roda empat itu ke jalanan.
Farel mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh dan memmilih jalan alternatif untuk mempersingkat waktu. Akan tetapi keputusannya memilih jalan tersebut ternyata sebuah kesalahan besar. Sebab, jalanan itu justru mengalami macet parah.
Farel menggeram marah dan memukul stir kemudi. Dia menakan klaksin dengan tidak sabar sebagai peringatan pada mobil di depannya memberikan jalan.
Namun, sayang. Sebab mereka telah terjebak ke dalam kemacetan yang parah. Para kendaraan lain pun tidak bisa bergerak dan saling menyalakan klakson.
"Aduh, Lang. Gimana nih?"
Elang yang duduk di samping Ayana pun hanya bisa berdecak kesal sambil otaknya mencari jalan keluar.
Mobil mereka benar-benar ada di tengah kemacetan. Tidak bisa maju apalagi putar balik. Sementara Ayana terus saja merintih kesakitan.
"Aku nggak bisa, Lang. Badan aku sudah sakit banget. Sepertinya aku mau melahirkan sekarang," ucap Ayana dengan nada bicara yang gemetar karena menahan rasa sakit.
"Jangan di sini dong, Ay! Tahan dulu sebentar."
Ayana menggelengkan kepala. "Nggak bisa, Lang. Sudah sakit banget ini."
Tak kuasa melihat Ayana kesakitan, Elang pun menggeram marah karena tak banyak yang bisa dia perbuat. Rasa cemas, panik, dan takut bersatu di dalam hati Elang yang membuatnya semakin tidak tahu harus berbuat apa.
Dia memijat pangkal hidungnya, mencari jalan keluar dari permasalahan yang dia hadapi sekarang ini.
"Rel, cepetan dikit dong. Ayana sudah kesakitan," ucap Elang pada Farel.
"Iya, Lang. Ini juga sedang diusahakan."
Hani yang sejak tadi diam menyaksikan keributan antara Elang dan Farel, pada akhirnya membuka suara, "Perjalanan ke rumah sakit masih membutuhkan waktu yang cukup lama. Jadi, mau nggak mau, Ayana harus melahirkan di dalam mobil."
"Apa?" Teriak Elang dan Farel bersamaan.
Kedua pria itu tentu saja sangat terkejut mendengar perkataan Hani. Akan tetapi Ayana sendiri tidak begitu menunjukan ekspresi terkejut.
__ADS_1
Bahkan Ayana melengkungkan sedikit ujung bibirnya membentuk senyuman di tengah rasa sakit yang mendera tubuhnya.
"Ide bagus, Han," kata Ayana mengayunkan tangan supaya Hani duduk di kursi belakang. "Kalau begitu, bantu aku melahirkan.'
Hani mengangguk mantap. Tanpa basa basi dia berpindah tempat duduk ke kursi belakang. Lalu dibantunya Ayana untuk berbaring dengan kepala yang bersandar di atas pangkuan Elang.
Dengan cekatan, Hani mengambil selimut untuk menutupi perut Ayana. Kemudian Hani mengintip ke dalam selimut untuk memeriksa kondisi si bayi.
"Hai, tunggu! Kalian bercanda kan?" teriak Elang yang melongo melihat proses persalinan Ayana yang ala kadarnya.
Hani berdecak dan mengalihkan pandangan ke arah Elang. "Nggak ada pilihan lain, Lang. Ini juga demi keselamatan anak kalian."
"Tapi… Aku mau Ayana ditangani oleh dokter yang berkompeten," protes Elang dengan meninggikan suaranya karena rasa geram yang telah membuncah.
"Elang, sudah deh. Aku percaya sama Hani. Lagipula aku sudah nggak tahan lagi, Lang. Anakmu ini sudah mau keluar."
Detik berikutnya, Hani berteriak pada Ayana untuk mulai mengejan begitu dia memeriksa ke dalam selimut.
Sebagai ibu baru, Ayana merasa panik sekaligus bahagia. Sebab sebentar lagi dia akan bertemu dengan buah hatinya.
Berbekal panduan dari buku yang sering dibaca, Ayana mengatur nafas sambil mengerahkan tenaga untuk mengejan. Mau tak mau Elang pasrah dengan apa yang terjadi.
Dalam hati dia merutuki dirinya sendiri karena bukan seperti ini yang dia harapkan saat Ayana melahirkan. Tapi, mau bagaimana lagi? Yang terpenting saat ini adalah Ayana dan bayinya selamat.
Elang menunduk memandang wajah Ayana di pangkuannya yang terlihat lelah dan banjir keringat. Elang hanya bisa menyeka keringat itu dengan punggung tangannya.
Tanpa terasa satu tetes air mata Elang meluncur ke pipi dan jatuh mengenai dahi Ayana.
"Ini pertama kalinya aku nangis di depan orang lain," isak Elang sambil mengusap tetesan air matanya yang mengenai dahi Ayana.
Sementara itu, Farel yang fokus mengemudi juga ikut menangis. Sesekali dia menengok ke belakang untuk melihat kondisi di kursi belakang.
"Kamu ngapain ikut nangis, Rel?" tanya Elang saat memergoki Farel yang ikut menangis.
"Aku karena… " Farel mengucek matanya. "Karena… aku habis pakai balsem dan lupa ngucek mata. Jadinya perih."
"Yeey. Aku kira kamu ikut terharu."
"Psstt! Diam! Bayinya mau keluar," teriak Hani menyela pembicaraan Elang dan Farel. Sekali lagi dia meminta Ayana untuk mengatur nafas dan mengumpulkan segenap tenaganya untuk mengejan. "Ayo, Aya, dalam hitungan ke tiga. Satu… dua… tiga… "
Ayana menjerit sambil mengejan dan detik berikutnya semua orang tercengang begitu mendengar suara tangisan bayi yang melengking nan nyaring.
Dan tepat saat tangisan bayi itu terdengar, ketika itu pula Elang merasa nafasnya tercekat dan dia pun ambruk pingsan.
__ADS_1