
Ada sekitar sepuluh orang yang berdiri di belakang Bram, namun tak ada satu pun yang ikut tertawa. Mereka diam dengan saling lirik.
Raut wajah mereka sama-sama menujukan keheranan. Heran karena tuan mereka tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan prank yang menurut mereka tidak ada lucu-lucunya.
Di saat mereka terdiam, mendadak Bram memutar kepala menatap tajam para anak buahnya.
"Kenapa kalian tidak ikut tertawa?"
"Hahahaha"
Serempak anak buah Bram memaksakan diri untuk tertawa meski terdengar garing. Akan tetapi Bram menyunggingkan senyum puas.
Kemudian Bram menoleh kembali pada layar komputer di mana di sana menampilkan Rlang dan Ayana yang keluar dari ruang mayat. Bram menghela nafas dan berpikir sejenak.
"Sudah lama aku tidak tertawa seperti ini? Andai saja mereka kembali lagi ke rumah," Bram bergumam dengan pandangan mata yang menerawang. "Apakah selama ini aku terlalu kaku pada anakku?"
"Memang. Tuan Bram ini terlalu tegas pada Tuan Muda," celetuk salah satu anak buah yang langsung menutup mulut begitu Bram melirik tajam.
"Siapa yang minta jawabanmu, hah?" ucap Bram galak.
Anak buah itu langsung menundukkan kepala dengan raut muka takut. "Maaf, Tuan."
Lalu anak buah yang lain bertanya, "Tuan, apakah anda ingin bertemu dengan Tuan Muda sekarang? Atau Tuan Bram ingin langsung pulang saja."
Atensi Bram segera beralih akan pertanyaan yang dilontarkan oleh anak buahnya. Dia kembali berpikir untuk beberapa saat, lalu dia bangkit berdiri.
"Aku ingin pulang saja. Belum saatnya aku bertemu lagi dengan anakku."
*
*
*
Satu jam kemudian.
Ayana dan Elang sudah kembali ke kamar sewa mereka yang berada di lantai dua rumah milik keluarga Farel.
Setelah mandi, Ayana merasa segar dan benaknya pun sudah tidak lagi terpikirkan oleh kejadian memalukan di rumah sakit.
Ayana membuka lemari bajunya, mengambil benda yang wajib dipakai oleh seorang perempuan. Namun, mendadak Ayana mengerutkan dahi manakala dia menyadari benda tersebut berkurang jumlahnya.
Secepat kilat, Ayana mengalihkan pandangan kepada Elang yang terlihat hendak pergi dengan tangan yang memegang sesuatu.
"Lang, kamu lihat bra aku nggak?"
Sontak Elang menghentikan langkah kakinya, memutar badan untuk dapat menghadap ke arah Ayana.
__ADS_1
"Bra kamu? Aku nggak lihat, Ay," Elang berkata bohong sambil menyembunyikan bra milik Ayana di belakang punggungnya. "Memangnya kenapa?"
"Bra aku kok jadi berkurang ya?" ucap Ayana menghitung lagi bra yang tersimpan di lemari. "Kamu nggak ambil kan?"
Elang tertawa garing. Dia menelan saliva saking gugup dan takut kebohongannya tercium oleh Ayana.
"Enggak lah. Buat apa aku ngambil bra kamu?" Elang kembali memaksakan diri untuk tertaw. "Masa iya sih aku mau pakai bra. Akukan cowok."
Ayana memberengutkan bibir dengan dahi yang mengerut karena berpikir. Lalu dia pun bergumam, "Iya juga ya?"
"Mungkin bra kamu itu masih dijemur kali, Ay. Oh ya, aku pergi dulu ya? Ada pembahasan penting bareng Abian dan Farel."
Sebelum Ayana membuka mulut untuk berbicara, Elang berlari keluar pintu dan menutupnya secepat mungkin agar tidak ada orang luar yang melihat tubuh Ayana yang hanya terbelit handuk.
Dari depan pintu, Elang mendengar suara Ayana yang berteriak memanggil namanya. Namun, Elang lebih memilih berjalan meninggalakan kamar.
Langkah kaki Elang menuntunya ke belakang rumah dimana di sana ada ruang kecil yang dijadikan sebagai taman dan tempat duduk untuk bersantai. Di sana pula sudah menunggu dua sahabatnya, Abian dan Farel.
Senyum Elang merekah ketika dia menjatuhkan bokongnya di kursi rotan, lalu merentangkan bra milik Ayana yang sejak tadi dia berusaha sembunyikan.
Lantas Abian dan Farel pun menunjukan ekspresi bingung, tidak mengerti akan maksud Elang yang tiba-tiba memamerkan bra berwarna merah marun.
"Apa ini, Lang?"
"Ini bra."
Elang menatap Abian dan Farel secara bergantian dengan tangan yang masih merentangkan bra.
"Hei, dengar! Bra ini bukan sembarang bra. Dari bra milik Ayana ini aku mendapatkan sebuah ide untuk bisnis kita."
Abian dan Farel ber-oh dan menganggukan kepala pelan. Lalu pandangan mata Abian terfokus pada bra merah marun itu dengan mata menyipit seakan sedang menyelidik.
"Jadi ini bra milik Bu Aya," gumam Abian. "Kalau begitu, ukurannya Bu Aya segede… "
Pletak.
Elang langsung memitak kepala Abian tanpa ampun dan juga melayangkan sorot mata berapi-api. Rahangnya pun tampak mengetat, yang menjadi tanda bahwa dia sedang marah.
"Jangan membayangkan hal kotor tentang istriku atau…"
Elang berdiri seketika dengan kedua tangan mengepal dan siap menonjok wajah Abian. Untungnya, secepat mungkin Farel mencegah tindakan Elang itu.
Farel menahan kedua tangan Elang, menekan pundak sahabatnya itu untuk duduk kembali. Farel menghembuskan nafas lega karena kali ini Elang mudah untuk dijinakan meski tatapan dingin masih dilayangkan ke arah Abian yang menyengir kuda.
"Sorry, Lang. Lagian salah kamu juga, pakai bawa bra punya istri kamu, ya pikiranku jadi melayang kan," kata Abian sebagai bentuk pembelaan diri.
"Bi, Lang, sudah deh. Sekarang ini kita lagi fokus sama bisnis kita, oke?"
__ADS_1
Farel berusaha menjadi penengah. Dia melirik dua sahabatnya yang duduk di samping kanan dan kiri.
Setelah memastikan Abian dan Elang sama-sama tenang, Farel berdeham lalu menatap Elang.
"Jadi bagaimana, Lang? Apa ide kamu untuk bisnis kita ini?" tanya Farel penuh keseriusan.
Elang mendengus kasar sambil menatap jengah Abian sebelum akhirnya dia berbicara. Dia menunjukan lagi bra milik Ayana dan berusaha mengalihkan perhatian pada tujuan awal mereka berkumpul.
"Kalian perhatikan! Bra ini memiliki model yang biasa saja. Sulit dilepas. Apalagi oleh kita para lelaki, betul nggak?"
"Betul," jawab Farel cepat, sebab dia pernah mengalaminya saat malam pertama bersama Hani.
Namun, Abian menarik ujung bibirnya membentuk seringai. Karena hanya dia saja yang belum pernah memiliki pengalaman membuka bra seorang wanita.
"Jadi,aku sudah membuat desain bra yang mudah dilepas tapi tidak mengurangi fungsinya sebagai peyangga," Elang mengeluarkan kertas bergambar desain bra hasil pemikirannya. "Aku yakin, bra model ini pasti bakal banyak peminatnya."
Farel mengambil kertas dari tangan Elang, mengamati sejenak lalu menganggukkan kepala tanda setuju. Lalu Farel menoleh pada Abian.
"Menurut kamu bagaimana, Bi?" Farel bertanya untuk meminta pendapat dari Abian.
"Terserah kalian," kata Abian tak bersemangat.
"Kok jawabnya gitu sih. Kamu kaya nggak semangat-semangatnya."
"Bagaimana nggak semangat kalau jodoh aja belum ada?" Abian menunjuk dua sahabatnya. "Kalian beruntung sudah nemu pasangan kalian. Lah aku?"
Farel merentangkan tangan untuk bisa menepuk bahu Abian. Melalui tepukan itu, dia memberi semangat pada Abian yang belum mendapatkan jodohnya.
Sementara Elang menghela nafasnya. Meski beberapa menit yang lalu mereka saling bersitegang namun, setelah melihat raut wajah Abian yang menyedihkan, membuat hati Elang terketuk untuk menolong.
"Kamu bilang, ingin balas dendam ke perempuan yang sudah bikin juniormu bengkak kan?" Elanh bertanya tiba-tiba.
Abian pun mengangguk sebagai jawaban. "Kamu sudah dapat identitasnya, Lang?"
"Sudah dong," Elang mengambil ponsel dan menyerahkannya pada Abian. "Namanya Brisia. Dari laporan Pak Slamet, Brisia itu sepertinya sayang banget sama adiknya."
Abian mengangguk menyimak penjelasan Elang sambil kedua matanya membaca sekilas profil wanita bernama Brisia itu.
"Terus kalian punya ide nggak supaya aku bisa nikah sama Brisia. Soalnya aku ingin menuntaskan dendam junior kepada wanita ini," ucap Abian penuh semangat.
Elang langsung tersenyum penuh makna dan berkata, "Itu gampang, Bi."
"Gampang bagaimana?" Farel yang menyimak menjadi ikut penasaran.
Elang mencondongkan tubuhnya dan menurunkan sedikit nada bicaranya sambil menatap serius kedua sahabatnya itu.
"Kita pura-pura culik adiknya, terus sebagai tebusan kita minta supaya Brisia mau nikah sama Abian. Bagaimana?"
__ADS_1
Bola mata Abian langsung membelalak senang. Secepat kilat mulutnya langsung berseru, "Setuju."