Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
Pubertas Kedua


__ADS_3

"Ada apa ini?"


Suara bariton Bram mengejutkan Elang dan hampir saja ponselnya terjatuh dari genggaman. Elang langsung mengalihkan pandangan pada Bram yang kini berjalan menuju boks bayi dan menggendong anaknya. 


"Aku sedang mencari nama untuk anak kami, Dad. Apa Daddy punya ide? Aku ingin nama anak kami ada unsur hewannya," jelas Elang setelah mengakhiri telepon dan meletakan ponsel di atas meja. 


"Menangnya kamu belum menyiapkan nama?" Bram balik bertanya sambil menimang cucu pertamanya. 


Elang menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menjawab, "Belum, Dad. Aku belum menemukan nama yang cocok."


Sejenak Bram mengerutkan dahi tampak sedang berpikir. Tak sampai dua menit bibir Bram merekahkan senyuman lebar sambil menunduk memandang wajah sang cucu. 


"Bagaimana kalau kita beri nama Tiger?" usul Bram. 


Dan dari sudut lain, Ayana langsung berteriak, "Setuju, Dad. Tiger. Itu nama yang bagus."


"Nah, hebat kan Daddy ini?" ucap Bram membanggakan diri. 


"Tentu saja. Dan Tiger akan menjadi nama yang spesial karena nama itu pemberian dari Daddy," sahut Elang. 


Detik berikutnya, pembicaraan tiga orang dewasa di kamar rawat inap itu terjeda karena Tiger tiba-tiba menangis. Membuat semua orang terkesiap, terutama Bram yang sedang menggendongnya. 


Melihat sang anak menangis, insting sebagai seorang ibu langsung bekerja di dalam diri Ayana. Dia merentangkan tangan, meminta agar Bram memberikan Tiger padanya. 


"Sepertinya dia lapar, Dad."


Dengan penuh kehati-hatian, Bram memindahkan Tiger ke pangkuan Ayana. Lalu tangan Bram mengusap lembut puncak kepala menantunya. 


"Kata dokter, kalian bisa pulang besok dan Daddy ingin kalian pulang kembali ke rumah. Daddy sudah siapkan kamar bayi berikut juga dengan pengasuh untuk Tiger."


Ayana mendongak dan tersenyum penuh haru pada ayah mertuanya. Seketika kedua bola matanya pun berkaca-kaca karena teringat akan sikapnya yang dulu sangat lancang. 


Namun, Bram hanya mengangguk sambil membalas senyuman Ayana. Dia menepuk bahu Ayana lalu memutar badan menghadap ke arah Elang. 


Hal yang sama Bram lakukan pada sang anak. Dia menepuk bahu Elang dan sedikit mengguncangnya. 


"Selamat. Sekarang kamu telah benar-benar menjadi seorang ayah. Karena cucuku baik-baik saja, maka kamu terbebas dari hukuman."


Elang mengangguk mantap seraya berkata, "Terima kasih, Dad."


Kemudian ayah dan anak itu saling berpelukan untuk beberapa saat sebelum akhirnya Bram berpamitan meninggalkan ruangan karena ada urusan penting yang harus dia tangani. 


Selepas kepergian Bram, Ayana menyusui Tiger yang tampak sangat kehausan. Sedangkan Elang duduk di samping ranjang sambil memandang Tiger tanpa berkedip. 

__ADS_1


"Lang, menurutku ada yang aneh dari sikap Daddy," celetuk Ayana tiba-tiba membuat Elang mengerutkan dahi.


"Aneh bagaimana?"


Ayana melirik ke arah pintu sebelum berkata. Memastikan tidak ada orang yang mendengar pembicaraan mereka. Lalu Ayana mencondongkan tubuhnya dan berbisik di depan telinga Elang.


"Sepertinya Daddy sedang pubertas kedua," bisik Ayana.


Mendengar hal itu, Elang terperanjat kaget dengan mata yang melotot dia memandang wajah Ayana yang juga tampak serius.


"Kamu nggak bercanda kan?"


"Ya enggak lah, Lang. Kamu lihat sendiri deh gelagat Daddy," Ayana terdiam sejenak memikirkan tampak memikirkan sesuatu. 


Begitu pula dengan Elang. Namun pria itu segera menggelengkan kepala mengusir pikiran yang tidak penting.


"Sudah deh, Ay. Nggak usah dipikirin kalau Daddy jatuh cinta lagi kan lebih bagus."


*


*


*


Sementara itu, di lorong rumah sakit, Abian datang untuk menjenguk bayi dari pasangan Ayana dan Elang. 


Sebuah kotak dibungkus kertas berwarna biru muda terapit di ketiak Abian. Sedangkan satu tangan yang lain sibuk menyisir rambut.


Sepanjang langkah Abian berjalan sambil bersiul riang hingga akhirnya dia menemukan sebuah ruangan yang dianggap sebagai ruangan Ayana. 


Kebetulan sekali di depan pintu ruangan itu ada sebuah boks bayi dan Abian pun menaruh kado ke samping tubuh bayi yang sedang menggeliat di dalam selimut.


"Kamu pasti anaknya Elang ya? Kelihatan dari wajah kamu yang mirip bapak kamu. Jelek," Abian terkekeh setelah mengucapkan candaannya. "Tuh, Om kasih kado buat kamu. Semoga kamu suka ya?"


Tepat saat itu juga Abian mengalihkan pandangan ke arah lain dan bersamaan pula Abian melihat sosok Samantha yang sedang berjalan di lorong.


Entah dorongan dari mana, kaki Abian melangkah mengekoti Samantha. Seketika itu dia melupakan kado bayinya Elang.


Hingga sampai pada sebuah koridor di mana dengan mata kepala Abian sendiri Samantha disambut oleh seorang lelaki. Ada sedikit rasa jengkel dalam diri Abian tatkala melihat Samantha dengan laki-laki itu.


Terlebih laki-laki itu tampak memberikan perhatian khusu dengan membawakan sebuah buket bunga.


Tak disangka Samantha menoleh ke arah Abian. Dokter wanita itu tampak terperangah melihat Abian namun seketika dia merubah ekspresi wajahnya dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Abian, kamu di sini?" tanya Samantha dengan senyum penuh makna di bibirnya.


Sontak Abian gelagapan dan menjawab dengan terbata-bata, "I-iya. Aku lagi jenguk anaknya Elang."


"Oh ya, aku dengar kamu sudah nikah ya? Selamat ya," ucap Samantha menjabat tangan Abian. 


Kemudian Samantha menoleh pada laki-laki yang sejak tadi telah menunggunya. Dengan sengaja dia menggelayut manja di lengan sang lelaki.


"Dan perkenalkan ini tunangan aku. Namanya Samsul."


Deg.


Abian seperti dikagetkan oleh suara letupan kala Samantha memperkenalkan pria yang ada di sampingnya. Pria itu menoleh dan menyalami Abian.


Sebisa mungkin Abian berusaha untuk tidak tertawa saat menerima jabatan tangan dari Samsul, pria yang hampir menjadi suami Ayana.


"Kok kamu nggak sama istri kamu sih, Bi?" Samantha sengaja bertanya untuk menunjukan sisi lemah Abian.


Karena dari kabar yang didengar Samantha, Abian menikah secara paksa oleh orang tuanya. Akan tetapi Abian menanggapi dengan santai dan mengangkat bahunya.


"Oh itu. Istriku nggak ikut. Dia kelelahan karena selalu aku terkam tiap malam," kata Abian yang merupakan sebuah dusta belaka.


Sebab sampai detik ini, Abian dan Brisia belum pernah melakukan hubungan suami istri yang dapat membuahkan seorang anak.


Abian tersenyum melirik Samantha dan Samsul. Andai saja dulu Samantha tidak mencampakkannya, mungkin saat ini Abian akan memberitahu tentang sifat asli dari pria bernama Samsul itu.


Sayangnya, Abian enggan melakukan hal itu karena dia masih sakit hati. Abian pun berpamitan dengan Samantha dan Samsul dan kembali ke ruangan yang tadi dia singgahi.


Abian bingung karena dia tidak menemukan bayi yang sempat dia berikan kado tadi. Dia menoleh ke kanan dan kiri.


"Lho bayi yang tadi mana ya? Kok nggak ada."


Plak.


Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menepuk bahu Abian yang membuat pria itu terkejut dan memutar badan. Dia makin terkejut karena mendapati Farel dan Hani sudah ada di belakangnya.


"Kamu ngapain, Bi?" tanya Farel yang kini kembali lagi bersama Hani dengan tujuan yang sama seperti Abian, yaitu menengok anak dari Elang dan Ayana.


"Aku lagi nyari anaknya Elang. Dia ilang. Tadi tuh dia ada di ruangan ini tapi kok malah nggak ada."


"Ck, ini bukan ruangannya Bu Aya."


"Masa sih?" kata Abian tak percaya. "Tapi tadi sesuai petunjuk suster bener lho yang ini."

__ADS_1


"Bukan," tegas Farel. "Yuk, sini aku tunjukin."


Abian berdecak kesal, bukan karena Farel yang menarik tangannya secara paksa namun karena kado yang dia persiapkan untuk anaknya Elang malah hilang.


__ADS_2